
Suara lentingan sendok beradu terdengar dari ruang makan.
Dio memukulkan sendok seperti pemain drum, Allin mencoba memperingati agar Dio fokus dengan makanannya, tidak mengacak-ngacak makanan itu.
Dio makin antusias memukul tempat makannya atau sesekali dia memukul ke meja makan. Teguran Allin di abaikan oleh bocah kecil itu, dia hanya tertawa tanpa suara.
Allin akhirnya menyerah, dia gagal kali ini untuk mengedukasi Dio untuk belajar makan sendiri. Bayi tampan itu dia geser menghadap ke arahnya, makanannya dia tarik mendekatinya, lalu Allin menyuapi bayi tampan itu.
Dio dengan antusias membuka mulut dan melahap makanannya. Allin menggeleng sembari tersenyum melihat tingkah nakal Dio.
Bi Inah ikut tersenyum melihat tingkah Dio.
"Dio pintar dan nakal ya Lin" ucap bi Inah.
"Ya, Bi. Seperti Papinya" ucap Allin membenarkan sambil menyindir tuannya yang tak berada di situ.
"Bukan nakal, seperti mamanya" sindir bi Inah membalikkan sindiran Allin.
Allin terkesiap mendengar sindiran bi Inah sembari menggigit bibir bahwanya menahan rasa malu.
"Tidak apa-apa Allin , semua orang di rumah ini juga sudah pada tahu, kamu mengajari Dio buat memanggilmu 'mama'. Kan, sekarang kamu memang mamanya Dio juga" ucap bi Inah menenangkan dengan sedikit tertawa.
Allin merasa ketahuan menunduk malu.
"Bodoh kau Allin, kau merasa hanya dirimu yang tahu, ternyata semua orang di rumah ini tahu" batin Allin menggerutui dirinya.
"Bibi tahu darimana?" tanya Allin penasaran.
"Ma ..., ma ..., mam" ucap Dio yang sedari tadi menunggu dengan mulut terbuka, melihat makanan yang hanya melayang di depan mulutnya.
"Itu, dari Dio" tunjuk bi Inah ke Dio sambil terkekeh.
Allin menatap Dio dengan rasa malu dan lucu, melihat mulut bayi itu sudah terbuka sedari tadi menunggu makanannya. Seketika Allin mendekatkan sendok itu ke mulut Dio.
"Kau tidak pintar menjaga rahasia Dio" bisik Allin pada Dio, bayi itu hanya menatap tidak mengerti.
"Rahasia apa Allin?" tanya Vano sudah berdiri di samping Allin.
Allin mendongak ke atas melihat wajah suaminya itu, tubuh jangkung itu telah berdiri di samping tempat duduknya, dengan gerakan cepat suaminya memberi kecupan di bibirnya.
Allin melototot, dan mencari sosok bi Inah.
Ya bi Inah melihat dengan jelas tingkah majikannya dengan babysitter anaknya itu. Bi Inah tersenyum kaku berdiri di sana dengan peralatan dapur yang dia pegang.
Vano tersenyum menanggapi reaksi Allin dan mencium pipi Dio
"Pagi sayang! Lihat mamamu Dio, dia sangat senang mendapatkan kecupan dari papimu ini" ucap Vano dengan suara lantang sambil terkekeh.
Suaranya menggema di ruangan, pendengar Allin merasa tertusuk mendengarnya.
__ADS_1
Allin hanya mampu menghela napas berat, lagi-lagi Allin beralih melihat sosok bi Inah hanya tersenyum tanpa raut terkejut seperti sebelumnya.
"Tuan kau membuat aku jantungan. Kau tidak sadar banyak mata disini. Bi inah melihat kita" rengek Allin sembari memukul lengan Vano.
"Bi, kau tak masalahkan melihat adegan tadi" tanya Vano begitu frontal pada bi Inah sembar mengelingkan matanya.
"Tidak masalah Tuan" ucapannya bi Inah dengan tulus.
Allin sudah tidak mampu berkata lagi, dia hanya membenamkan wajahnya di atas meja. Kakinya dia hentakkan menahan rasa malu.
"Mamamu malu Dio" goda Vano lagi.
***
Akhir pekan, dimana Vano sudah menjanjikan untuk menemani Allin, mengujungi Tegar.
Mereka sedang bersiap-siap untuk pergi. Sedangkan Sella, pagi-pagi sudah di antar pak Herman, berangkat pergi ke luar kota melakukan pekerjaannya.
Vano sudah mencoba menawarkan diri untuk mengantar Sella, tetapi istrinya itu tetap bersikukuh pak Herman saja yang mengantarnya. Padahal tujuan Sella dengan kampung Allin hanya butuh waktu setengah jam.
Di dalam mobil Vano tak henti-hentinya tersenyum, seolah bibirnya tertarik begitu saja tak bisa di kontrol.
"Anda kenapa Tuan. Tak henti-hentinya tersenyum." cibir Allin.
"Karena dirimu" jawab Vano jujur.
"Aku mengingat kelakuanmu yang semalam" ucap Vano tanpa rasa malu.
Allin bagai tersambar ucapan frontal Vano, dia memukul lengan suaminya itu.
"Dasar pria tua mesum!" gerutu Allin sembari mendelikan bola matanya menatap Vano.
Vano terkekeh menyadari dia beberapa bulan ini sering kali tersenyum sendiri, melihat tingkah perempuan di sebelahnya.
***
"Allin, kau tidak inginkah melanjutkan pendidikanmu?" tanya Vano sambil mengemudikan mobilnya. Sesekali pria itu tetap melirik pada Allin, memastikan kegiatan apa yang dilakukan perempuan itu.
Allin diam menatap Vano tanpa menjawab.
"Kenapa?" tanya Vano lagi tanpa menoleh pada Allin, matanya menatap lurus ke jalanan yang mereka lewati.
"Aku belum tertarik dan aku tak tahu jurusan apa yang nanti aku ambil."
"Kau bisa mengambil jurusan berdasarkan kemampuanmu"
"Aku terlalu banyak kemampuan Tuan, membuat aku bingung untuk memilih" ucap Allin sembari bergurau.
"Kau terlalu percaya diri Allin.
__ADS_1
Kesombongan akan membunuh ilmumu Allin"
"Aku tahu Tuan. Aku juga tahu kelemahanku yang mudah bosan, karena itu, aku tidak tahu pasti, apa yang aku inginkan"
"Pikirkanlah pelan-pelan. Apa yang kau inginkan"
"Entahlah, aku tidak tertarik dengan apa pun untuk sekarang ini, kecuali menjadi orang kaya"
"Kekayaan bukan tujuan Allin, kau perlu ilmu untuk menghadapi dunia yang berubah begitu cepat. Jika hanya kekayaan yang kau inginkan, aku akan memberikan untukmu Allin. Tetapi kau tetap perlu ilmu Allin, karena ilmu adalah modal untukmu menghadapi dunia luar sana."
"Aku kan bisa belajar melalui Mbah Google, sekarang kan apa-apa orang bertanya pada Mbah Google"
"Tidak Alin, tidak semua yang di tampilkan benar. Kau perlu bimbingan seseorang yang ahlinya, agar kau tidak tersesat. Sekarang lakukan apa yang kau senangi, biar kau tak mudah bosan"
"Aku suka berinteraksi dengan orang banyak"
"Mungkin, kau bisa menjadi guru, motivator, artis, karyawan, atau dokter. Banyak pilihan Allin"
"Guru? Hehehe ..., aku tidak mampu bicara di depan anak-anak, aku terlalu grogi, mulutku tiba-tiba akan menjadi kaku"
"Apanya yang tidak bisa bicara, kau selalu pintar membantah dan selalu sok tahu" batin Vano.
"Karyawan pabrik, aku tidak mau menjadi seperti mesin yang berulang-ulang mengerjakan yang sama"
"Aku juga takkan mengizinkanmu Alin," batin Vano tetap menyimak penjelasan Allin.
"Motivator, itu terlalu jauh dari anganku. Aku takkan pantas, bicara memang mudah, tetapi prakteknya sulit. Apalagi memperaktekan untuk diri sendiri."
"Artis? Aku tidak suka hanya menjadi tontonan"
"Kau banyak alasan Allin! Sukai dulu, semua akan mudah kau lewati, rintangan akan hanya menjadi debu di depan matamu kelak" ucap Vano dengan nada tinggi.
"Kenapa kau marah Tuan? Itu-kan hanya pendapatku"
Vano menggeleng tanpa menoleh.
"Oh, aku sudah tahu Tuan! Apa yang aku inginkan dan dimana tempat yang cocok untukku" antusias Allin
"Dimana?" tanya Vano penasaran.
"Berinteraksi dengan orang banyak yaitu di pasar. Jadi aku mau jadi tukang sayur saja" ucap Alin antusias.
Vano mendelik, Allin terkekeh melihat sikap keterkejutan tuannya.
******
Maaf soal pekerjaan ngak mau menyindir siapa pun yaðŸ¤
Jadi jurusan apa yang cocok buat Allin?
__ADS_1