Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Allin Menggoda


__ADS_3

Gelapnya malam, menyelimuti bumi dengan udara dingin yang menyusup setiap celah kehidupan. Memberi hawa sejuk, membuat tubuh yang lelah terasa di manjakan, mata pun mulai memejam berbaur dan meleburkan tubuh setiap makhluk hidup ke dalam tempat peristirahatan yang penuh alam mimpi, untuk memulihkan tenaga bekal esok hari.


Alin terbaring di ranjang dengan mata yang menyala, hawa sejuk yang meliputi ruang kamarnya tak mampu untuk membuat matanya terpejam, karena pikirannya sedang berkecamuk dan melayang jauh keluar sana.


Rencana-rencana setelah dia hamil, mengganggu pikirannya, jauh didalam lubuk hatinya ada rasa tidak rela semua ini akan berakhir dengan cepat.


Cinta manis yang diberikan suaminya, sungguh memabukkan, cinta itu sudah tumbuh makin besar dalam hatinya. Tetapi dia sadar cinta itu, cinta yang salah baginya, berada di antara hubungan pernikahan seseorang.


Tidak pernah terpikir bagi Alin untuk melakukan hubungan seperti ini. Dia adalah wanita egois yang takkan rela untuk berbagi suaminya kepada wanita lain.


Karena itu dia selalu menjaga perasaan Sella, majikannya itu. Jika dia yang berada di posisi Sellla dia takkan bisa dan takkan menerima dengan alasan apa pun juga.


Tatapan Alin beralih pada sosok Dio yang terlelap di dalam box bayi. Bayi itu juga menjadi alasan terbesarnya, tak rela harus pergi dari rumah majikannya ini. Rasa sayang yang begitu besar untuk bayi Dio, rasa yang dia tidak mengerti, mengapa begitu besar. Sehingga sering kali dia mengutuk dirinya sendiri karena lebih menyayangi Dio daripada Tegar anaknya sendiri.


"Kau belum tidur sayang?" tanya Vano yang menghampiri Allin di ranjangnya.


Majikan atau suaminya itu sudah berada di dalam kamarnya tanpa ia sadari, pikirannya telah merenggut semua perhatiannya terhadap sekelilingnya.


Alin bangkit dari rebahannya, dia duduk bersila, mengambil salah satu bantal untuk dia dekap, dagunya ia topangkan di atas bantal, mulutnya mengerucut sembari menatap suaminya dengan bola mata kucingnya, lalu dia menggeleng.


"Kenapa?" tanya Vano dengan penuh perhatian.


Alin tetap menggeleng, Vano menatap istrinya dengan lekat, memperhatikan Alin yang dalam mode kucing jinak. Vano mencoba menebak tingkah Alin. "Apakah kau merindukan Tegar?" Vano lebih mendekat dan duduk di hadapan istrinya.


Alin dengan cepat mengangguk, tetapi dia tetap tak bersuara. Vano tersenyum melihat tingkah istrinya seperti bocah. "Lalu kenapa kau hanya menggeleng sedari tadi?" tanya Vano sembari membelai rambut Allin.


Lagi-lagi Allin menggeleng.


"Cepat katakan Allin! Kenapa dari tadi kau tidak bicara, kau membuat aku takut, jika kau tidak bicara seperti ini." Vano makin menggegu bertanya.


"Kenapa?" tanya Allin, akhirnya dia mengeluarkan suara, karena rasa penasaran.


Vano hanya menggeleng-geleng menggoda Alin.


Allin mencoba mengguncang kan tubuh suaminya. Vano tetap diam hanya menggeleng.


"Kau pendendam, lihat sekarang kau yang diam dan hanya menggeleng" gerutu Alin dengan wajah yang di tekuk.

__ADS_1


"Lebih baik Anda, kembali ke kamar Anda Tuan! Jika Anda hanya mau menggodaku" suara kecewa dan kesal terdengar begitu kental sembari Allin memalingkan wajahnya dari tatapan Vano.


Vano hanya menahan senyum melihat wajah galak istrinya


Dia tidak ingin mencoba membalas kalimat Alin, dia tahu jika dia membalas Alin akan meminta hal yang sama. Yang tak henti-hentinya dia suarakan setiap malam yaitu keinginannya untuk segera hamil.


"Padahal aku suka sekali melihat kau dalam mode wajah kucing, kau begitu menggemaskan Allin" Vano mencubit pipi Allin menarik wajah istrinya untuk menatapnya.


"Mode wajah kucing?" tanya Allin kebingungan.


"Ya, kau seperti anak kucing yang minta di elus" sindir Vano menggoda Allin.


"Aku tidak ingin di elus, aku ingin kau hamilin" ucap Alin dengan lantang begitu frontal.


Vano terkekeh mendengarnya.


"Rasanya aku ingin melahapmu habis, jika tidak mengingat bagaimana traumamu menguasai tubuhmu," batin Vano.


"Sekarang kau bukan seperti anak kucing, tetapi seperti induk serigala betina, yang berbahaya dan suka menerkam." Sindir Vano sembari mendelikan bola matanya.


Kulit Vano mengelupas akibat gesekan gigi Allin yang tidak beraturan, koyakan kulit membuat luka yang terlihat begitu jelas. Alin menyadari itu, dia histeris.


"Oh ..., Tuan!" dia heboh dengan rasa ketakutan, bergerak tak tentu arah dan tidak mengerti mau melakukan apa.


Darah yang jelas tercetak di tangan Tuannya, makin membuat Allin panik.


Vano hanya tersenyum melihat tingkah Allin yang begitu panik.


"Tuan, cepat kita bawa ke dokter" tutur Allin dengan air mata yang sudah merembes jatuh di pipinya.


Vano masih diam menatap begitu dalam, melihat tingkah istrinya yang begitu lucu di matanya.


"Ayo Tuan ..." rengek Allin makin menjadi sembari menarik tangan tuannya untuk beranjak dari ranjang.


"Nanti kau bisa infeksi" jelasnya merayu.


Vano sudah tak tahan melihat tingkah Allin, dia terkekeh geli.

__ADS_1


Allin menatap dengan tajam dan sadar bahwa apa yang barusan dia lakukan terlalu berlebihan.


"Tidak lucu Tuan, aku peduli padamu, kau malah mentertawakan diriku" ucap Allin sambil menghapus air matanya yang sedari tadi turun.


"Kau menyebalkan!" pekik Allin memukul Vano dengan pelan, dia membalikan tubuh dan merebahkannya.


"Maaf sayang. Aku terlalu senang melihat kau begitu mengkhawatirkan diriku" Vano mencoba merayu Allin dan mendekapnya dari belakang.


Allin tak membalas, dia mencoba melepaskan dekapan Vano. Suaminya makin mengeratkan, Allin menggunakan siku tangannya untuk mendorong Vano menjauh. Vano tidak peduli dengan penolakan Allin dia makin mengeratkan pelukannya.


"Allin sakit ..." rengeknya. "Kau belum mengobati lukaku" Vano mencoba mengingatkan Allin.


"Lepaskan, aku mengambil kotak obat" sentaknya pada Vano.


Vano melepaskan istrinya. Allin dengan cepat bergerak mengambil kotak obat, membawa ke ranjang. Vano sudah terduduk di atas ranjang dengan senyum merekah.


"Kemarikan tanganmu" perintah Allin dengan wajah datar.


Matanya membola melihat bekas gigitannya yang cukup besar.


"Kau benar bar-bar Allin, lihatlah kau melukai tangan suamimu Allin. Suamimu menikmatinya, menjadikan kau tontonan yang menggemaskan katanya" batin Allin menggerutui dirinya sendiri.


Setelah, luka gigitan itu di bersihkan dan memberikan obat luka, Allin menutupnya dengan plester.


"Allin yang di sini juga sakit" rengek Vano menunjukkan dadanya.


Allin tidak menggubris rengekan tuannya, dia meninggalkan Vano untuk meletakkan kotak obat.


Allin kembali lagi ke ranjang dengan membuka piyama tidurnya. Gaun malamnya yang tipis, tersembul dari balik baju piyamanya.


Lekukkan tubuhnya tepampang jelas. Allin berjalan dan meletakkan piyamanya di atas ranjang tanpa menatap Vano, kemudian dia beranjak pergi lagi.


"Rasakan kau Tuan! Kau pikir, aku tidak bisa membalas menggodamu!"


Di atas ranjang, Vano terdiam seketika, dia yang awalnya ingin menggoda istrinya, kini dirinya tak mampu berkutik. Melihat Allin yang sibuk mondar-mandir, pura-pura mencari sesuatu, dengan pakaian transparan-nya.


Vano tetap tak mampu mengatakan apa pun, dia hanya duduk di sana menahan gejolak lain yang tiba-tiba muncul.

__ADS_1


__ADS_2