Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Gambar


__ADS_3

Vano sedang berada di kantornya dengan tumpukan kertas di atas meja. Pikirannya sudah ingin berada di rumah tapi apalah daya tugasnya saja belum kelar sama sekali.


Memandangi pigura kecil di atas mejanya menjadi rutinitas untuk Vano saat berada di kantor. Wajah ceria dirinya, Dio, dan Allin dalam gambar itu menjadi penyemangat saat dia lelah.


Mereka terlihat begitu konyol dalam pigura tersebut, mulut mereka mengerucut seperti donal bebek.


Gambar tersebut di ambil ketika mereka melakukan permainan kecil, meletakkan sebuah pulpen di antara hidung dan bibir, untuk mempertahankan pulpen agar tak jatuh mereka harus mengerucutkan bibirnya dan khusus untuk Dio dibiarkan hanya menggigit pulpen.


Siapa yang mampu mempertahankan pulpen dengan waktu lama dialah pemenangnya. Tentu Allin lah yang sering menjadi pemenangnya, memang menjadi hobby nya mengerucutkan bibir.



Hadiah untuk pemenang boleh meminta apa pun dan melakukan apa pun. Vano selalu berharap menjadi pemenang tapi istrinya lebih handal menjaga pulpen tetap bertahan di antara hidung dan bibirnya.


Allin minta di gendong, dia sengaja menyiksa Vano memutari ruangan berkali-kali, hingga pinggang Vano terasa ingin lepas dari persendiannya. Atau hadiah lainnya yang dia pinta yaitu mendandani suaminya dengan peralatan makeupnya, katanya ingin melatih ketangkasan dalam memoles wajah, tapi pada kenyataannya dia membuat wajah Vano seperti badut.


Tawa mereka selalu pecah menikmati kekonyolan yang dibuat Allin, dan Vanolah yang menjadi kelinci percobaannya. Dio penonton yang tidak paham, tetapi anak tampan itu, ikut juga tertawa.


Dan sekalinya Vano menang, dia minta Allin balik menggendongnya. Tentu saja Allin protes dengan permintaan suaminya.


"Mana bisa aku mengendok badan besarmu. Kau sengaja balas dendam ya!" Hardik Allin dengan mendelikkan matanya tajam, dan kedua tangannya bertenger di pinggang menunjukkan sikap menantang.


"Kau bisa menggendongku di atas ranjang," saran Vano dengan kalimat ambigu.


Allin memutarkan bola matanya untuk mencerna maksud suaminya.


Seringai licik yang timbul karena otak mesum Vano membuat mereka berakhir bergumul di atas ranjang. Sedangkan Dio seperti mengerti kapan waktunya untuk dia tidur dan memberikan kesempatan buat orangtuanya menghabiskan waktu berdua. Mungkin juga Dio tertidur pulas karena kelelahan akibat terlalu banyak tertawa, walaupun bocah kecil itu tidak mengerti bahwa itu lucu.


Dengan Allin Vano merasakan nyaman menjadi dirinya sendiri, dia tidak perlu untuk menjaga sikapnya untuk selalu wibawa, kadang dia bersikap seperti bocah yang menyebalkan atau kadang dia bersikap seperti pria tua yang suka mengomel.


Hidupnya kini berasa berwarna tidak monoton seperti dia bersama Sella. Bukan dia tidak bahagia dengan Sella dan juga bukan dia tidak mencintai Sella. Dia hanya ingin bisa lepas mengekspresikan diri untuk menunjukkan sikapnya. Sella terlalu dingin untuk nya, dia sudah mencoba untuk meluluhkan atau mengerti akan watak calon mantan istrinya itu.


Tapi Tuhan berkehendak lain menghadirkan Allin di sisinya, manisnya kebersamaannya dengan Allin dan rasa yang selama ini dia simpan menguar begitu saja. Saat bersama Allin dia bisa menjadi dirinya sendiri, rasa diinginkan itu jelas tak bisa dia tampikkan.


Dia butuh perempuan yang bisa menerimanya apa adanya saat dia lemah, saat dia merasa paling bodoh, atau pun saat yang paling buruk dalam hidupnya.


Dengan Allin, dia bisa mengumpat melepaskan kegundahan hatinya saat dia merasa tak nyaman. Tapi bersama Sella dia selalu berperangai seperti malaikat yang sempurna.


***


Vano yang masih sibuk dengan pekerjaannya, mencoba menyempatkan dirinya untuk berkirim pesan pada Allin


Vano: Sayang kau sedang apa?


Allin: G gi ap


Vano menggeleng membaca balasan pesan Allin yang begitu singkat dan sulit untuk dimengerti.


Vano: Allin๐Ÿ˜ฌ


Allin: Y


Vano: Balas dengan benar


Vano mulai kesal.


Allin: Ya


Jawaban Allin membuat Vano menghela napas dalam.


Vano: Kau bosan?


Allin: Iya aku bosan. Kau tidak membolehkan aku keluar. Aku marah padamu!"

__ADS_1


Vano tersenyum melihat jawaban Allin yang cukup panjang


Vano: Apakah kau sudah meminum susumu?


Allin: Kan, kau mengabaikanku. Aku tak mau membalas pesanmu


Vano: Yakin kau tak mau balas pesanku. Padahal aku ingin memberimu izin ....


Mode mengetik


Vano menunggu apa yang akan di tulis istrinya, mode itu hilang timbul, mungkin Allin meragukan atau dia mengira itu hanya jebakan Vano untuknya.


Allin: Izin? Kau tidak membohongiku, kan. Aku ingin keluar mencari udara segar, kau membuat aku seperti tahanan dalam rumah ini. Lihat saja jika kau berbohong, aku akan mengabaikanmu. Aku serius Tuan!๐Ÿ˜ก๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ๐Ÿ˜ˆ


Vano: Ya kau boleh keluar hanya satu jam. Jangan terlalu kelelahan setelah itu istirahat yang cukup. Aku akan menyuruh beberapa pengawal mengikutimu. Dan jauhi lapangan basket.


Allin: Kenapa?


Vano: Ada si biang kerok


Allin: Biang kerok, siapa???????


Allin sengaja memberi tanda tanya yang banyak. Dia tidak paham maksud Vano. Dia malah menduga yang dimaksudkan Vano adalah ibu-ibu yang mencoba melukainya. Tetapi kejadian itu sudah berlalu sejak konferensi pers yang dilakukan Sella.


Vano: Pengagummu


Allin: Maksudmu Bian


Tebak Allin.


Vano: Y


Vano ikutan membalas pesan Allin dengan singkat, sesungguhnya dia malas membahas tentang Bian tapi dirinya lah yang memulai.


Balas Allin bangga, dia lupa jika pesan yang dia kirim malah memprovokasi kecemburuan suaminya.


Vano: Baiklah. Kau, jangan kemana-mana!!!!!!!!!!!!!!!


Perintah Vano dengan tanda seru yang banyak.


Allin: Tidaaaaaaaaaaaaaaaaaak!!!!!!!!! aku hanya bercanda. Semua itu bohong. Please, biarkan aku ke luar rumah atau kau bisa mengizinkan aku ke Mall.


Balas Allin ikut menyematkan tanda seru yang banyak.


Vano: Jika begitu, kita akan pergi bersama, tunggulah aku di rumah!


Allin: Kau tidak seruuuuuuu๐Ÿ˜


Vano: Aku tidak tanya ??????????


Allin: Dasar manusia titik


Mereka sedang berbalas menggunakan tanda baca.


Vano: Maksudmu?


Allin: Titik mendandakan akhir, jadi kau seperti manusia akhir jaman.


Vano: Asumsi yang salah, yang benar aku adalah titik hidupmu. Tempat kau berakhir melabuhkan cinta dan tempat kau berakhir menghabiskan hidupmu.๐Ÿ˜


Allin: Garing


Percaya diri sekali kau๐Ÿ˜’

__ADS_1


Vano: Tentu!



Allin: Hahaha, kau begitu menggemaskan.


Vano: Tentu, jadi apakah kau merindukanku?


Allin: Iya aku merindukanmu, sampai aku tak bisa lepas melihat gambar dirimu.


Vano: Yang mana?


Allin: Nih, yang ini.



Vano: Hiks hiks๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ๐Ÿ˜ญ


Balas Vano sedih karena disamakan dengan monyet.


Allin: Hahaha ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ๐Ÿคฃ"



Balas Allin sambil menyematkan gambar Vano yang sedang berada di kamar mandi.


Vano: Dapat dari mana gambarku itu?


Balas Vano cepat, hanya beberapa detik setelan gambar itu masuk ke dalam ponselnya, dia lansung mengajukan pertanyaannya membalas pesan Allin.


Kapan aku mengambil gambar itu?


Vano pun mulai mengingat. Ya, itu gambar yang dia ambil saat pertama kali dia bertengkar dengan Allin.


Allin: Dari ponselmu. Kau tampak narsis sekali Tuan! Mengambil gambar diri sendiri dengan menunjukan ABSmu. Kau pikir itu bagus? Menggelikan.


Mengelikan tapi tetap saja kau simpan. Batin Vano


Vano: Jangan-jangan kau sering mengecek isi ponselku ya!


Allin: Siapa suruh kode layar ponselmu sama denganku.


Vano: Lalu, apa lagi yang kau temukan.


Vano tau foldernya hanya berisi gambar-gambar Allin dan Dio dan hanya beberapa gambarnya. Dan pesan-pesannya juga tak ada yang menarik bagi Allin, hampir keseluruhan tentang pekerjaan.


**Allin: Aku๐Ÿ˜Š


Vano: ๐Ÿ˜


-


-


-


-


-


Garing ya?


Maaf, jika visualnya tidak sesuai harapan kalian**.

__ADS_1


__ADS_2