
Semua tidak semudah yang kami pikirkan. Kami bertiga terlihat canggung di ruang makan. Lentingan suara sendok beradu hanya memberikan nada kecil yang tidak terpengaruh, suasana tetap hening bagai malam yang senyap.
Tuan Vano seperti tidak bersemangat mengunyah makanannya. Bu Sella hanya mengaduk-aduk makanannya tanpa memasukannya ke dalam mulutnya, sedangkan diriku terburu-buru ingin menghabiskan dan pergi meninggalkan mereka.
Mana bisa diriku membiarkan makanan lezat ini hanya untuk ditatap atau diacak-acak saja, biarkan saja suasana canggung ini yang terpenting perutku kenyang dan pergi secepatnya dari ruangan makan.
"Tuan, Bu Sella saya pamit dulu" ucapku dengan lirih. Mereka seketika menengadah menatapku, aku hanya membalas dengan senyum canggung. Tuan Vano mengangguk dan bu Sella membalas tersenyum.
Akhirnya aku bisa melepaskan napas lega, melangkahkan kaki menuju kamar Dio.
Dio terlelap di box bayinya, kupandangi wajahnya, tetapi kenapa wajahnya makin mirip seseorang yang tak ingin aku ingat. Tetapi karena rasa sayang diriku kepada Dio, aku coba mengabaikan semuanya.
Allin kenapa kau tidak mencoba membuka hatimu, berdamailah dengan keadaan, suatu saat nanti luka itu akan hilang sendirinya. Cobalah Allin, batinku untuk menguatkan diri.
Rengekan dari mulut Dio menyadarkan diriku dari pikiran yang sedari tadi berkelana.
"Hai sayang..." sapaku
Dio terlihat begitu senang, ia tersenyum dengan kedua tangannya menggapai ingin diangkat dalam gendonganku. Bayi Dio dengan gesit sudah berpindah dalam rangkulan tubuhku.
"Kau merindukan, mama" tanyaku tanpa malu-malu.
Tidak ada orang disini, hanya aku dan Dio, jadi aku tidak perlu khawatir ada yang mendengarnya dan mencibir sapaan untukku yang kuajari kepada Dio.
Tapi aku salah, seseorang dibelakang sudah merangkulku menciumi pipi Dio dan berganti mencium pipiku.
"Apakah kamu juga merindukan Papimu ini Dio?" tanyanya seolah mengolok diriku
Aku mematung merasakan sentuhan hangat di pipiku, apalagi punggungku begitu rapat menempel di dadanya mengantarkan getaran yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak untuk beberapa saat.
Aku tak pernah membayangkan hal gila ini dia lakukan di dalam rumahnya. Bagaimana seseorang melihat dan menangkap basah tindak tanduk kami.
Perasaan senang yang bercampur rasa khawatir, terasa sesak di dada.
"Tuan, apa yang kau lakukan, lepaskan" gerutuku pelan.
""Kenapa?" tanyanya sok polos.
"Nanti orang pada lihat" ucapku makin menekankan suaraku.
"Siapa, aku sudah mengunci pintunya"
__ADS_1
Ya, kami seperti pencuri yang mengendap-ngendap mencari kesempatan.
"Lalu mengapa Anda disini Tuan?"
"Sella meminta diriku untuk tidur dengan dirimu sampai kau bisa hamil. Kau tau aku seperti suami yang dicampakkan! Aku merasa kesal tapi rasa senangku lebih besar dari pada itu, karena ke dirimulah aku dicampakannya." ucapnya begitu renyah seperti tak ada rasa kesal di dalamnya.
"Haa!" aku terkesiap mendengarnya.
Bu Sella apa yang kau pikirkan, kenapa kau begitu mudahnya melepaskan suamimu pada wanita lain.
"Tapi itu takkan terjadi, aku takkan mengikuti permainan kalian" tegasnya.
Aku terperangah mendengarnya. Rasanya aku ingin membalikan badanku dan menantang bola matanya, apa yang dia inginkan. Sayangnya untuk bergerak saja sulit bagiku, dekapannya terlalu erat.
"Lepas Tuan, kau sudah mengkhianati Bu Sella dengan sikap begini"
"Aku tidak mengkhianati siapapun, aku hanya menghianati kesepakatan kalian tentang permainan pernikahan ini. Kalianlah yang sudah mempermainan perasaanku"
"Lalu kau kenapa kesini, jika tidak ingin menghamiliku." tanyaku begitu ketus.
Permintaanku yang frontal ini, sudah menjadi santapannya setiap kami berdebat, mungkin telinganya sudah terbiasa, tetapi sejujurnya aku malu sendiri mengucapkan kata yang tidak pantas aku ucapkan sebagai seorang wanita.
"Ya untuk memeluk istriku yang galak ini, yang suka menyangkal perasaannya. Aku pasti akan membuat dia bertekuk lutut"
"Pasti"
"Ini kataku Tuan"
"Aku pinjam dulu" seraya wajahnya mendusel-ndusel pipinya Dio.
"Hai tampan, kenapa kau belum tidur. Papi ingin sedikit bermain dengan mamamu yang nakal ini, segeralah tidur ya" ujarnya tanpa rasa malu, aku hanya mencibir mendengar kalimatnya.
"Tetapi sebaiknya Anda kembali lagi kamar Anda Tuan, jika Anda hanya ingin menggodaku" ucapku begitu dingin.
Seketika dia melepaskan tangannya dari tubuhku dan pergi berlalu meninggalkan kamar Dio begitu saja.
Tek.Sakit.
Kenapa rasanya sakit.
Wajar dia meninggalkanmu Allin, kau yang menyuruhnya, kau yang menolaknya, kau jangan besar kepala, kau terlalu sombong menganggap dia begitu mencintaimu, lihatlah dia sudah bosan melihat tingkahmu dan dia pergi tanpa bicara padamu.
__ADS_1
Air mataku menetes.
Ini baru awal Allin, kau sudah meneteskan air mata, ini masih jauh dari jalan yang akan kau lewati nanti.
***
Detak jam makin terdengar kencang, menandakan kesunyian malam sudah datang menenggelamkan kesibukan benda-benda yang bergerak untuk diam. Tapi mataku belum mampu aku pejamkan, mataku melihat pintu yang tertutup rapat, seolah berharap seseorang datang menghampiriku. Tetapi hanya anganku semata.
Kau lucu Allin kau menolak, tetapi kau juga menginginkan.
Hingga menjelang pagi baru mampu kututup mataku, mendekap Dio yang terbaring diranjang, menemaniku, sedikit membantuku melupakan sesuatu yang aku tunggu.
"Allin, kamu kenapa Nak?" tanya bi Inah yang berada disampingku.
"Tidak, kenapa-kenapa Bi" jawabku seraya tersenyum.
"Kenapa pada sepi Bi?" tanyaku sedikit heran melihat meja makan yang kosong tanpa ada tuan rumahnya.
"Oo... Tuan Vano dan Nona Sella, sudah
berangkat pagi-pagi, Ayah dan Bunda Tuan Vano mau berangkat ke luar negeri, jadi mereka mau mengantar ke bandara"
"Oo" jawabku mengerti.
"Kamu minum ini ya" sodor bi Inah kepadaku, segelas minuman tradisional.
"Jamu penyubur agar kamu segera hamil" bisik bi Inah seraya tersenyum menggoda.
Bagaimana aku bisa hamil, dianya saja tak mau..., "Ah sudahlah Allin tidak usah dipikirkan," dengan cepat aku tandaskan minuman itu.
Hampir seharian aku tidak melihat wajahnya membuat diriku uring-uringan, aku hanya melamun dan sesekali tersadar untuk memperhatikan Dio yang sedang bermain.
Waktu sudah menunjukan angka sembilan malam, tetapi tanda-tanda dirinya sudah pulang tak ada juga. Bu Sella sudah berada di rumah sejak sore tadi, tetapi dia belum juga pulang dari kantor.
Dio seolah memahami kegalauan diriku, lihatlah dia, tidak biasanya DIo belum terlelap jam segini. Pintu kamar sengaja aku renggangkan, agar membuat celah berharap dapat melihat dia kembali.
Tuk, tuk, tuk, suara sepatu pantofel mengalun di pendengaranku, ada rasa gugup menyelimuti, mataku fokus mengarah ke pintu kamar. Benar, dia berdiri disana melebarkan celah pintu dengan surai rambut yang berantakan, menatapku dengan datar, dia berjalan lurus ke arahku, sedangkan jantungku berdegup dengan kencang, tanganku mengepal Dio sedikit keras yang sedang duduk dalam pangkuanku.
Lalu ia tersenyum. Tek, tapi bukan untukku, senyumnya hanya untuk Dio. Ada rasa kecewa yang dalam, saat kau berharap dan dia datang padamu tetapi bukan untukmu, itu sangat menyebalkan.
"Hai tampan! Kau belum tidur" tanyanya tanpa menoleh sedikit ke arahku, aku hanya diam mematung dan menahan napas, karena dia begitu dekat dengan posisi menunduk mensejajarkan wajahnya dengan Dio. Tak berapa lama kemudian dia makin mendekat mengecup pipi kanan Dio, lalu dia bergerak lagi, seketika aku menutup mata dan berharap..., tapi kecupan lain itu bukan untukku melainkan dia sematkan di pipi lain Dio.
__ADS_1
"Selamat tidur tampan" ucapnya seraya tersenyum tipis dan pergi berlalu tanpa...
Tanpa apa Allin? Jangan berharap lebih, lihatlah dia, dia sudah mencampakkanmu, kehadiranmu tidak lebih hanya sebagai tumbuhan liar yang hidup di tamanya.