Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Ayah Sella


__ADS_3

Ruang tamu terdengar ramai dengan gelak tawa ayah dan bunda Vano. Sosok wanita paruh baya itu sedang berbicara tentang perjalanannya dan hal-hal yang di anggap mengelikan saat di perjalanan. Dia sosok yang begitu ceria, yang mampu menghidupkan suasana hangat di mana pun.


Sella duduk di sampingnya bunda Vano. Ayah mertuanya duduk di bagian sofa yang lain yang berhadapan dengannya. Mata mereka kompak menatap ke pintu masuk, saat langkah kaki terdengar di ruangan, berdecit dengan lantai. Allin dan Vano berdiri di situ. Allin menggendong Dio yang terlelap, Vano menjijing tas perlengkapan mereka. Mereka terlihat sepasang suami istri yang kompak, begitu hangat dan saling membantu.


Perempuan paruh baya itu tersenyum menyambut kedatangan pasangan baru itu. Dia melangkah menghampiri Allin dan Vano, memberi kecupan hangat di pipi Allin.


Menantunya itu hanya terdiam, tak membalas dan tak juga menolak. Allin menyadari air matanya bergulir, dengan gerakan cepat ia hapus air mata, ia tepis rasa haru itu, tetapi rasa hangat itu sudah sampai ke jiwanya, melebur ke tidak percayaan dirinya.


Mereka adalah tuan dan nyonya sekaligus mertuanya, tetapi mereka begitu hangat memperlakukan Allin. Rasa curiga, dia endapkan paling jauh ke dalam lubuk hatinya, rasa hangat itu nyata dan jelas bagi Allin, dia tidak peduli jika dia tertipu, jika ini hanya pencitraan untuk menghormatinya sebagai calon ibu untuk cucunya.


Sella duduk tenang dengan wajah datar, gemuruh di dadanya dia kontrol sebaik mungkin. Perhatian yang biasanya hanya ditujukan untuknya, kini terbagi dengan babysitter anaknya itu, mendapati perlakuan yang sama! Yang manis dan hangat, dari mertuanya.


Sella mencoba menata mimiknya dengan senyuman menatap Allin, saat mata mereka bertemu.


"Bagaimana Allin Apakah kamu sudah menaklukkan pejantan di sampingmu" bisik bunda Vano dengan suara nyaring, di seperti sengaja dan mengejek, begitu frontal. Itu bukan bisikan. Suara itu terdengar sampai pendengaran Vano. Allin tersenyum kaku, Vano terbatuk-batuk menyamarkan rasa malunya.


Astaga perempuan di sekelilingku Kenapa mereka terlalu agresif batin Vano


Bunda melirik Vano dengan tatapan meremehkan dan dia juga mencibir melihat sikap Vano


"Kamu pura-pura malu, tapi kamu memakannya habis-habisan" Bundanya kini terang-terangan menyindir.


Vano sadar ucapan sindiran bunda, tak jauh dari alasan masuknya Allin kerumah sakit.


Mereka sedang berada di luar negeri waktu itu. Sella dan bi Ina mungkin yang mengabari mereka, pikir Vano. Karena Vano sama sekali tidak mengabari perihal itu pada ayah bundanya.


Ayah Vano hanya menggeleng melihat sikap istrinya yang begitu frontal.


Allin hanya diam. "Apa maksud bunda? Apa di kamarku ada CCTV?" pikir Allin, karena dia sampai kini belum mampu mengingat kejadian itu. Dia pikir kegiatan lain, yang di lakukannya bersama suaminya, alasan ejekan bunda Vano itu.

__ADS_1


Sella menahan senyum tanpa dia sadari. Bi Inah yang sedang meletakkan minuman juga menggeleng, melihat sikap nyonya besarnya itu begitu menggoda anaknya.


Allin yang masih terpaku, di bimbing oleh bunda Vano untuk duduk di sofa, wanita itu memposisikan dia berada di antara kedua menantunya.


"Allin, Bunda punya rahasia tentang Vano. Kamu mau tahu tidak?" tanya bunda begitu antusias, saat tubuh mereka sudah terduduk di atas sofa dengan nyaman. Mereka bicara layaknya keluarga yang hangat, saling menggoda.


Allin yang polos hanya menggeleng dengan cepat.


Bunda Vano seketika cemburut.


Semua yang berada di ruang tamu itu menahan senyum, hanya Vano yang mendelik tidak suka.


Bunda memasang wajah kesal tapi tetap bersahabat.


"Kau dengan Sella sama saja. Apakah kalian tidak ingin tahu rahasia Vano." tanyanya sambil bergantian melihat Sella dan Allin. Kedua menantunya tetap diam, tak ada sama sekali menunjukan gerakan rasa ingin tahu atau tidak enak hati.


"Oh, kasihan sekali putraku itu, istrinya tidak peduli" gerutunya dengan nada kesal yang dibuat-buat sambil melirik Vano dengan tatapan mengejek.


Bunda menatap ayah, memberi kode, agar suaminya itu mendukungnya untuk mengolok putranya. "Tetapi ini spesial tentang Vano, Yah! Sebagai istrinya, mereka harus kepo" Bunda melirik Sella dan Allin lagi, Sella tampak cuek dan menahan senyum, sedangkan Allin menunduk tak enak hati, mendengar penjelasan bunda barusan.


"Jadi, kau mau tahu Allin!" Bunda mencoba menyudutkan Alin lagi.


"Terserah Bunda saja." Jawab Allin tak berdaya.


"Tidak bisa Allin!" serunya, "Karena ini rahasia, kau harus antusias meminta dan membujukku" tambahnya sambil sedikit menggerutu melihat sikap Allin yang datar.


Kali ini, Sella dan ayah mertuanya tak tahan menahan tawanya, akhirnya mereka melepaskan tawanya, sedangkan Allin tetap saja kebingungan melihat sikap bundanya yang lucu itu.


"Ada apa dengan mertuaku ini? Aku tidak ingin tahu, dia memaksa. Aku ingin tahu, tetap saja salah" batin Alin.

__ADS_1


Vano sedari tadi diam melihat tingkah bundanya itu, menjadikan dia bahan olokkan, akhirnya dia buka suara. "Cukup Bunda! Allin sudah tahu semuanya tentangku. Jadi dia tidak perlu tahu lagi rahasia dari Bunda" terang Vano.


"Wah, kalian so sweet banget" sahut bunda makin menggoda.


Sella terdiam, dia tahu bundanya tidak bermaksud apalagi Vano, tetapi dirinya merasa ada sesuatu yang menjentik pada ulu hatinya.


Langkah seseorang masuk dengan mata yang tajam, raut wajah kecewa, marah dan meremehkan di tunjukkan dengan jelas.


"Jadi begini kelakuan kalian, tertawa senang di hadapan anakku." sindirnya dengan nada datar tetapi menusuk. Kedua bola matanya bertemu pada mata Allin. "Jadi dia simpanan baru menantuku" dengan sorot mata yang jijik.


Vano bangun dari duduknya, dia berdiri menghampiri ayah mertuanya, untuk memberi salam, tetapi satu bogem mentah sudah menghujam wajahnya.


Semua orang yang berada di dalam ruangan terkesiap. Ayah Vano terlihat tenang dan hanya menonton, memperhatikan apa yang di inginkan besan-nya itu. Bunda Vano mencoba untuk berdiri untuk menghampiri anaknya, tetapi ayah memberi kode padanya untuk diam.


Sella dengan cepat mengahampiri Vano dan ayahnya.


Allin menunduk bersalah, dia tau dialah penyebab kemarahan orang tua itu. Sorot mata pria paruh baya itu tak lepas padanya dan Vano, bergantian.


"Ayah, apa yang kau lakukan?" protes Sella melihat tindakan kasar ayahnya yang tiba-tiba. Dia mengambil tangan ayahnya, menciumnya dengan takzim. "Ayah kita perlu bicara, semua ada penjelasan" ucap Sella menenangkan pria paruh baya itu.


"Ayah benci penghianatan Sella dan Ayah takkan terima jika kau di madu" matanya makin menajam saat dia mengucapkan kalimat itu.


Sebagai orang tua, dia tak ingin Sella tersakiti, apalagi karena penghianatan.Cukup hanya dia dan kakaknya Sella yang mengalami hal itu, membuat keluarga mereka anti dengan perselingkuhan, menjunjung tinggi kesetiaan.


***


Tidak ada ucapan lain yang se indah kalimat doa.


Selamat hari raya 'Idul Adha, semoga kita selalu di berkahi rezeki yang berlimpah dan tak lupa untuk berbagi dengan sesama.

__ADS_1


Selamat pagi😊😊😊


__ADS_2