
*
Aku benci kesunyian.
Kesunyian menarik aku ke masa lalu, masa yang tidak ingin aku ingat lagi, masa yang menorehkan luka terdalam dalam hidupku.
Sendiri di kamar tanpa bayi tampan Dio membuat aku sedikit uring-uringan, aku ambil ponsel dari dalam tasku yang dari sejak aku berangkat belum sama sekali aku sentuh.
Beberapa panggilan tidak terjawab dari tante Mia, aku geser layar ponselku ada dua pesan masuk dari bi Ina dan tante Mia, seketika itu lansung kubalas pesan dari mereka.
Bi Inah : Nduk, hati-hati di jalan. Kabarin bibi jika sudah sampai
~Bi aku sudah sampai😊
Tante Mia : Lin Tegar sakit, kami butuh biaya. Tolong kirim secepatnya
~Ya, akan segera ku kirim
Biaya kebutuhan Tegar ternyata lebih besar daripada perkiraanku, menurut perhitungan biaya kebutuhan Tegar hanya sepertiga dari gajiku, tetapi perkiraanku meleset jauh hampir seluruh gajiku aku kirimkan kan untuk keperluan Tegar.
Kata tante Mia wajar pengeluaran yang besar karena Tegar hampir 24 jam menggunakan popok siap pakai dan Tegar butuh banyak susu formula setiap harinya dan belum lagi biaya sehari-hari untuk keperluan rumah.
Aku tidak mempermasalahkan memang seharusnya dan semestinya aku memberikan lebih kepada tante Mia, karena sudah bersedia mengurus Tegar, tante Mia bersikeras menolak saat aku menawarkan gaji, katanya yang terpenting aku fokus bekerja dan cukup kebutuhan Tegar serta keperluan sehari-hari mereka tercukupi.
Tante Mia, Mila dan Tegar. Mereka hanya bertiga dirumah, pamanku sudah meninggal, Mila adalah anak satu-satunya. Mila dua tahun diatasku, dia sudah bekerja tapi gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri. Sedangkan tante Mia hidup selama ini dari gaji pensiunan suaminya.
Ketika Rindu aku hanya mampu membuka folder di ponsel yang berisi foto dan video Tegar, foto Dio memang lebih banyak memenuhi memori ponselku.
Ada rasa sesal didalam hatiku, aku menyusui anak orang lain sedangkan anakku sendiri, aku titipkan ke orang lain, air susu yang seharusnya Tegar lah yang berhak tetapi keadaan memaksakan lain kepada kami.
Miris, kadang aku berpikir betapa bodohnya aku, mencari uang untuk memenuhi kebutuhan susu dan popok Tegar, hanya sekedar cukup, tidak bisa menghasilkan lebih dari itu.
Aku punya ASI yang tidak perlu membeli susu Formula, aku punya waktu luang yang tidak mengharuskan Tegar selalu menggunakan popok siap pakai, mungkin takkan sebanyak itu biaya yang akan keluarkan.
Dio salah satu bayi beruntung menjadi anak dari majikanku, semua kebutuhan nya terpenuhi, setiap bulan stok lengkap mengisi lemari kebutuhannya. Tetapi tidak semua barang itu kupakai begitu saja, aku tetap memilih yang mana yang harus aku gunakan.
Aku membiasakan Dio untuk tidak terlalu bergantung dengan popok, hanya saat menjelang malam, anak itu baru aku pakaikan popok siap pakai.
Aku keluar dari kamar mandi setelah menuntaskan hajatku. Ponselku terlihat sedikit begetar di atas ranjang, beberapa notifikasi pesan masuk dan satu panggilan tidak terjawab dari tuan Vano. Aku lebih tertarik untuk membaca notifikasi pengiriman uang yang diminta tante Mia tadi melalui m-bangking via ponselku.
Ketukan di pintu terdengar berulang-ulang, menarik perhantianku.
"Ya tunggu sebentar" jawabku, entah yang diluar mendengarkan apa tidak, aku tidak peduli yang jelas itu sudah menjadi kebiasaanku untuk menyauti panggilan.
"Bu Sella" majikan ku sudah berdiri dengan begitu gelisah.
"Allin kamu segera ke kamar sebelah, tolong bereskan semua yang terjadi" perintahnya terburu-buru.
"Ada apa Bu" tanyaku
"Kamu lihat saja sendiri" ujarnya seraya masuk ke dalam kamar
"Aku numpang istirahat dikamar mu"
"Ya Bu, silahkan" jawabku
Baru beberapa langka bu Sella masuk aku bertanya "Tuan, dimana Bu"
"Oh, dia lagi menjaga Dio di kamar"
"Maaf Bu, apa tidak masalah jika saya masuk ke kamar, saya takut Tuan Vano marah"
"Dia tidak akan marah, Vano sekarang lagi membutuhkammu"
"Baik Bu" ucapku sambil berlalu meninggal kan bu Sella dan pergi menuju kamar sebelah.
"Astaga" mataku membola melihat ke sekeliling kamar sudah kacau. Ada rasa panik memikir keadaan Dio, pasti anak itu sedang merasakan sakit. "Tuan Vano dan Dio tidak berada diruangan ini. Dimana mereka?" tanyaku setelah menyadari ruangan ini kosong.
Ketika aku masuk pintu ruangan ini sudah terbuka. "Apa Tuan Vano membawa Dio keluar? Tetapi tidak mungkin, barang kali mereka ada di dalam kamar mandi" batinku bertanya dan mengira-ngira keberadaan tuan Vano dan Dio.
"Tuan...." panggilku berulang-ulang di dekat pintu kamar mandi, suara tuan Vano terdengar manyauti, "Masuk Allin!" perintahnya
"Ta-tapi Tuan"
"Cepat masuk Allin! Kau ingin membuat Dio sakit apa" cecarnya.
"Haruskah aku masuk" batinku, aku sedikit ragu dengan keberanianku tetapi handle pintu itu tetap aku putar, aku coba mengintip dari celah pintu, aku sedikit lega Tuan Vano berdiri dengan baju berlumuran, "Kerja bagus Dio" batinku seraya menahan tawa.
"Sekali-kali si Tuan harus di beri pelajaran"
**
__ADS_1
POV
Vano
Sesuai tujuan kami sebelumnya, berlibur untuk menghangbiskan waktu kami hanya bertiga, jadi Dio akan tidur bersama kami.
Allin pergi meninggalkan kamar kami setelah ia merapikan semua pakaian ke dalam lemari.
"Saat nya kita mandi bersama" ucap Sella dengan girang, ia mencium pipi Dio berkali-kali mengangkat bayi tampan itu kedalam gendongannya menuju ke kamar mandi, sedangkan aku hanya geleng-geleng melihat tingkah Sella.
Mandi bertiga. Pertama kali kami lakukan, di dalam kamar mandi kami lebih menghabiskan waktu dengan bermain air, gelembung busa dan menonton acara tv.
Waktu yang terus berjalan tanpa kami sadari hampir satu jam kami berada di dalam kamar mandi, meninggalkan kisah yang menyenangkan.
Hal alami yang biasa manusia lakukan yaitu kelalaian melupakan resiko-resiko kecil yang tak terduga.
Dio tampak senang merangkak kesana kemari, dengan lilitan handuk kecil di tubuhnya.
Aku dan Sella segera mengambil pakaian kami di dalam lemari, mencari-cari underwear disetiap sudut lemari.
"Sayang, sudah ketemu?" tanyaku
"Belum" jawabnya dibalik lemari
"Dasar Allin, dimana gadis itu meletakkannya" umpatku
"Sebaiknya kamu telepon Allin?"
Aku menggapai ponsel ku, menekan nomor itu tetapi tidak diangkat juga, aku mengumpat dalam hati "Kemana anak itu? Apa gunanya itu ponsel jika tidak bisa dihubungi"
"Sayang kebetulan sekali, kita tidak memerlukan undewear itu sekarang, jika malam ini kita habiskan waktu hanya di kamar ini" godaku seraya mengerlingkan salah satu mataku.
"Tidak Vano, sesuai rencana awal kita akan makan malam di luar!" tolaknya
"Kan bisa besok" dalihku
"Tidak" balasnya.
Lalu ia menyodorkan underwear ke tanganku.
"Kamu menemukan dimana?" tanyaku
"Oo"
"Mungkin Allin lupa memindahkannya" lanjutnya
"Gadis itu mungkin sengaja tidak ingin menyetuh underwear didalam koper itu, melihat kelakuan selama ini" batinku.
"Ayo segera pakai bajumu, aku akan memakaikan baju buat Dio" jawabnya sambil memutari ranjang dan berjalan mendekati tempat Dio berada.
"Astaga...!!" teriaknya
Aku yang sedang sibuk memasukan kancing bajuku lansung bergerak menyebrangi kasur.
"Yaaa....., awas......!!!" teriak Sella lebih histeris.
"Aaaa....." aku ikut berteriak saat menyadari kakiku sudah mengijak sesuatu yang lembut dan berair.
"Sayang, aku tidak sanggup! Aku akan memanggil Allin" ucapnya sambil menahan mulutnya dengan kedua tangannya.
Sella pergi meninggalkan kamar.
Aku menghela napas lebih dalam, menatap horor disekelilingku, "Menjijikan" batinku.
Dio, tersangka dari semua kejadian ini. Dia tertawa senang dengan mainan barunya menyeret handuk yang melilit ditubuhnya ke sekeliling kamar.
"Oh astaga, mengapa aku tidak menyadari aroma tidak sedap ini dari tadi" gumanku sambil menahan bau yang menusuk hidung.
Aku gapai Dio dengan cepat, lalu aku menarik dan mengangkat tubuhnya dengan sedikit memberi jarak dari tubuhku.
Pelan-pelan aku berjalan melewati kotoran Dio yang sudah berserakan dimana-mana.
Kelalaian kami, seharusnya aku mendahulukan Dio memakaikan pakaiannya. Tidak mengajak bayi tampan ini mandi dan bermain air terlalu lama, apalagi kami sudah menghabiskan beberapa jam diperjalan baik darat maupun udara, kemungkinan Dio masuk angin sangat besar.
Sampai kamar mandi aku guyur tubuh kecil itu dengan air hangat. Suara Allin terdengar dari luar.
"Masuk Allin!" perintahku.
"Ta-tapi Tuan" jawabnya dibalik pintu.
"Cepat masuk Allin!" perintahku lagi.
__ADS_1
"Kau ingin Dio lebih sakit apa" ancamku.
Akhirnya ia masuk ke dalam kamar mandi, sebelum ia masuk terlebih dahulu ia mengintip keadaan kami. Memastikan sesuatu yang bekeliaran dari pikiran kotornya itu.
"Kau pikir, aku akan memanggil kamu apa, jika di dalam keadaan aku sedang telanjang. Simpan pikiran kotormu itu" sentakku.
"Siapa tau?" jawabnya lirih tanpa berdosa.
"Manusia yang satu ini membuat aku makin kesal saja" batinku.
Aku hanya menghela napas tidak mempermasahkan lagi bukan saatnya untuk memulai perdebatan kami.
Allin memandikan Dio dengan air hangat, lalu bayi tampan itu ia sabuni dengan telaten, aku hanya mematung memandangi kegiatannya mereka.
Tanpa aku sadari, Allin menyemprotkan air shower hangat itu ke tubuhku.
"Maaf Tuan, dibajumu ada kotoran! Sebaiknya Anda membersihkan diri lagi" jawabnya begitu santai tanpa merasa berdosa.
Aku hanya bisa menghela napas lagi melihat kelakuan pegawai ku yang kurang ajar. Tetapi karena yang dikatakan itu benar, aku hanya diam seraya menyiram kotoran yang memang menempel dibagian baju atasku.
Sedangkan dia sudah menyelimuti Dio dengan handuk.
"Tuan, aku akan kekamarku dulu. Nanti setelah Dio aku pakaikan baju, aku akan kesini lagi untuk membersihkan kamar Tuan"
"Tidak usah!" perintahku.
"Anda mau membersihkan sendiri tuan?" tanyanya dengan mata membola.
"Siapa yang bilang, kalo aku yang akan membersihkannya. Aku akan memanggil orang untuk membereskan kamar ini"
"Oo..." angguknya mengerti.
**
Aku masuk ke kamar Allin setelah membersihkan diri dari kekacauan yang dibuat Dio.
Sella terbaring di atas ranjang, wajahnya tampak tidak bersemangat. Sedangkan Allin duduk di atas ranjang membelakangiku. Dia mungkin sedang menyusui Dio.
"Sayang, ayo kita makan malam" ajakku.
Tetapi Sella menggeleng lemah.
"Kenapa?" tanyaku.
"Aku masih teringat yang dilakukan Dio tadi, perutku terasa teraduk-aduk" ungkapnya.
Kami mendapati Dio memainkan kotorannya sendiri, mengaduk-ngaduknya seperti adonan. Ah, aku saja yang mengingatnya menjadi jijik.
"Baiklah, kalo begitu aku akan memesankan makanan untuk dibawa ke kamar ini" ucapku.
"Jangan pesankan makanan untukku, aku tidak ingin memakan apapun"
"Bagaimana kalo teh hangat" tawarku.
"Boleh" jawabnya.
"Allin, kau ingin memakan apa?"
"Apa saja Tuan, asalkan makanan itu tidak pahit" jawabannya membuat aku menjadi kesal.
"Begini nih, jika di beri perhatian sedikit jadi besar kepala" gumanku.
Saat ku melakukan panggilan ingin memesan makanan.
"Sayang pesankan satu kamar lagi" ucap Sella, "Malam ini aku tidak ingin tidur di kamar itu" lanjutnya.
Aku hanya mengangguk.
Setelah panggilan aku tutup. Aku mendekati Sella, sedangkan Allin sudah selesai menyusui Dio, bayi kecil itu sudah terlelap dalam tidurnya.
"Sella, semua kamar penuh. Malam ini kita tidur disini atau kita bisa bertukar kamar dengan Allin" ujarku menerangi kepada Sella.
Sella hanya mengangguk.
"Allin, kau tidak masalahkan bertukar kamar dengan kami"
"Ya Tuan" jawab Allin mengangguk.
"Tunggu satu jam lagi, setelah itu kau boleh pergi ke kamar kami. Kamar itu sedang dibersihkan dan kau juga belum makan kan? Sebelum itu kau makan dulu disini bersama kami. Pelayan sebentar lagi akan mengantarkan makanan"
"Ya tuan" jawabnya patuh
__ADS_1