
Perempuan hamil itu benar-benar membuat anaknya tak jauh dari sisinya, dia pun tak mengizinkan babysitter itu untuk mengurus sama sekali. Malam pun dia membawa bayi kecil itu ke kamarnya, bermain dan mendekapnya erat di pelukannya. Baginya bayi tampan itu adalah obat kekecewaan dan pengalihan dari rasa kesalnya.
Kini mereka sedang sarapan, bayi tampan itu dalam pangkuan Allin. Seseorang masuk dengan wajah yang segar dan tersenyum ceria menatap Dio, dia pun menghampiri memberi kecupan selamat pagi.
Aroma tubuh pria itu memabukkan di penciumannya, mata perempuan itu menutup menikmatinya diam-diam.
Rindu, dia rindu dengan aroma ini. Pikiran dan hatinya mulai menginginkan sesuatu, berharap suaminya akan memberi kecupan selamat pagi padanya.
Cium! Cium! Cium! Serunya dalam hati.
Matanya terbuka merasakan pergerakan suaminya menjauh, dia mulai mengumpat, dan matanya memicing menatap tajam punggung suaminya itu.
Pria itu menyeringai sembari berjalan dan duduk menjauh, berseberangan dengan bangku istrinya itu.
"Dia benar-benar menyebalkan" umpat perempuan itu.
Perempuan itu pun beranjak dari meja makan meninggalkan makanan dan suaminya, dia membawa Dio bersamanya dan menuju lantai atas.
Saat dia tak berharap suaminya menyusul, pria itu malah menghampirinya di kamar membawa sepiring makanan.
Pria itu duduk di hadapannya dan menatapnya dalam diam, tetapi tangannya mengulur makanan dengan sendokan penuh.
"Ayo makan!" bujuk pria itu.
Perempuan hamil itu mengatupkan bibirnya, sengaja menolak suapan suaminya.
"Allin!" tegur suaminya dengan nada suara mulai meninggi.
Dia menyebalkan! Sekarang dia tidak mau memanggilku sayang.
"Baiklah jika kau tidak mau makan sebaiknya kau istirahat biarkan Dio dengan babysitternya."
"Tidak!" tolak Allin
"Kalau begitu, segera habiskan makananmu, kau butuh tenaga untuk menjaga Dio dan anak kita."
"Dia anakku" sangkal Allin sembari memeluk erat perutnya
Tek, sendok makanan itu sudah beradu dengan kepalanya sedikit kencang.
"Sakit" rengek perempuan hamil itu dengan mengusap lembut pelipisnya
"Biar otakmu sedikit terguncang dan pikiranmu menjadi waras, dia anak kita Allin, kau tidak bisa menghadirkannya di sana jika kita tidak membuatnya, dan kau membuatnya bersamaku"
"Menggelikan!" guman perempuan hamil itu.
__ADS_1
"Ya betul, memang sedikit menggelikan dan-"
"Cukup!" potong perempuan itu, dia tau arah kemana kalimat selanjutnya, itu akan membuatnya lebih malu.
Vano hanya menyeringai tipis mulut itu akhirnya terbuka. Suapan makanan itu habis tanpa tersisa, "sepertinya anak kita benar-benar kelaparan," sindir Vano
Perempuan itu diam tak menyahuti.
"Baiklah, aku berangkat kerja dulu," pria itu mencium Dio dan lebih mendekati perempuan itu, memberi kecupan di keningnya.
"Ini untuk anak kita" bisiknya.
Wajah perempuan itu seketika merengut mendengar bisikan suaminya, "aku juga tak mengharapkannya," balasnya ketus.
"O ...," Vano mengangguk mengiyakan, "tapi anak kita perlu tahu, papinya ini menyanginya, jadi kau harus terbiasa jika aku mengecup dan membelainya, karena dia sedang berada dalam dirimu, kau harus mengerti dan jangan menolak sentuhanku" ejek Vano sembari menghelus perut datar istrinya.
Allin tak mengelak tetapi perempuan itu membuang mukanya dari pandangan suaminya.
"Dan ini untuk pipinya" pria itu menciumnya lagi di wajahnya, "dan ini untuk hidungnya." Dia memenuhi wajah perempuan itu dengan kecupan singkatnya sembari mengucapkan ini buat anak kita.
Perempuan itu mulai jengah dengan tindakan suaminya dan menatap tajam padanya. Tetapi pria itu malah memberi kecupan singkat pada bibirnya dan beranjak pergi setelah itu, dan membuat wanita itu membelalakan matanya.
"Kau penipu!" pekiknya merasa di bodohi oleh suaminya.
Vano hanya melambaikan tangannya tanpa menoleh pada istrinya dengan senyum kemenangan di wajahnya.
***
"Kau terlihat manis dan penurut dalam tidurmu, aku yakin saat kau terbangun melihatku berada di ranjang yang sama denganmu, kau pasti mencakarku." guman pria itu.
Dia bersyukur, perempuan di dalam pelukannya ini hanya peka dengan suara tetapi tidak dengan gerakan.
Kebiasaan itu terlatih saat seorang ibu memiliki anak bayi, mereka lebih menajam pendengaran untuk menangkap tangisan anaknya ketika dia tidur, dan mereka kurang peka dengan pergerakan, malahan saat anaknya menyusu, gerakan sang anak membuat mereka terbuai untuk mengistirahatkan tubuhnya tetapi tetap awas menjaga anak mereka dengan menajamkan pendengaran.
Padahal hampir tiap malam pria itu mengendap-ngendap masuk ke kamar istrinya dan mendekap hangat tubuh istrinya itu, perempuan itu sama sekali tak terusik, malah terlihat nyaman. Handle pintu dia ganti, dengan handle yang tidak menimbulkan bunyi agar dia bebas keluar masuk.
Pria itu tau karakter keras istrinya yang sulit bujuk, ucapan dan rayuannya takkan berpengaruh dengan perempuan di hadapannya ini.
Dia perempuan berbeda yang tak mudah terbaca, kadang dia bisa bersikap layak seorang perempuan, kadang dia juga bersikap teguh seperti seorang lelaki.
Satu hal yang pria itu yakini, perempuan di hadapannya ini perlu waktu untuk mencerna semua kejadian ini, dia sendirilah yang bisa mengobati lukanya, seperti dia mengobati traumanya.
"Maaf beberapa hari ini aku sudah mengabaikanmu, aku tau kau sangat terusik dan kesal padaku, tapi cara itulah yang terpikir olehku untuk membujukmu" pria itu bicara pada perempuan yang sedang tidur itu dengan wajah senang.
Senang karena istrinya sudah kembali bicara dengannya, dugaannya saat ini istrinya sudah kembali membuka hatinya untuk dirinya.
__ADS_1
Mata perempuan itu terlelap tetapi dia terus bergerak mencari posisi nyaman di dalam dekapan suaminya. Pria itu pun mulai merasakan reaksi panas dari tubuhnya.
"Selalu begini, dia menyiksaku, tetapi aku takkan bisa tidur jika tak memeluknya" dia pun bermonolog meredakan hasratnya
"Allin, Allin" pria itu melupakan ketakutannya dan kemarahan istrinya, dia mencoba membangunkan.
Tak perlu waktu lama istrinya pun terbangun.
Mata perempuan itu terbuka lebar dengan tatapan sayu pada suaminya, dia sedikit terkejut melihat suaminya di hadapannya, tetapi dia lebih tertarik dengan tatapan mata pria di depannya yang sudah berkabut, menatapnya begitu lapar.
"Sayang, bolehkah aku menyentuhmu" pinta pria itu penuh harap. Jemari pria itu terus membelai punggung istrinya dan satu tangannya lagi membelai bibirnya.
Allin mengangguk mengiyakan ajakkan suaminya. Tapi itu hanya sesaat, perempuan itu tersadar dan kembali melontarkan kalimat penolakkan. "Bukannya kau sudah memiliki penggantiku" ucapnya sembari menjauh dan melepaskan dekapan suaminya.
Kemarahan dan kecemburuan melingkupi perempuan itu, dia tidak sepenuhnya sadar dengan ucapannya yang akan membuat di menyesal.
Pria itu lansung tersinggung, merasa dia terang-terangan di tolak, dia pun lansung berdiri dan turun dari ranjang, melangkah pergi tanpa mengucapkan sepatah kata menyahuti kalimat istrinya.
Deg, perempuan itu menyadari kesalahannya melihat sikap dingin suaminya.
"Berhenti!" sentak istrinya tiba-tiba, pria itu hanya menghentikan langkahnya tanpa menoleh. "Apalagi" tanyanya begitu dingin.
"Jika kau pergi ..., a-aku takkan memaafkanmu" ancam perempuan bodoh itu dengan suara terbata. Meski perempuan itu tak mengucapkan kata maaf, tetapi nada penyesalan sangat kental terdengar.
Pria itu membalikkan badannya, menatap istrinya dengan lekat, wajah istrinya terlihat begitu gusar dan tak berani menatapnya dengan begitu lama, perempuan itu sesekali menunduk.
"Lalu maumu apa?" tanya pria itu dengan nada suara yang menyudutkan.
Perempuan itu tampak berpikir, menatapnya sekilas, lalu dia menggeleng dan menundukkan wajahnya.
Perempuan itu tak tau juga, apa sebenarnya yang dia inginkan.
Pria itu pura-pura tidak peduli dengan kegusaran sang istri dan dia makin menjadi memprovokasi istrinya dengan tatapan matanya, dia mencoba menyudutkan istrinya untuk bicara.
"Hush ...!" perempuan itu mendengus kesal dan merasa kalah, dia menatap suaminya sekilas dengan bibir mulai bersungut, lalu dia menenggelamkan tubuhnya di balik selimut. "Kau tidak peka!" pekiknya dalam selimut.
Pria itu menyeringai tipis melihat sikap istrinya, dia pun menghampirinya dan ikut menenggelamkan tubuhnya ke dalam selimut.
Satu minggu lebih, mereka perang dingin!
Perang dengan hujaman mata, perang dengan tindakan saling mengacuhkan, perang dengan ucapan, lalu perang itu berlanjut di balik selimut.
Pria itu merayu, perempuan itu mengumpat. Pria itu membelai, perempuan itu memukul. Satu yang pasti, mereka melepaskan semua emosi dalam pergulatan hebat itu, membuat butiran peluh keringat membasahi tubuh mereka. Dan di akhiri dengan ucapan terimakasih dari sang suami.
Kini tatapan mereka sudah berbeda dengan senyuman yang tak lepas menghiasi wajah.
__ADS_1
***