Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Cara pikir


__ADS_3

Allin terus menghindar dari Vano, dia takut dengan apa yang akan Vano katakan padanya. Sehabis mereka makan malam dia sengaja tergesa-gesa minta izin pada suaminya untuk terlebih dahulu tidur, dengan alasan tubuhnya yang lelah. Vano pun tanpa curiga mengiyakan padahal dia ingin segera menjelaskan kejadian di hotel.


"Apa dia tidak memperhatikan bekas cakaran di tubuhku." Guman Vano heran. Mengingat sikap Allin dari awal saat membantunya memakai pakaian hingga malam ini tampak terlihat biasa saja. Vano mengenal Allin sangat pecemburu, dia takkan menyukai Vano sedikit pun dekat dengan perempuan lain.


Tapi Vano lupa, satu wanita yang tak boleh Allin cemburui yaitu Sella. Dia akan mengambil langkah mundur jika bersangkutan dengan Sella.


Vano menatap lekat pada wajah istrinya yang tertidur, sedangkan jemarinya masih tak lepas dari tuts keyboard laptopnya. Dia sengaja membawa pekerjaan ke atas ranjang agar dapat lebih dekat lagi dengan Allin, sesekali dia akan memperhatikan Allin dan memberikan kecupan beruntun di bagian wajahnya.


Kadang dia sengaja menggoda Allin dengan tangan jailnya memainkan bibir, menusuk pipi chuby istrinya atau sengaja membuka kelopak mata Allin agar segera terbangun. Dan berharap mendengar protesan istrinya tersebut dengan apa yang sudah dia lakukan.


Tapi istrinya tampak terlelap dengan tenang. Rasanya ingin lebih usil lagi tapi dia tak tega, dia mencoba mengalah dan menahan gejolak hasratnya. Pekerjaan pun, jadi tak fokus dia kerjakan, dengan berat hati dia membereskam semua peralatan kerjanya dan meletakkan di meja nakas di samping ranjang mereka.


Vano merebahkan tubuh lelahnya, belum sempat tubuhnya mencari posisi paling nyaman, istrinya telah memeluknya dengan erat dan meletakkan kepalanya di dada Vano. Senyum Vano pun mengembang dengan binar bahagia. Ternyata perlakuan hangat Allin mampu meredakan hasratnya, dia pun terlelap dengan semburat senyum yang terpatri di wajahnya.


Allin mengerjapkan matanya yang sedari tadi dia coba pejamkan tapi tidak mampu membuat mata itu benar-banar tertidur, karena perasaan tak menentu merenggut perhatiannya untuk hanyut dalam rasa khawatirnya.


Merasa suasana hening dan tarikan napas Vano mulai tenang. Dia memberanikan diri untuk membukakan mata dan memperhatikan suaminya yang sudah tertidur, menatapnya dengan mata berkaca.


Tak ada yang lebih indah dalam hidupnya saat ini, dia bisa berada dalam pelukan Vano.


Perlakuan jail Vano yang mengganggu tidurnya, seharusnya menjadi hal yang menyenangkan. Tapi perasaan takut yang sedang bergejolak di dalam dirinya, membuat Allin tidak menikmati momen-momen seharusnya membuat dia berbunga dan meluluhkan rasa takutnya. Dia terus membuat asumsi sendiri dan menelannya mentah-mentah tanpa mencoba untuk berkomunikasi pada Vano.


Dia terlalu takut menerima kenyataan yang tidak dia inginkan, hatinya sedang lemah dan rapuh. Dia kini sedang menyelematkan hatinya dengan cara menghindar. Dia takut kata-kata yang sama yang Sella ajukan padanya, ikut keluar juga dari mulut Vano.


Itulah yang menghantuinya, merengut kepercayaan dirinya, dan tenggelam dengan asumsi salahnya.


Mata Vano terbuka, menatap Allin dengan tajam. Allin sontak berpaling dari tatapan suaminya dan menghapus air matanya dengan cepat.

__ADS_1


"Apa kau akan terus menghindar dariku Allin?" Tanya Vano begitu dingin sembari mengangkat wajah istrinya untuk membalas tatapannya. Allin merasa tersudutkan mulai kembali meneteskan air matanya.


"Aku tahu, kau dari tadi hanya pura-pura tidur untuk menghindariku. Cepat katakan ada apa?" Tegur Vano sembari menghapus air mata Allin.


Allin tak mampu untuk bertanya, rasa takutnya menghantui, dan Vano mengerti, apa yang sedang di khawatirkan Allin.


"Aku dan Sella tak melakukan yang kau pikirkan. Jika itu yang mengganggu pikiranmu dari tadi. Aku lebih takut darimu Allin jika aku mengkhianatimu."


Air matanya Allin makin deras dengan semburat senyum kelegaan terbingkai diwajahnya, bahwa dugaannya itu telah salah. Dia pun melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan Vano.


"Maafkan aku, maafkan aku ..., tidak percaya padamu" Ujar Allin berulang-ulang penuh penyesalan karena dia telah berpikir buruk dan meragukan kesetiaan suaminya.


"Aku mencintaimu Allin dan percayalah padaku" Vano pun makin mengeratkan pelukannya dan memberikan kecupan-kecupan ringan hampir di seluruh wajah Allin yang telah basah dengan air mata.


***


"Bagaimana, jika kau ditemani Vano untuk pemeriksaan kali ini." Saran bunda Vano karena hari ini dia tidak bisa menemani menantunya untuk pemeriksaan kandungan Allin.


"Tidak Bunda" Protes Allin. "Dia akan marah besar, jika tau dokter itu seorang pria."


"Kau benar juga, tapi bunda tak ingin kau pergi sendirian Allin." Ujar bunda serat dengan nada khawatir. "Tapi membawa suamimu yang bodoh itu akan menghebohkan seluruh penghuni rumah sakit." Gerutu bunda sambil menahan senyum.


"Betul bunda!" Jawab Allin antusias dia pun ikut menahan senyum. Kadang perlakuan Vano yang berlebihan membuat mereka geli dan juga kesal, tak seharusnya pria sedewasa dia tidak paham tentang proses kehamilan.


"Bunda, apa kau tidak merasa jika suamiku itu mempunyai kelainan" tanya Allin takut-takut mengingat tingkah bodoh Vano.


"Hahaha ...." Bunda tertawa dengan keras mendengar pertanyaan Allin.

__ADS_1


"Ternyata kau berpikiran sama dengan bunda." Jawab perempuan paruh baya itu dengan tawa masih terdengar. "Tapi kau jangan khawatir, suamimu masih berada di zona yang wajar. Seseorang jika terlalu bahagia akan berpikir aneh-aneh dan tak sadar mempelihatkan pada orang. Dia terlalu bingung mengepreksikan kebahagiaannya dan keluar kata-kata aneh dari mulutnya"


"Kau yakin Bunda?" Tanya Allin penuh harap.


"Mungkin" Ucap bunda juga ragu dengan ucapannya.


Allin seketika cemberut.


Dan bunda tertawa lagi melihat sikap menantunya.


"Apa pun bentuk sikap suamimu, kau harus tetap menghormati dirinya dan menerima apa adanya. Karena pasangan kita adalah puzle dari diri kita. Itu akan terlihat sempurna dengan kita saling melengkapi." Ujar perempuan paruh baya itu mulai serius.


"Tidak bisa begitu Bunda!" Protes Allin


"Aku tidak setuju denganmu kali ini, bagaimana dengan perempuan di luar sana yang tidak beruntung mendapatkan suami yang kasar dan kadang tak tau diri, apakah dia harus menerima begitu saja sikap suaminya"


"Allin, kau tahu, rumah tangga itu seperti cermin dia akan menggambarkan bayanganmu pada pasanganmu. Saat salah satu pasangan memperlakukan pasangannya dengan kasar, baik dengan ucapan atau tindakannya dia akan merefleksikan bayangan itu padanya, pasangan pun turut bersikap kasar."


"Tapi Bunda pada kenyataannya banyak istri yang baik tapi mendapatkan suami yang jahat, bagaimana sikapnya? Apakah dia harus tetap menerima"


"Pernikahan adalah proses menyatukan Allin, menutupi satu sama lain. Jika itu terjadi, bunda pastikan istrinya yang telah memilih tak peduli dengan sikap suaminya, dia tidak ingin mencoba mengerti dengan sikap suaminya dan menutupi setiap kekurangan suaminya. Setiap mahkluk mempunyai kekurangan dan juga punya sesuatu yang mudah tersentuh. Intinya setiap pasangan harus bisa mengenal pasangan, dan tau letak titik kelemahannya. Sifat buruk adalah kelemahan Allin tapi itu bisa kita kendalikan dengan baik jika tak kita picu."


"Aku tetap tak setuju denganmu Bunda"


"Itu pilihanmu. Dan yang terpenting kau sudah menyimak dan mendengarkan Bunda. Saat kau protes, menunjukkan kau telah menyimak dengan baik. Bunda yakin, sedikit banyak itu akan mengubah cara pikirmu. Dan cara pikirmu lah yang menentukan takdirmu"


***

__ADS_1


__ADS_2