
Di luar Vano tak kalah gelisah menunggu kabar dari dalam berharap dia bisa melihat istrinya itu.
"Tak bisakah kau diam Vano, kau membuat mata kami pusing melihat gerakan langkahmu yang berulang itu" tegur ayah Vano
"Dia seperti sedang menunggu istrinya melahirkan saja" sindir mertuanya
Vano hanya melirik sebentar kedua pria tua itu dan melakukan lagi hal yang sama.
Perasaanya yang tak tentu arah dan berlari kemana-mana seperti mengelilingi putaran dan Allin lah titik pusatnya. Rasanya dia ingin menggedor kamar Allin dengan kuat. Dan berlari menghampirinya untuk mengucapkan kata maaf dan memastikan sendiri keadaan Allin.
Kenapa dokter itu mengatakan Allin baik-baik saja.
Serangan panik selama ini yang menghantui Allin menjadi beban pikiran Vano.
Menurut pelayan yang menghampiri Allin, saat itu Allin sedang berbicara dengan Ardio dan setelah menjawab sahutannya Allin jatuh pingsan. Tapi Allin tidak sama sekali mengalami sesak napas seperti biasanya saat trauma itu muncul.
Apakah Allin bisa mengatasi traumanya itu dengan baik atau keadaan sebenarnya dia malah makin parah. Fisiknya bisa jadi terlihat baik-baik saja tapi bagaimana mentalnya.
Vano makin terusik dengan pemikirannya sendiri, saat tangannya ingin membuka handle pintu itu, ayahnya mendahului menegurnya dan menitahkan untuk Vano menghampiri dan duduk di dlsebelahnya sembari menepuk ruang kosong di sampingnya.
Vano tidak mendekat ke ayahnya dan tidak menjauh juga dari pintu.
"Vano duduklah" tegur ayahnya lagi, merasa mulai jengah melihat sikap Vano, tetapi pria itu terus mondar-mandir di depan pintu kamar Allin.
Kedua pria tua itu menggeleng kepala frustasi melihat tingkah Vano.
"Sebaiknya aku pulang dan pikirkan kembali kepusan apa yang kau ambil Vano dan jika Sella pada akhirnya yang tak bersamamu, antarkan anakku pulang dengan benar Vano" ucap mertuanya dengan tatapan tajam.
Pria tua itu pun berdiri merasa lelah menunggu, dia juga tidak menyadari sedari tadi apa yang dia tunggu. Toh, Sella sudah mengambil keputusan dan menantunya meski tidak jelas dengan sikapnya, tetapi dia sudah menduga Vano tidak benar-benar ingin menceraikan istri keduanya itu.
Dia mencoba menghargainya karena sikap Sella lah yang mendorong menantunnya untuk mencintai perempuan itu, dia takkan menghalangi keputusan apa pun yang akan di ambil Vano.
Besannya mengikutinya dari belakang dan Vano mengangguk sembari mencium tangan mertuanya itu.
Di dalam.
__ADS_1
"Maaf Bunda, aku ingin seperti kesepakatan kita semula, ketika aku hamil kau mengizinkan aku pergi"
Bunda terdiam dan Sella memperhatikan Allin dan bunda bergantian.
"Kesepakatan apa?" tanya Sella curiga.
Bunda melirik Sella sebentar lalu dia menatap Allin dengan lekat.
"Situasi sekarang berbeda Allin, Vano mencintaimu dan Sella juga ingin bercerai dengan Vano. Meski kau tak mengatakan bahwa kau mencintainya tetapi kami yakin kau sangat mencintai Vano"
"Tidak" sangkal Allin.
"Kami bukan anak kecil Allin yang bisa kau tipu, mungkin jika kau bicara dengan teman seumuranmu mungkin ada yang percaya, mungkin." Sella mempengati sikap Allin dengan berujung mengejek sikap Allin dan Sella sengaja menyela bundanya untuk bisa bicara pada Allin. "Sekarang kau bilang tidak, jelas sekali tadi kau begitu kecewa saat Vano bilang ingin menceraikanmu" sindir Sella terang-terangan dengan tatapan mengejeknya.
"I-itu beda!" sahut Allin cepat meski terbata dia tetap mencoba menyangkal, dia menantang mata Sella dengan tatapan tajam. "Paginya dia memberi harapan padaku dan tadi dia bersikap seolah jijik denganku, tanpa pembukaan tiba-tiba dia bicara lantang di depan kalian ingin menceraikan aku, dia seperti ingin mengusirku segera. Lalu sikapnya yang mana yang menunjukkan dia ingin mempertahankan diriku" cecar Allin menggebu.
"Lagi-lagi kau menyangkal Allin. Lalu apa bedanya, tadi pagi kau menerima keputusan Vano, kenapa sekarang tidak" jawab Sella tak mau kalah.
Allin terdiam. Bunda mengusap lembut tangannya. "Bunda tahu kau marah dan kecewa dengan Vano, tetapi dengarkan dulu alasannya kenapa dia berkata begitu. Saat kau pingsan tadi dia begitu khawatir denganmu Allin"
Sella menyimak dengan diam, mengingat alasan Vano rasanya ingin mengajukan banyak pertanyaan kepada Allin tentang Ardio, tetapi dia menahan diri untuk itu, karena ada bunda diantara mereka.
"Dia hanya berencana mengatakan itu, jika kau menganggap dia sudah menceraikanmu maka dia juga sudah menarik kata-katanya itu Allin. Kadang emosi membuat orang lupa dan tergesa-gesa mengambil keputusan, kau harus memakluminya, tetapi sejujurnya Bunda juga marah dengan anak itu. Tetapi demi anakmu, demi bunda, dan demi cinta kalian, kenapa kau tak coba memaafkan"
"Tidak semudah itu Bunda, aku akan baik-baik saja jika dia tidak berjanji apa-apa, tapi setelah dia membuat aku berharap dia membuang aku begitu saja, hingga hati ini merasa dikhianati." jawab Allin jujur tanpa menutupi perasaan kecewanya.
"Allin kenapa kau tidak menerima saja dan mendengarkan ucapanmu sekarang membuat aku geli, kau kekanak-kenalan" sindir Sella lagi.
"Dibanding dirimu aku memang masih anak-anak"
"Iya, anak-anak yang sudah beranak"
"Kau pikir aku kucing. Beranak, tak adakah kata yang lebih bagus dari itu"
Sella mencibir tak peduli.
__ADS_1
"Astaga, kenapa sedari tadi kalian terus berdebat"
"Dia yang memulai, Bun" bela Allin. "Dia selalu menyudutkanku, jika kau tak rela melepaskannya ambil saja pria tua itu, aku tak menginginkan dia" ucap Allin pedas.
"Kau kira aku barang" Vano berujar dengan dingin, dia merasa tersinggung dengan ucapan Allin yang menolaknya secara tidak lansung. Pria itu baru beberapa langkah masuk, sudah mendengar betapa tidak diinginkan dia oleh Allin.
Allin membuang muka dengah acuh dan tidak peduli raut kecewa Vano, karena dialah disini paling kecewa, pikirnya.
Bunda menepuk pelipisnya merasa frustasi melihat sikap Vano, Allin dan Sella, mereka terlalu menuruti egonya, dan meninggikan gengsinya.
"Sebaiknya kita bicara di luar Vano." bundanya mencoba menghentikan situasi yang akan memanas jika di biarkan mereka tetap dalam satu ruangan.
Vano tak menyahuti, tetapi dia mengikuti langka bundanya keluar, sebelum menutup pintu dia menatap sendu pada Allin. Perasaannyan kini begitu campur aduk, tetapi dia menekan amarahnya karena dialah yang menyebabkan perempuan itu begitu.
Sesampai di luar bunda menepuk lembut pundak Vano untuk menguatkan anaknya itu. Perkataan Allin tadi mungkin membuat suasana hati Vano makin tak menentu.
"Maafkan Allin, dia kecewa dengan apa yang kau lakukan padanya tetapi yang terpenting kau tetap harus bisa menjaga suasana hatinya biar tidak stress demi anakmu"
"Anakmu??" ayah dan Vano kompak bertanya.
Bunda menatap pada mereka berdua.
"Apa Sella tidak memberitahu kalian"
Mereka menggeleng
Bunda tersenyum riang membayangkan dia akan mendapatkan seorang cucu yang selama ini yang mereka nanti "Allin hamil" seru bunda dengan antusias.
Ayah Vano seketika tersenyum, dugaannya benar saat istrinya menyebut anak spontan dia memikirkan bahwa Allin hamil.
Vano terdiam mencerna kata-kata bunda lalu senyum merekah menarik ujung bibir terangkat. Matanya pun berkaca di ikuti gemuruh di dadanya, tak lama dia sujud syukur atas anugerah yang selama ini dia tunggu-tunggu.
Lalu matanya tertuju pada pintu yang tertutup itu, rasanya ingin dia berlari tetapi dia mencoba menahan diri, dia tau perempuan keras kepala itu kini sedang menolaknya.
Pada akhirnya semua orang kembali mengistirahatkan diri. Ayah dan bundanya memutuskan untuk menginap. Sella memilih tidur di kamar Allin, keputusan sudah bulat, dia ingin memyudahi pernikahannya ini.
__ADS_1
Vano di kamarnya, hanya membolak-balikan tubuhnya di atas ranjang. Kali ini dia dia tidak bisa mengendap-ngedap masuk ke kamar Allin, Sella ada di situ. Dia keluar kamar duduk ruang keluarga tadi, berharap Allin bosan di dalam kamar dan menyelinap keluar.
Matanya pun lelah melirik ke arah pintu kamar Allin yang posisinya terlalu jauh. Entah ide dari mana dia menarik sofa malas meletakkanya dekat pintu Allin, sambil tiduran dia bisa menatap pintu itu dan jika dia tertidur pendengarannya akan menangkap dengan cepat.