
POV
Allin
Hamparan pasir membentang sepinggir pantai, riak ombak berlomba-lomba saling kejar-kejaran, langit diatas membiru melingkupi tanpa tiang, beberapa awan berkumpul dan bergerak, sang angin pun tak diam menghembuskan hawanya, menerpa semua yang hardir dan memberikan sentuhan berbeda pada setiap benda.
Dipinggir pantai anak-anak berlarian dengan riang, hampir setiap tepi pantai merekalah yang memenuhi.
Ya, ini area pantai yang landai untuk bermain dan berenang di peruntunkan untuk anak-anak.
Sesekali pengeras suara terdengar memberi himbauan untuk tidak mendekati area garis pembatas. Penjaga pantai berkeliling mengawasi sekitar, memperingati jika ada yang melanggar.
Dio duduk dipangkuan tuan Vano yang sedang bersila, sedangkan aku berada di hadapannya. Kami membuat istana pasir yang besar. Saat ombak datang kami dengan antusias melindungi dari terjangan ombak.
"Allin cepat! Ada ombak besar halangi dengan itu" perintah tuan Vano menunjuk beberapa mainan yang berbentuk papan, tetapi karena ukuran tidak terlalu besar tak mampu utuk memagari sisi pada tepian istana.
Aku dan tuan Vano dengan gesit menjadikan badan kami sebagai tameng penghalang. Tuan Vano menggeserkan bagian pantatnya dalam tetap posisi bersila, Dio sedikit terguncang tapi bayi tampan itu tetap tertawa ceria.
Aku juga dengan gesit menghampiri tuan Vano kami duduk bersila saling merapatkan diri menjaga agar istana pasir itu tidak hancur. Karena ombak yang menghempas begitu besar aku secara reflek membungkuk berharap mampu melindungi istana pasir.
"Allin hadang disebelah sana" antusiasnya, aku juga antusias mengikuti perintah nya, kami saling bahu-membahu untuk melidungi melupakan bahwa ini hanyalah permainan.
Tetapi kami sungguh-sungguh ingin menyelamatkan istana pasir dari terjangan air ombak.
Istana pasir yang kami buat terlalu besar, tubuhku dan tubuh Tuan Vano tak cukup untuk menyamai panjangnya. Ombak menghempaskan istana pasir di sisi kiriku, refleks aku lebih membungkuk lagi. Aku seperti anak-anak yang takut mainanya rusak, melindungi dengan segala cara.
Air menyelinap dari setiap sisi membawa butiran pasir yang berada pada bagian bawah bangunan dan merubuhkan bagian atas istana pasir itu.
"Yaa...." rintihan kami berdua yang tak mampu melindungi istana pasir, sebagian telah rata terbawa air.
Dio tetap tertawa ria lalu diikuti suara tuan Vano.
"Hahahaha...! Wajahmu Allin" tawanya begitu renyah dan lepas. Baru kali ini aku melihat sosoknya begitu lepas tertawa, butiran pasir menghiasi keningnya dan diujung-ujung rambutnya.
Bibirku mengerucut melihat tawanya, sedang tubuhku memeluk jejak-jejak istana pasir, kepalaku miring menghadap Dio dan Tuan Vano, aku menghela napas kekecewaan.
__ADS_1
Aku bangkit, sisi kiri wajah ku penuh butiran pasir dan tanganku bergerak menghapus jejaknya. Tiba-tiba tangannya terulur, sudah berada di wajahku, menghapus sisa-sisa butiran pasir, terasa begitu hangat membelai wajahku.
Tangannya menyentuh wajahku, tetapi kenapa hatiku yang berasa hangat.
Entah sejak kapan dia merubah posisinya, dia terlalu dekat mata kami bertemu, kecangguan menyeliputi, masing-masing tubuh kami refleks menjauh.
"Dimana Sella?" lirihnya pelan, melihat ke sekeliling sebagai pengalihan.
Jauh di dalam sana, ada sesuatu yang tetap membelai, menyentuh dan menggetarkan. Sesuatu yang tidak aku mengerti, yang harus aku sangkal karena itu salah.
Untuk meredakannya, pandanganku aku alihkan ke sekitar mencari sosok majikan perempuanku yang entah dimana keberadaannya.
Bu Sella yang dari tadi ia hanya sibuk dengan kameranya, mencari angel di setiap sudut yang tepat untuk menghasilkan foto yang menakjubkan, meninggalkan kami begitu saja, dan mengabaikan suaminya demi kesenangan, membiarkan suaminya begitu dekat dengan wanita lain.
Fotograferlah yang mengawali karirnya menjadikan ia seorang Selebgram. Hoby yang menghasilkan pundi-pundi uang dan kesohoran diri di dunia maya dan nyata. Dan hobynya juga yang membuat ia terlalu sibuk dan mengabaikan keberadaan suaminya yang sedang bersama wanita lain, membiarkan saja kedekatan kami.
***
Beberapa hari sebelumnya aku hanya di hotel bermain sendiri di taman atau menghabiskan waktu di media sosial.
Hari ini adalah sesi terakhir liburan mereka, esok bu Sella sudah sibuk dengan pekerjaan yang sudah menunggu. Dia memboyong ku ikut dengan mereka menghabiskan waktu di tepi pantai, menunggu sunset tenggelam.
Sudah berapa jam kami menghabiskan waktu, langit pun mulai memperlihatkan warna lain, anak-anak mulai kembali meninggalkan tepian pantai.
"Sebaiknya, kau membersihkan diri terlebih dahulu, biar aku yang menjaga Dio" ujarnya memecahkan kecangguan kami yang menyeliputi beberapa saat.
"Tidak, Tuan saja yang lebih dahulu. Aku ingin memandikan Dio terlebih dahulu, tubuhnya terlalu lama basah, aku takut Dio masuk angin lagi.
Kejadian beberapa hari lalu saat dikamar hotel membuatku lebih hati-hati dengan keadaan Dio, untung saja bayi kecil ini tidak sakit. Malam hari itu kami segera membawa Dio ke klinik dalam hotel. Dokter memberikan beberapa vitamin untuk menjaga tahan tubuh Dio.
"Baiklah kalo begitu, aku akan mengambil perlengkapan mu dan Dio di dalam bagasi mobil" ucapnya seraya mengulurkan Dio di atas pangkuanku.
"Ya, Tuan. Aku akan menunggu disana saja" jawabku sembari menunjukkan tempat pemandian yang tidak terlalu ramai dari pengunjung.
***
__ADS_1
Dio sudah selesai membersihkan diri. Bayi tampan itu sedang kusuapi makan sembari menunggu tuan Vano dari kamar mandi. Tak selang dari beberapa waktu tuan Vano sudah berdiri dihadapan kami. Celana pendek chino berwarna hitam lekat dan kaos oblong putih yang pas dibadannya memperlihatkan garis-garis tubuhnya yang kekar.
Melihatnya kali ini membuatku merasa gemetar, ada rasa lain yang bergemericik di dalam dada, pikiran dan gerak tubuhku mulai tak sinkron saling berlawanan satu sama lain.
Seharusnya sebagai wanita aku harus menjaga pandanganku saat berada dekat kaum lawan jenisku, tetapi ada sisi liarku mencuri-curi geraknya. Rasa penasaran-kah? Atau ada yang salah dalam diriku yang belum kusadari.
"Sini! Biar Dio aku yang menyuapi" perintahnya. Aku hanya mengangguk, tubuhku menunduk kebawah tanpa berani memandangnya.
"Kau kenapa?" tanyanya curiga. Tangannya sudah terulur melekat dikening kepalaku. Aku terkesiap, kepalaku lansung menengada, mata kami bertemu. Sorot matanya terlihat panik.
"Apa kau sakit? Wajahmu memerah Allin! Apakah kau alergi sesuatu?" tanyanya beruntun, sosoknya begitu khawatir pada diriku yang hanya sekedar pegawainya, hatiku berdesir mengembang bahagia.
Oh, kenapa aku harus sebahagia ini hanya perhatiannya. Apalagi tangannya belum juga beranjak dari kening kepalaku.
"Hmm...., sepertinya istri Anda sedang malu Tuan" jawab seseorang yang berada di sekitar kami. Aku dan tuan Dio mencari asal suara.
Seorang ibu paruhbaya tersenyum pada kami, berada tidak jauh dari belakang tubuh tuan Vano.
"Kalian pasti pasangan baru, masih terasa ada suasana malu-malu. Lihat istrimu wajahnya memerah karena perhatianmu, itu bukan karena dia sakit"
Tuan Vano lansung mengalihkan perhatiannya dari si ibu ke wajahku. Mataku membulat rasa ingin keluar.
"Bagaimana si Ibu itu tau" gumanku dalam hati.
Mata tuan Vano bertanya, aku hanya menggeleng-geleng untuk mengelak dan dengan cepat aku mengangguk membenarkan ucapan si ibu, tuan Vano terlihat bingung melihat reaksiku, lalu ia bertanya lagi.
"Apakah kau benar baik-baik saja" tanyanya tetap dalam khawatir, aku dengan cepat mengangguk.
Suara tawa si Ibu terdengar di telinga dan pergi berlalu melewati kami.
Wajahku makin memerah, aku ingin secepatnya berlalu pergi menjauh dari sosok majikanku. Tidak ingin dia menyadari atau bertanya lebih banyak lagi tentang pernyataan si ibu tadi. Aku raih tas ranselku berlalu cepat meninggalkan tuan Vano tanpa izin menuju kamar mandi.
"Wajahmu memerah karena aku?" tanyanya sembari tersenyum, suaranya terdengar begitu renyah dan jelas meski aku sudah melangkah jauh darinya, aku hanya menggeleng membalas tatapnya.
Senyumnya makin melebar, makin mengetuk-ngetuk relung hatiku.
__ADS_1