Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Merasa Beruntung.


__ADS_3

Takkan ada artinya, makna dari sebuah cinta sejati, sebelum mampu melewati rintangan.


Karena perjalanan cinta sejati tak pernah berjalan mulus, pasti ada saja kerikil yang akan di hadapi.


***


Sella terbangun dalam lelapnya tidur, matanya mengerjap-ngerjap menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Dekapan hangat tangan seseorang membuat tubuhnya tak bisa bergerak.


Matanya membelalak tak percaya dengan raut wajah yang dia lihat. Dia tak mengerti apa yang terjadi semalam, ingatannya berhenti saat seseorang membekapnya.


Sella mencoba melepaskan dekapan Vano tapi lilitan tangan dan kaki Vano terlalu kuat, dia seolah sengaja mengunci agar Sella tidak bisa bergerak sama sekali.


Gesekan kulit polosnya dengan kulit Vano menyadarkan dia bahwa ada kejadian yang salah terjadi semalam.


Sella pun mengguncang tubuh Vano untuk terjaga.


"Sebentar lagi sayang, aku masih ngantuk" jawab Vano dengan mata terpejam.


Sontak Sella heran, kalimat yang sudah lama tak dia dengar semenjak Vano menikahi Allin. Rengkuhan tangan Vano mulai melonggar, dia pun menggeser pelan tangan itu dan bangkit untuk duduk. Tak lupa juga dia menjaga jarak pada Vano dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang setengah polos.


Sella mengedarkan pandangan ke seluruh bagian ruangan yang sangat asing baginya. Pakaian Sella dan Vano berhamburan kemana-mana.


"Apakah kami melakukannya?" Guman Sella yang heran melihat keadaan ruangan kamar yang mereka tempati begitu berantakan.


"Tidak," gumannya lagi. Dia sangat mengenal Vano, dia takkan melakukan hal itu tanpa izin darinya. Apalagi hati suaminya itu telah berlabuh kepada Allin. Sebelum dia melakukan hal tersebut, dia pasti lebih dahulu memikirkan perasaan istrinya yang pecemburu itu.


Pernah, rasa menyesal itu terbesit dalam hati Sella, melepaskan pria sebaik Vano. Tapi dia juga sadar, selama ini dia juga sudah mencoba untuk sepenuhnya mencintai Vano. Nyatanya Sella tak mampu menggantikan seseorang dihatinya dengan kehadiran Vano, tak dijadikan alasan itu baginya untuk tidak setia.


Cinta yang salah, takkan pernah dia hadirkan di antara jalinan pernikahannya. Prinsip itu telah melekat pada dirinya, meski dia terlihat dingin dan tak peduli dengan perasaan orang lain, ada hati yang tak ingin dia lukai, ayahnya. Jika dia melakukan hal itu, ayahnya lah yang pertama yang akan membenci dan mengutuknya.


Sella pun mengintip tubuhnya dan Vano di balik selimut. Ada keraguan yang tak dapat dia elakkan, hanya jawaban Vano lah yang dapat menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"Mengapa aku tidak mengingat sama sekali?" Gumannya yang masih saja tak memahami keadaannya.

__ADS_1


Mila, saat nama itu terlintas di benaknya. Sella mencerna setiap kejadian tapi dia masih ragu adakah hubungan semua ini dengan Mila.


Dia memang berjanji akan bertemu Mila di sebuah hotel tapi dia belum sempat menemui Mila. Kejadian tak terduga, seseorang membekapnya dengan sapu tangan.


Jika Mila ada hubungan dengan kejadian ini, apa maksud Mila ingin membekapnya. Dia rasa tak ada keuntungan bagi Mila untuk menyakitinya. Dia pun telah sepakat pada Mila untuk bekerja sama meski itu hanya muslihat Sella untuk menemukan anak Allin.


Ardio, hanya pria itulah yang satu-satunya yang lebih tepat untuk dia tuduh. Penolakkan Sella dan tabiat buruk Ardio di masa lalu, yang Sella kenal, mungkin saja dia akan melakukan hal buruk ini padanya. Tapi Sella juga meragu karena Ardio yang dia kenal tak seperti yang dulu.


Untung saja dirinya meminta Vano untuk menyusul, jika tidak, dia tidak tau apa yang akan terjadi padanya.


"Vano, bangun!" Guncang Sella berkali-kali.


Butuh beberapa saat untuk pria itu terbangun dari tidurnya, dia menatap Sella dengan bingung. Vano berusaha mengumpulkan kesadarannya yang ikut terbenam dalam tidurnya, tak lama mata pria itu membola.


"Allin" Gumannya pertama kali saat kesadarannya pulih, meski suara itu terdengar samar oleh Sella. Dia sangat yakin nama istri mudanya itu yang di panggil oleh Vano.


"Cih!" Sella pun berdecih, menyadari panggilan sayang tadi bukanlah untuknya. Vano setengah sadar mengucapkan padanya.


Sedangkan Vano, bola matanya sibuk mengedar, mencari posisi keberadaan benda yang dapat menunjukkan waktu padanya. Lagi-lagi matanya membola karena angka pada jam dinding sudah menunjuk pukul 09.10, pagi yang hampir terlewati. Seharusnya jam segitu dia sudah berada di kantor dengan tumpukan pekerjaan, sedangkan pada kenyataannya dia baru saja terjaga dari lelapnya.


"Nanti saja aku jelaskan, aku harus segera pulang. Allin pasti menungguku." Ucap Vano sembari tergesa-gesa mengambil seluruh pakaian yang berhamburan dimana-mana.


"Astaga dimana ponselku" Panik Vano sambil menyingkapi setiap barang yang tergeletak di dalam kamar.


Vano menghela napas dalam, mengedarkan pandangannya mencari ponselnya yang tak dia temukan. Dia berusaha keras untuk mengingat keberadaan benda kecil itu. Tapi memorinya tak menggambarkan apa-apa, yang ia ingat, dia telah memasukkan ponsel itu dalam kantong jaketnya.


Sesudah itu dia mulai lagi gelisah, saat wajah Allin terbayang sedang menunggu dibenaknya. Dia menggerutui dirinya sendiri karena lupa mengabarkan Allin semalam dan sekarang ponselnya hilang entah kemana.


Pikiran mengenai Allin menarik perhatiannya, menduga-duga berapa banyak pesan dan panggilan dari istrinya itu yang sedang menunggu untuk dia baca.


"Allin pasti khawatir." Gumannya tak henti-henti, rasa bersalah menghantui pria itu hingga dia mulai tak fokus lagi mencari. Kancing bajunya pun tak terpasang dengan benar, dia terus mondar-mandir tak beraturan.


Sella di atas ranjang hanya memperhatikan Vano yang begitu gusar. Rasanya ingin dia bertanya apa yang terjadi, tapi dia tak ingin menambah beban pria di depannya yang sedang kalang kabut mencari ponsel.

__ADS_1


Melihat Vano yang terus bergerak kesana kemari membuat Sella turut membantu dengan menghubungi nomor Vano. Suara perempuan mengangkat dan mengatakan salah satu pelayan hotel menemukan ponsel tersebut.


"Kau tak usah mencari di sini. Ponselmu bisa kau ambil di bagian resepsionis." Ujar Sella sambil memijit kepalanya yang masih merasa sedikit sakit.


Vano pun berpaling menatap Sella, kerutan di dahi Vano tercetak dengan jelas, saat melihat rintihan kesakitan Sella menyadarkan Vano akan kondisi Sella.


"Kau tak apa-apa?" Tanya Vano khawatir.


"Aku baik-baik saja. Mungkin aku butuh waktu istirahat lebih banyak lagi, aku akan melanjutkan istirahat ku disini" Sella merasa tubuhnya lemas dengan kepala masih berasa pusing, dia memutuskan untuk tak pulang.


"Apakah aku perlu memanggilkan seorang dokter untuk memeriksa kondisimu." Tanya Vano sembari menghampiri Sella dan duduk di tepi ranjang.


"Aku tidak apa-apa! Kau yang terlihat tak baik-baik saja. Kantung matamu terlalu besar, Allin akan mengkhawatirkan kondisimu yang seperti ini, sebelum kau pulang lebih baik kau membersihkan diri terlebih dahulu."


Vano pun menatap matanya dibalik cermin, lingkaran hitam disisi matanya membuat wajahnya tampak lebih tua.


"Kau benar" Vano pun bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Selesai dia membersihkan diri, dia pun bergegas untuk keluar dari kamar. Sella yang masih terbaring di ranjang meneriakinya dengan kesal.


"Kau masih berhutang penjelasan padaku, Vano!!"


Vano hanya mengangguk dan setelah itu dia menghilang di balik pintu kamar.


"Melihat sikapnya pada Allin, aku merasa beruntung tak mempunyai rasa yang mendalam padanya" Gerutu Sella pada dirinya sendiri.


-


-


-


-

__ADS_1


-


__ADS_2