Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Simpanan


__ADS_3

Vano duduk di atas sofa yang disediakan pihak rumah sakit sambil membuka laptopnya mengecek seluruh pekerjaannya yang dia ditinggalkan.


Sesekali dia memperhatikan pintu kamar mandi yang masih tertutup. Allin sedang membersihkan diri di dalam kamar mandi dibantu dengan seorang perawat.


Vano sudah mencoba membujuk Allin agar dia saja yang membantunya tetapi Allin bersikeras menolak.


"Tidak Tuan, aku tidak mau kau yang membantuku, aku tidak perlu bantuan siapa pun. Aku tidak terluka, aku hanya merasa nyeri ... "


Allin tidak melanjutkan kalimatnya, tetapi Vano tersenyum canggung merasa malu dan sedikit berdosa, karena keganasannyalah.


"Allin, aku suamimu, wajar aku membantumu"


Vano tetap bersikukuh ingin membantu istrinya untuk membersihkan diri.


Entahlah ada rasa bersalah dan khawatir menghantuinya, membuat rasa khawatir yang berlebih.


"Tidak, aku tidak mau. Aku rasa, aku sedang datang bulan, aku tak ingin kau melihatku, kau akan jijik nantinya." ucap Allin dengan nada rendah, rasa malu terasa sekali dari getar suaranya yang landai.


"Kau datang bulan?" tanya Vano.


Allin mengangguk lalu sekejap mata dia menggeleng.


"Aku tidak tau, karena itu aku ingin memastikannya. Jadi biarkan aku membersihkan diriku sendiri" pintanya dengan sedikit rasa malu.


Vano seketika menelan saliva-nya, menyadari Allin benar-benar melupakan apa yang terjadi dengannya semalam.


Dokter juga sudah menerangkan bahwa Allin mencoba melawan dan menekan hal-hal yang dapat memicu rasa trauma dan takutnya. Salah satunya menghapus ingatannya yang bisa membuat traumanya lagi. Sesuatu yang tak masuk akal bagi nalar Vano, tetapi kenyataan yang terjadi itulah yang terlihat dari sikap Allin


"Tidak, kau tidak boleh sendirian. Bagaimana jika kau jatuh di kamar mandi. Kau bisa ke guguran" ucapan Vano mengalir begitu saja.


"Astaga Vano, kau begitu bodohkah! Bagaimana dia keguguran, kau baru saja semalam melahapnya. Kau pikir benihmu, benih alien yang bisa jadi dalam hitungan jam" batin Vano menggerutui dirinya sendiri.

__ADS_1


Mata Allin membola, tidak mengerti dengan kalimat tuannya.


"Aku tidak hamil Tuan. Bagaimana aku bisa keguguran? Jadi biarkan aku membersihkan diri sekarang."


Vano menggeleng tetap bersikukuh pada ke inginannya.


"Astaga Tuan, aku bukan anak kecil, dan aku akan malu jika di temani." rengek Allin yang merasa kalah.


"Tidak kau harus ditemani, aku akan panggil seorang perawat. Kau jangan kemana-mana, tetap diam di ranjangmu sebelum aku datang" Vano menegaskan kalimatnya dengan mendelikan bola matanya yang tidak ingin di tentang.


"Astaga, dia pikir aku sakit keras yang habis selesai di operasi. Aku hanya pingsan yang butuh istirahat. Dia terlalu berlebihan," batin Allin.


***


Pintu kamar mandi telah dibuka menampilkan sosok Allin, Vano tidak pernah terpikir bahwa dia akan menikahi babysitter anaknya, yang kini telah menjadi istrinya. Meski jarak usia mereka yang bisa di bilang jauh berbeda, tetapi Allin bisa begitu tampak dewasa dalam menyikapi sesuatu, apalagi yang berhubungan dengan perasaan orang lain dan dia juga bisa bertingkah layaknya anak-anak remaja seusianya dengan berjoget ria membuat Tik Tok di depan kamera ponselnya.


Tetapi yang membuat Vano tidak habis pikir, mengapa sosok Allin menghindari media sosial dan televisi, padahal dia bisa menghabiskan waktunya seharian menonton drama Korea di layar televisi dari compact disc menggunakan Mp5 video player-nya.


Deg ..., Vano menyadari sesuatu Allin juga tidak menyukai mendengar radio dan musik lokal. Apakah semuanya ini saling berkaitan. Televisi, radio, musik lokal?


Vano tersenyum dan menghampiri Allin. Perawat berdehem, menyadarkan Vano bahwa dia masih ada di sini.


"Tuan tolong jaga mata memujamu itu. Saya masih disini, istri Anda takkan lari, dia milikmu, kau bisa sepuasnya nanti setelah aku pergi. Tolong ..., kau melukai jiwa jombloku ini ...," batin perawat.


"Ada apa Sus?" tanya Vano sok akrab tanpa merasa berdosa.


"Tidak ada apa-apa, saya hanya mengingatkan bahwa saya masih ada di sini Tuan" tegurnya tanpa menatap lawan bicaranya, dia tetap sibuk dengan alatnya.


Vano tidak peduli, dia tetap memperhatikan Allin lebih lekat dan dalam.


"Sebaiknya anda pulang tuan! Anda membuat saya merasa tidak nyaman disini" bisik Allin sembari menggerutu, wajahnya sudah memerah menahan malu di hadapan perawat.

__ADS_1


"Tidak" jawab Vano tidak peduli.


Lalu matanya beralih menatap perawat yang sedang memeriksa tekanan darah Allin.


"Apakah kamu masih lama di sini Sus?" Sindir Vano pada perawat itu.


"Sebentar lagi Tuan, saya harus mengisi data ini, setelah itu saya akan pergi dan tak akan mengganggumu Tuan" jawab perawat sedikit menggerutu dengan nada kental menyindir.


"Tuan," Allin menegur Vano yang sudah keterlaluan, tak selayaknya dia bertanya begitu kepada perawat yang sedang memeriksa kondisinya.


Vano cuma berdecak cuek sembari mengangkat bahu tanda tak peduli, lalu dia mendorong kursi yang berada dekat ranjang Allin, duduk dan menatap Allin lagi dengan senyum yang mencurigakan.


"Saya permisi Tuan. Silahkan anda menikmati kebersamaan kalian berdua" goda perawat yang beranjak Pergi.


"Terima kasih atas pengertiannya" ucap Vano basa-basi sembari melambaikan tangannya pada perawat.


"Tuan kau keterlaluan! Aku malu melihat sikapmu seperti itu" gerutu Allin saat perawat telah hilang di balik pintu.


"Kenapa kau harus malu Allin" tanya Vano dengan gemas.


"Aku hanya istri simpananmu. Kau jangan bersikap begitu di hadapan orang lain, kita akan menjadi bahan pembicaraan mereka" rasa takut begitu kental dari nada suaranya.


"Stop Allin! Aku tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan. Dan jangan pernah kau bilang dirimu istri simpananku, itu tidak benar! Kau aku nikahkan Sah menurut agama dan negara" jawabnya dengan nada tegas dan sorot mata yang tajamnya.


Allin hanya memalingkan wajahnya dari tuannya. Rasa haru dan sakit sekaligus menghampirinya, bagi Allin kenyataan dirinya adalah wanita simpanan suaminya, itu tidak bisa dipungkiri lagi.


Air matanya sudah mengalir dengan cepat ia hapus, berharap tuannya tidak melihat, tapi itu hal mustahil karena dari tadi tatapan pria itu tak lekat darinya.


Vano merangkum kedua pipi Allin, menatap bola mata itu dengan rasa penuh cinta.


"Allin, sudah aku bilang padamu. Apa pun kelak, kau di mata dunia. Kau adalah kesempurnaan yang menutupi kekuranganku, jangan kau merendahkan dirimu. Aku tahu, aku belum bisa memberikan status yang terbaik untukmu, tetapi bersabarlah, akan ada jalan buat kita untuk itu. Percayalah padaku!

__ADS_1


Hilangkanlah rasa rendah diri mu itu, pada kenyataanya aku dan kau adalah suami istri sah dimata dunia."


Allin hanya mengangguk dengan air mata yang makin deras.


__ADS_2