
Pendingin ruangan seolah ikut mengejekku, menghembus hawa dingin semakin kencang, badan ku mulai menggigil. Di luar sana suaranya tidak ada hentinya berkicau dengan derap langka kakinya terseret-seret mendecit lantai, banyak langkahnya seolah sudah menempuh jalan bermil-mil.
"Hmm" aku keluar dengan percaya diri menuju ke arahnya.
Sedangkan dia seperti mainan burung yang habis baterai, kicauannya berhenti seketika.
Tubuhnya mematung tetapi tidak dengan bola matanya, melahap habis tubuhku. Dia melirik dari ujung kaki ke kepala, berulang-ulang.
"Cih! Mata mu Tuan" sindir ku.
Suaraku bagaikan remot menyalakan kesadarannya, dengan gesit ia berlari ke atas ranjang, menarik bedcover dengan tergesa gesa.
Aku sedikit terheran "Apa yang dia lakukan?" gumanku.
Bedcover itu ia angkat dengan kedua tangannya, lalu berjalan cepat menuju ku.
Dengan refleks aku berlari, dia seolah ingin menangkap ku seperti anak ayam. Tapi langkahnya begitu cepat, dengan mudah tubuhku sudah berada dalam kukungannya.
"Tuan lepaskan aku!" pekik ku seraya meronta
"Aku tidak akan melepaskan mu gadis nakal" suaranya terdengar begitu geram.
Lalu bedcover itu dia lilitkan ke tubuhku seperti membedong bayi.
"Aku bukan Dio Tuan, kau tak usah membedongku begini" tapi dia hanya diam dan tiba-tiba tubuhku sudah melayang. Aku lansung terdiam kaku, aku takut jika aku bergerak aku akan jatuh, tanganku sudah terlilit di dalam badcover.
Dengan sedikit hentakan dia melemparkan tubuhku ke ranjang. Sakit, tidak! Kasur ini terlalu empuk, rasanya aku ingin di lempar lagi.😄
Aku mencoba meringsut untuk mendudukan tubuhku, dengan seluruh tenaga ku dorong tubuh ke dinding ranjang, membuat tompangan agar tubuhku bisa terduduk.
Sedang dia hanya mengamati ku dengan tatapan tajam, mengintimidasi, dan sesekali dia berdecak kesal.
"Kau kenapa Tuan? Apa salah ku?" cecar ku padanya.
"Kau masih bertanya? Lihat apa yang ka-kau pakai, ka-kau ingin meng-menggoda ku apa!"
"Iya. Kenapa?" tantang ku.
"O..o..o...o..Lihat wajah mu Tuan, wajahmu memerah! Hahaha" aku tertawa geli hingga tubuhku bergetar dan aku jatuh menelungkup kesamping, tapi tawa ku masih menggema.
Dia diam membatu, mukanya memerah berasap-asap.
Tak usah lebay Allin
"Lihatlah dirimu, tidak ada sedikitpun rasa malu. Aku pikir kau akan malu-malu tersipu saat malam pengantin kita. Kau membuat aku ngeri, kau berlenggak-lenggok keluar dari kamar mandi dengan baju transparan mu itu."
"Memang kenapa Tuan? Tak pakai sehelai benangpun, takkan ada yang menyalahkan ku" pancingku lagi membuat dia emosi.
"Allinnn..." pekiknya kalah.
__ADS_1
Aku makin tertawa geli melihat tingkah pria tua mesum itu, dia yang sudah pengalaman masih saja merasa malu saat menghadapi wanita baru dalam hidupnya.
"Ma-maaf Tuan, aku tidak menggoda mu. Tapi aku tidak punya lagi pakaian selain jenis ini. Kau lihat sendiri di koperku, baju ku berganti menjadi kain tipis yang ku pakai ini" jelas ku.
"Kenapa bisa?" tanyanya penuh selidik.
"Aku juga tidak tau. Tapi semua ini Bunda yang mengkemas barang ku ke koper." dengan tidak enak hati aku menjawab jujur.
"Bunda?"
Aku mengangguk.
Lalu ia geleng-geleng kepala. Dan beranjak menuju kopernya mengambil salah satu kaosnya, "Pakai ini!" ulurnya "cepat ambil" perintahnya yang sudah mulai emosi lagi.
"Kau tidak lihat apa Tuan? Tangan ku masih terlilit di dalam," ketus ku.
Dia menaiki ranjang membuka lilitan bedccover di tubuhku, aku sedikit terkagum dengannya, simpul ikatanya begitu kuat, mungkin dia rajin mengikuti kegiatan pramuka ketika di sekolah.
***
"Allin kau sudah tidur?" tanyanya sambil melirik ke arahku.
"Anda tidak melihat kalo saya lagi membaca Tuan?" jawabku tanpa melirik ke arahnya.
"Berhenti memanggil aku Tuan"
"Kenapa? Memang kau kan Tuan ku" gerutu ku padanya.
"Sekarang aku suamimu. Mana ada pekerja tidak sopan pada majikannya seperti dirimu, lihat dirimu selalu saja membantah," jawabnya sedikit emosi.
"Ada, itu aku" jawab ku bangga.
"Kau ini" geramnya
"Tuan jaga kesehatan mu, jangan suka marah, penyakit jantung koroner suka mengintai pada pria dewasa yang suka marah"
"Kau mendoakan aku" mukanya memerah menahan marah.
Ups, Allin. Kau membangunkan singa dari kandangnya, kau tau dimana posisi mu sekarang, di kandangnya, dia akan mudah menerkam mu mencabik-cabik mu hingga berdarah-darah.
"Tidak, aku hanya mengingatkan" sedikit rasa takut.
"Kau mau jadi janda" tanyanya begitu antusias.
"Iya, kan emang status itu yang aku cari," jawabku dengan tenang.
"Astaga Allin, mana ada orang bangga menjadi janda" suaranya mulai merasa kalah dan kesal.
"Kau tidak tau Tuan, sekarang banyak art*s diluar sana yang sengaja mengejar status janda biar menaiki pamornya. Siapa tau sudah jadi janda, ada pangeran yang melamar ku" jawabku lebih membabi buta membalas ucapannya.
__ADS_1
"Allin!!" pekiknya marah.
"Jangan coba-coba kau ya" seraya menari buku di genggaman ku.
"Kau lucu Tuan, terlalu menghayati peran menjadi suami baik" mencoba mengambil buku ku dari tangannya tapi dengan cepat ia sembunyikan dibelakang punggungnya.
"Tapi kan a-aku memang suami mu" jawab nya tiba-tiba terbata, aku membalas mencibir.
Suami?
Suami yang tidak bisa ku miliki Tuan. Yang halal tapi terasa haram, yang nikmat tapi berasa menyakiti, yang dekat tapi merasa jauh.
"Cepat kembalikan buku ku Tuan" pinta ku sedikit memelas.
"Tidak, ini jam berapa Allin? Ini sudah tengah malam. Kau masih saja sibuk membaca" seraya menunjuk jam di atas nakas.
"Ini baru jam 11 Tuan" sangkal ku.
"Ya seharusnya jam segini, kau sudah tidur bukan asyik membaca!"
"Aku belum ngantuk, kau saja yang tidur. Ayo kembalikan" seraya menarik tangannya.
"Aku juga belum mengantuk" jawabnya mengaku. "Jadi berhenti mengabaikan ku, dan ini buku mu, simpan!!"
"Lalu kau mau apa Tuan?" Mataku membola menyadari sesuatu.
Allin kau bodoh atau apa? Ini malam pengantin mu, apalagi yang di inginkan pria tua mesum itu selain menghabiskan waktu untuk melahapmu.
Aku lansung beringsut menarik selimut dan lalu membaringkan tubuhku, menutupi hampir semua.
"Aku mau tidur Tuan" lirihku di dalam selimut.
Dia tak membalas, suasana menjadi hening, jantung ku mulai berdebar. Kurasakan selimut di belakangku mulai disibak ke atas, ia bergerak masuk dalam selimut yang sama dengan ku.
Udara terasa makin hangat.
"Tuan kau mau apa?" pekik ku.
Dia diam tidak menyauti
"Tuan tanganmu"
Mulutnya masih diam, tapi yang lain yang bergerak.
"Tuan kakimu"
Dia makin menjadi bergerak
"Tuan dadamu terlalu menempel, aku sulit bergerak!" ungkapku seraya meronta.
__ADS_1
"Diam dan nikmati saja" perintahnya.
........