
Mereka berjalan beriringan memasuki kediamannya, sesekali masih terdengar gerutuan bunda yang sedang menegur sikap Vano. Saat langkah mereka memasuki ruang tengah Sella sudah duduk memeluk bantal sofa dengan kepala menyender.
Mereka menatap dengan heran dan saling bertukar pandang.
"Dio di mana Mbak Sella?" tanya Allin segera menghampiri Sella.
"Bersama Ardio," jawabnya lemah. Mereka secara bersama melebarkan bola matanya menunjukkan keterkejutan mereka. Dan melihat sikap santai Sella memancing emosi Vano, bunda menyadari hal tersebut menepuk bahu Vano untuk tenang dan tetap diam.
Sedangkan Allin tak dapat protes melihat sikap Sella, dia malah mengalihkan pandangannya pada Vano dan bunda bergantian seolah meminta saran.
Bunda menanggapi tatapan Allin dengan memberi kode pada Allin dan Vano untuk meninggalkannya bersama Sella. Perempuan paru baya itu tau, jika membiarkan mereka bicara akan membuat pertengkaran tak diinginkan.
Vano menarik napas dalam-dalam untuk meredakan emosinya sedangkan Allin sudah berada di depan Vano dan menarik suaminya untuk menjauh dari tempat itu.
"Dia sedang patah hati." Perkiraan Allin dan membisikannya pada Vano. Suaminya seketika melirik lagi pada Sella, dia kini mulai memaklumi sikap perempuan menyebalkan itu.
"Kalian mau kemana?" tegur Sella melihat dia ditinggalkan begitu saja.
Allin dan Vano tak menjawab, mereka menunjuk ke sembarang arah dan saling berlawanan.
"Sayang ke sana!" Kata Allin dengan senyum cagung. Dia dengan cepat mengambil tangan Vano menunjuk arah yang sama dengannya. Lalu melangkah dengan cepat meninggal ruangan tengah.
Sella berdecak kesal melihat mereka. Sebelum meninggalkannya, keduanya tampak cengar-cengir mentertawakan kelakuan mereka sendiri.
"Dio dimana Sella?" tanya bunda yang telah duduk di samping Sella.
"Aku tinggalkan Dio bersama Ardio"
"Maksudmu?" tanya bunda Vano yang belum mengerti situasinya.
"Iya, kami semalam menginap di vila Ardio"
"Kau menginap bersamanya?" bunda seolah tak percaya.
"Bukan hanya kami saja Bunda, ada teman dan adik temannya di vila itu." Sella mencoba menjelaskan. Jika pandangan Allin dan Vano mungkin dia tak peduli untuk menjelaskan hal itu, tapi beda, jika bersangkutan dengan perempuan di depannya yang telah dia anggap sebagai ibu.
"Lalu, mengapa kau kembali sendirian tak membawa Dio?"
"A-aku pergi tanpa memberitahu Ardio." Akui Sella dengan perasaan bersalah.
__ADS_1
"Kenapa? Lalu Dio di mana saat kau tinggalkan?" suara bunda mulai meninggi.
"Dia sedang mandi bersama Ardio." Jelas Sella makin tak enak hati.
Bunda menatap Sella tak percaya, dia kecewa. Meski dia tahu Ardio adalah ayah kandung Dio, tapi apa yang di lakukan oleh Sella adalah salah.
"Bunda, maafkan aku. Sebelumnya aku sudah minta izin pada Vano dan Allin akan membawa Dio selama dua hari, masih ada satu hari lagi kan?"
"Bukan itu masalahnya Sella, Allin belum percaya lelaki itu. Mereka pikir Dio bersamamu dan mengizinkan pria itu mendekati Dio karena dirimu Sella. Tapi kau malah meninggalkan anakmu dengan pria asing itu. Ya, Bunda tau dia seorang artis takkan mungkin melakukan hal bodoh yang akan merusak nama baiknya, tapi kemungkinan itu tetap ada meski kecil."
Asing bagi kalian, batin Sella.
"Aku jaminannya Bunda. Jika dia melakukan hal bodoh itu biarkan aku yang akan bertanggung jawab." Sella begitu yakin dengan ucapannya dengan pandangannya lurus menatap bunda tanpa gentar.
Bunda hanya bisa menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskannya dengan pelan. Dia tau saat ini Sella tak main-main, mantan istri anaknya begitu percaya pada Ardio.
***
Bunda pun mencoba menerangkan pada Allin dan Vano.
Allin menerima dan mencoba mengerti, tapi tidak dengan Vano dia malah makin emosi, sikap Sella tak dapat dia terima.
"Sayang," panggil Allin.
Tak menjawab. Vano hanya menoleh sebentar pada istrinya lalu pandangannya mulai kembali kosong.
"Sayang ...," rengek Allin sambil mengguncang tangan Vano.
Pria itu akhirnya menghentikan lamunannya dan fokus pada istrinya. "Kenapa?"
"Ini!" Tunjuk Allin pada perut besarnya.
Vano tersenyum, dia tau apa yang diinginkan Allin yaitu menghelus perut besarnya. Dan istrinya itu telah menarik bajunya hingga perut besarnya tersebut terpampang dengan polos.
Perus mulus itu sedang bergerak, menunjukan reaksi calon bayi-bayi mereka yang sedang aktif. Vano mengikuti kemana lari gerakan si cabang bayi sambil mengusap lembut, dan sesekali dia terkekeh jika guncangan dari dalam perut Allin seolah menendang tangannya.
Jika mengingat kembali, bagaimana hebohnya Vano saat pertama kali merasakan getaran dari perut Allin, dia malu sendiri.
Saat itu, semua pekerja di rumahnya dia kumpulkan untuk mempersiapkan semua keperluan melahirkan Allin. Dan belum lagi, dia memanggil beberapa tenaga medis untuk proses melahirkan Allin.
__ADS_1
"Sayang, ada apa ini?" tanya Allin melihat seisi rumah sedang sibuk mondar mandir masuk ke kamar mereka.
"Anak kita sudah ingin keluar!" sahut Vano antusias.
Allin kebingungan dengan maksud suaminya itu, "Maksudmu?" tanya Allin. Dia perlu penjelasan, karena ini bukan waktunya dia melahirkan. Beberapa bulan lagi anaknya baru tumbuh dengan sempurna dan pantas dilahirkan.
Vano pun menghampiri istrinya yang masih terbaring di ranjang, dia duduk di pinggir, lalu tangannya memegang kedua bahu Allin dengan sorot mata berbinar.
"Sayang, anak kita ingin keluar dari perutmu, mereka mulai mendemo!" seru Vano begitu antusias. Dan senyum pria itu terus terukir di wajahnya menunjukan betapa senang dirinya.
"Hah!" Allin membelalakkan mata dan beberapa pelayan yang berada di kamar itu pun ikut membelalakkan mata mereka. Tapi hanya sebentar, mereka dengan cepat menormalkan wajahnya dan menahan senyum dengan guncangan perut yang hebat. Menunjukkan betapa kuatnya senyum itu ingin terbit di wajah mereka.
"Sayang, bagaimana kau tahu anak kita ingin keluar dari perutku?" tanya Allin. Sebelum dia bertanya Allin telah menarik napasnya dalam-dalam untuk menjaga emosinya agar dia bisa bicara tenang dengan Vano.
Suaminya itu perlu penjelasan darinya dengan tenang dan benar.
"Mereka menendang perutmu Allin! Aku lihat dengan jelas bagaimana kaki mungil mereka tercetak jelas di perutmu. Kita harus mengeluarkan mereka, aku tidak ingin kau kesakitan."
Allin makin menarik napasnya dalam-dalam dan ia hembuskan dengan pelan.
Para pelayan di dalam kamar itu akhirnya tak tahan mereka pun terkekeh tanpa suara, dan mencoba memunggungi dua majikannya.
"Kau tahu sayang, ini bukan menunjukkan mereka ingin keluar dari perutku. Mereka masih perlu beberapa bulan lagi untuk pertumbuhan mereka agar sempurna. Bayi yang sehat itu akan lahir pada bulan kesembilan, kau mengetikan sayang. Mereka bukan berdemo, tapi menunjukkan padamu bahwa mereka sehat dan sangat aktif" Terang Allin dengan lembut, dia tidak menyudutkan apa yang telah di duga Vano.
Vano hanya tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya tak gatal. Allin pun ikut tersenyum, menyadari suaminya telah memahami penjelasannya.
"Karena itu, jika kau membaca artikel jangan suka meloncati beberapa kalimat agar kau dapat memahami sepenuhnya," tegur Allin.
Dia tahu kebiasaan Vano, jika membaca bukan tentang bisnis, suaminya hanya fokus pada tujuannya, mengandalkan kata kunci. Dia tidak ingin tahu lebih lanjut tentang penjelasan yang dia anggap bertele-tele karena itu Vano tak menyukai karya fiksi.
_
_
_
_
Adakah yang seperti Vano? Yang suka baca loncat-loncat, ayo ngaku!😁😁
__ADS_1