Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Pantat Ayam


__ADS_3

Bams tiada bosannya menggerutui sikap ceroboh Ardio, dia terus menyudutkan dan mengingatkan Ardio bahwa dia seorang publik figur yang akan selalu di cari informasi mengenainya, apalagi dia berurusan dengan keluar Fahrizi yang tak kalah pentingnya bagi pemburu berita untuk mereka bahas.


Setelah Bams puas menceramahi dan kehabisan kata, dia akan mengumpat temannya dengan sebutan anggota kawanannya. Ardio sudah kebal dengan makian itu, semua ucapan Bams dianggap seperti angin lalu.


"Kau yakin ingin bertanggung jawab dengan perempuan itu?" Tanya Bams sambil menunduk menatap Ardio yang masih tergeletak di lantai.


Ardio mengangguk singkat sebagai jawaban, sementara matanya masih tetap fokus memandangi gambar seseorang di ponselnya.


"Kau gila! Dia istri orang, kau ingin bertanggung jawab. Jika ingin kau menikahi seseorang cari di luar sana gadis atau janda. Bukan istri orang!" Hardik Bams dengan nada mengejek.


"Jangan bilang, semua ini karena Sella."


Tebak Bams menatap tajam pada Ardio.


"Awalnya aku menghampiri perempuan itu ingin tau alasannya, mengapa dia masih mempertahankan rumah tangganya, padahal hampir seluruh masyarakat menghujat perempuan semacam dia. Jika dia memang perempuan baik seharusnya dia yang mengalah bukan Sella. Siapa tahu, dengan mendengar aku bersedia bertanggung jawab padanya, dia akan melepaskan suami Sella." Tebak Ardio percaya diri.


Pemikiran Ardio tak masuk akal bagi Bams.


"Kau terlalu banyak berpikir, sudah aku bilang tenangkan dirimu, jangan karena ucapan Sella yang mengatakan dia tidak bahagia karenamu. Lalu kau menyalahkan dirimu, ingin bertanggung jawab dan memberikan kebahagian pada Sella" Protes Bams dengan nada kesal.


Ardio tak dapat menyangkal ucapan Bams, dia hanya terdiam dengan pandangan kosong mengarah pada ponselnya.


Ardio mencoba memperbaiki kesalahannya pada Sella, tetapi pada kenyataannya yang dia lakukan malah memperumit keadaan, tindakkan benar-benar bodoh. Dia ingin bertanggung jawab pada perempuan yang dia nodai, tapi perempuan tersebut sudah berstatus istri orang, yang ada dia bakal dianggap perebut istri orang. Gerutu Bams dalam hatinya.


"Lalu apa yang harus aku perbuat" Pertanyaan itu selalu diajukan Ardio, tapi nyatanya dia tidak pernah ingin mengikuti saran yang diberikan temannya itu.


"Jauhi Sella dan hiduplah seperti pria normal lainnya, cintai seseorang dan kemudian kau menikah. Itulah, yang Sella yang pinta padamu. Bukan ikut campur menyelesaikan masalahnya." Hardik Bams mengingatkan Ardio.


"Atau kau nikahi saja salah satu penggemarmu, mereka masih muda dan cantik-cantik, mungkin di antara mereka ada salah satu janda yang butuh tanggung jawabmu" Sindir Bams dengan seringai mengejek.


Mata Ardio lansung menoleh ke arah Bams ketika temannya itu memberikan saran absurdnya.


"Kau kira aku lembaga penanggung jawab para janda"


"Ya, aku setuju usulmu itu" Sahut Bams sambil terkeleh geli mendengar protesan Ardio.


Ardio tak menyahuti dia malah mecibir.


***


Vano menatap keluar, pandangannya jauh menatap ke taman kecil yang berada di halaman depan rumahnya. Remangnya penerangan membuat semua tampak gelap, apalagi awan tebal menyelimuti langit dengan rintik-rintik hujan masih saja jatuh membasahi isi bumi.


Hampir seharian ini, hujan tak reda berhenti seperti kegundahan Vano yang tiada hentinya. Ucapan Ardio masih menggema dipendengarannya. Rasa khawatir dengan sedikit ketakutan menyelimuti perasaan Vano, tentang Ardio yang terang-terangan ingin mendekati Allin dan bersedia bertanggung jawab.


Tanggung jawab yang mana? Yang di maksud oleh Ardio. Jika untuk menikahi Allin, dia sudah berpikir bodoh dan salah karena tanggung jawab tersebut sudah tidak diperlukan lagi, sekarang Allin dan anaknya adalah tanggung jawab Vano sepenuhnya.


Vano: Awasi Ardio dan suruhannya, jangan sampai dia mengetahui siapa anaknya. Urus juga perempuan suruhan Mila, pekerjakan dia, dan tempatkan dia jauh di luar kota. Dan ingatkan juga pihak panti untuk tidak memberikan informasi mengenai bayi-bayi yang masuk dan keluar pada bulan itu.


Vano tidak ingin Ardio mengetahui siapa anak kandungnya. Dia tidak ingin kalah satu langkah pun dari Ardio, pria itu bisa saja menggunakan anaknya untuk menarik Allin kesisinya.


Setelah pesan itu terkirim dan terbaca, Vano tak lupa menghapus pesan singkat itu, dia tak ingin sampai terbaca oleh Allin.


"Kau sedang memikirkan apa?" Tanya Allin tiba-tiba merangkul lengannya.


"Kau sudah bangun?" Vano tersenyum, menarik Allin kedalam pelukan hangatnya.


"Dari tadi aku sudah bangun, kau tak menyadarinya, karena kau sibuk memainkan ponselmu dan mempehatikan keluar." Gerutu Allin sambi mengerucutkan bibirnya.

__ADS_1


Vano tak kuat menahan protes melihat sikap Allin yang menggemaskan. "Jangan lakukan ini depan orang lain." Protes Vano sambil menarik mulut Allin.


"Kenapa, aku terlihat sexy ya?" Tanya Allin sembari menggoda Vano dengan melingkarkan kedua tangannya di leher dan memberikan kecupan singkat di bibir suaminya.


Vano bergedik geli melihat sikap menggoda Allin, tapi nyatanya dia sangat menyukai saat-saat istrinya bersifat agresif padanya. Ia lantas menangkup kedua pipi istrinya dan mendekatkan ke wajahnya.


Semburat senyuman tak menyurut dari wajah kedua pasangan itu. Mereka saling memandang dengan mata penuh cinta. Karena terlalu terbuainya hingga mereka tak menyadari seseorang telah masuk ke dalam kamarnya.


Seseorang berdehem menatap keduanya dengan raut wajah menyeringai.


"Hmm, hmm, hmm," suara itu hanya terdengar samar.


Hingga wanita paruh baya itu tiba-tiba mempunya ide mengganggu kesenangan kedua sejoli itu.


Dum ..., dum ..., dum ..., bunyi drum mainan Dio yang tergeletak di salah satu sudut, menggema nyaring membuat kedua sejoli itu sontak terkejut. Senyuman mereka perlahan memudar berganti wajah tegang dan malu.


"Bunda!!" Panggil Vano dan Allin bersamaan , dan seketika mereka kalang kabut melepaskan kaitan tangannya.


"Sejak kapan bunda berada di sana?" Tanya Vano berusaha keras menormalkan nada suarannya.


Perempuan paruh baya itu tak lansung menjawab, dia malah makin memprovokasi pasangan itu dengan tatapan sinis apalagi kedua tangannya sengaja ia tumpukan di kedua pinggang, seolah menanti penjelasan Vano dan Allin.


"Dari tadi," jawab bunda Vano sinis.


Vano yang ingin protes lansung di sela oleh bundanya.


"Jangan salahkan Bunda, kalian yang membiarkan pintu kamar tidak tertutup. Dan ucapan salam bunda juga tak kalian sahuti."


"Hihihi, bagaimana mereka bisa mendengar, sedangkan aku mengucapkan salam seperti orang berbisik," guman bunda Vano pada diri sendiri sambil menahan senyum.


Allin yang merasa malu sontak bersembunyi di balik badan besar Vano. Tidak berani menunjukkan wajahnya pada ibu mertuanya. Ia berharap apa yang dia lakukan bersama Vano tak dilihat sepenuhnya oleh ibu mertuanya itu.


Aduh, apakah bunda lihat.


Namun, ternyata tidak sesuai harapannya, seringai dan tatapan bunda sudah di pastikan perempuan paruh baya tersebut melihat bagaimana sikap Allin menggoda Vano.


"Allin kau sedang apa di sana," tegur bunda Vano.


"Cepatlah kemari!" Panggil bunda Vano begitu dominan dan tak ingin dibantah.


Allin memejamkan singkat kedua matanya, sebelum kemudian, dia berjalan dengan muka memerah mendekati ke arah bunda. Bibirnya tak lepas ia gigit menahan rasa malu dan canggung.


Vano mengulum senyum melihat cara Allin berjalan, dia pun ikut melangkah dan merangkul pundak istrinya menghampiri bunda, setelah memberikan salam pada bundanya Vano bergegas berjalan menuju arah kamar mandi meninggalkan Allin dan bundanya.


Ketika sosok Vano hilang di balik pintu kamar mandi. Bunda menarik tangan Allin ke depan cermin, membimbing menantunya untuk duduk di bangku kecil yang berada di depan cermin.


"Apa yang kau lakukan tadi?" Tegur bunda menatap lekat pada Allin.


Ternyata bunda dan mbak Sella sama-sama cocok, ucapannya yang tajam dan sedikit mengerikan. Batin Allin.


Allin tak menjawab dia hanya menunduk malu.


"Lihat bunda Allin!" Perintah perempuan paruh baya itu.


Allin mendongak menatap mertuanya yang sedang duduk di pinggir ranjang dengan semburat senyum yang jail.


Allin baru menyadari ibu mertuanya sedari tadi hanya ingin menggodanya. Dia pun membalas senyuman bundanya dengan tarikan bibir yang di paksa.

__ADS_1


"Senyummu jelek!"


"Bunda ngak asyik!" Balas Allin kini mulai berani protes.


"Lihat dirimu!" Bunda menunjuk ke arah cermin melihat wajah pucat Allin.


"Jika kau ingin menggoda suamimu, jangan dengan bibir pucatmu ini." Ucap bunda Vano dengan ekspresi kesal. Tapi bagi Allin semua ekspresi yang ditunjukan mertuanya hanya untuk mengoloknya.


"Kenapa bunda?" Tanya Allin polos.


"Bibirmu seperti pantat ayam!"


Astaga bunda, tak adakah kata yang lebih baik dari itu.


"Bunda ...!" Rengek Allin


Dia memutuskan merengek dari pada memprotes sebutan bunda pada bibirnya. Mencari aman dengan sedikit manja cara yang dia pilih untuk meluluhkan hati mertuanya itu.


Kasarnya kalimat seorang kadang tak menunjukkan bahwa mereka adalah orang yang membenci, kadang mereka hanya salah dalam pemilihan kata.


Hahahaha. Bunda tertawa melihat wajah Allin yang makin di tekuk.


Bunda pun mengambil sebuah lipstik dari laci, dia memoles lipstik warna merah darah pada bibir mungil Allin.


"Nah, ini baru sexy, sekarang kau boleh menggodanya." Ucap Bunda dengan yakin dibalik wajahnya yang sedang menahan senyum.


Allin tidak memperhatikan raut wajah mertuanya, dia lebih fokus pada cermin yang menampilkan sosoknya yang berbeda. Seketika dia membolakan matanya melihat bibirnya sudah penuh dengan warna darah.


"Ini lipstik atau darah Bunda" Protes Allin


"Warna ini simbol keseksian." Dalih bunda meyakinkan.


"Tetap pakai itu dan jangan di hapus!" Perintahnya dengan tatapan tajam.


"Baiklah, Bunda pulang dulu!" Lanjutnya lagi.


"Kenapa?" Tanya Allin heran.


Dia baru saja datang sudah ingin pergi.


"Karena Bunda kesini hanya memastikan keadaanmu. Ternyata kau bai-baik saja dan malah bermesraan dengan suamimu." Cibir Bunda pura-pura kesal.


Keadaan Allin yang lemah selepas mereka kembali dari Mall, membuat seisi rumah heboh dan mengkhawatirkannya. Dokter pun di panggil untuk memeriksa kondisi Allin dan calon bayinya, untung saja tidak hal yang serius hingga berita itu pun sampai ke telinga bunda dan ayah Vano.


Bunda pun menggedor kamar mandi.


Vano sebelum meninggalkan kamar.


"Vano segerelah keluar ..., istrimu membutuhkanmu"


Vano pun dengan tergesa-gesa keluar dari kamar mandi, mengkhawatirkan keadaan Allin. Dia takut kondisi Allin memburuk, nyatanya saat dia keluar istrinya sedang duduk termangu di depan meja rias dengan bibir merah merekah dan wajahnya pun tak kalah memerah menahan malu.


"Bunda apa yang kau lakukan pada istriku!!" Pekik Vano di depan pintu kamar menggema di dalam rumah.


"Apa ada yang salah?" Allin pun memperhatikan dirinya di balik cermin.


"Siapa suruh kau melarang Bunda memberitahu rahasiamu ...!" Balas perempuan paruh baya itu dari lantai bawah yang mungkin hanya terdengar oleh dirinya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2