Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Vano kembali


__ADS_3

Hari ini begitu panjang dan melelahkan, rentetan masalah tak henti-henti menghampiri. Malam yang makin tenang tak membuat matanya merasa kantuk, malah rasa khawatirnya makin menjadi.


Vano belum kembali, satu pesan atau panggilan untuk Allin tak ada. Rasa khawatirnya membuang rasa egonya, dengan sedikit keberanian dia mengirim pesan dan memanggil nomor suaminya itu, tapi tak ada jawaban.


Ceklek


Pintu terbuka. Pria jangkung itu masuk. Allin dengan antusias beranjak dari ranjang, menghampiri Vano ingin menyapanya, sayang suaminya itu malah menghindar, melirik pun, dia seperti tak sudi.


Allin menghela napas dalam sembari memanyunkan bibirnya dan kembali lagi ke ranjang. Ekor matanya tetap memperhatikan Vano sambil memainkan ponsel. Dia duduk bersila di ranjang dengan bantal di pangkuannya, tangannya sibuk berselancar di layar ponsel, tapi matanya tak begitu, dia sibuk memperhatikan suaminya dengan detail.


Vano akhirnya tak tahan, dia melirik juga Allin sekilas tanpa mengatakan apa-apa. Lalu dia membuka kemeja dan celana bahan hitamnya di hadapan istrinya. Menarik selembar handuk dari lemari, dan membiarkan Allin mencuri pandang padanya.


Onggokan kain telah jatuh di lantai, handuk hanya disampirkan di lehernya, bukan untuk menutupi tubuh setengah polosnya.


Allin hanya menelan saliva, melihat sikap suaminya. Setelah sosok suaminya beranjak dan hilang di balik pintu kamar mandi, dia baru memberanikan diri mengangkat kepalanya.


Dia berdecih kesal, kesal karena di hiraukan, kesal karena tak di sapa, dan kesal melihat tatapan dingin suaminya. Allin bergerak mengambil onggokan baju suaminya, meletakkan di box baju kotor, lalu dia membaringkan tubuhnya, menyelimuti sampai bagian kepala.


Lima belas menit kemudian, pintu kamar mandi terdengar terbuka. Aroma khas sampo dan sabun begitu menyegarkan. Allin menghidu aroma itu dengan pelan dan menikmati diam-diam dengan mata setengah terpejam. Suara dering telpon nyaring membuat kegiatan Allin terhenti, dia membuka bola matanya, memasang pendengaran untuk mencuri suara.


"Aku di rumah"


"Barusan"


"Ya, aku di kamar Allin"


"Baiklah, aku akan ke kamarmu"


Allin sudah dapat menebak, itu panggilan dari majikan perempuannya. Tiba-tiba hatinya merasa tidak terima.


Sisi gelapnya keluar, ingin egois, tetapi dia sadar pria itu belum mengatakan dia akan memilih siapa. Untuk sesaat dia lupa diri, dan yakin suaminya akan memilihnya, tapi juga dia tidak menginginkan hal itu.


Allin terlihat begitu kacau. Dia terduduk lagi di atas ranjang, air matanya pun sudah jatuh. Jatuh dalam kebingungan.


"Kau menangis karena aku?" tanya seseorang yang sudah duduk di depannya.


Astaga sejak kapan dia berada di sini, aku terlalu larut sehingga tak mendengar pintu terbuka atau pun suara langkah kakinya.


"Tidak" Allin menggeleng sembari menghapus jejak air matanya.


Pria itu hanya menyeringai dan makin mendekatkan wajahnya untuk menatap bola mata Allin.


"Jangan mendekat"


"Kenapa" kepalanya ia miringkan untuk menatap Allin lebih lekat.


"Aku belum mandi" jawab Allin malu.


Dia makin mendekat menghidu bau tubuh Allin.


"Ya, kau sangat bau" bisiknya di telinga Allin.


"Bicara, bicara saja, tetapi kenapa kau harus sampai sedekat ini denganku" ucap Allin terbata.


Jantung Allin berdetak cepat, sosok di depannya terlalu dekat, dia khawatir suara detak jantungnya terdengar.


Hal ini akan membuat aku malu dan dia akan mengejekku.


Dia sadar, sekarang jantungnya mudah sekali berpacu saat Vano mengumbarkan kata manis atau bersikap terlalu intim padanya.

__ADS_1


"Eh! Eh! Eh. Apa yang kau lakukan?" pekik Allin ketika Vano membuka kancing baju piyama. Allin menepis dengan tangannya tetapi Vano memahannya.


Perempuan itu tak hilang akal, dia mencoba menjauh, mendorong badannya lebih ke belakang. Akan tetapi Vano menarik kakinya, membuat perempuan itu terlentang. Vano seketika menyerkapnya dari atas. Tangan itu mulai membukan kancing piyama itu. Lagi-lagi Allin menahannya.


"Kau, harus mandi!" perintahnya.


"Tidak, aku tidak mau" Mendengar kata mandi membuat dia ngeri, karena waktu sudah menunjukkan tengah malam.


"Beberapa hari ini, kau malas sekali mandi Allin"


Kenapa dengan dia tiba-tiba datang menyuruhku mandi, sok perhatian. Sedari tadi dia hanya mendiami diriku. Apakah istri cantiknya itu menolaknya.


Vano merangkum kedua tangan Allin mengikatnya dengan kabel charger ponsel.


"Lepaskan! Kau menganiaya seorang perempuan Tuan." pekiknya.


Vano tak menghiraukan, dia tetap mengikat kedua tangan Allin.


Allin baru menyadari dengan apa tuannya mengikat kedua tangannya. "Itu kabel charger ponselku, kau membuatnya rusak" rengek Allin sembari meronta.


Vano tak peduli regekan Allin, lalu dia menggendong Allin ala bridal style dengan cepat tangan Allin telah mengalung di leher Vano.


Allin terdiam dan berhenti meronta, matanya dengan lekat memperhatikan suaminya.


"Sikap penurutmu, ternyata manis juga. Benar begini, patulah " ucapnya sembari mendusel-ndusel hidungnya dengan hidung Allin.


"Kau mengerikan" cibir Allin dengan mata yang dia picingkan. Vano hanya terkekeh memperhatikan wajah Allin yang seketika manyun menyikapi sikapnya.


"Kenapa?"


"Kau berubah dengan cepat seperti bunglon"


"Hmm"


Vano tak menjawab mengapa sikapnya tiba-tiba berubah setelah bertemu dengan Sella. Dia malah membuat alasan lain. "Karena kau sangat bau! Karena itu, kau harus mandi"


"Tidak! Kumohon Tuan, aku tidak mau mandi" pekik Allin sembari meronta.


"Jika kau berteriak lagi, kau akan membangunkan Dio"


"Ya, tapi tolong lepaskan aku! Aku tidak ingin mandi" ucap Allin pelan.


"Kenapa kau jadi wanita pemalas sekali Allin, ini sudah tengah malam, tetapi kau belum mandi juga"


"Karena ini tengah malam, maka aku tak ingin mandi"


"Kemana saja kau seharian, sampai kau tak sempat untuk mandi"


Allin merasa terpojokkan, dia diam tak menyahut.


Allin di turunkan. Vano mengisi bathtub dengan air hangat, lalu di mendekat lagi pada perempuan yang hanya termangu memandanginya.


"Ayo buka bajumu!" perintah Vano sambil mencoba membuka ikatan di tangan Allin.


"Jangan bilang kau ingin memandikan aku" Allin melangkah mundur saat melihat seringai Vano.


"Benar, aku ingin memandikanmu" Vano ikutan melangkah mendekati Allin.


"Tidak, Ini terlalu vulgar. Aku bisa mandi sendiri Tuan" Allin mendekap tubuhnya bagian depan.

__ADS_1


"Vulgar? Aku ini suamimu Allin" Vano memicingkan kedua matanya, untuk mengejek sikap Allin.


"Stop! Jangan mendekat! Aku akan mandi sendiri"


"Aku akan membantumu"


"Jangan Tuan, jika tidak, aku takkan memberi yang kau mau"


"Yang aku mau? Kau tau apa yang aku mau" tanya Vano menyeringai.


Allin mengannguk.


Allin, apa yang kau pikirkan, kau menebak begitu asal, seolah dirimulah yang menginginkan dirinya.


"Baiklah, aku akan menunggumu di luar kalau begitu"


Dasar perempuan itu, dia pikir apa yang aku mau. Baiklah, karena dia yang menawari, akan aku terima Allin dengan senang hati, batin Vano sembari keluar dari kamar mandi dengan senyum kemenangan.


Allin hanya menatap air di bathtub yang mulai penuh. Tangannya dengan segan menyentuh air itu.


Kenapa kau sekarang begitu mengerikan air.


Dia duduk di pinggir bathtub, mencoba menyentuh tetapi dengan cepat dia tarik lagi tangannya, di berulang kali melakukan hal sama sembari bersenandung.


Mandi kembang tengah malam, jangan kau lakukan


Kalau hanya mengharap maaf dariku


Andai kau ingin kembali mengharap cintaku


Lupakanlah dosa-dosamu yang lalu


Haa, 'ku ma'afkan semua salahmu


Walau diri dan cintamu kini sisa orang


Namun kedua tanganku rela menerima


Walau hancur batin ini karna undangan palsumu


Namun di hatiku tak menyimpan rasa benci


Kembalilah, kembalilah andai engkau tak bahagia


Diri inipun tak rela membiarkan kau tersiksa


Mandi kembang tengah malam, jangan kau lakukan


Kalau hanya mengharap maaf dariku


Haa, 'ku ma'afkan semua salahmu


Kasian kamu Allin, suamimu malah menyuruhmu mandi tengah malam.


"Allin! Kau sedang apa, kenapa kau begitu lama" Vano mengedor pintu kamar mandi berulang-ulang.


Alli tersadar sedari tadi dia hanya bersenandung dan menatap air tanpa menyentuhnya.


"Iya, sebentar. Aku sedang menggosok badanku" Allin mulai ketir-ketir membuka seluruh pakaiannya. Dia memberanikan diri untuk masuk ke dalam bathtub.

__ADS_1


"Wah, ternyata menyenangkan. Mengapa aku begitu ketakutan melihat air, padahal ini sangat hangat, dan baunya tuan Vano ada di sini" gumannya sembari menghidu aroma sabun yang menyegarkan.


***


__ADS_2