
Sarapan kami sudah tandas di atas piring, makanan lezat yang dulu hanya mampu aku lihat media-media online, kini lidahku sudah mencicipinya semenjak aku menjadi Babysitter untuk Dio. Mungkin dulu aku akan malu-malu sekedar mencuri pandang dan berakhir hanya mampu menelan ludah. Dan tak pernah sama sekali aku bepirkir lidahku akan mencicipi hidangan mewah orang-orang kelas atas.
Kadang inilah hidup, kita tak tau jalan tuhan akan membawa kemana, dan dengan siapa akan kita berjumpa, berjodoh, dan perkerjaan apa yang akan kita gelut, tetaplah bersyukur dan yakin padaNya jalan ini akan indah pada waktunya.
"Hei...,Allin" tegur tuan Vano membuyarkan lamunanku.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya penuh selidik.
"Mikirin Anda Tuan" godaku seraya memiringkan kepala dengan salah satu tangan menompang di pelipisku untuk menatapnya.
"Berhenti menggoda Allin" tegurnya.
Aku membuat seolah-olah semua tingkah yang kulakukan padanya hanya dibuat-buat.
Padahal jauh di lubuk hatiku, sungguh semua ini tak hanya cuma dibuat-buat.
"Kau melihat topeng di wajahku tuan, padahal itu nyata diriku." gumanku
Inilah kodrat wanita sulit dimengerti dan tidak pernah jelas menunjukkan maksudnya.
Jangankan untuk seorang pria paham wanita, kadang dia juga tidak paham apa sebenarnya maunya, semua dia lakukan selalu mempertimbangkan keadaan sekitar, semua akan tampak abu-abu.
Itu bukan kelemahan, tapi itu tameng pertahanan seorang wanita.
"Aku tau kamu Allin, jangan suka lari dari pembicaraan. Dan ingat kau masih hutang penjelasan padaku"
Dia mengingatkan ke diriku, sedangkan aku masih sibuk menatapnya denga bola mata kucing, memuja.
Bagaimana aku bisa tidak terpesona, melihat dia yang hanya menggunakan celana chino hitam pendek dan kaos hitam dengan kulitnya yang putih, apalagi bentuk otot-otot tubuhnya tampak jelas di balik kaos yang dia pakai, dengan tubuhnya yang jankung, hidung menjulang tinggi, lengkap sudah, membuat aku meleleh.
Kenapa tiba-tiba kau menyukai bentuk ototnya Allin, bukannya kau membenci pria-pria yang sengaja menampilkan kesempurnaan fisiknya.
Aku menggeleng tidak mengerti dengan sikap diriku sendiri, menyukai sesuatu yang aku benci, karena dia.
Kenapa juga kau baru sadar betapa sempurnanya dia Allin.
"Dulu dia majikannku, dulu dia suami orang, dulu dia... bukan milikku" gumanku serendahnya nada suara.
Kau diam-diam mengakuinya Allin.
"Apa yang kau katakan Allin?" tanyanya sedikit curiga.
Aku hanya menggeleng dan mengalihkan ke topik pembicaraan tadi, "Masalah apa?" tanyaku.
"Masalah, mengapa kau begitu menghindari televisi dan media sosial" pertanyaannya membuat suasana hatiku berubah.
__ADS_1
"Aku tidak mau..., intinya aku tidak suka, jadi tidak perlu dijelaskan lagi" jawabku dengan nada datar.
"Jangan menghindar lagi Allin, hadapi pelan-pelan, aku ada disini akan melindungimu"
Dia mencoba meyakinkan tetapi aku merasa tidak terima, dia tidak tau selama ini seberapa perjuangkan diriku untuk menghindari agar aku tidak terluka lagi.
Aku yang rapuh dan lemah tak mungkin menghadapi luka itu, itu bukan hanya luka, tapi keobohanku, kebodohan gadis remaja yang menggilai idolanya, berakhir hilangnya kerhomatannya sebagai wanita.
"Melindungi? Anda kira monster di dalam televisi keluar lalu menyerang diriku, begitu?" balasku tampak tenang.
Padahal aku mulai panas, emosiku mulai terpancing ingin meledak, inilah kelemahanku, dan berharap suatu saat nanti tak ada lagi kelemahan pada diriku yang membuat diriku sendiri jijik melihat sikapku.
"Bukan begitu juga maksudku. Kau ini selalu saja tertutup dan tidak mau terbuka." jawabnya tak enak hati yang melihat suasana hatiku berubah seketika.
"Cih, semalam aku terbuka kau lansung menutupi tubuhku dengan selembar kain, kau buat aku seperti lontong daun Tuan" cibirku padanya sengaja memulai memancing emosinya, lebih baik aku menghindar dari pertanyaan dengan mengejeknya.
"Kau ini, apa dari dulu begini? Kalau bicara dengan pria selalu mengarah kesana" ucapnya gemas seraya merangkum kedua pipiku dengan tangannya.
Lagi-lagi aku tak bisa memancing emosinya.
Dengan sigap aku menutupi mulutku, aku tidak ingin dia mencuri kecupan ku lagi.
"Kenapa ditutupin" tanya seraya menahan senyum, aku hanya menggeleng.
"Buka!" perintahnya seraya melotot tetapi ujung bibirnya ingin tertawa mengejek.
"Kau mau kemana?" tanya menyeringai.
"Ma-mau pulang, kita kan sudah janji pada Tante Mia, kita akan menghampirinya sebelum kita pulang" jawabku asal untuk menghindarinya, tetapi ada benarnya juga.
Tak lama kemudian ponselnya berdering, mengalihkan perhatiannya dengan sigap aku melepas kukungannya.
Beberapa menit dia menghabiskan waktu untuk menyelesaikan pembicaraannya melalui ponsel, dia sudah siap dengan koper-koper kecil di tangannya.
"Kenapa kau hanya diam saja Allin. Cepatlah kita segera pulang!"
"Ta-tapi bagaimana aku keluar" ucapku terbata, aku yang sedari tadi malam hanya memakai kaosnya dan celana dalam bebentuk hotpant yang sudah semenjak kemarin yang tak aku ganti-ganti.
Dia memandangiku dari atas sampai ke bawah, berulang-ulang. Lalu dia pergi dengan langkah kaki lebar keluar, dan tak lama dia masuk kembali, menarik bedcover dan mengulung sebagian tubuhku.
Aku yang tak mengeri maksudnya histeris, memekik dan meronta.
"Diam, ikuti saja" perintahnya memperingatiku. "Masuk!!" perintahnya lagi entah pada siapa, tiba-tiba pelayan penginapan masuk ke kamar kami.
"Tolong bawakan semua barang ini" titahnya menunjuk tumpukan koper.
__ADS_1
"Tuan apa yang Anda lakukan" bisikku padanya.
"Aku akan menggotongmu sampai ke mobil" balasnya berbisik
Mataku membola, mulutku mengangah, tak mengerti dengan cara pikirnya.
"Apa tidak ada solusi yang lain, kau bertindak terlalu berlebihan" gerutuku pelan dia membalas menatapku tajam dengan raut mengejek.
"Tidak, aku tidak berlebihan. Wajar, suami menggotong istrinya yang sedang mau melahirkan"
"Tuan, a-aku tidak mau melahirkan, hamil saja aku belum, bagaimana aku bisa melahirkan" bisikku lagi padanya.
"Diam Allin, mereka sudah aku beritahu begitu"
Aku akhirnya mengalah, diam tak membantah, ternyata keluarga Fahrizi memang suka membuat drama, jangan-jangan orang kelas atas seperti dirinya memang selalu membuat drama untuk menutupi tindak-tanduknya.
Entahlah...
Saat langkahnya sudah keluar dari kamar dengan sigap aku mengalungkan kedua tanganku di lehernya, dan kepalaku benamkan di ceruk lehernya.
Dia tersenyum kemenangan
***
Sebelum pulang ke kota, kami sempatkan beberapa jam untuk bersama Tegar memghabiskan waktu berjalan-jalan sekitar kampung. Dan setelah itu kami pamit dengan keluarga besar, yang masih ada di kediaman tante Mia.
"Allin, aku ingin mendaftarkan kau ke salah satu universitas. Kau ingin mengambil jurusan apa?" tanyanya tanpa merasa berdosa sudah memutuskan sesuatu sebelum bertanya padaku.
Seketika aku melihat dia dengan tatapan mengintimidasi sedangkan dia tidak terpengaruh sama sekali. Dia tetap fokus ke depan membawa kendaraannya dengan laju sedang, dan sesekali menatap ke arahku, menunggu jawaban.
Cih, kenapa mereka suka sekali memutuskan sesuatu tentang diriku. Mereka pikir aku anak kecil yang tak tau arah dan pendirian akan kemana hidupku akan kubawa.
"Maaf Tuan, kapan aku bilang, aku mau kuliah"
"Kau memang tidak bilang, tapi aku tau bagaimana cara kau berpikir, kurasa kau sangat mencintai ilmu"
"Tapi ilmu itu bisa dapat di mana saja, tidak hanya di bangku kuliah Tuan"
"Benar, tetapi akan lebih baik lagi kau mendapati ilmu itu di lembaga yang tepat, kau akan lebih cepat meresapi ilmu dan sekaligus melatih dirimu untuk berbaur dengan teman-teman sebayamu. Akan banyak pengalaman yang akan kau dapatkan kelak, dari teman-teman kuliahmu."
"Kenapa? Apa aku tidak pantas untuk kau tunjukan pada duniamu bahwa aku adalah istrimu" sindirku.
Dia tersenyum melirikku lalu kembali fokus ke depan. "Apa pun kelak kau di mata dunia, bagiku kau adalah kesempurnaan yang menutupi kekuranganku"
"Mulutmu terlalu manis Tuan"
__ADS_1
"Ternyata kau menikmatinya ya! Kau sudah tau sendiri rasanyakan, manis." jawabnya penuh penuh penekanan seraya terkekeh.
"Tuaaannnn..." pekikku seraya memukulnya.