
Ardio menatap lekat pada layar laptopnya. Satu folder yang dia simpan selama satu setengah tahun yang lalu, dia coba untuk membukanya kembali.
Sebelumnya. Pesan singkat dari Bams mengatakan ada satu hal yang harus dia pastikan sendiri kebenarannya. Semua yang selama ini tampak abu-abu kini telah menunjukan warna yang lain. Tentang gadis satu setengah tahun yang lalu, yang menghantui perasaan bersalahnya.
Bams yakin dengan perempuan itu, dia adalah wanita yang Bams minta tolong untuk mengantarkan obat untuk Ardio. Tetapi Ardio lah yang seharusnya lebih tahu, siapa perempuan itu.
Perempuan yang dia rusak akibat pengaruh obat yang entah siapa yang memasukannya ke dalam minumannya.
Perempuan yang berniat baik mengantarkan obat dari Bams untuk dirinya. Malah bayangan Sella tiba-tiba tergambar di wajah itu, saat pintu kamarnya dia buka. Dia menarik perempuan itu dengan gerakan cepat, memperangkap tubuhnya, dan hal yang bejat itu pun terjadi.
Suara rintihan tangisan dan permohonan berulang-ulang mengalun di pendengarannya, tapi Ardio sendiri tak mampu mengendalikan dirinya sendiri.
Saat matanya terbuka, semua sudah tampak kacau. Barang-barang sudah berserakan di lantai, butiran obat berhambur dimana-mana.
Kepalanya yang terasa pusing dia paksakan untuk mengingat kejadia semalam, tetapi hanya suara rintihan yang dapat ia tangkap.
Rintihan seorang perempuan yang memohon untuk di lepaskan.
Deg.
Matanya terpaku pada salah satu gambar, gambar yang hampir keseluruhannya berisi anak perempuan remaja. Dan hanya beberapa orang yang dia kenali.
Dia mencoba menggeser kembali, mencari gambar perempuan itu lebih jelas lagi. Ya, dia wanita yang sama yang dia temui di restoran bersama suami Sella.
Ternyata perempuan itu tertangkap beberapa kali dari kamera pihak penyelenggara. Dia mencoba untuk mengingat tetapi tak mampu.
Hanya keterangan dari Bams dan gambar itu menunjukan dia adalah korban yang selama ini yang dia cari. Tetapi semua itu belum jelas pasti, dia perlu memastikan sendiri. Dia akan mencari cara untuk itu.
***
Matahari sudah kembali pada peraduannya dan rembulan telah bersinar dengan terang. Di salah satu ruangan mereka berempat berkumpul layaknya sebuah keluarga yang sedang menikmati makan malamnya.
Mata seseorang masih tak lepas memandangi Vano. Dan wanita paruh baya itu menyadari sikap anaknya, yang tidak sopan.
__ADS_1
"Mila, ikut Ibu ke dapur" tegur tante Mia pada anaknya.
Mila tak menjawab, tetapi dia mengikuti ibunya ke dapur.
Sesampai di dapur perempuan itu lansung bertanya pada ibunya, "Ada apa Bu?" tanyanya tanpa merasa berdosa.
"Jaga sikapmu! Kau menatap suami adikmu terlalu berlebihan" tegur tante Mia dengan tatapan tidak suka.
Mila menyeringai melihat tatapan ibunya. "Dia bukan adikku Bu. Dan aku sudah bilang pada Ibu, seharusnya Ibu menikahkanku dengannya. Mengapa Ibu malah menjodohkan dengan pria itu"
Dari awal Mila sudah memohon pada ibunya, agar dia saja yang menikahi pria kaya itu.
Tidak perlu untuk membujuk Allin untuk menerima pernikahan itu, dia dengan tangan terbuka akan menerima kesepakatan yang mereka buat dan melahirkan anak untuk keluarga Fahrizi.
Mila percaya dengan pesonanya, dia gadis cantik nan tinggi semampai dengan kulit putih yang mulus, jika harus di bandingkan dengan Allin gadis berkulit kuning langsat itu tak sebanding dengannya, pikir Mila yang tak menerima nasib adik angkatnya itu lebih baik darinya.
"Kau tidak tahu diri Mila. Bukan aku yang menjodohkannya, keluarga Fahrizi yang meminta Allin"
"Tetapi kenapa Ibu memberikan pria tampan kaya itu kepadanya, bukan kepadaku. Setidaknya Ibu bisa menawarkan diriku untuk anak mereka" cecarnya lagi tak mau kalah.
"Astaga Ibu, kau terlalu berlebihan. Allin hanya wanita simpanan, dia tidak sepenuhnya di inginkan Ibu. Dia hanya alat buat melahirkan anak pria itu dan aku juga bisa melakukannya, kenapa harus Allin"
"Jaga ucapanmu Mila dan berhenti bersikap seperti gadis murahan"
"Kau selalu saja membela perempuan gila itu."
"Cukup Mila! Kau jangan pura-pura tidak tahu Mila, semua yang Ibu lakukan demi kebaikanmu dan ..., sudahlah." tante Mia pergi meninggalkan Mila dengan rasa kecewa, anak yang selama ini dia rawat meragukannya, padahal selama ini yang dia lakukan untuk kebaikan Mila.
Di ruang makan tante Mia menatap Allin dengan rasa bersalah. Tak seharusnya dia membohongi ponakannya itu. Kebohongan yang akan mungkin akan merusak hidup Allin lagi. Kebohongan yang dia lakukan untuk menyelamatkan sesuatu tetapi itu tetaplah sebuah dosa. Kebohongan yang mungkin akan dia tutupi untuk selamanya.
"Allin, kamar untuk Tuan Vano sudah tante persiapkan di sebelah kamarmu. Tolong antar Tuan Vano ke kamarnya ya, kalian mungkin sudah lelah seharian ini dan perlu istirahat"
Mata Allin dan Vano saling bertemu dan bertukar pandang. Vano sedikit terkesiap mendengar kata tante Mia. Ada rasa ingin menolak, tetapi sebagai tamu harus mengucapkan rasa terimakasih. Tatapannya pun ia palingan ke wanita paruh baya itu.
__ADS_1
"Terimakasih" sahut Vano dengan nada datar.
Mila menangkap rasa resah Vano, dia pun ikut menimpalin pembicaraan itu.
"Allin, selagi kamu di sini, Tegar tidur bersamamu kan?" potong Mila tiba-tiba dari belakang.
Allin menoleh ke Mila lalu dia mengangguk.
***
Vano terduduk di atas ranjang, memperhatikan sekelilingnya, dan tiba-tiba seorang masuk.
"Maaf Tuan, apa kau perlu sesuatu?"
Lagi-lagi Vano tidak menanggapinya, dia hanya melihat sekilas.
"Maaf aku takut kau perlu sesuatu, sedangkan Allin sedang sibuk menidurkan Dio dan Tegar, jadi aku menawarkan diri." Mila lagi-lagi mencoba mencari perhatian Vano.
"Semua laki-laki itu sama.Kau bisa menerima Allin kenapa aku tidak bisa menggodamu," batin Mila yang tetap menatap Vano.
"Sebaiknya kau pergi" Vano akhirnya menyahut tapi matanya tak menoleh sedikit pun.
"Baiklah Tuan. Jika kau perlu sesuatu, panggil saja aku" setelah mengatakan itu, perempuan itu bukan pergi, dia malah masuk mendekat ke arah meja nakas, dan mengambil remot pendingin ruangan dan mencoba men-setting-nya.
Vano menatapnya dengan tajam. Perempuan itu tak merasa bersalah sama sekali, dia tersenyum membalas tatapan Vano sembari menyelipkan helaian rambutnya ke atas telinga. Gerakannya dia buat se-menggoda mungkin, gaun tidurnya yang tipis itu terangkat memperlihatkan kulitnya yang putih.
"Aku hanya men-setting suhu ruangan ini. Remotnya suka lemot, jadi harus di pukul-pukul sedikit" jawabnya mencari alasan yang tepat untuk Vano percaya. Dia sadar Vano masih belum tergoda olehnya, mata pria itu menajam padanya.
"Jika sudah, sebaiknya kau pergi." tegur Vano dingin.
Mila menggerutu dalam hatinya, tetapi wajahnya tetap menampakkan senyum menggoda.
"Ya Tuan, maaf jika aku mengganggumu. Selamat istirahat"
__ADS_1
Vano tak menyahut dan tak menoleh.