
POV
Vano
Aku manusia lemah yang punya syahwat.
Hidangan ku sudah tersaji dengan lezat, garpu dan sendok juga sudah tersedia.
Maka nikmat Tuhan mana lagi yang mampu aku dustakan.
Kelezatan yang menggiurkan Ingin rasanya melahap habis.
Aku sudah mencoba menimbun syahwat ini dengan mencicipinya
Tapi rasa itu makin menggiurkan untuk aku lahap habis
Masihkah ada kemampuanku untuk menolak hidangan lezat ini.
Allin. Bolehkah aku berubah pikiran, aku ingin melahapmu habis, meninggalkan jejak yang indah yang akan mengukir masa depan kita
Kau menyajikannya dengan apik penuh pesona dan penuh warna.
Kau menjaganya dengan kesucian hati, dan dengan ikrar yang kau janjikan pada tuhanmu, untuk tidak menyakiti hati orang lain.
Aku tahu ada setitik noda di antara kita, tetapi biarlah noda itu menjadi masa lalu, untuk kau dan aku belajar untuk menjadi lebih baik lagi.
Dengan menyebut namamu tuhan, izinkan aku untuk melahap hidanganku, melepaskan rasa haus dan laparku, menikmatinya dengan kesungguhan hati.
Ikrar malam pertama.
***
POV
Allin
Aroma obat-obatan tercium sangat jelas di penciumanku, mata ku terasa begitu berat tapi aku sadar ada seseorang yang menggenggam tanganku begitu hangat mengusap-usap punggung tanganku seolah-olah memberi kekuatan.
"Sayang kamu sudah bangun?" Tanyanya begitu sendu, mungkin sekarang aku sedang bermimpi.
Deg ... , sayang?
Aku melihat sosoknya tersenyum, lalu aku membalas senyuman itu dengan matanya yang hangat.
Ini hanya mimpi Allin, tidak....,tidak, ini bukan mimpi dia nyata ada di hadapanku mungkin pendengaran ku yang salah.
__ADS_1
"Sayang, apakah ada yang sakit? Kepala kamu merasa pusing a-atau tubuh bagian bawah mu berasa ngilu." tanya sedikit ragu.
Aku menggeleng.
Allin pendengaranmu tidak salah, semua yang kau dengar benar, kata itu jelas keluar dari mulutnya. Tetapi kenapa? Makin aku penasaran, tenggorokan ku makin berasa haus, kering dan pedih.
Aku butuh minum.
"Haus" ucapku lemah dengan cepat dia berbalik badan menuju meja yang berada tak jauh dari pintu masuk.
Ini bukan kamar kami semalam
Ada apa ini? Mengapa aku berada disini? Apa yang terjadi semalam? Tiba-tiba kepalaku terasa sakit tanganku bergerak memijat untuk meredakan nyeri-nya
"Sayang, apa kepala kamu terasa sakit?" Tanyanya dengan terburu-buru menuju arahku. "Minumlah dulu!" Pintanya sambil mendekatkan gelas ke bibirku. Dan tangannya yang lain memijat pelipis ku dengan lembut.
Aku masih bingung dengan keadaan ini, tak tahan rasa penasaranku akhirnya ku paksakan untuk bertanya padanya, walau lidahku terasa berat.
"Kenapa kita disini?" Tanyaku dengan nada lemah, yang aku ingat aku berada di dalam pelukannya, tapi tak ada yang salah.
Apakah aku bermimpi buruk lagi sehingga membuat tumbuh ku ambruk.
"Aaa......!!" kepalaku terasa berdenyut lagi. Dia terlihat panik dan berulang-ulang menekan tombol kecil yang berada di samping ranjangku
Entah bagaimana perasaanku mulai tenang suaranya yang sendu bercampur dengan rasa khawatir, terdengar berat tetapi menenangkan bagiku.
Aku menatapnya lekat-lekat memperhatikan dengan jelas raut wajahnya, kantung mata yang tebal, sedikit sembab, rambut yang acak-acakkan tapi masih terlihat tampan, dan piyama tidur yang kancingnya tidak terpasang pada tempatnya, apalagi alas kaki yang biasa dia gunakan untuk ke kamar mandi.
Apakah dia tidak menyadari betapa kacaunya dirinya? Dia bukan seperti tuan Vano yang aku kenal.
Tiba tiba gelombang rasa haru memenuhi dadaku, aku menunjukan senyuman menenangkan padanya saat bola mata kami bertemu, ia membalas dengan senyum legah dan mata berkaca. Menunjukkan rasa sedih dan senang sekaligus.
Bunyi suara handle pintu berputar mengalihkan pandangan kami ke pintu, dan pintu itu terbuka, Tante Mia dan dokter yang selama ini merawatku juga ada disini. Aku makin yakin penyakit ku kambuh lagi.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya Tante dengan khawatir.
Aku hanya tersenyum lemah. Tante mendekat ke arahku, memberikan pelukan hangat dan meminta maaf padaku berulang kali. Aku yang tidak mengeti hanya menyikapi dengan senyuman.
Dokter mulai memeriksa ku dengan pertanyaan-pertanyaan ringan yang menghipnotis dan tak lama selesai pemerikaaan itu aku merasa lelah, ada beban yang tak nampak bergelayut di tubuhku.
POV
Vano
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alin?" Tanyaku pada sosok dua wanita dihadapanku. Tante Mia lansung menunduk, dan sang dokter hanya menarik napas.
__ADS_1
"Maafkan Tante Vano, seharusnya sebelum kalian menikah Tante sudah menceritakan semuanya kepadamu. Tante pikir Allin sudah pulih sepenuhnya semenjak Tegar hadir, karena dia terlihat lebih tenang, jadi Tante menyimpan berita ini padamu."
"Lalu?" aku sudah mulai jengah, dia terlalu bertele-tele, aku ingin intinya tentang kondisi Allin, bukan tentang perasaan dia, kenapa dan mengapa-nya.
"Maaf Vano Tante tidak bisa lama-lama, Tegar butuh Tante. Dan Bu dokter akan menjelaskannya, dia adalah dokter yang selama ini merawat Allin dan lebih paham apa dan bagaimana penyakit Allin." Ucapnya sedikit memohon dan pergi meninggalkan ku dengan dokter.
Dokter mulai menjelaskan apa yang terjadi dengan Allin
"Alin mengalami kekerasan fisik yang membuat dia trauma fisik dan mental. Selama ini dia sudah berjuang dengan baik. Kepergian Ibunya menambah luka lagi, awalnya saya menyangka Allin akan bertambah depresi, tetapi anak itu bisa mengatasinya. Saya sangat takjub, semenjak itu dia berangsur pulih lebih cepat. Saya sempat menanyakan, dorongan apa yang membuat dia bisa bangkit pada saat iya kehilangan pondasinya (Ibu Allin). Dia hanya tersenyum, lalu mengusap-usap perutnya yang sudah membesar."
"Ibu menghabiskan waktunya hanya untuk hidupku, agar aku hidup dengan baik dan bahagia, tetapi apa yang aku berikan, kesedihan. Saat aku hancur ternyata tanpa aku sadari aku mencabik-cabiknya dari dalam, dia yang terluka berdarah-darah, Ibu. Kini hanya penyesalan yang aku punya, dan tinggal harapan Ibu padaku. Hidup dengan baik dan barbahagialah, harapannya padaku. Seluka apapun diriku aku harus hidup dengan baik dan berbahagia, aku akan mencari dan menemukan jalan itu"
"Jawaban itulah yang Allin katakan pada saya." tutur bu dokter dengan air mata yang sudah mengalir.
Aku terhempas mendengarnya, dadaku terasa di sayat-sayat, air mataku lebih deras mengalir dari si Ibu dokter.
"Pada saat itu saya begitu terkesiap dan juga bangga padanya, bukan obat yang mengobatinya, tapi jiwanya sendiri yang menyembuhkan."
"Sampai saat ini, saya dan pihak keluarga Allin belum tau siapa orang yang sudah mengambil kehormatannya."
"Saya hanya menganjurkan pada Allin, untuk menghindar dari hal-hal yang bisa memicu dia mengingat kejadian buruk itu"
"Apa Anda tidak bisa mencoba mencari tau siapa dia dengan metode pengobatan Anda?" tanyaku dengan rasa penasaran.
Allin mengapa kau terlalu tertutup.
"Allin merasa dia mampu mengatasinya. dan dia menolak untuk melanjutkan terapinya"
"Sebaiknya Andalah yang mencoba mencari tau siapa pria itu. Menghindar adalah jalan yang baik tetapi mencoba berdamai dengan masa lalu itulah yang benar. Apalagi kita tidak tau siapa dan dimana dia? Sebagai orang terdekatnya Anda harus mencari tau tentang itu. Jika Anda tidak tau siapa dan apa yang memicu penyakitnya, bagaimana Anda melindunginya" ujarnya menyarankan dirikulah yang mencari tau siapa yang membuat luka itu.
"Dok, apa setiap pemicu akan bereaksi berbeda pada tubuh Allin, ini adalah kejadian ke tiga yang saya tau, dan kejadian ini yang paling parah"
"Sebenarnya reaksinya tetap sama. Pemicu yang berbeda akan memberi tekanan yang berbeda tergantung berapa besar pemicu itu mengingatkan dan melukainya dan seberapa mampu Allin dapat mengatasi"
"Lalu bagaimana saya mengatasi semua ini"
"Komunikasi, cobalah membuat Allin nyaman sehingga ia mampu membuka dirinya."
"Dan untuk penyebab kali ini, saya tidak bisa menyalahkan Anda. Itu hak Anda sebagai suami dan seharusnya keluarga Allin menceritakan terlebih dahulu kepada Anda tentang trauma yang di alami Allin"
"Ya, kalian membuat saya seperti pemerkosa, istri saya begitu ketakutan, wajahnya sudah memutih saat saya sadar. Dan bodohnya saya terlalu menikmati tanpa menyadari ada yang salah pada diri istri saya. Kau tau dok, bagaimana reaksinya saat saya menepuk-nepuk wajahnya, matanya membola ketakutan, dia mencoba menepis semua sentuhan, dia seolah tidak mengenal saya, dia berteriak histeris ketakutan dan berakhir dengan sesak napas yang parah."
"Saya mengerti ke kecewaan Anda. Rasa takut yang berlebihan membuat dia melindungi diri sendiri untuk tidak mengingat kejadian-kejadian buruk, tetapi ada sebagian dari dirinya untuk menyangkal semua itu, seharusnya saat Anda menyentuhnya, traumanya akan hadir seketika, tetapi dia mencoba melawan rasa takutnya sendiri, wajar Anda tidak menyadari, jika dia diam membeku karena menahan ketakutan"
Aaa ..., begitu bodohnya aku, menikmatinya sedangkan dia berjuang melawan rasa takutnya, seharusnya aku sadar dan lebih peka terhadap reaksinya. Tetapi aku terlalu terbuai melahap habis tanpa sisa.
__ADS_1