Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Penjelasan 2


__ADS_3

Sesungguhnya Vano malas menceritakan bagian Sella yang hilang kendali tetapi karena ia tau bahwa Sella tipe orang yang pemaksa akut, jadinya dia mulai menceritakan bagian Sella mengejar setiap pria yang ada dihadapannya ingin dia sentuh dan menggesek-gesekkan tubuhnya yang terasa gatal.


"Setiap pria yang berada didekatmu, rasanya ingin kau terkam" Sindir Vano sambil menahan senyum.


Mata dan telinga Sella menangkap dengan jelas apa yang diucapkan Vano dan seringai tipis terbingkai di wajah Vano. Rasanya dia ingin tidak percaya telah berbuat hal memalukan itu, tapi yang sedang berbicara padanya adalah Vano lelaki yang paling enggan untuk berbohong.


"Kau bohong, kan!" Sella berharap kali ini Vano hanya bercanda dengannya, karena itu bukan karakternya untuk melakukan hal tersebut apalagi sampai menggoda Vano dan pria lainnya di depan umum.


Selama pernikahan mereka saja, Sella malah menghindari yang berbau menggoda atau untuk bercanda dengan Vano pun dia merasa tak nyaman. Hubungan mereka mulai terasa nyaman malah sejak ada Allin di antara mereka.


Vano melihat perubahan dratis di wajah Sella yang merah padam menahan malu dan marah sekaligus, ketika mata mereka bertemu Sella cepat-cepat berpaling menutupi wajah manyun yang tidak terima, membuat Vano terkekeh nyaring dan menggema dalam ruangan.


"Iya, aku bohong. Kau bukan menggodaku, kau hanya seperti kucing liar ingin mencakarku." Ucap Vano mencoba mengalah tetapi malah terdengar sedang memprovokasi Sella.


Sella membelalakkan bola matanya, menantang Vano, tidak terima dengan sikap yang Vano tunjukkan padanya.


Vano hanya mengedikkan bahunya tidak peduli.


"Sepertinya seseorang sudah memberikan obat perangsang padamu." Suara tawa Vano perlahan menghilang berubah jadi nada dingin.


Sella mengangguk setuju, lalu matanya berpaling ke arah lain, menduga-duga siapakah yang mencoba menyakitinya.


"Menurutmu siapa yang sudah melakukan ini padaku?" Pandangannya berpaling lagi pada Vano dengan sorot mata penuh tanya.


"Mila," refleks Vano cepat.


"Kenapa kau berpikir begitu?" Tanya Sella makin lekat menatap pada Vano, mata mereka pun saling mengunci satu sama lain.


Vano dapat melihat dari sorot mata Sella yang butuh alasan kenapa dia sampai menuduh Mila. Karena Sella tak ada hubungan sama sekali dengan perempuan licik itu.


Sella menanti jawaban Vano dengan gusar, dia mengenal Vano bukanlah typikal orang suka menuduh seseorang tanpa bukti yang jelas.


"Karena dia pernah melakukan itu pada Ardio pamungkas hingga kejadian nahas itu menimpa Allin." Jelas Vano


"Dari mana kau tau?" Sella cukup syok dengan penjelasan Vano dengan cepat ia balik mengajukan pertanyaan lagi. Tangannya pun ikut mengepal menahan gemuruh kekesalannya. Sempat Sella mengutuk perbuatan Ardio dan merasa jijik dengan apa yang dilakukan oleh pria yang pernah dia cintai itu telah menodai Allin.


"Orang suruhanku sudah menyelediki kejadian yang menimpa Allin dan faktanya Mila lah yang membuat kejadian nahas itu terjadi" Jelas Vano tenang tapi matanya menyiratkan kemarahan yang mendalam jika dia mengingat rentetan kejadian dalam video CCTV.


"Dasar perempuan Ular!" Umpat Sella sambil menggebrak meja. Tapi dalam hatinya ada kelegaan yang tak bisa dia pungkiri bahwa Ardio tak sebejat yang dia pikirkan.

__ADS_1


Mereka sempat terdiam meredakan emosi dan berkecamuk dengan pikiran masing-masing.


Dia menjebak Ardio dengan Allin dan sekarang dia menjebakku dengan Vano. Tapi tunggu dulu, Mila tidak tau jika Vano akan menyusulku. Mungkinkah ada rencana lain yang akan dia lakukan? Pikiran Sella menduga-duga.


"Lalu kita melakukan perbuatan itukah?" Tanya Sella memecah keheningan mereka. Meski Sella tau mereka masih dalam status yang halal untuk melakukannya tapi dia merasa tidak terima jika itu memang terjadi.


"Ya, tentu tidak!" Jelas Vano antusias.


"Tapi mengapa ...," selidik Sella lekat pada mata Vano, dalam hatinya dia merasa lega tapi dia takut jika Vano hanya ingin menutupi keadaan sebenarnya. Entahlah dia sangat takut disebut penghianat dari mulut Allin, entah itu karena perasaan sayang atau untuk menjaga harga dirinya di depan Allin. Di depan Allin dia selalu menyangkal jika dia tidak suka dengan panggilan manja Allin menyebut Mbak tapi dia suka tersenyum sendiri apalagi perempuan itu menelponnya untuk memgadu hal sepele yang hanya membuat kupingnya panas. Tapi itu menjadi lucu kadang dia sengaja memancing Allin agar emosi dan mengeluarkan seluruh kekesalannya dengan ocehan tiada henti-hentinya.


"Aku hanya memerangkapmu! Kau seperti kucing liar saat itu." Elak Vano dengan nada mengejek.


"Lalu kenapa kita hampir polos!" Protes Sella yang masih belum paham.


"Kau sendiri yang membuka bajumu, saat itu aku sungguh panik menghadapimu Sella. Yang terpikirkan olehku hanya memberikan kehangatan sambil memerangkapmu. Lihatlah tubuhku, kau mencakar dan menggigitku." Jelas Vano.


"Astaga!!" Panik Vano tiba-tiba menyadari sesuatu.


"Kenapa?" Sella ikutan panik.


"Allin! Dia tadi membantuku memakai pakaianku" Nada suara Vano makin gusar, dia ingin segera menemui Allin untuk menjelaskannya.


"Aku belum menjelaskannya kejadian semalam"


Sella menghela napas lega, dia pikir ada hal buruk lainnya. Dia pun tersenyum jail, mengejek menatap Vano. "Aku doakan, semoga istri imutmu itu mencakarmu habis-habisan."


"Kau, tak adakah rasa pedulimu sedikit pun padaku." Tegur Vano sembari membereskan semua peralatan kerjanya.


"Untuk apa? Itu urusanmu." Cibir Sella menahan senyum melihat gurat khawatir Vano.


Lalu mereka berdua tersenyum dan saling mengunci tatapan masing-masing. Jarang sekali mereka bicara seperti ini, bebas dan lepas.


"Ya seharusnya kita dulu seperti ini hanya berteman." Ucap Vano sembari mengangguk-angguk.


"Ya, aku kira juga begitu. Terimakasih sudah menyadarkanku." Sella melipatkan tangan di atas perutnya.


"Dan Terimakasih juga kau sudah mendatangkan Allin dalam hidupku." Ucap Vano tulus.


"Cih. Aku tak yakin karena itu. Kurasa kau akan selingkuh jika aku tak menyuruhmu menikahinya." Tuduh Sella memprovokasi Vano.

__ADS_1


"Tidak!! Aku takkan melakukan itu Sella. Kau dan aku sama, kita terlalu benci untuk mengikuti jejak orang tua kita." Sangkal Vano.


"Ya, tapi kau lebih beruntung dariku." Tutur Sella dengan nada rendah.


"Tuhan sedang mempersiapkan untukmu." Vano mencoba menghibur.


"Tidak mungkin, aku bukanlah wanita yang sempurna."


"Tiada yang nama kesempurnaan di dunia Sella. Kau sendiri yang tak menerima dirimu sendiri dengan kekuranganmu itu."


"Tapi, kalian para lelaki membutuhkan keturunan untuk kalian banggakan."


"Percuma aku menjelaskan padamu, kau akan selalu menyangkal. Apakah kau tak ingin kembali padanya."


"Kenapa kau bertanya begitu?"


Vano mengedikkan bahu. "Aku penasaran dengan pria itu. Apakah dia lebih tampan dariku?" Sindir Vano dengan tatapan mengejek.


"Tentu!!" Sahut Sella tak mau kalah.


"Oo, begitu"


"Sudah cukup! Aku mau pulang." Sella pun beranjak dari kursinya dan perlahan dia melangkahkan kakinya menuju pintu.


"O, ya! Jangan lupa harta gono gini untukku kau persiapkan, aku tidak ingin menderita di masa tuaku."


Vano tersenyum tipis.


"Dan Dio akan ku ambil hak asuhnya untukku."


"Tidak!!" jawab Vano dengan sorot mata tajam.


"Kenapa kau begitu serakah kali Vano, kau sebentar lagi akan memiliki anak sendiri. Tak bisakah kau mengasihaniku memberikan Dio untukku." Gerutu Sella tapi tetap dengan posisinya berdiam di pintu ruangan itu.


"Tidak, kau bisa mengadopsi anak lain bukan mengambil Dio dari kami." Ujar Vano dominan tak ingin di bantah.


"Ternyata kau begitu egois." Cibir Sella tapi perempuan itu terlihat menerima keputusan Vano.


"Kata Allin kalo cinta itu memang harus sedikit egois."

__ADS_1


"Cih, bucin!!"


__ADS_2