Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Hamil


__ADS_3

Dokter tersenyum hangat memandangi dua perempuan yang berbeda usia itu.


Kedua perempuan itu terkesiap saat mendengar penjelasan tentang keadaan pasien yang dia periksa.


"Apa Anda yakin, Dok" tanya perempuan yang lebih tua itu.


"Iya saya yakin, anak ini baik-baik saja, dia hanya kelelahan dan perlu istirahat. Untuk usia kandungan saya tidak dapat memastikannya, kalian harus membawa dia ke dokter kandungan" jelas dokter itu.


Mata kedua perempuan itu saling bertukar pandang lalu senyum mereka merekah menghiasi wajah dan mereka berpelukan.


"Bunda akhirnya akan mempunyai cucu" guman perempuan paruh baya itu dengan riang membuat yang mendengar ikut hanyut dengan kegembiraannya. Dokter pun tersenyum, Sella mengangguk dalam dekapan ibu mertuanya itu.


"Iya Bunda, selamat ya Bunda" jawab Sella, perempuan paruh baya itu menguraikan pelukannya dan membelai rambut Sella.


"Kamu anak baik, tuhan pasti akan memberikan kebahagian ini kelak padamu Sella" perempuan tua itu mengaminkan dalam hati dan membelai lembut pada punggung menantunya itu. Dia ingin menjaga perasaan Sella, tak ingin kebahagiaannya malah melukai perasaan menantunya itu, membuat Sella berkecil hati.


"Aamiin Bunda. Dan aku turut bahagia Bunda" Sella menyadari jelas perasaan Bundanya yang sedang menjaga hatinya.


Lalu perempuan tua itu menghampiri Allin yang masih terbaring dengan selang infus yang terpasang di tangannya. Mengusap lembut punggung tangannya dan menatap wajah pucat itu yang kini lebih segar dari sebelumnya. Tak lama sosok perempuan lemah itu mengerjapkan mata, menyesuaikan pencahayaan yang masuk pada kedua bola matanya.


Tatapan itu awalnya masih kosong menatap nanar pada bundanya, lalu air matanya jatuh deras, saat kesadarannya mulai pulih mengingat semua rentetan kejadian.


"Bunda" panggilnya lirih sembari menguatkan tubuhnya untuk duduk. Bundanya mencoba menahan, seketika perempuan lemah itu menghambur ke dalam pelukan ibu mertuanya itu, membenamkan wajahnya dan melepaskan tangis sejadinya.


Perempuan paruh baya itu membalas pelukan itu dengan hangat sembari mengusap punggung menantunya itu.


"Maafkan aku Bunda" lalu matanya beralih pada Sella, "maafkan aku Bu Sella" suaranya tak kalah lirih dari sebelumnya. Matanya memohon maaf, entah dosa apa yang dia buat, Sella hanya membalas dengan senyum hangat.


Dokter pun merasa kehadiran tidak di butuhkan lagi, dia berpamitan meminta izin untuk pulang. Menarik perhatian orang di dalam ruangan itu untuk menatap sang dokter. Bunda Vano tersenyum dan mengucapkan terimakasih dan Sella mengantarkan dokter sampai di depan pintu kamar, lalu seorang pelayan di panggil oleh Sella untuk mengantar sang dokter.


Mereka yang berada di ruang sebelah berhambur memghampiri Sella.

__ADS_1


Kedua ayahnya dengan antusias menanyakan keadaan Allin dan lain hal dengan Vano dia mencoba memasuki kamar istrinya itu tapi di tahan oleh Sella.


"Biarkan Bunda bicara dulu dengan Allin. Tunggulah sebentar!!" perintah Sella. Mau tak mau Vano terpaksa menuruti


"Seharusnya aku tak boleh bersikap begini" Allin menguraikan pelukannya dan menatap bundanya dengan sebuah senyuman yang berurai air mata."Seharusnya aku tahu diri dan tidak berharap lebih." kini suaranya terdengar lebih tegas dan menghapus jejak air matanya.


Bundanya mencoba memotong tapi perempuan lemah itu dengan sigap menggeleng, tak ingin di sela dia terus saja berujar. "Dari awal inilah kesepakan kita, aku akan menerima Bunda. Aku akan pergi dari kehidupan kalian"


"Tidak Allin" kini bundanya bersuara dan nadanya tak ingin di bantah.


Allin menunduk memainkan jemarinya.


"Apalagi yang kau harapkan dariku Bunda. Maaf, aku tak mampu memenuhi janjiku untuk memberikan kalian keturunan. Dan aku bukan lagi istri dari tuan Vano"


"Allin" perempuan tua itu mencoba melembutkan suaranya, memahami bahwa perempuan di hadapannya masih kecewa dengan keputusan Vano. "Dengarkan Bunda baik-baik. Kau takkan pergi kemana-mana"


Allin menggeleng.


Untuk apa aku masih di sini, untuk menatapnya saja kini aku tak sanggup. Sakit, di hati ini masih merasakan sakit dan kekecewaan itu . Kecewa pada diriku sendiri yang terlalu berharap dan lupa diri.


Lalu Sella masuk kembali ke ruangan itu, menghampiri mereka dan duduk di samping ranjang Allin. Mata Allin lekat menatap Sella, menatap istri dari suaminya atau majikan perempuannya. Saat Allin ingin membuka mulutnya ingin mengutarakan sesuatu, Sella lebih dulu mendahuluinya.


"Aku tetap pada keputusanku Allin" ujar Sella.


Bunda seketika menatap menantu pertamanya itu. "Apakah kalian tidak bisa keduanya menjadi menantuku?" tanyanya dengan nada membujuk.


Sella melirik bundanya sebentar lalu Sella malah tersenyum tipis menatap Allin dengan tatapan mengejek. Sedangkan Allin tak mengerti dengan tatapan Sella mengapa malah menuju kepadanya. "Bunda tidak tahu, menantu Bunda ini sangat pecemburu, dia takkan bisa hidup berbagi suami dengan orang lain"


Allin mengerti, tatapan itu mencoba menyindirnya, dia pun membalas menatap Sella dengan jengkel. "Itu pasti, karena hanya dirimu yang bisa tahan berbagi suami dengan orang lain" sindir Allin.


"Ya, tentu. Karena hatiku ini seluas samudera, tak masalah bagiku untuk berbagi" jawab Sella membanggakan sikapnya yang tak masuk akal itu.

__ADS_1


"Kau menggelikan dan tak masuk akal"


"Dari pada dirimu Allin, kau selalu menyangkal, tapi nyatanya kau terjerat juga dengan cinta pria yang sudah beristri"


Allin tak menyahuti dia hanya mencibir sikap Sella.


Mertuanya hanya menggeleng melihat sikap kedua menantunya.


Dalam situasi begini mereka masih menyempatkan beradu argumen.


"Lalu apakah itu alasan dirimu ingin bercerai Sella?" tanya bunda.


Allin ikut menyimak pertanyaaan bunda dan menunggu jawaban Sella.


Dalam hatinya aku takkan lagi akan menjadi penganggumu bu Sella, mengapa kau masih bersikeras untuk bercerai dengan pria tua mesum itu.


"Kurasa hubunganku dengan Vano hanya sebatas seorang partner hidup. Selama ini kami hanya saling menerima dan saling membantu, tetapi tidak untuk saling melengkapi satu sama lain"


Bunda terdiam dan matanya tak lepas dari Sella, lalu perempuan paruh baya itu mengerti, pengalaman sudah mengajari tentang banyak hubungan yang memang sulit di pahami. Sedangkan Allin tak mengerti sama sekali maksud Sella, dia hanya diam menyimak.


Lalu haruskah aku kembali padanya yang telah membuang diriku begitu saja. Tidak!!


"Tapi tunggu, kalian jangan mengambil keputusan lagi tentang hidupku. Aku ingin bercerai dengan ...." Allin terdiam berapa detik lalu melanjuti kalimatnya. "Dengan pria tua mesum itu, titik" ucapnya dengan menggebu.


Sella dan bundanya menatap lekat pada Allin, mereka bersamaan menghembuskan napas dengan kasar. Mereka pikir untuk sesaat tadi perempuan polos itu akan menerima suaminya lagi, apalagi Sella sengaja memancing perasaan Allin untuk mengakui di hadapan mereka.


"Allin kau sedang hamil, tidak baik kau bercerai dengan suamimu" tutur Sella tak mau kalah menggebu.


Allin membolakan matanya mendengar penuturan Sella, bunda menarik napasnya lagi dengan kasar dan mendelikkan bola matanya menatap Sella. Awalnya Sella tak paham dengan sikap bundanya, tapi melihat ekspresi Allin Sella baru mengerti perempuan polos itu belum mengetahui kehamilannya.


"Ops, maaf Bunda. Nanti atau sekarang sama saja, Allin juga akan tahu" ucap Sella tak enak hati sembari menutup mulutnya.

__ADS_1


Allin berpaling pada perempuan paruh baya itu, menatapnya dengan lekat tanpa bersuara menanyakan apa pun, tetapi bola matanya menuntut jawaban dari mertuanya itu.


Bunda mengangguk sembari mengelus perut Allin yang masih sangat datar.


__ADS_2