
"Bunda apakah hari ini ada acara?" tanya Allin heran, melihat para pelayan lelaki yang tidak terbiasanya berada di dalam rumah, kini mereka mondar-mandir dan terlihat sangat sibuk.
"Setau Bunda, kita hari ini tidak mengadakan acara apa pun" perempuan paruh baya itu juga heran dengan kesibukan para pelayannya. Lalu perempuan paruh baya itu memanggil seorang pelayan.
"Kalian sedang apa dan mengapa kalian terlihat begitu sibuk"
"Tuan Vano memindahkan kamarnya ke kamar Dio, dia mempersiapkan kamarnya untuk menjadi kamar anak-anak"
Perempuan paruh baya itu mengangguk mengerti dan mereka segera naik ke lantai atas dan langsung menuju kamar Dio. Sedangkan di kamar Vano terlihat beberapa pekerja sedang membongkar dan menata ulang kembali kamar itu.
Di kamar Dio atau Allin, ruangan itu kini di penuhi dengan lemari-lemari berukuran besar, membuat ukuran ruangan itu menjadi setengah lebih kecil dari biasanya. Ada beberapa barang yang belum di letakkan pada posisinya dan berserakan di lantai dan ada juga yang tertumpuk di bawah lemari.
"Apa yang dipikirkan anak itu?" guman bundanya sembari memandangi ruangan kamar yang penuh dengan barang Vano.
Allin diam dan ikut memperhatikan ruangan kamar itu, dia duduk di atas ranjang tatapannya penuh ke barang-barang yang mengisi kamarnya. Lalu dia tersenyum tipis, ternyata suaminya tak kehilangan akal untuk mendekatinya.
Sementara bunda melangkahkan kakinya kembali ke luar kamar sembari menggeser barang-barang yang berserakan ke sudut dinding menggunakan kakinya dan mulutnya tak henti menggerutu.
Allin tak lepas memperhatikan mertuanya, dia hanya tersenyum melihat kemarahan Ibu mertuanya.
"Kira-kira alasan apa lagi yang dijadikannya" guman perempuan itu, lalu dia mengulum senyumnya membayangkan pertengkaran antara bunda dan suaminya.
Tak lama perempuan paruh baya itu masuk kembali dengan menarik suaminya ke dalam kamar. Pandangan Allin memperhatikan mereka, matanya bertemu dengan mata suaminya yang sedang mengulum senyum manis menatapnya. Seketika Allin melempar pandangannya ke arah luar jendela dan memasang wajah dinginnya.
"Vano apa yang kau lakukan, kenapa kau membuat kamar ini menjadi makin sempit" tanya bunda dengan tatapan tajam.
Vano hanya tersenyum. "Aku hanya memindahkan barang-barangku ke sini"
"Untuk apa?"
__ADS_1
"Ya untuk ...." Vano terlihat ragu untuk mengutarakan isi hatinya saat dia melirik Allin tapi perempuan itu tampak tidak peduli. "Agar aku sekamar dengan istriku. Dan lagi pula kamar itu terlalu besar, lebih baik kamar itu buat anak-anak" lanjutnya dengan nada sedikit malu menerangkan alasan kepindahannya.
Allin makin membuang mukanya ke samping, tapi sedikit ujung bibirnya tertarik ke atas.
Bundanya pun menahan senyum mendengar alasan anaknya itu, lalu dia kembali berwajah datar lagi mengingat kebodohan anaknya membuat kamar ini sudah seperti gudang . "Tapi kenapa harus ke kamar ini kau memindahkan barangmu. Tidak bisakah kau memindahkan barangmu ke kamar lain yang lebih luas"
"Di kamar lain tidak ada istriku." jawabnya terlihat santai tetapi tidak dengan gemuruh di dadanya membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Istrinya membalas dengan tatapan tidak suka lalu pria itu pun memberanikan diri menghampiri dan kemudian duduk disamping istrinya itu.
Matanya menatap lurus tetap fokus pada bundanya, padahal pria itu mencoba menghindar dan menenangkan dirinya dari tatapan tajam istrinya, tetapi tangan pria itu merangkul pundak istrinya dengan percaya diri.
"Ya kan sayang!" godanya menutupi kecanggungan dirinya tanpa menatap perempuan itu.
Allin tidak meyahut dia hanya menatap jemari tangan pria itu yang merangkulnya.
"Bunda tau, tetapi kenapa kau tidak menggunakan kamar lain yang lebih besar dari kamar ini. Lihatlah pakaian dan peralatanmu menumpuk dimana-mana, kau pikir cukup ruangan ini untuk menampungnya"
"Bunda para pelayan akan mengaturnya"
Dan menantunya itu hanya diam dan tidak ikut terlibat perdebatan ibu dan anak itu, dia sedang berusaha melepas rangkulan pada pundaknya.
"Lalu aku harus pindah kemana? Jika aku pindah ke kamar lain, dia tidak akan mengikutiku" Vano melirik tajam pada Allin, dia mulai merasa kesal dengan penolakan istrinya yang mencoba melepaskan rangkulan tangannya.
Bunda menghela napas. Melihat Vano dan Allin bergantian ternyata anaknya hanya sedang mencari kesempatan untuk bersama istrinya.
"Terserah kau saja! Dan tolong pindahkan barangmu sebagian ke kamar lain, ruang ini tidak cukup untuk meletakkan barangmu"
"Tidak perlu Bunda biar aku yang pindah"
potong perempuan itu tiba-tiba yang sedari tadi hanya diam, perempuan itu berusaha berdiri tetapi tangannya sudah di genggam erat suaminya.
__ADS_1
"Tidak!!" sentak Vano dan bunda berbarengan.
Vano mengalihkan pandangannya kepada Allin dengan tatapan kecewa, bibirnya menyeringai tipis melihat penolakan istrinya itu. "Terserah kau ingin seberapa lama marah kepadaku, tetapi tetaplah di tempat dan jangan coba menghindar dariku Allin." tegur Vano kental dengan nada kecewa dan marah. Keceriaan suaranya kini hilang seketika mendapati penolakan istrinya.
Bundanya menangkap jelas raut dan nada kecewa Vano, dia pun mencoba membujuk menantunya. "Bisakah kau tetap di sini saja Allin" bujuk perempuan paruh baya itu, menantunya hanya diam dengan pandangan matanya tertuju ke luar. Membuat tatapan perempuan paruh baya itu pun ikut gusar saat melihat penolakan menantunya yang ingin menghindari dari Vano.
Mereka perlu bicara berdua pikir perempuan paruh baya itu.
"Sebaiknya kau bujuk istrimu, Bunda keluar dulu" perempuan paruh baya itu mengalihkan kembali pandangannya kepada Vano yang sedang menahan emosinya. Pria itu terlihat berusaha keras supaya tidak menumpahkan dan membuat masalah mereka menjadi tambah rumit. Tangannya mengepal begitu kuat dan tatapannya di buang ke samping berlawanan arah dari posisi duduk istrinya, dia berusaha tak ingin menampakkannya dan menghindar dari tangkapan mata kedua perempuan itu.
Setelah bunda mereka keluar mereka berdua hanya terdiam, menikmati kesunyian dengan sekelebat pemikiran masing-masing.
Apa sebenarnya yang aku inginkan, selalu saja begini, dia melangkah mendekat aku mencoba menjauh. Aku tau dia terluka karena penolakanku tapi itu tak seberapa dengan rasa sakitku. Allin
Sedangkan pria itu hanya memainkan jemarinya, mencengkram dan melepaskan tangan istrinya berulang. Tatapannya hanya fokus menatap pada cengkeramannya itu.
Dan pria itu akhirnya melepas cengkeramannya dan Allin merasakan kehilangan, dia menatap lekat pada jemarinya yang kosong.
Setelah pria itu berdiri dan melangkah ke arah pintu, sampai di ujung pintu dia berhenti. "Maaf, aku sudah melukaimu hingga kau enggan untuk bicara padaku. Tetaplah di sampingku, aku akan menunggu amarahmu mereda" ucapnya tanpa membalikan badannya dan berjalan keluar dan hilang di balik pintu.
Allin menatap tajam ke arah pintu dan napasnya terasa tersengal menahan gemuruh di dadanya. Dia kecewa suaminya sedari tadi hanya diam, dia hanya berani ketika ada orang lain di sisi mereka. "Ya, kau melukaiku! Kau menusukku dengan kejam! Kau membunuh harga diriku sebagai perempuan di hadapan keluargamu. Dan sekarang kau baru bilang kata maaf. Kau pikir cukup dengan perbuatan manismu itu membuat aku memaafkanmu." pekik perempuan itu setelah sosok tubuh suaminya menghilang di balik pintu.
Dia pun melemparkan sebuah benda dengan asal ke arah pintu sehingga menimbulkan suara yang begitu nyaring.
Kali ini perempuan itu menangis tersedu, melepaskan rasa kecewa yang beberapa hari ini dia tahan sembari mengingat momen menyakitkan itu.
Sedangkan Vano, dia diam menyenderkan tubuhnya di balik pintu, mendengarkan pekikan suara istrinya. Ikut menyalahkan dirinya sendiri yang telah gegabah membuat keputusan dan menyakiti istrinya.Tak lama kemudian dia terduduk di lantai, menyapu rambutnya dengan jemarinya.
Aku memang pria brengsek yang mengucapkan janji dan harapan padanya tetapi aku sendiri yang melukainya. Vano
__ADS_1
Bundanya pun menghampiri Vano, membelai surai rambut anaknya untuk menenangkannya.
"Perempuan memang sulit untuk di mengerti, tetapi percayalah kau hanya perlu bersabar padanya. Dia sekarang sedang kecewa dan biarkan dia menangkan diri. Dan turunkan egomu minta maaflah padanya , dia perlu kepastian dari ucapan dan tindakanmu. Untuk membujuknya kau tidak bisa hanya menunjukkan sikapmu saja, kau juga harus mengucapkannya dengan tulus padannya Vano. Dan begitu juga sebaliknya, ucapan tanpa tindakan takkan membuat seorang perempuan luluh. Kau butuh keduanya!!"