
Suara kebisingan di luar mengganggu ketenangan mereka. Salah satu pelayan menghampiri dan mengabarkan Allin jatuh pingsan.
Sella dan bunda bergerak dengan cepat, meninggalkan Vano begitu saja. Lalu dua pria tua itu, turut mengikuti dari belakang sekilas mereka melirik Vano tanpa menghentikan langkah mereka.
Vano tetap diam membeku. Tetapi suara pelayan itu berulang-ulang mengalun di pendengarannya. Allin jatuh pingsan.
Entah apa yang menggerakannya, dia menggeser tubuhnya dari tempat duduk, berdiri dan berjalan menuju kebisingan suara.
Vano berdiri di ambang pintu, matanya lurus menatap pintu utama rumahnya, kerumunan orang mulai satu persatu masuk memberi jalan buat seseorang masuk.
Seketika bola matanya melebar dan menatap begitu tajam pada sosok yang membawa Allin. Aura tubuhnya penuh amarah, urat tangannya menonjol karena kepalan pada jemarinya yang begitu kuat. Jemari itu seolah sedang meremukkan benda yang berada dalam genggaman-nya.
Melihat istrinya dalam dekapan pria lain membuat dia terbakar emosi yang sedaritadi sudah coba dia tahan. Bayangan pria itu telah menghantui dalam benaknya sejak pesan masuk di ponselnya. Rasanya ingin sekali dia menghajar dan menghabisi pria itu hingga tubuhnya remuk.
Ardio menggendong Allin dan membawa masuk perempuan itu dengan raut wajah khawatir. Baru beberapa langkah dia masuk ke rumah besar itu, seseorang sudah mengultimatum dirinya.
"Jangan sentuh dia!!"
Suara itu menggema di seluruh ruangan, mengejutkan semua orang yang hadir dan menarik pandangan mereka menatap asal suara.
Pria itu masih di batas pintu ruang makan. Masih berjarak beberapa langkah dari mereka. Raut kemarahan di wajahnya tampak sangat jelas
Pria itu mulai melangkah menghampiri Ardio."Cepat lepaskan dia!"
Ardio seketika berhenti saat pria itu lagi-lagi membentaknya.
Dia seperti seorang suami yang sedang cemburu, padahal perempuan ini hanyalah Babysitter anaknya, pikir Ardio.
Ardio menatap wajah-wajah yang hadir dalam ruangan itu, memperhatikan wajah mereka dengan penuh tanya.
Lalu dia fokus lagi pada wajah pria itu.
Ada apa dengan pria ini, kenapa dia begitu marah karena aku menyentuh Babysitternya di hadapan keluarganya.
Apa sebenarnya hubungan mereka? Sella terlihat biasa saja, melihat suaminya bertingkah posesif pada perempuan yang ada dalam gendongan-nya.
__ADS_1
Semua orang yang berada di sekitar Vano terkejut melihat kemarahan Vano dan mereka mengumpat di dalam hati.
"Dasar anak bodoh, jika Allin tak boleh di sentuh, lalu bagaimana pria itu mengangkatnya." Bunda menepuk pelipis melihat sikap Vano.
"Dasar Vano gila! Bagaimana jika Ardio menjatuhkan tiba-tiba Allin karena bentakannya." Sella menatap Vano dengan pandangan meremehkan.
Ayah Vano memijit pangkal hidungnya dengan helaan napas berat, menunjukan rasa frustasi melihat sikap Vano yang kekanakan. Vano menunjukkan kebodohannya karena rasa cemburu. Tetapi baru kali ini dia melihat sikap Vano yang labil, tanpa menjaga sikap dan tingkahnya di hadapan banyak pasang mata.
Anak bodoh! Apalagi maunya dia ingin bercerai dengan Allin tetapi lihat wanita itu dalam dekapan pria lain dia begitu cemburu.
Cih! Dia benar menyukai anak itu. Pilihan Sella sudah tepat untuk berpisah.
Saat langkah Vano ingin melewati ayahnya, tangannya di tahan.
"Cukup Vano! Biarkan dia membawa Allin ke atas" pria paruh baya itu memberi kode kepada pelayan untuk mengantar Ardio ke kamar.
Para pelayan lain di suruh bubar oleh bunda, lalu dia mengikuti Ardio. Tatapan bunda lekat pada Ardio, rasa penasaran dan khawatir bercampur. Penasaran pada sosok berkaca mata hitam itu, khawatir dengan keadaan Allin.
Sella nampak mengotak-ngatik ponselnya untuk menghubungi dokter pribadi keluarga mereka, agar datang memeriksa keadaan Allin. Awalnya dia juga terkejut saat melihat sosok Ardio lah yang menggendong Allin, tapi perempuan itu menepis rasa penasaran, dia lebih mengkhawatirkan keadaan Allin.
Ayahnya tak menanggapi kemarahan Vano.
"Tenangkan dirimu, emosi takkan menyelesaikan masalah" nasehat sang ayah buat menenangkan Vano.
Bagaimana aku bisa tenang, sedangkan pria itu ada di samping Allin. Dia pria yang menghancurkan Allin. Dia pria yang membuat penyakit Allin kambuh. Dia juga pria yang membuat dia marah karena ...."
"Tolong lepaskan aku, Ayah" dengan nada pelan tapi begitu dingin.
Ayah Vano mencoba mengalah, melepaskan genggamannya, membiarkan Vano mengikuti mereka.
Di kamar, Ardio mencoba meletakkan Allin dengan pelan, saat dia mencoba merapikan helaian rambut Allin di wajahnya. Tangan seseorang menahanya.
"Pergi kau dari sini!"
"Vano!!" tegur bunda melihat sikap tidak sopan anaknya pada orang yang telah membantu istrinya.
__ADS_1
Vano tak meyahut dan menoleh, dia mendorong pria itu menjauh dari ranjang Allin.
Bunda menghela napas melihat sikap Vano. Dia memberi kode pada Sella dan Ardio untuk keluar. Menuntun mereka untuk duduk di ruang keluarga yang bersisian dengan kamar Allin.
Langkah Ardio berhenti saat tatapan tidak suka seseorang padanya.
Pria tua itu lansung menegurnya. "Buka kaca matamu!" perintahnya.
Ardio membuka kaca matanya menatap balik sorot mata pria tua itu. Walau dia hanya beberapa kali bertemu. Pria tua itu mengenal ciri tubuhnya.
"Cih! Ternyata benar kau!" duganya. Dia menatap ke arah Sella, seolah mempertanyakan mengapa sosok itu bisa ada di sekitar rumahnya. Sella seolah mengerti dia menggeleng tidak tahu untuk menjawab pertanyaan ayahnya.
Bunda ikut memalingkan wajahnya saat suara besan-nya berdecih.
Dia baru menyadari sosok sedari tadi coba dia tebak adalah artis yang selama ini dia idolakan.
Dengan mata berbinar dia melihat aktor kesayangan itu dan menghampirinya.
Ayah Vano melihat tingkah istrinya itu, dengan nada guyon dia menyindir istrinya.
"Bunda ingat kau sudah tua. Kau tidak boleh menatap pria memuja seperti itu di hadapan suamimu"
Bunda mengabaikan sindiran suaminya dan menghampiri Ardio, menuntun pria itu untuk duduk di sebelahnya.
Besannya tersenyum kecut melihat tingkah mertua perempuan anaknya itu, dan memberi tatapan mengejek pada yang di sebelahnya, yang sedang kesal telah diabaikan.
Sella menahan senyum melihat ke lucunya mertuanya, tetapi senyum itu seketika memudar saat mata Ardio menatapnya. Ayahnya pun menangkap interaksi mereka.
Ardio mencoba membaca sikap Sella dan keluarganya. Kenapa mereka? Pertanyaan dalam benaknya makin bertambah. Bunda Vano membiarkan anaknya mengurus babysitter itu dan Sella juga seolah memberi ruang untuk mereka berduaan. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa perempuan itu dalam keluarga ini?
Di dalam Vano merangkum tangan Allin dengan kedua tangannya. Mengusap-ngusap memberi kehangatan.
Dia pikir, dia akan kuat. Dia pikir, dia bisa menjauh dari Allin. Dia pikir, takkan terpengaruh apa pun lagi tentang Allin.
Tetapi dia salah!
__ADS_1
Kecemburuan membuat dia mengambil keputusan tergesa-gesa penuh emosi, dan kecemburuan pula, yang membuat dia sadar bahwa keputusan dia itu salah.