Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Mie instan


__ADS_3

Hore Allin Up lagi😁😁


Beberapa puluh menit kemudian Vano keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar.


Senyumnya pun tak lepas terukir menatap wajah cemberut istrinya.


Allin malah menyambut Vano dengan tatapan tajam dan penuh kecurigaan.


"Kenapa mukamu kau tekuk seperti itu sayang," goda Vano. Dia paham istrinya masih marah dan butuh penjelasan tentang mengapa ia baru pulang larut malam.


"Kau mencurigakan," tuduh Allin lansung.


"Mencurigakan bagaimana," Vano mengelak.


Apakah aku sudah berbuat salah. Batin Vano


"Kau melupakan janjimu mau mengantarkanku ke Mall, lalu kau pulang terlambat dan tidak menjelaskan kenapa, dan barusan kau menghindar dariku dan tergesa-gesa masuk ke kamar mandi." Cecar Allin dengan tatapan tajam.


"Astaga Allin, cuma karena itu." Vano menggeleng. Padahal dia menyadari bahwa dia memang sudah keterlaluan tak memberi kabar, dia hanya mengirim pesan bahwa dia telat pulang tampa penjelasan lainnya.


"Cuma?" Allin makin mendelikkan bola matanya. "Itu buka cuma Tuan, kau sudah terlalu banyak buat aku kecewa." Gerutu Allin makin kesal dengan jawaban Vano.


"Baiklah, aku akan menjelaskannya." Vano pun bergegas memakai seluruh pakaiannya. Setelah itu menghampiri Allin di atas ranjang.


"Maaf, aku memang lupa janji padamu, tapi aku janji aku akan mengganti dengan esok hari. Kita bisa liburan seharian kemana pun yang kau inginkan."


Ya, bawahannya menyerahkan laporan mengenai Mila membuat Vano lupa tentang janjinya pada Allin. Dan setelah itu dia menghadiri acara.


"Dan tadi aku menemui seseorang"


"Sampai malam begini"


Vano mengangguk


"Apakah dia orang penting?"


"Iya"


"Perempuan atau lelaki?"


"Perempuan"


"Pasti dia cantik."


Vano menahan senyumnya, dia mulai mengerti istri sekarang sedam dalam mode cemburu.


Sedikit memprovokasinya tak apa, pikir Vano.


"Pasti, dia sangat cantik dan berkharismatik, apalagi dengan dua warna rambutnya yang berpadu satu sama lain membuat dia tampak lebih anggun." Jawab Vano sedikit lebay dengan kalimat ambigu.


Dua warna rambut? Mungkin dia seorang model. Batin Allin


"Aku tak ingin bertanya lagi." Rajuk Allin membalikkan badannya memunggumi Vano.

__ADS_1


"Kau yakin tak penasaran, padahal aku mau cerita padamu jika kau bertanya lagi."


Lagi? Kenapa dia tak lansung saja bicara, kenapa harus menunggu aku bertanya. Gerutu Allin dalam hatinya.


Tak tahan dengan rasa penasaran, Allin membalikkan badannya lagi menghadap suaminya. "Cepat katakan! Dia siapa? Apa hubungannya denganmu? Lalu untuk apa kau menemuinya?" cecar Allin.


"Aish ..., mengapa begitu banyak pertanyaan yang kau ajukan." Protes Vano pura-pura kesal.


"Cepat jawab!!" Pinta Allin mulai kesal.


"Aku menemuinya untuk mengucapkan bela sungkawa karena suaminya meninggal. Karena itu tadi aku menghindar darimu, dan segera masuk ke kemar mandi."


"Lalu kau ingin mendaftar menjadi suami barunya!" Tuduh Allin dengan cepat.


Pletuk! Vano memukul Allin dengan pulpen yang berada di atas nakas.


"Pikiranmu terlalu negatif"


"Dia dulu dosen pembimbing ku dan dia berumur 58 tahun, apakah kau sudah puas."


"Kenapa memang?"


"Astaga Allin, mulut dan pikiranmu, jika sudah bicara suka seenaknya saja"


Wek, Allin mencibir pada Vano. "Siapa suruh memprovokasiku."


"Kau menggemas jika sedang cemburu."


"Memang aku sudah menggemaskan sejak dari bayi" Allin mulai menyombongkan dirinya.


Vano refleks teringat dengan laporan anak buahnya mengatakan Dio kemungkinan anak Allin. Raut wajah Vano berubah menjadi serius, matanya kosong tak terarah, pikirannya sedang berkecamuk harus mulai dari mana mengatakan pada Allin.


Aku harus memastikan terlebih dahulu jika Dio memang anak kandung Allin. Batin Vano.


"Tuan ada apa?" Tanya Allin melihat gelagat suaminya tiba-tiba berubah.


"Tidak ada apa-apa"


Vano pun naik ke atas ranjang merebahkan tubuhnya dan menarik Alin ke dalam dekapannya.


"Allin ceritakan bagaimana karakter tante Mia." Pinta Vano tak di duga.


Allin seketika mendongakkan kepalanya menatap Vano dengan lekat, "kenapa tiba-tiba ingin tau tentang Mia"


"Aku sudah menjadi bagian keluargamu, jadi aku perlu tahu sedikit karakter tantemu agar aku tidak salah bersikap dan menyinggung perasaannya" Alasan Vano yang terdengar jujur.


"Tante Mia dan almarhum suaminya sangat menyayangiku sejak kecil, apa yang dia belikan untuk kak Mila dia juga akan membelikan yang sama untukku"


"Benarkah?"


Allin mengangguk.


"Dia satu-satunya adik dari ayahku, tapi dia juga sangat dekat dengan Ibu"

__ADS_1


"Semenjak ayah tidak ada paman dan tante Mia menjaga kami"


"Kau menyayangi tante Mia?"


"Kau lucu Tuan, pastilah aku menyayanginya"


"Apakah dia pernah berbohong padamu?"


"Maksudmu apa?" Tanya Allin heran dengan pertanyaan suaminya.


"Tidak," Vano mencoba menggelak. Dia hampir saja kelepasan.


Krukk, krukk, krukk.


Bunyi suara perut Vano membuat Allin tersenyum mendengarnya.


"He he, Allin aku lapar!" Rengek Vano sedikit malu. Segera Allin duduk dan memperhatikan dengan lekat wajah suaminya.


"Astaga, kau belum makan? Maafkan aku." Tutur Allin merasa bersalah.


Sebagai istri dia sudah lalai dan tak peka akan kebutuhan suaminya.


Vano dengan ragu menggeleng, jika dia jujur istrinya akan merasa lebih tak enak lagi, jika dia berbohong cacing dalam perutnya mulai berdemo.


"Hihi, aku sudah makan tapi aku ingin makan mie instan yang super pedas."


Bukankah dia tak suka mie instan kenapa minta dibuatkan, pikir Allin tapi dia tak protes.


"Ayo, kita buat mie instan." Ajak Allin dengan begitu antusias.


Vano pun dengan senang hati menanggapi ajakan istrinya.


***


Allin berkali-kali menelan air liurnya melihat Vano menyantap mie instan dengan lahap.


Asap yang mengepul dengan aroma yang khas antara perpaduan minyak dengan bumbu penyedap membuat kuah terlihat kental. Terasa begitu segar untuk di lahap, belum lagi dengan tambahan sedikit kecap dan saos sambal yang di tuangkan Vano ke dalam mangkoknya menguatkan aroma yang begitu lezat.


Mulut Vano dengan perlahan-lahan memasukkan mie yang panjang ke dalam mulutnya dengan bunyi slurp, slurp, slurp, bunyi suara kecapan suaminya mengguncang cacing di perut Allin berdemo ingin juga mencicipi.


"Kau curang, aku yang membuatnya tetapi kau tak mengajak aku ikut makan." Protes Allin yang hanya menjadi penonton duduk di hadapan suaminya.


"Ini tak bagus buat kesehatanmu sayang," jawab Vano terbata-bata karena dia berbicara sambil menguyah mie dalam mulutnya.


"Tapi anakmu yang mau, nanti dia ileran loh" ancam Allin dengan seringai licik.


Vano menghembuskan napas kalah, dengan berat hati dia memberi satu suapan ke mulut Allin. "Hanya satu suapan Allin, tidak boleh lebih" Allin mengerucutkan bibirnya tidak terima dengan saran suaminya itu, tapi mulutnya dengan cepat terbuka saat sendok suapan mie Vano di depan mulutnya.


"Haaa ....!" Jerit Allin saat mie instant masuk ke dalam mulutnya dan lidahnya yang peka protes kepanasan.


"Astaga kau makan mie instan atau makan cabe sih, ini pedas sekali." Gerutu Allin sambil menyambar gelas minuman dingin untuk meredakan panas di mulutnya.


"Ha ha ha" Vano terkekeh geli melihat gerutuan istrinya. "Asli ini nikmat sekali sayang, walau mulutku terasa panas" Jawab Vano sambil menyendokkan mie ke dalam mulutnya.

__ADS_1


Kenapa dengan dia, biasa tak suka mie, biasa tak suka pedas sekarang dia malah terlihat menikmatinya.


(Buat reader jangan ikutan ngiler, capcus lansung bikin mie instan ya😁😁🀣)


__ADS_2