
Pintu kendaraan terbuka, ke dua perempuan itu langsung keluar dan berjalan masuk kedalam rumah sakit.
Vano mengikuti dari belakang, lirikan matanya tak lepas dari tangan Allin.
Pegang, tidak! Pegang, tidak!
Berulang kali dia berpikir hingga sosok itu telah menjauh dari jangkauannya.
"Aaaa ...! Keberanianmu di pertanyakan Vano" gerutunya pada diri sendiri.
Pria itu tertinggal di belakang menatap lekat punggung perempuannya. Keramaian pengunjung rumah sakit yang berdesak-desakan yang sedang antri membuat dia kesal sendiri.
"Kenapa melewati jalan ini" gerutunya lagi saat melihat banyaknya pasang mata menatap istrinya membuat kecemburuan dalam dirinya.
Dia istriku, dia milikku. Vano meyakinkan diri sendiri, dia melangkah lebih cepat menyusul kedua perempuan itu dan merangkul pundak istrinya.
Seketika perempuan itu menatap dengan tidak suka, tetapi perempuan itu tidak bersuara hanya berusaha melepaskan jeratan rangkulan di pundaknya.
"Diamlah!" perintah Vano dingin tak ingin di bantah tanpa menatap istrinya, padahal jauh dalam dirinya begitu takut akan penolakan istrinya. Dugaan Vano tak salah perempuan keras kepala itu menolaknya dan malah ingin menggigit jemarinya.
Pria itu berdecak sembari bergerak cepat menghindar dan memindahkan rangkulan itu ke pinggang istrinya, menariknya erat tubuh sang istri, membuat tubuh mereka merapat tanpa ada jarak. Perempuan itu menatap lebih tajam dan menunjukkan ketidaksukaan dengan sikap suaminya, Vano pura-pura tidak gentar dan menunjukkan sikap acuh.
Dia lebih mengerikan saat diam dengan tatapannya itu.
"Jalan yang benar, lihat ke depan, aku takkan pergi kemana-mana." pria itu tidak kehilangan akal, dia membalas tatapan tidak suka istrinya dengan godaannya. "Dan simpan tatapanmu itu untuk nanti ... atau kita bisa mencari tempat yang sunyi jika kau menginginkan saat ini juga" bisiknya dengan nada menggoda.
Bundanya terbatuk mendengar bisikan frontal anaknya dan Allin menyeringai kesal sembari menyikut perut suaminya.
"Sakit" rengek Vano tapi tangan itu semakin menarik erat pinggang istrinya setelah sesaat tadi sempat menjauh akibat dorongan tangan istrinya itu. Allin makin berusaha melepaskan.
"Kau tidak ingin mencari perhatian orang dan meronta disini, kan." lanjut Vano dengan nada mengintimidasi.
Allin melihat sekeliling yang penuh dengan pengunjung rumah sakit, dia pun tak berdaya dan membiarkan suaminya itu merangkul pinggangnya. Vano membuang muka sebentar dari pandangan istrinya, dia tersenyum tipis merasa menang.
Bundanya sedikit menggeleng dan tidak menegur tindakan Vano, dia hanya diam dan menonton kelakuan pasangan suami-istri itu. Tetapi di dalam benaknya, dia memikirkan, bagaimana cara membuat menantunya itu untuk memaafkan suaminya.
Allin melihat sekilas pada tangan Vano yang berada di pinggangnya. Tangan itu begitu erat dan juga hangat. Nyaman dan juga dia rindukan.
Apalagi yang kau ragukan Allin, tak cukupkah penjelasan Sella semalam untuk menenangkan hatimu dan memaafkannya. Dia punya alasan untuk cemburu dan marah padamu.
Perempuan itu mencoba mengingatkan dirinya sendiri.
Tetapi siapakah pengirim pesan itu?
Kerumitan hubungan mereka sudah terselesaikan saat Sella mengambil langkah mundur, tetapi tidak menyelesaikan masalah di antara mereka, ada saja hal lain yang membuat hubungan mereka tetap di tempat.
__ADS_1
***
Tak butuh waktu lama mereka berada di ruang tunggu, seorang perawat memanggil nama Allin, mereka bertiga pun masuk ke dalam ruangan dokter. Baru berapa langkah Allin dan bundanya masuk, Vano memerintahkan, "sebaiknya kita pulang!!"
"Kenapa?" tanya bundanya heran. Allin hanya melirik suaminya sebentar dan tetap berjalan mendekat ke meja dokter.
Seorang dokter tersenyum ramah dan mempersilahkan Allin duduk, dengan sopan Allin membalas keramahtamahan sang dokter dengan senyuman dan memposisikan tubuhnya untuk duduk, tetapi tangan seseorang menariknya dan membawa dia dan bundanya keluar bersama dari ruangan itu.
"Vano" tegur bunda. Pria itu terus menarik kedua perempuan itu, ketika sampai di meja perawat.
"Aku ingin dokter kandungannya seorang wanita" perintahnya.
Kedua perawat yang berada disana terkejut, mereka terpaku sebentar lalu mengangguk.
"Silahkan tunggu" ucap mereka dengan sopan. Mereka mungkin sudah terbiasa dengan tindakan keluarga pasien yang tak terduga dan juga kadang tak masuk akal.
Allin dan bunda, mereka masih terpaku diam menatap Vano dengan helaan napas berat. Menyadari alasan sikap Vano yang kekanakan.
"Dasar bodoh!" bundanya
"Apalagi maunya" Allin
Guman kedua perempuan itu bersamaan.
Vano mendengarnya, tapi dia mengabaikan saja.
"Aku tidak peduli, yang jelas dia seorang pria, bagaimana pun dia punya hasrat dan-"
"Dan kau cemburu!" potong bunda.
"Ya, aku tidak suka milikku di sentuh orang lain" Vano menatap lekat pada istrinya dan menarik pinggang itu untuk mendekat.
"Terserah kamu Vano" bunda pun frustasi untuk menerangkan lebih, dia pun mengikuti kemauan Vano.
Seorang perawat membantu Allin merebahkan diri di atas ranjang rumah sakit dan di sampingnya seorang dokter wanita sudah siap dengan alatnya.
Layar monitor menampilkan embrio dengan suara detak jantungnya.
"Ini bayi kalian" tunjuk dokter ke layar.
"Anda tidak salah Dok" Vano melihat lekat pada titik hitam yang masih berukuran sangat kecil itu.
Dokter mengangguk. " Umur kandungan istri Anda baru berjalan satu bulan lebih. Disini terlihat embrio baru berukuran sangat kecil dengan berat 0,03 kilogram"
"Apa?" Vano seolah tidak terima dengan penjelasan sang dokter. "Dok istri saya sudah satu bulan, mengapa bayi kami masih sekecil ini" protes Vano
__ADS_1
"Anda tidak perlu khawatir. Pertumbuhan embrio sangat cepat. Embrio akan mengandakan jumlah sel dalam tubuhnya setiap 24 jam"
"Menggandakan. Jadi, istri saya bisa cepat melahirkan, Dok"
"Bukan begitu"
"Kenapa? Anda bilang embrio akan mengganda tiap 24 jam, jadi seratus hari ke depan bayi saya sudah mempunyai berat tiga kilogram, bukankah itu ukuran normal bayi saat dilahirkan"
Tuhan! Apa yang salah dengan otak anakku ini, mengapa tiba-tiba menjadi bodoh. Bunda
Dia mulai lagi. Allin
"Maaf Tuan itu pertumbuhan pada embrio bukan--"
Pletak. Bunda memukul Vano dengan sebuah buku yang berada tak jauh dari meja, membuat sang dokter menghentikan kalimatnya.
Dan dokter pun mengulum senyumnya melihat sikap Vano yang terlalu antusias. Tidak ada salah baginya melihat sikap Vano, dia suka anak muda yang bersemangat menanti kehadiran anaknya, dari pada orang tua yang tidak peduli dan mengabaikan tumbuh kembang calon bayi mereka.
"Cukup Vano! Dengar saja penjelasan dokter" bunda menegur Vano
Setelah banyak penjelasan dokter tentang pertumbuhan calon bayinya, Vano hanya diam tidak boleh bersuara sedikit pun oleh bundanya. Setiap dia ingin membuka suara tangan bundanya dengan cepat mencubit pada pahanya.
Setelah semua sesi pemeriksaan selesai, mereka keluar melangkah dari ruangan itu.
Vano mengingat dia belum mengajulan pertanyaannya tentang apa yang dipikirkannya sejak tadi. Teknologi.
Pria itu melangkah masuk kembali ke dalam.
"Dok tidak adakah teknologi terbaru yang mempercepat pertumbuhan janin"
Dokter tampak terkejut mendengar pertanyaan itu, sepertinya dugaannya salah, pria di hadapannya ini memang sedikit gila, dia terlalu berlebihan menunggu kehadiran calon anaknya.
"Vano!!" pekik bundanya dari belakang sembari menarik pria itu keluar.
"Maaf Dok, lupakan saja pertanyaan anak saya" ucap bunda dengan wajah sudah memerah, memerah karena malu dan marah.
Dokter mengiyakan dengan anggukan tak lama kedua orang itu menghilang di balik pintu dokter perempuan itu tersenyum.
"Dasar kau bodoh. Kau kira anakmu telur ayam yang bisa kau gunakan teknologi agar segera cepat menetas."
"Bunda!" protes Vano tak suka anaknya disamakan dengan telur ayam.
Allin menoleh kebelakang, menghentikan langkanya. Dua orang itu masih saja berdebat di depan ruangan dokter, Allin menahan senyum melihat kegilaan suaminya dan kegalakan mertuanya.
Senang, rasa itu menguar dengar jelas dari hatinya, ketika keberadaan dirinya dan anaknya di terima dan di tunggu.
__ADS_1
Lalu perempuan itu berjalan lagi meninggalkan suami dan mertuanya sembari mengelus perut ratanya.