Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra part 2


__ADS_3

Ardio berusaha keras untuk mendekati Vano dan Allin, meski tak mudah baginya mendapatkan kepercayaan untuk menemui Dio.


Pernah, dia menunggu Vano pulang kerja hanya untuk menemui anaknya.


Itu juga, dia tak bisa berlama-lama karena berbenturan dengan jam tidur Dio.


Waktu yang singkat dia mamfaatkan dengan menggendong Dio dan mengajak bayi kecil tampannya bermain dan bernyanyi. Meski dia diabaikan oleh tuan rumahnya, dia tak peduli, Vano hanya sebentar menemuinya lalu dia begitu saja meninggalkan Ardio dengan Babysitter Dio. Pengasuh bayi itu dengan senang hati menemani sang artis. Senyum tak lepas dari wajah pengasuh Dio, kadang dia tertangkap basah menatap Ardio dengan lekat.


Dan Allin, jangan di tanya. Perempuan itu tak nampak batang hidungnya sama sekali. Allin di kurung Vano di dalam kamar. Suaminya sengaja mengeluh kecapaian dan mengambil perhatian Allin sebanyak mungkin agar istrinya tak bertemu dengan mantan idolanya.


"Sayang, cepatlah! Tiba-tiba kepalaku terasa sakit. Dan badanku terasa remuk," rengek Vano dari atas ranjang.


Allin tak curiga dengan sandiwara suaminya, dia pun tergesa-gesa masuk ke dalam kamarnya membawakan segala air minum dan mengambil kotak obat di sudut dinding.


"Kau mau minum obat apa?" tanya Allin lembut sambil membuka kotak obat di hadapan Vano. Nada khawatir dalam suaranya membuat Vano menahan senyum untuk tetap fokus pada aktingnya.


"Aku minum ini saja!" Vano bukan mengambil obat sakit kepala tapi dia malah mengambil suplemen penambah stamina.


Allin seketika melebarkan bola matanya, menatap tidak suka pada Vano, menyadari akal-akalan suaminya.


"Kau membohongiku!" ketus Allin. Tangan kecilnya memukul pelan lengan Vano.


Vano menggaruk kepalanya yang tak gatal dengan cengiran berdosanya. Ternyata lelaki itu tak sepandai istrinya untuk berlakon, dia lupa dan malah mengambil suplemen bukan obat untuk mengobati sakitnya.


Vano tak ingin Ardio menemui Allin karena dia beralasan trauma istrinya bisa saja kambuh lagi. Jadi dia tak mengizinkan Ardio bertemu anaknya di rumah mereka kecuali dia sedang berada di rumah.


Sedangkan Allin tak mengizinkan Ardio membawa anaknya, kecuali ayah dari anaknya itu menemui Dio yang masih berada di lingkungan rumahnya. Atau Ardio bisa menemui anaknya melalui Sella.


Itulah yang membuat Ardio kesulitan menemui anaknya, syarat dari pasangan itu saling bertentangan.

__ADS_1


Jalan satu-satunya yaitu Sella, tapi perempuan itu hilang entah kemana selama berapa bulan ini. Ardio kesulitan menemui Sella, dari postingan di media sosialnya, perempuan itu sedang berada di luar kota. Pesan Ardio tak satu pun di balas oleh Sella.


Hanya baru beberapa menit yang lalu memikirkan keberadaan Sella. Ponselnya berdering, nama Sella tampil di layar benda mungil itu. Masih rasa yang sama, jantungnya berdegup dengan kencang, Sella selalu membuat dia gugup baik dekat atau pun jauh. Bagaimana dia bisa menyangkal perasaannya tetap berada di tempat yang sama, seperti enam tahun yang lalu. Sejenak, dia mengontrol emosinya, lalu menggeser layar dan membawa mendekat ke telinga.


"Kau ingin menemui Dio, datanglah ke rumah keluarga Fahrizi!" Tanpa kata-kata sapaan, perempuan itu lansung bicara dan Ardio tak di beri kesempatan untuk membalas sahutannya, sambungan telpon itu lansung di matikan oleh Sella.


Kedua ujung bibir Ardio tertarik seketika. Tak penting baginya dengan sikap Sella, yang jelas perempuan itu sudah mau berinteraksi dengan dirinya membuat ia senang.


Tapi aku tak diizinkan oleh Vano untuk masuk ke rumah mereka.


Ardio mengirimkan pesan dan memastikan bahwa dia benar-benar telah diizinkan untuk memasuki rumah kediaman keluarga Fahrizi pada jam kantor Vano.


Terserah, kau mau datang apa tidak!


Balas Sella singkat dan tanpa membujuk Ardio untuk ke rumah keluarga Fahrizi, meskipun begitu Ardio bersigera pergi menuju tempat tersebut.


Baru beberapa langkah dia masuk dikediaman keluarga Fahrizi, suara keributan telah menyambutnya. Ia hafal betul, suara lelaki pemilik rumah ini.


"Sayang, biarkan Sella membawa Dio" bujuk Vano.


Allin tak menjawab dia berpaling dari Vano menatap Sella kesal. Perempuan itu tiba-tiba datang setelah sudah beberapa bulan menghilang, tanpa memberi kabar dan sekarang dia ingin membawa Dio dengan mantan pacarnya itu.


"Bagaiman jika Mbak Sella membawa kabur Dio dengan mantannya?"


Sella berdecak kesal pada pernyataan Allin yang terang-terangan menyebut Ardio mantannya. Ia yang sedang duduk berhadapan dengan Vano dan Allin, hanya melirik perempuan hamil itu sebentar lalu dia kembali pada Dio yang sedang dalam pangkuannya.


Sella tampak tak terganggu dengan pernyataan Allin yang menuduhnya akan membawa kabur Dio, ia tak peduli. Drama Allin dia sudah hafal. Memang sangat menjengkelkan, Allin dengan sengaja akan menahannya untuk lama-lama di kediamannya, lalu tak tau malu perempuan hamil itu akan bercerita panjang lebar membuat kupingnya panas dan jengah.


Sella mulai merasa menyesal pernah berbagi cerita sama perempuan hamil tersebut. Ataukah dia yang tak sadar mulai percaya pada Allin untuk berbagi kisahnya.

__ADS_1


Vano menarik napas dan mengeluarkan dengan kasar, menandakan dia hampir menyerah membujuk Allin. Istrinya menghubungi dan meminta dia pulang dari kantor karena permintaan Sella untuk membawa Dio pergi. Allin bersikeras pada Sella mereka tetap di rumahnya, dia tak ingin Dio jauh darinya.


Tapi Allin tak tau dua orang dihadapannya mempunyai kecemburuan yang ingin mereka tutupi. Vano tak ingin Allin bertemu lama-lama dengan Ardio begitu juga Sella dia tak ingin Ardio terlalu lama dekat dengan Allin. Meski dia tak menunjukkan perasaan pada mantan itu tapi dia tidak ingin gebetannya berbalik arah pada Allin. Pesona gadis ceria dan bermulut berisik tersebut tak dapat dia sangkal lagi.


Cukup pengalaman mengajarkannya.


"Atau kau mau ikut bersamaku?" tawar Sella dengan menatap mereka lekat, belum lagi senyuman menggoda terukir di wajah cantiknya. Perempuan itu sengaja memancing emosi keduanya.


Vano dan Allin melotot seketika. Perempuan hamil itu mengira Sella mengajak suaminya, tentu dia takkan mengizinkannya. Dan sebaliknya Vano. Kalimat Sella yang ambigu membuat rasa cemburu mereka terbit tak terima. Sella pun menyeringai kemenangan.


Ardio berdehem, menunjukkan kehadiran di situ. Menarik tatapan kedua pasangan suami istri pada sosok yang hadir di dalam rumah mereka dengan heran, lalu mereka mengalihkan pandangannya pada Sella. Mempertanyakan kenapa sosok lelaki itu berada rumah mereka, meski tanpa suara hanya berupa tatapan Sella tetap mengerti.


"Kenapa dengan kalian, aku sudah minta izin untuk membawa Dio, kan? Cuma beberapa hari saja" jelas Sella tanpa merasa bersalah , perempuan itu benar tak peduli dengan sorot protesan Allin dan Vano. Dan dia dengan ramah mempersilahkan Ardio untuk duduk di sampingnya mendahului tuan rumah.


Allin malah menarik Vano untuk berdiri dan menjauh dari dua orang asing atau kerabatnya, hubungan mereka tak jelas.


"Pokoknya aku tidak setuju Mbak Sella membawa Dio!" rengek Allin. Vano menatap istrinya sebentar lalu mengalihkan pandangan pada tamu yang tak di undang.


Vano tak ingin egois, ada hak Ardio pada anaknya dan bagaimanapun Sella ibu angkat Dio, dan ada harapan lain yang terbesit dalam dada pria itu, berharap pasangan di hadapannya dapat lagi merajut hubungan mereka yang kandas.


Ardio mengecup pipi Dio dan seketika Sella membuang pandangannya ke arah lain. Jarak mereka terlalu dekat, hembusan napas Ardio dapat Sella rasakan. Wajahnya mulai memerah. Senyum pria itu terbit melihat sikap canggung Sella, dia malah sengaja berlama-lama mencium Dio. Sella yang mulai jengah sengaja mendorong Dio lebih mendekat pada Ardio.


"Ambil Dio" pinta Sella tanpa menoleh. Suara Sella membuat Allin dan Vano menatap tamu tak di undang itu dengan mengerutkan dahi. Perdebatan mereka pun terhentikan. Meski mereka melewati momen kedekatan Sella dan Ardio, tapi sisa-sisa kecanggungan dua jenis kelamin berbeda itu masih tampak jelas. Allin dan Vano bertukar pandang dan saling mengumpat dalam hati.


"Apa pria semua begitu," gerutu Allin.


"Modus!" decak Vano kesal.


"Ya, sebaiknya kalian segera pergi!" usir Vano tanpa minta persetujuan Allin. Kali ini istrinya tak protes.

__ADS_1


__ADS_2