Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Bertanggung Jawab


__ADS_3

Dengan postur tubuh yang yang sangat jauh berbeda ketiganya berjalan beriringan dengan tangan saling berpegangan.


Meski Alin dan Vano merasa sedikit pegal menunduk untuk mengikuti langkah Dio yang tergopoh-gopoh, tetapi tak masalah bagi mereka. Suara pekikkan Dio terasa menyenangkan, anak tampan tersebut heboh melihat keramaian Mall yang mereka kunjungi.


Dio berusaha keras untuk lepas dari gendong Vano saat memasuki Mall, dia seperti ingin merangkak bebas untuk mengejar sesuatu yang menarik pandangannya.


Vano akhirnya mengalah, mencoba menuruni Dio di tempat permainan khusus diperuntunkan untuk balita, dengan cepat bayi tampan Dio merangkak lepas, tapi ada yang lebih menarik perhatiannya yaitu merangkak dikerumunan banyak orang lalui.


"Tidak sayang," tegur Allin melihat arah pandangan mata Dio.


Vano hanya menghela napas dalam, melihat sikap super aktif Dio. Ada penyesalan pada dirinya karena jarangnya dia membawa Dio dan Allin jalan-jalan di tempat keramaian ini.


Dio, jadi terlihat sedikit berlebihan dibandingkan dengan anak-anak lain yang terlihat tenang dalam stroller bayinya.


"Baiklah tampan, hari ini adalah harimu, kita akan bersenang-senang!" Seru Vano membawa Dio dalam gendongannya lalu tak lama kemudian dia membimbing bayi itu dengan kedua tangannya. Allin pun menitipkan dorongan bayi tersebut, yang sedari tadi dia dorong di tempat penitipan barang.


Lalu dia menghampiri Vano dan Dio yang sedang melangkah bak siput.


"Berikan tangannya padaku!" Tunjuk Allin pada tangan kanan Dio.


Vano memberikan tangan mungil Dio pada Allin dan dia pun memposisikan dirinya sebelah kiri Dio. Mereka bertiga berjalan membelah kerumunan banyak orang. Suara lengkingan Dio menarik orang untuk memberikan jalan.


Bayi bermata binar dengan pipi cubynya yang kemerahan dan suaranya yang renyah menarik perhatian pengunjung. Mereka satu persatu menyapa dan ada juga yang mencoba ingin mencubit pipi gembul Dio, tapi itu takkan bisa mereka lakukan, Vano dengan sigap mencoba memperingati yang ingin menyentuh anaknya.


Dan Allin akan memohon maaf pada setiap orang atas sikap kasar suaminya.


Mereka mencoba melengkapi satu sama lain.


Di sisi lain ada Ardio yang memperhatikan mereka dari kejahuan, dia mengikuti dari belakang. Pakaiannya yang serba hitam, begitu juga dengan kaca mata dan masker hitam menutupi setengah wajahnya, hanya sebuah topi berwarna putih yang kontras pada pakaian yang dia gunakan.

__ADS_1


Sella tidak kah kau merasa sakit melihat kebahagian mereka. Guman Ardio yang terdengar oleh dirinya sendiri.


Kemarahan Ardio itu hanya tertuju pada pria tampan yang berada di samping Allin, dia ingin mencoba untuk membenci Allin tetapi dia malah merasakan kasihan dengan perempuan yang telah dia nodai.


Ada sosok lain yang membuat mata pria itu tak ingin lepas dari pandangannya, yaitu Dio. Anak tampan itu terlihat sangat menawan dengan celana panjang hitam menutupi tubuh bagian bawahnya, dan kaos putih yang dilapisi rompi hitam terlihat begitu kasual untuk anak seumuran Dio.


Allin mencoba mengalah tak memaksakan kehendaknya untuk mereka memakai baju couple. Padahal Vano sudah siap dan tak merasa keberatan lagi, Allin berubah pandangan terhadap baju itu, tiba-tiba dianggapnya Norak.


"Tampan dan menggemaskan," ujar Ardio tanpa dia sadari mengucapkan kata tersebut melihat Dio yang sedang mengoceh tak jelas.


Ardio tersenyum menyikapi keanehan dirinya, dia terpesona pada sosok Dio sejak pandangan pertama mereka.


Vano yang sedang terdesak karena panggilan alamnya meninggalkan Allin dan Dio. Pria yang sedari mengikuti mereka mengambil kesempatan itu mendekati Allin dan Dio.


"Hai" sapa Ardio canggung.


Allin menoleh dan tahu jelas suara pria tersebut, meski dia tak dapat dengan jelas melihat sosok di balik topi, masker dan kaca mata hitam Ardio.


"Tenangkan dirimu Allin, aku hanya ingin bicara sebentar." Ucap Ardio sedikit memohon.


"Cepat katakan!" Allin membuang muka ke arah tempat Vano menghilang, dia berharap suaminya cepat kembali.


"Aku sungguh meminta maaf dengan perbuatan bejatku, saat itu aku sedang terpengaruh obat dan Mila mencoba menjebakku untuk menidurinya. Aku sudah mencoba menahan gejolak itu dan meminta manajerku untuk mengantarkan obat dan ...."


"Cukup!!" Potong Allin yang sudah tak tahan mendengar penjelasan Ardio yang membuat dia harus mengingat kejadian buruk itu. Apalagi semua kejadian nahas yang menimpanya disebabkan oleh Mila. Lagi-lagi kakaknya yang membuat dia menderita.


"Aku sudah memaafkanmu dan sebaiknya kau pergi." Pinta Alin yang mulai jengah dengan keberadaan Ardio.


"Bisakah kau meninggalkan suamimu, aku akan bertanggung jawab untuk dirimu dan anak kita."

__ADS_1


Bugh, bugh. Pukulan keras dilayangkan Vano ke wajah Ardio, sontak lelaki jangkung itu terjatuh karena tak siap menangkis tiap pukulan yang di berikan Vano.


Allin terperangah sekejap, lalu perempuan itu membalikkan badannya memunggungi Vano dan Ardio sambil menutup kedua mata Dio.


"Brengsek, sudah kuperingatkan menjauh dari istriku!" Hardik Vano masih dengan kepala tangan yang siap memukul Ardio.


Ardio coba menahan darah yang menetes dari lubang hidungnya yang tercetak basah pada masker hitamnya, dan dia pun menggapai kaca matanya yang sempat terjatuh. Dia tetap tenang, bangun dengan pelan menatap Ardio dengan tatapan mengejek.


"Istriku tak butuh tanggung jawabmu, cukup aku yang akan menjadi suaminya." Jawab Vano begitu marah.


"Kau meninggalkan istri pertamamu hanya karena dia, kan. Kau tak lebih brengsek dariku, memilih daun muda dan menceraikan istri yang sudah setia menemani mu." Balas Ardio dengan datar.


"Itu, bukan urusanmu!" Hardik Vano menatap tajam pada pria yang ada di hadapannya.


"Siapa dia? Mengapa dia begitu peduli hubunganku dengan Sella?" Vano mencoba menduga hubungan pria ini dengan Sella.


Mungkinkah dia orangnya? Pria yang menghadiri pernikahanku dengan Sella. Dia dan pria itu sama-sama penyanyi.


Pengunjung Mall pun mulai menghampiri dengan beberapa orang security mencoba memisahkan Ardio dan Vano.


Allin mendekap Dio dengan kuat, dia tidak peduli tatapan orang atau pertanyaan yang mereka ajukan padanya. Dia hanya segera berharap Vano menghampirinya dan membawa dia pergi.


"Allin" Pekik Vano sembari menghampiri, dia terlalu emosi dan melupakan kondisi Allin yang bisa saja membangkitkan traumanya.


"Sayang, kau tak apa-apa?" Tanya Vano sambil berlutut di hadapan kursi yang diduduki Allin.


"Pulang," jawab Allin lemah.


"Baiklah kita pulang!" ucap Vano sambil menggosok kedua telapak tangannnya pada tangan Allin yang mendingin.

__ADS_1


Vano pun meminta salah satu security untuk membantu membawakan Dio ke mobilnya.


Bayi tampan itu seolah mengerti ketakutan Allin dia menerima saja uluran tangan security untuk menggendongnya, sedangkan Allin sudah bergelayut di leher Vano membenamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


__ADS_2