Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Melamar


__ADS_3

Dio sedang asik dengan mainannya, sedangkan dua orang dewasa sedang sibuk berdebat.


Entah apa yang diperdebatkan, bayi Dio tidak memahaminya.


Mereka saling bergulat memukul satu sama lain dengan bantal atau saling berbantah-bantahan, kadang mereka tertawa marah dan cemberut bersama.


Tetapi Dio tidak terpengaruh oleh kegiatan mereka.


Dio tetap sibuk menggigit mainannya, sesekali mereka memandangi Dio dengan sebuah senyuman. Senyuman itu seketika berubah saat mereka saling bertatapan, mata mereka membelalak saling menghunus, mulut mereka tidak berhenti beradu argumen.


Dering telepon memberhentikan perdebatan mereka, Alin segera beranjak dari ranjang berjalan mendekati meja untuk mengambil handphonenya yang berbunyi. "Tante," guman Allin.


Allin menjauh,


***


Allin


"Hallo" sapa Allin


"Allin, Bagaimana kabarmu?" jawab yang di seberang sana.


Aku menjawab bawah aku baik-baik saja dan kami melanjuti perbincangan, kami tak hanya saling bertukar kabar. Tante juga menanyakan tentang majikan ku, apakah mereka berlaku baik padaku, apakah aku merasa nyaman disini, dan hal lainnya. Sebenarnya aku sedikit terkejut, baru kali ini Tante ku menanyakan tentang ini, padahal aku sudah beberapa bulan kerja disini.


Lalu kami juga membahas Tegar yang baru mampu tengkurap, membuat aku prihatin dengan pertumbuhan anakku. Jika dibanding Dio, bayi Dio masa pertumbuhan sangat baik, diusia 6 bulan lebih dia sudah mampu untuk duduk dan merangkak lebih awal dibanding bayi lainya. Mungkin karena Tegar yang sering sakit membuat perkembangan lebih lambat.


"Allin " sapa Tante dengan suara agak tertekan dan sedikit ragu. Seketika terbesit perasaan buruk dari pikiranku, ada suatu masalah ini.


"Ada apa Tante" tanyaku sedikit takut. Ya takut mendapati kabar buruk tentang Tegar, atau hal lain yang membuat Tante ku seperti orang yang tertekan.


Helaan napas Tante terdengar berat, dia diam sejenak membuat pikiran negatif ku makin menjadi.

__ADS_1


"Tegar selama ini sakit" ucapnya.


"Ya Tante, lalu" Aku sudah tau soal ini bahwa Tegar sering sakit tetapi Tante sendiri yang bilang hal ini biasa terjadi pada masa pertumbuhan, tubuh bayi sedang menyesuaikan diri, ucapnya ketika itu untuk menenangkan diriku, tetapi mengapa kini dia seolah-olah bicara aku tidak tau bahwa Tegar selama ini sering sakit.


"Bulan lalu Tegar baru selesai di operasi, tetapi sekarang sudah sehat" ucapnya dengan suara sedikit takut dan hati-hati tetapi tetap saja membuat tubuhku lunglai, kaki kaki ku tak mampu menompang tubuhku, aku terduduk di lantai.


"Tante kenapa tidak memberitahukan Allin" cecarku kecewa. Ibu mana yang tidak kecewa, jika anaknya sakit ia tidak tau. Apalagi sampai dilakukan tindakan operasi, tandanya penyakit itu sudah berat.


"Awalnya Tante berniat memberitahumu, tetapi saat itu majikan mu datang, dia kesini untuk bersilaturahmi, ingin mengenal keluarga kita"


"Majikan? Siapa Tante?"


"Bu Sella, dia juga yang membantu kami membawa Tegar ke rumah sakit dan membayar semua biaya rumah sakit"


Aku makin terkejut, kenapa Bu Sella tidak memberitahuku. Belum sempat pemikiran ku berkeliaran kemana-mana Tante seketika menjawab pertanyaan-pertanyaan ku itu, seolah dia mampu membaca apa yang aku pikirkan.


"Tante yang memohon kepada Bu Sella, supaya kamu tidak diberitahukan. Tante tidak mau mengganggu kamu dan membuat kamu khawatir"


"Bu Sella menawarin untuk memberi tahu kamu, Allin. Tetapi dia akan memberikan kamu izin hanya dua hari, jika kamu lebih dari itu dia akan mencari penggantimu. Karena alasan itu Tante memohon kepada Bu Sella jangan memberitahu kamu, kita butuh biaya banyak Allin. Dan Tante tau bagaimana sikap kamu, jika kamu tau Tegar di operasi, pasti kamu akan pulang, dan mengabaikan pekerjaan mu. Tante hanya memikirkan keadaan Tegar waktu itu, maafkan Tante Allin"


"Aku mengerti Tante, dan sekarang bagaimana keadaan Tegar?" jawab ku kalah.


Apa yang dikatakan Tante benar, aku akan menemani Tegar sampai anakku sehat, dan mengabaikan pekerjaanku. Sedangkan Dio butuh Ibu susu meski dia sekarang sudah belajar makanan pendamping dan susu formula, Bu Sella dan Tuan Vano telah sepakat tetap memperioritaskan ASI untuk Dio, oleh karena itu aku masih dipekerjakan disini. Mungkin itu alasan Bu Sella tidak pemberitahukan keadaaan Tegar padaku, agar aku tetap fokus pada Dio, selama itu juga dia membantu keluargaku. Pikirku se positif mungkin, dan tidak menyalahkan sikap Bu Sella dan Tante ku.


"Dia sudah membaik, hanya tiap minggu dia harus melakukan pemeriksaan rutin, untuk memantau kondisinya"


"Syukurlah kalo begitu, apa uang yang Allin kirim cukup Tante?" tanyaku dengan khawatir.


"Masalahnya disitu Allin, uang yang kamu kirim tidak mencukupi dan biaya operasi kemaren semua Bu Sella yang menanggung dan biaya cek rutin juga Bu Sella yang membiayai."


Aku makin merasa tak enak hati, kenapa majikan ku itu harus membiayai pengobatan anakku, aku ingin menggantinya tetapi uang dari mana, uang simpanan ku hanya sedikit, untuk kebutuhan Tegar setengah bulan saja tak cukup. Bagaimana aku mengganti uang itu?

__ADS_1


"Allin, hingga lima bulan kedepan Tegar tetap membutuhkan biaya yang besar Allin. Setelah enam bulan pasca operasi dokter baru bisa memutuskan bahwa Tegar sembuh total atau tidak. Jika Tegar tidak merasakan sakit dan gejala lainnya." terang Tante dengan nada peringatan.


Aku mengerti maksudnya agar aku tetap bertahan dalam pekerjaanku, kami butuh uang untuk membiayai Tegar.


"Tetapi Tante, gaji Allin juga tidak mencukupi bukan?" tanyaku untuk mempertegas keadaan kami.


"Benar, tetapi Bu Sella sudah berjanji dia akan membiayai sampai Tegar benar benar sembuh."


"Mengapa Tante, Bu Sella begitu baiknya kepada keluarga kita?" tanyaku sedikit curiga. Wajar aku mulai curiga, bagaima tidak? Baru kemarin dia menawarkan aku untuk menjadi istri suaminya.


"Tante awalnya tidak tahu, mengapa dia begitu baik kepada keluarga kita. Yang Tante lihat dia benar-benar tulus sampai sekarang ini dia tidak meminta apapun kepada keluarga kita atau menjadikan biaya pengobatan Tegar menjadi utang piutang bagi keluarga kita. Tetapi semalam orang tua Tuan Vano datang mengunjungi keluarga kita"


"Apa?" tanyaku terkejut, "untuk apa mereka datang?" tanyaku dengan antusias.


"Mereka meminta dirimu"


"Untuk apa tante?" tanyaku yang mulai curiga.


Mungkinkah mereka memintaku untuk menjadi istri Tuan Vano, tetapi tidak mungkin, meski Bu Sella memintaku untuk menjadi istri suaminya bukan berarti mertuanya setuju begitu saja, apalagi status kami yang berbeda jauh dengan keluarganya. Seharusnya mereka dengan mudah mencari pendamping lain untuk anaknya meski untuk jadi yang kedua. Sebagai keluarga kolongmerat siapa yang akan mampu menolak untuk menjadi menantu keluarga Fahrizi, yang hartanya tersebar dalam dan luar negeri.


"Untuk menjadi menantunya" Tubuhku lunglai lagi, yang kuduga benar. Jawaban apa yang harus aku berikan, untuk menolak pernikahan ini.


Hai semua!!😊


Saya penulis baru, dan maaf jika banyak typo, apalagi kata-kata yang tidak sesuai.


Mohon masukannya dan dukungan nya, tulis dikomentar ya.


TERIMAKASIH BUAT KALIAN YANG SUDAH MEMBACA.


DILIHAT SAJA SUDAH SENANG, APALAGI DI LIKE🤭🤭🤩

__ADS_1


__ADS_2