
"Masuk Allin" perintahnya.
Aku memasuki ruangan majikanku dengan rasa bercampur aduk. Rasanya ingin menghindar darinya tetapi tidak mungkin. Aku takut kalimat-kalimat semalam terlontar lagi dari mulutnya, memaksa ku untuk menerima.
"Permisi Bu, saya mau mengambil pakaian Tuan Vano" ucapku dengan tidak enak hati. Dirinya tampak terkejut sebentar, tak lama kemudian dia tersenyum.
"Vano berada di kamar mu, Allin?" tanyanya dengan simpul senyum di sudut bibir nya.
Aku mengangguk. "Ya, semalam Tuan ke kamar saya dalam keadaan basah kuyup, dan dia izin kepada saya untuk tidur dengan Dio." jawab ku berhati-hati, tak ingin ada kesalah pahaman.
"Maafkan saya Bu, saya tidak tega mengusir Tuan saat itu, karena saya pikir Tuan lebih baik berada di samping Dio untuk menenangkan dirinya." terangku sedikit menutupi keadaan sebenarnya.
Meski dia menyodorkan suaminya untukku, bukan berarti dia akan terima begitu saja suaminya tidur di kamar wanita lain, dia tetap wanita yang akan tersakiti jika seseorang menghianatinya.
"Apakah Vano masih marah" tanyanya terlihat khawatir.
"Semalam Tuan terlihat masih marah Bu. Tetapi pagi ini, saya rasa tidak Bu" jawabku sedikit ragu.
Aku mana tau Bu, dia masih marah apa tidak. Dia dihadapan ku selalu terlihat emosi dan marah-marah tidak jelas. Kecuali dihadapan mu, dia seperti singa jinak dan penurut kecuali semalam.
"Oh begitu" dia mengangguk mengerti.
"Bajunya sudah saya siapkan, biarkan saya sendiri yang mengantarkannya. Kamu tetap disini Allin, saya ingin bicara padamu" perintahnya sambil berlalu menuju kamarku.
Benarkan dugaan ku, aku tidak bisa menghindar. Jawaban apa yang harus aku berikan, sekarang aku sudah goyah dengan kata-kata Tanteku tadi, hanya sedikit percikan lagi aku akan kalah.
Tak lama kemudian, Bu Sella sudah kembali.
"Allin. Bagaimana keadaan Tegar?" tanyanya bagai anak panah yang sedang di ancang-ancang untuk di lepaskan, dan akulah sasarannya.
"Maaf, saya tidak memberitahu mu tentang Tegar. Saya punya alasan sendiri, untuk itu" dengan rasa tidak enak hati.
__ADS_1
Mengapa aku merasa kalimatnya begitu ambigu, seperti ada teka-teki di kalimatnya itu, tetapi coba ku abaikan.
"Tidak masalah Bu. Saya seharusnya mengucapkan terimakasih atas kebaikan Bu Sella kepada keluarga saya. Uang itu akan saya cicil Bu, maaf mungkin butuh waktu lama, tapi saya usahakan secepatnya."
"Tidak perlu Allin, saya tulus menolong anakmu itu, tak seharusnya kamu yang menanggung semua ini" jawabnya begitu tulus, tak ada kebohongan yang kulihat dari sorot matanya.
Tetapi lagi-lagi, kalimatnya membuat ku tambah merasa ada sesuatu yang ia ditutupin.
"Tak seharusnya kamu yang menanggung semua itu? Apa maksudnya Bu?" tanyaku menyelidik, dia hanya diam tak berkata-kata.
"Saya Ibu nya, orang tua tunggal dari Tegar. Saya yang berkewajiban membiayai semua keperluan Tegar dan saya juga berhak mengetahui keadaannya" jawabku sedikit emosi, mengingat bagaimana mereka menyembunyikan keadaan Tegar dari ku.
"Mungkin saat ini kamu tidak perlu tau. Mengapa dan alasan apa. Yang saya inginkan, kamu fokus dengan Dio dan rencana pernikahanmu dengan Vano!"
"Maaf Bu, saya belum menyetujuinya" tolak ku dengan tegas. Aku sedikit terlihat marah, dia berbicara seolah-olah, aku sudah memutuskan menerima pernikahan itu.
Baru kali ini, aku berbicara dengan Bu Sella, tanpa rasa khawatir bersikap tidak sopan padanya, selama ini rasa patuh untuk menghormati perintahnya, wajib bagi ku, baik berupa tindakan dan perkataan. Sekarang ini, aku menganggap dia sebagai lawan yang siap menyerang kapan pun.
"Kamu yakin Allin?" tanyanya berubah jadi dingin. Nadanya meragukan sikapku. Entah mengapa dia begitu percaya diri bahwa aku akan menerima keputusannya.
"Tante mu sudah menerima lamaran itu, mungkin, surat undangan juga sudah disebarkan"
Tidak! Tante ku tidak mungkin. Baru beberapa menit yang lalu aku bicara dengan dia. Dia bilang tidak memaksa ku, mengapa jadi begini. Mereka semua mempermainkan diriku.
"Tante mu menyetujui lamaran semalam, dia juga sudah menerima uang untuk resepsi, dan pagi ini dia juga sudah menerima undangan untuk pernikahan mu" Bu Sella diam sejenak, mengamati ekspresi ku. "Kami tidak memaksamu, itu terserah mu, Allin"
"Cih, Anda bilang tidak memaksa saya, tetapi apa semua ini. Anda menggunakan keluarga saya untuk mendesak saya. Dari pengobatan Tegar, Lamaran, Uang, Tante, dan surat undangan."
"Saya tidak memaksa siapa pun Allin, saya hanya mengatur secepatnya pernikahan ini. Dan maaf jika sikap saya terlihat memaksa mu."
"Anda bersikap seolah-olah Anda orang baik, ternyata Anda licik. Semua yang Anda putuskan, Anda menginginkan terlaksana begitu saja tanpa memikirkan perasaan orang lain"
__ADS_1
"Saya tau itu, semua sudah saya pikirkan. Pernikahan saya terancam disini, Vano dituntut untuk menikah dengan orang tuanya tetapi saya-lah yang berperan untuk menyodorkannya. Tegar anakmu, butuh sosok ayah untuk identitas dirinya, Tante mu? Dia tidak sebaik yang kau pikir Allin? Dia butuh banyak biaya untuk menutupi semua kesalahannya..."
"Apa maksud mu, Bu Sella." potong ku tiba-tiba. Tetapi dia mengabaikan pertanyaan ku, dia hanya melanjutkan kalimatnya yang terpotong.
"Lalu saya sendiri butuh seseorang yang mau menerima semua keputusan yang sudah saya putuskan. Lalu kamu dan Vano, saya tau, semua keputusan ada di tangan kalian. Saya dan siapa pun disini tidak akan mampu memaksa pernikahan kalian ini, kalian bisa menolak dan menghindar dari semua ini."
Dia diam sejenak, mengambil napas dalam dalam dan melanjutkan kalimatnya.
"Tetapi ingat!" Dari sisi Vano, ada orang tuanya, mertua saya, tetap menginginkan seorang cucu dari Vano."
"Dan kamu butuh status untuk identitas anakmu. Ya, saya tau, kamu bisa menikah dengan siapa saja, tetapi Tante mu sudah mengambil keputusan dan melakukan tindakan sepengetahuan mu."
"Anda yang membuat dia melakukan semua itu"
"Ya, tetapi saya tegaskan sekali padamu, saya tidak memaksa siapa pun, saya hanya mengarahkan, hanya itu"
"Mengapa Anda tidak memilih wanita lain, kenapa harus saya?"
"Kamu selalu berada di dekat kami. Siapa yang akan berpikir bahwa dirimu adalah istri lain dari suami saya. Kamu mengertikan, tentang menjaga nama baik, karena itu keluarga Fahrizi, saya, dan juga mungkin Vano, memilihmu adalah pilihan terbaik"
"Bagaimana tentang perasaan saya dan Tuan Vano kelak. Apakah Anda pernah berpikir, mungkin salah satu dari kami akan jatuh cinta"
"Itu juga alasan kuat saya memilih mu Allin. Selama ini kamu mampu menjaga pandangan dan hatimu. Tetapi tidak ada yang tak mungkin untuk kamu dan Vano saling mecintai. Setelah pertimbangan saya selama ini, dirimu tetap menjadi pilihan terbaik. Jika kamu tidak menerima pernikahan ini, mertua saya, akan mencarikan istri untuk Vano bedasarkan pilihan mereka. Status dan hal lain pasti mereka pertimbangkan, dan untuk semua itu mudah bagi mereka untuk menerima siapapun. Tetapi tidak mudah bagi saya, itu akan berbahaya bagi hubungan pernikahan saya kelak. Dan siapapun wanita yang kelak akan menjadi istri dari suami saya, saya takkan mampu untuk menahan perasaan cinta yang akan timbul di antara mereka, termasuk dengan mu"
"Lalu bagaimana sikap Anda, jika suatu saat saya atau Tuan Vano jatuh cinta"
"Jika hanya salah satu dari kalian yang jatuh cinta, Itu tidak berpengaruh bagi saya, kecuali kalian saling mencintai"
"Jika kami saling mencintai, bagaimana?"
"Saya tau bagaimana cara Vano dalam mengambil keputusan, apalagi tentang perasaan, dia takkan semudah itu. Jadi sebaiknya, kamu harus mampu untuk menahan perasaanmu itu, untuk tidak lebih"
__ADS_1
"Pikirkan lagi Allin, tentang keputusanmu, masih ada beberapa hari lagi untuk itu. Saya akan pergi dulu, jaga Dio dan Vano dengan baik" ucapnya sambil berlalu.
***