
Ruang kecil itu hanya sebesar 3*4 meter, di sudut ada sebuah ranjang kayu berwana coklat dengan bagian pangkal bawah mulai menghitam, dan sebagian kulit mengelupas karena terkikis usia. Dan tak jauh dari ranjang itu ada lemari besi yang tertutup tirai, kondisinya juga tak jauh berbeda, terlihat rapuh dan kusam.
Di atas ranjang terbaring bayi kecil yang murah senyum, badannya sedikit kurus, meski begitu dia sangat lincah.
Dan seseorang di sana sedang mengayun kakinya berulang menapaki lantai membentuk langkah kecil yang teratur, entah berapa banyak langkah itu sudah berayun, tetapi si pelaku tidak merasa lelah, ada kejanggalan yang tak nampak yang sedang mengganggu relung jiwanya, mengabaikan sekitarnya.
Padahal ini adalah kesempatan yang dia tunggu selama beberapa bulan ini, bersama anaknya.
Tetapi apa? anaknya ia biarkan terbaring di atas ranjang dengan tenang, sedangkan dirinya hanya sibuk mengulang langka yang sama, sesekali memperhatikan.
Banyak pertanyaan menari-nari di kepalanya. Kenapa dan mengapa, dia merasa ada sesuatu yang salah pada sosok bayi yang terbaring di atas ranjangnya.
Belum sudah, dia menemukan jawabannya. Ponsel berdering menghamburkan semua rasa tanyanya.
***
"Hallo Allin" belum sempat aku menyapa, dia yang diseberang sana sudah antusias menyela.
"Ya, ada apa Tuan?" tanyaku datar.
"Aku baru sampai di rumah, kau jangan khawatir" ucapnya menenangkan seolah aku akan mengkhawatirkan dirinya saja.
aku mengatupkan bibirku, menahan tawa.
Tuan mengapa kau pikir aku akan mengkhawatirkanmu, kau seolah menganggap hubungan kita seperti sepasang kekasih yang tak bisa lepas dari komunikasi.
"Siapa khawatir dengan mu Tuan?" pancingku.
Aku tau dia tidak suka jika aku menyangkal semua katanya.
"Kau pura-pura lupa ya. Sebelum aku pulang, kau sendiri yang bilang, Kau juga hati-hati Tuan, jangan lupa memberi kabar jika sudah sampai"
Aku menelan ludah, menyadari kesalahan ku. "Aku takkan bicara begitu Tuan, jika kau tidak memulai. Sikapmu tadi sore yang memancing aku bersikap manis, itu hanya basa-basi." Sangkalku lebih dalam.
"Jadi kau tidak tulus mengucapkannya" suaranya terdengar kecewa.
"Bu-bukan begitu maksudku" ucapku tak enak hati.
Kenapa aku menjadi sedih saat mendengar suara kecewanya, lebih baik aku membuang egoku dari pada mendengar dia begitu kecewa.
"Maaf Tuan, aku benar tulus saat mengatakan itu. Tapi ...."
"Tapi apa? Sudahlah" dia memutuskan sambungan itu begitu saja.
"Aku kan belum selesai bicara." gumanku kecewa.
***
Selepas sambungan itu putus, suasana hatiku makin memburuk. Tegar, Vano, bu Sella, tante Mia mereka bergantian-gatian mengaduk isi otakku. Ada yang salah, ada yang tidak tepat, entah, mengapa selalu berputar tidak jelas pada pusat masalahnya.
Lagi-lagi dering ponselku bernyanyi. Siapa lagi? Kalo bukan dia. Sekarang dia melalui panggilan video.
Kalian tau nama kontak dia dalam ponselku?
Suamiku❤
Ya! Dia sendiri yang memberi emoji dan nama itu saat ia mau pulang sehabis mengantarku.
"*Apapun jenis pernikahan kita, besok aku adalah suamimu. Aku benci namanya penghianatan apalagi perselingkuhan. Jadi sekarang ini nama kontakku" seraya dia mengembalikan ponselku.
Bagaimana reaksiku saat baca nama kontak itu, cengo istilah orang kampung.
"Apa hubungannya?" tanyaku pada saat itu sedikit bingung, nama kontak dengan penghianatan dan perselingkuhan.
__ADS_1
"Ya, ada-lah! Kau saja yang tidak tau"
"Karena tidak tau, cepat beri tau aku!" tuntutku.
"Rahasia" jawab dia seraya pergi, bukan pergi, tapi menghindar*.
Panggilan itu akhirnya mati, karena terlalu lama aku abaikan. Tak lama selang itu, satu pesan masuk, Angkat panggilan aku Allin😠😠😠 dengan emoji wajah iblisnya.
Dia selalu saja memaksa.
Baru beberapa detik aku membaca pesannya, panggilan tersambung lagi via video call.
Dengan berat hati aku mengangkat panggilan si pria tua mesum.
"Kau dimana Allin?" Nada suaranya begitu tinggi tapi terselip rasa khawatir saat melihat layar ponselnya begitu gelap.
Allin apa yang kau lakukan. Lihatlah dia, apapun tentang tingkah konyol mu dia selalu menanggapi denga rasa khawatir. Baginya kau gadis ceroboh yang selalu membuat masalah. Kau suka sekali menggodanya.
"Aku disini Tuan"
"Mengapa layar mu gelap?" tanya begitu antusias.
Aku menutupi lensa kamera bagian depan dengan jari jempolku. Aku merasa aneh saja video call dengan dirinya, ya ini pertama kali kami melakukannya.
Perasaan canggung bagiku.
"Mati lampu" jawabku tak peduli.
"Kau berbohong Allin. Aku melihat ada cahaya" tuduhnya.
Aku menghela napas kalah, dan menjauhkan jari jempolku dari lensa kamera.
"Ya. Kenapa lagi Anda menelpon?" tanyaku malas.
"Kenapa kau bicara itu? Aku ini suamimu terserah aku, kapan dan dimana saja aku ingin bicara denganmu" tekannya.
"Kita belum menikah Tuan, kau baru calon" sangkalku.
"Baca yang benar yang ada di layar ponselmu" seraya menunjuk kedepan poselnya.
Wajahku memelas malas
"Kau menjebaku Tuan!" Dia menyeringai kemenangan.
"Cepat baca dengan keras!!' tuntutnya.
"SUAMIKU" penuh penekanan.
"Puas!" tambah ku dengan mata membola.
"Belum" dia mulai lagi menyerang ku.
"Apalagi Tuan?" cecarku
Dia menyatukan jari jempol dan telunjuknya.
"Astaga, kau tidak salah Tuan"
Dia hanya mengangguk
Dengan rasa berat hati, aku melakukan apa yang dia pinta, menyatukan 4 jariku membuat tanda love.
Diseberang sana di tertawa puas.
__ADS_1
Terbahak-bahak.
Menjijikan...
"Kau terlalu menghayati peran Tuan" sindirku.
"Jadi aku tak kalah hebat dong dengan Ardio Pamungkas"
Seketika wajahku memutih saat nama yang tak boleh di sebut itu menggema di pendengaranku, mematikan syarafku, menyanyat lukaku, semua menjadi tak terkontrol, air mataku mengalir begitu saja, otot dadaku menggebu mencari udara.
Serangan panik, ketakutan yang tiba-tiba terjadi yang membuat seseorang berkeringat, gemetar dan sulit bernapas.
"Allin, Allin, Allin" suara itu terdengar samar-samar.
"Allin kau harus tenang, cepat tarik napasmu dalam-dalam, ya pintar, sekarang buang pelan-pelan" meski suara itu terasa samar tetapi aku mengikuti arahannya.
Saat kesadaranku pulih, dengan cepat aku menghapus air mataku.
Aku merasa bersyukur dan juga malu, dia ada disampingku saat aku dalam kondisi terpuruk.
Ternyata wajahnya juga memutih di seberang sana, kepanikan dan rasa khawatir masih tersisa di garis wajahnya meski napasnya terlihat teratur.
"Allin. Kau kenapa? Apakah kau mengidap penyakit Asma?" tanyanya begitu khawatir.
Allin lagi-lagi kau membuat dia khawatir.
Aku benci dikasihani!
Aku terdiam cukup lama, mencerna pertanyaan dan seketika hanya mengangguk.
Tidak, Allin. Kau tidak boleh berbohong. Dia sudah menolong mu tetapi kau berbohong pada nya. Lalu jawaban apa yang harus aku berikan, mengorek luka ku dan membeberkan padanya, menunjukkan kelemahanku, lalu membuat dia iba. Tidak, aku tidak ingin ada lagi yang mengasihan diriku. Biar aku berdiri sendiri, menompang tubuh lemahku, dengan harga diriku yang masih tersiksa.
Aku tidak ingin terlihat rusak lagi.
Sejak aku sembuh, ini kedua kalinya, aku mengalami kondisi yang sama, saat aku mengetahui nama lengkap Dio Pamungkas, aku juga mengalami serangan panik, saat itu ada bi Inah yang menenangkanku tetapi perlu waktu lama, sekitar setengah harian.
Tetapi sosoknya hanya butuh beberapa menit untuk menenangkan diriku, suaranya terdengar hangat dan menghayutkan menghilangkan rasa panikku.
"Sejak kapan?" tanyanya
"Bu-buka Tuan, maksudku aku sesak napas, tapi bukan mengidap penyakit asma"
Terlihat dia menghela napas lega.
"Lalu kau kenapa begitu?"
Aku diam menggeleng. Lalu mataku beralih memandangi Tegar yang terlelap tidur.
Tegar termasuk mudah di dekati oleh ku meski kami tak pernah bertemu sejak aku tinggalkan. Tidak, dia juga mudah didekati keluarga jauhku, sepertinya anakku pandai menyesuaikan diri, tidak menyusahkan orang disekelilingnya.
"Dio, aku rindu Dio" jawabku mengalihkannya.
"Sebegitunya" godanya. "Kau tidak merindukan Papinya?" dengan senyum tersungging.
"Ogah!" seraya melotot. "Tuan, mengapa kau suka sekali menggodaku"
"Karena kau susah sekali di goda. Aku ingin melihat wajahmu memerah Allin"
"Setelah itu, kau menyerang ku dan mengolok diriku" cecarku tidak terima.
"Iya mauku, tapi pertahananmu kuat Allin, sulit ditembus"
"Kau tau Tuan di balik cangkang keras kura-kura ada tubuhnya yang lunak, seharusnya kau belajar dari situ?" jawabku lirih.
__ADS_1
"Maaf seharusnya, aku tidak menggodamu dalam kondisi ini. Aku pikir dengan memancingmu kau akan kembali menjadi Allin emak-emak si mulut besar" jujurnya tapi masih saja menyelipkan sesuatu yang tidak enak di dengar.
****