
Lanjutan....
"Kau jangan besar kepala, bukan aku mau mengaku bahwa aku pria tua mesum. Tapi saat ini aku hanya meniru panggilan yang sering kau ucapkan padaku" jawabnya membela diri, aku hanya membalas mencibir.
Kami diam sejenak, matanya tetap mencuri pandang ke arahku.
Padahal akulah yang memancing emosinya, tetapi aku juga terbuai, ikutan emosi.
"Allin"
"Hmm" Aku tidak menjawab hanya menoleh sekilas ke arahnya.
"Boleh aku bertanya?" nada Vano sedikit ragu.
"Hmm" aku mengangguk tapi tak lagi menoleh padanya. Pemandangan di jalan lebih menarik bagiku daripada melihat ke arahnya.
"Allin. Apakah kau tak ingin lari dari pernikahan ini. Jika kau mau, aku sudah mempersiapkan tempat tinggal untukmu. Kau jangan khawatir tentang pengobatan Tegar, aku akan mengurus semuanya. Sebaiknya kau pergi sampai aku mendapatkan penggantimu untuk aku nikahi"
"Tuan di sini, tidak ada yang memaksaku. Bu Sella, Ayah dan Bundamu mereka orang-orang terpelajar tidak mungkin bersikap mengancam seseorang" terangku sedikit berbohong
"Aku tau itu, Allin. Tapi mereka bisa menggunakan ketidakberdayaanmu membuat dirimu dan keluargamu terancam."
"Aku sudah jelaskan padamu, aku butuh status"
"Allin aku bisa saja, pura-pura menerima pernikahan ini, tetapi disini kita dituntut untuk segera mempunyai keturunan." Dia diam sejenak . "Bagaimana? Jika aku tidak mampu untuk memberimu keturunan?"
"Kita akan mencoba sesering mungkin" sahutku penuh semangat.
Astaga apa yang kau katakan Allin, mulutmu seperti seekor belut, begitu licin. Tuanmun sampai terperangah mendengarkan perkataan mu, dimana rasa malumu, Allin, Allin.
"Kau membuat aku merinding dan malu. Bagaimana kau semudah itu bicara tentang i-itu dengan calon suamimu. Astaga Allin, sepertinya aku kalah pengalaman darimu"
"Mungkin, kau melakukan hanya ratusan kali. Sedangkan aku sudah membacanya ribuan kali" tambahku makin menjadi.
Ekspresinya makin terperangah dengan mata membola menatapku tajam. Bagian atas kepalanya mulai mengernyit. Tangannya mengusap kepalanya berkali-kali, tanda ia menyerah dan kalah.
"Kau benar benar rusak Allin. Apa semua novel dikamarmu bergenre dewasa semua. Kau bertingkah seolah berpengalaman. Mulai sekarang berhentilah kau membaca bacaanmu itu, merusak otakmu, pikiranmu jadi kotor, dan tidak bermamfaat."
"Kau berlebihan Tuan. Tidak semua pembaca ingin membaca cerita bergenre dewasa. Awalnya mereka membaca itu karena tertarik dengan alur, gaya bahasa, dan sesuatu menyentuh yang di sampaikan oleh penulis, mungkin mereka menambahkan adegan dewasa untuk pemanis, tetapi tidak semua penulis begitu," protesku.
__ADS_1
"Kau sekarang tidak bisa mendikte/perintah seseorang dengan sebuah kata atau beberapa kalimat. Kau harus menyentuh mereka dulu, membuainya, lalu baru mengiringi mereka untuk menjadi lebih baik. Sentuhlah mereka dengan kalimat yang indah dan halus. Dan itu hanya penulis yang bisa melakukan. Jadi jangan kau menyalahkan sebuah novel atau penulis. Kau boleh memilih suka atau tidak menyukainya. Karena sesungguhnya penulis manapun tidak ada yang memaksakan seseorang untuk membaca tulisannya itu," tambahku lebih menggebu.
"Maaf aku tidak tau itu. Aku tidak suka membaca novel, jadi aku tidak tau jika penulis juga punya visi dan misi sehebat itu" ungkapnya dengan rasa bersalah.
Aku membalas dengan mengerucutkan bibir untuk mengejeknya.
"Tunggu dulu! Darimana kau tau aku menyimpan novel di kamarku?" tanyaku dengan memicingkan mata.
"I-itu bukan urusanmu! Yang jelas aku tau," sahutnya gagap.
"Kau mencurigakan Tuan" balasku dengan menatapnya lekat.
Kamarku berada di dekat dapur, paling pojok d isamping kamar bi Inah. Walaupun kamar itu tak aku tempati, aku menyimpan semua barang-barangku di situ. Aku tau dia bisa kapan saja memasukinya, dia berhak dan berkuasa di rumah miliknya. Dan aku juga takkan mampu untuk mehalangi apalagi aku sibuk berada di kamar Dio, mengasuh dan menyusui bayi itu.
"Kau pikir aku psikopat, yang pura-pura baik lalu mengintaimu untuk menjadi korban" sangkalnya dengan tatapan kesal.
"Ya, itu maksudku. Kau memang terlihat begitu santai menjelaskan, tetapi siapa tau itu hanya penyangkalanmu sebelum aku menuduh balik dirimu" Aku makin menyudutkannya membuat wajahnya makin masam.
"Kau pandai sekali memutar kata ya, Allin!"
Aku mengangkat daguku, mempertunjukkan kesombonganku. Dia hanya menggeleng melihat tingkahku.
***
Hari sudah menjelang siang, tetapi jalanan begitu padat. Barisan mobil merayap seperti semut, sedangkan kendaraan roda dua menyalip bak cacing mencari jalan, lihai dan lincah.
"Kenapa kau memandangiku?" tanyaku risih, karena aku menyadari wajahku mulai memanas.
"Kau tidak melihat apa disekeliling kita hanya ada kendaraan. Aku bosan melihat benda mati"
Kau memujiku Tuan secara tidak lansung, meski kalimatmu terdengar kasar, kenapa bagian hati ini selalu luluh dan mengartikannya berbeda.
"Tapi tak begitu juga" protesku.
"Kenapa? Kau merasa malu ya!" kekehnya.
"Lihat wajahmu memerah Allin" kekehannya semakin menjadi.
Kali ini aku kalah, tak mampu membantahnya. Aku hanya mampu memalingkan wajahku, tanpa menghiraukan kegiatannya lagi.
__ADS_1
"Allin"
Aku diam.
"Allin"
Aku tetap diam tetapi sudah goyah. Suaranya terdengar manja di telingaku.
"Aku ingin bertanya padamu?" suara terdengar berat penuh rasa khawathir.
Pertahananku kalah, aku menatap sosoknya.
"Bukannya dari tadi Anda selalu bertanya" jawabku dengan formal.
Aku menjadi sosok yang labil dihadapannya, kadang aku merasa dia orang paling dekat denganku, kadang aku sadar, ada batasan diantara kami, bahwa dia adalah majikanku.
"Apakah aku terlihat begitu tua? Apakah kau tidak malu nanti jika bersanding denganku?" tanyanya dengan nada khawatir.
"Sedikit Tuan" ucapku membenarkan serambi mengangguk.
Aku sangat setuju Tuan denganmu kali ini. Kau mengaku juga jika kau pria tua, hahaha. Dasar kau bodoh Tuan, kau percaya saja dengan apa yang aku katakan, batin ku.
"Tunggu tuan? Jangan bilang, kita ke salon bukan hanya aku saja yang akan melakukan treatment, kau juga bukan?" tuduhku sambil memposisikan arah duduk lurus ke hadannya.
"Hmm" jawabnya lirih.
"Tidak salah Tuan?" tanyaku antusias.
"Emang kenapa? Aku tidak ingin orang lain, menjadikan pernikahan kita menjadi bahan perbincangan mereka. Aku ingin terlihat lebih muda. Dan pantas untuk menikahi wanita seusiamu"
"Haa!" seketika aku terkesiap mendengar kalimatnya.
Ternyata dari tadi kau tidak percaya diri Tuan. Tetapi tak semestinya juga kau anggap semua ini jadi beban. Kau terlihat cuek tapi kau peduli Tuan. Padahal ini hanya pernikahan sementara kita. Batinku tak percaya menatapnya.
"Aku ini sudah dewasa, jangan kau anggap aku anak-anak Tuan. Tapi memang benar, wajahku ini terlalu imut. Ya orang juga tidak akan percaya jika aku bilang umur ku 17 tahun." sombongku padanya.
"Percaya diiri sekali kau" sindirnya.
"Pasti" jawabku dengan yakin.
__ADS_1