
"Kadang ke egoisan kitalah yang membuat anak-anak kita salah jalan. Kita selalu saja beranggapan mereka bocah kecil yang selalu harus di bimbing. Kita mendidik dengan ilmu tapi kita juga meragukan ilmu yang sudah kita berikan padanya. Sikap dan tindakan mereka adalah pengamalan ilmu yang mereka serap. Jadi biarkan mereka mengambil keputusan, percayalah pada mereka." Pria paruh baya itu bicara se bijaksana mungkin di hadapan kedua besan-nya. Amarah telah lenyap dari dirinya, hanya tinggal ke tegasan seorang ayah, tentang rasa percaya pada anaknya.
"Ya kami tau. Percayalah Sella tidak sepenuhnya bersalah, kami-lah yang mendorongnya untuk dia bertindak seperti ini" bela ayah mertuanya Sella.
Mereka semua menyadari kesalahannya, mereka saling mendorong satu sama lain, hingga permainan ini bisa tercipta. Dan mereka akan berjiwa besar, menerima segala ke putusan anak-anaknya.
Ayahnya Sella mengangguk, dia mengerti dan paham. "Tentang perempuan itu, aku berharap dia mampu mengalah, tetapi ..., sudahlah! Biarkan mereka saja memutuskannya" ucapnya terputus.
Sebagai seorang ayah dia ingin melindungi pernikahan anaknya, dia ingin egois demi kebahagiaan anaknya. Akan tetapi dia tak ingin lagi memaksakan kehendaknya, tidak baik baginya terlalu ikut jauh dalam urusan rumah tangga anaknya itu. Dia sudah memberikan pilihan pada mereka untuk mengambil keputusan sendiri.
"Aku pamit dulu" ucapnya beranjak dari sofa itu, kedua besan-nya mengikuti gerakannya, mereka bertiga beriringi ke luar dari ruangan itu.
Setelah mengantar kepergian besan-nya, Vano melewati mereka tanpa berpamitan.
Ayah bunda Vano saling mengode, melihat sikap Vano yang tidak sopan, tetapi mereka mencoba memahami dan memaklumi sikap anaknya itu.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya ayah Vano untuk menegur istrinya yang sedang melamun. Mereka sudah duduk kembali di ruang tamu.
"Aku merasa Vano mencintai Allin" tebak bunda Vano melihat sikap anaknya sejak tadi.
"Dan Sella terlihat biasa saja menyikapinya" lanjut bunda Vano sembari menatap mata suaminya.
Dia ingin tahu bagaimana reaksi suaminya itu, tetapi ayah Vano terlihat tidak terkejut. "Apa kau juga menyadarinya?" tanya bunda dengan mata makin lekat memandangi suaminya.
Suaminya mengangguk. Bunda menghela napas dalam. Semua makin jadi rumit, dia sadar akan sulit bagi Vano memutuskan.
"Vano tipikal orang yang yang menepati janji, dia takkan bisa melepaskan Sella, dia tidak ingin menyakiti hati perempuan itu. Tetapi dia punya cinta yang ingin dia pertahankan. Ini akan berat buat Vano." ujar suaminya.
"Vano juga mencintai Sella, Yah" tegur bunda pada suaminya. Perkataan suaminya seolah-olah Vano hanya mencintai Allin.
"Mungkin" jawab ayah tidak ingin memperkeruh masalah.
Cinta itu egois. Bagaimana Vano selama ini bisa menerima Sella sedangkan perempuan itu masih memendam cintanya yang lain. Itu hanya kagum, itu hanya rasa melindungi, atau rasa berbakti pada ibunya untuk menghargai pasangannya, batin ayah Vano.
"Bagaimana jika dia memilih Allin. Apakah kau akan menerimanya?"
__ADS_1
"Kenapa kau bertanya begitu. Kita tadi sudah sepakat menerima segala keputusan Vano. Siapa pun yang tetap menjadi istri Vano, aku akan mendukungnya." tanya ayah balik
Ujung ekor mata bunda menatap ayah sambil menyeringai meremehkan. Ayah hanya tersenyum geli melihat keraguan istrinya itu terhadapnya.
"Tumben, kau bijaksana" cibir bunda melihat wajah serius suaminya.
"Kau tidak percaya? Aku sudah tua sayang, aku takkan egois lagi"
"Kemaren kau kemana saja, baru sadar kau sudah tua"
"Aku ada di hatimu, dan bagaimana aku tak lupa dengan usiaku, melihat istriku yang cantik dan sexy ini berada di dekatku. Aku seperti pemuda perkasa!" ayahnya Vano menarik tangan istrinya untuk lebih dekat, tetapi bunda dengan sigap menepisnya.
"Kau tak tau umur" ucapnya bunda kesal sembari melihat sekitar mereka, dia tidak ingin ada yang menangkap tingkah mesum suaminya.
Ayah hanya terkekeh.
Melihat tawa suaminya membuat dia kesal dan beranjak pergi. "Aku harus menemui Allin" ujar bunda Vano pada suaminya. Belum sempat suaminya menjawab dia sudah mehilang dari padang suaminya, hanya tinggal bunyi sepatu high heel mengetuk-ngetuk lantai.
"Allin" panggilnya sembari mengetuk kamar cucu dan sekaligus menantunya itu. Pintu itu terbuka, Allin teekesiap. Ternyata bunda Vano yang menghampirinya, dia pikir bu Sella yang akan mendatanginya.
"Apa kau ingin pergi?" tanya bunda lansung, melihat koper dan baju Allin yang berserakan di lantai.
Allin hanya mengangguk.
"Maafkan kami Allin, seharusnya semua ini tidak terjadi, jika kami tidak maksa Sella untuk mencarikan istri lain untuk Vano. Kami punya alasan sendiri untuk itu Allin" mohon bunda dengan tulus.
"Aku mengerti Bunda"
"Apakah kau bisa menunggu, tetaplah di sini. Biarkan Vano memutuskannya" bujuk bunda.
"Tapi ...,"
Belum sempat Allin melanjutkan katanya, bundanya sudah memotong perkataannya.
"Aku tahu Vano mencintaimu, karena itu dia sangat sulit untuk mengambil keputusan. Karena itu hargailah dia sebagai suamimu, biarkan dia yang memutuskan semua ini" bunda diam, dia menimang perkataan apalagi yang harus dikatakan pada menantunya ini.
__ADS_1
"Jika dirimu adalah pilihannya. Apakah kau menerimanya Allin"
Allin menggeleng.
"Kenapa Allin?"
"Dia akan menyesal kelak, sesuatu yang baru memang lebih menarik tetapi hubungan telah lama di jalin membuat seorang akan merasa kehilangan. Kadang seorang sudah pergi dari hidup, kita baru kita merasakan kehilangan. Aku tidak ingin dia menyesal" terang Allin.
"Allin pikirkanlah dulu. Dan Bunda harap kau bisa menerima keputusan Vano." Bunda menarik tangan Allin memberikan usapan lembut pada tangan menantunya itu untuk membujuknya, lalu dia pergi meninggalkan kamar itu.
***
Tak selang beberapa waktu, Sella masuk ke kamar Allin, tanpa mengetuk. Mereka saling membalas menatap, diam sejenak, lalu Sella menghampiri Allin di ranjang.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Allin tidak suka, dia mengindahkan rasa sopan satunnya pada Sella. Kata "Kau" dia gunakan, untuk menunjukkan mereka berada di posisi yang sama, bukan kata "Kamu" lagi yang biasa dia gunakan untuk menghormati majikannya itu.
Dia merasa marah pada Sella, dialah yang menyebabkan dia menjadi simpanan suaminya. Tetapi di mata dunia dia adalah perebut suami orang.
"Entahlah aku juga tidak tahu" jawab Sella santai, tak menggubris sikap Allin yang tidak bersahabat.
"Semua berawal dari ide mu. Jangan salahkan aku jika tuan Vano memilihku" Allin lansung mengintimidasi Sella untuk mengutaran apa yang di pikirannya, semua orang boleh menyalahkan, kecuali Sella, pikirnya.
"Apakah kau akan menerimanya, jika Vano memilihmu"
"Kenapa tidak. Siapa yang bisa menolak dengan umpan yang besar dan datang dengan sendirinya" sindirnya mencekik.
Sella tetap tak terpengaruh, dia terlihat tenang dengan senyum mengulum di wajahnya.
"O, begitu. Baiklah aku pergi dulu" Sella beranjak dari ranjang itu, keluar begitu saja.
Sedangkan Allin ternganga melihat majikannya itu. Dia yang sedang kesal sengaja memancing emosi Sella, tapi majikannya hanya menjawab dengan santai "O, begitu".
Allin makin marah dia melemparkan bantal di atas ranjang, kakinya dia gerakan seperti orang meronta.
Apa yang di pikirkan tuan rumah ini, mereka mempermainkan aku. Sekarang lihatlah mereka bersikap seolah ingin mendorong aku pada tuan Vano.
__ADS_1