
***
Allin tak henti-henti merayu Vano, untuk mengajaknya ke rumah tantenya. Firasat Vano menahannya untuk tak pergi ke rumah itu, tapi permohonan istrinya membuat dia luluh.
Membayangkan bertemu Mila saja rasanya dia ingin muntah, apalagi cara perempuan berambut kemoceng itu menatapnya, sungguh menjijikkan.
Sepanjang perjalanan Allin terus menggoda Vano dengan menyanyikan lagu Gadis atau Janda, belum lagi tangannya tak henti mencolek-colek pipi suaminya dan tak ayal tawa Vano pecah dengan kekonyolan tingkah istrinya.
Kendaraan Vano pun mendarat dengan tepat di halaman kecil rumah yang tak berpagar itu. Allin terlalu antusias keluar dari dalam mobil dan berlalu pergi meninggalkan Vano.
Langkah kecil Allin berhenti di depan pintu, gendang telinganya merespon dengan cepat menangkap suara yang tak enak di dengar membuat suasana hati Allin dalam sesaat berubah mencekam.
Dia yang baru saja memasukan kepalanya dari balik pintu, lansung membeku di tempat ketika mendengar dengan jelas tangisan dan kemarahan Mila dengan mengumpat namanya.
"Semua ini pasti ulah Allin! Dasar anak *******! Ibunya sudah merebut ayah dari ibuku, dan sekarang dia ingin merebut anak kandungku." Mila mengamuk sembari membanting semua barang dalam rumah.
"Anak kandungku, apa maksudnya?" Guman Allin.
"Kau salah Mila!!" Tante Mia mencoba menarik tangan Mila untuk menenangkan anaknya.
Seseorang sudah mengambil Tegar, merebut lansung dari tangan Mila dan melarikannya. Mila sangat terpukul, dia tak bisa mengontrol emosinya, pikirannya sangat kacau. Dan Allin lah orang yang terpikirkan oleh benak Mila yang sudah mengambil anaknya.
"Apa maksudmu, Kak?" tanya Allin masih membeku di tempatnya.
Mila dan tante Mia berpaling melihat puncak kepala Allin yang timbul dari balik pintu, seketika darah Mila mendidih bak air yang sedang dipanaskan di atas bara api.
"Kembalikan anakku?" Pekiknya sembari mendekatkan jarak mereka. Ia tak segan menepis tangan ibunya yang mencoba menahan gerakannya dan menarik kerah leher baju Allin.
"Dasar anak *******, kembalikan anakku" Hardiknya dengan sorotan mata yang menghunus.
"Lepaskan dia, Mila!" Suara sentakan dari luar, yang dia tahu itu adalah milik suami adiknya, berhasil membuat Mila gelagapan dan melonggarkan tangannya di kerah baju Allin. Mila pun membalikkan badannya, tatapan sinis Vano lansung menghujamnya.
Pria itu pun tergesa-gesa melewati teras rumah untuk menghampiri Mila dan tangannya seketika mengcekeram lengan Mila. Kantung-kantung belanjaan dia jatuhkan begitu saja, padahal dia dan Allin sengaja mengujungi untuk memberikan kabar bahagia dan membawakan beberapa keperluan untuk Tegar dan orang dalam rumah ini. Tapi sambutan apa yang istrinya dapat, perlakuan dan umpatan kasar.
Vano benar-benar murka, cengkeraman tangannya pada lengan Mila terlalu kuat, membuat perempuan itu merengek kesakitan. Allin mencoba memberi kode pada Vano untuk melepaskan tangannya. Kali ini Vano mengabaikan Allin, emosi terlalu meluap sulit untuk dia padamkan begitu saja. Siapa yang tahan, mendengar dan melihat dengan kepalanya sendiri, bagaimana perlakuan kasar Mila pada istrinya. Sudah cukup selama ini dia diam, demi menghargai permintaan istrinya.
"Kak, dimana anakku?" Allin menarik Mila dari cengkeram Vano untuk menyelamatkan perempuan itu. Vano pun dengan berat hati melepaskannya.
"Tegar bukan anakmu, dia adalah anakku. Kau tak boleh mengambilnya dariku" Balas Mila tak tau diri, dia dengan angkuhnya berujar tanpa mengindahkan perasaan Allin.
Sontak Vano menepis lengan itu dengan kuat membuat Mila terjatuh ke lantai. Perempuan rambut kemoceng itu tersenyum sinis mendapati perlakuan kasar Vano.
Allin tertegun dengan mata membola, dia diam membeku. Perkataan Mila terlalu menyakitkan baginya, bagaimana bisa Tegar bukan anaknya. Dia jelas-jelas yang melahirkan Tegar, menyusuinya selama empat puluh hari. Dan teganya Mila berujar bahwa Tegar bukanlah anaknya, lalu di mana anaknya.
Belum selesai dia menerima kenyataan pahit tersebut, Mila berucap lagi. "Anakmu telah kami buang, entah dia masih hidup atau telah menjadi tulang belulang tak bernyawa."
Sontak Allin lunglai, tubuhnya ingin merosot jatuh, tenaganya hilang begitu saja. Vano segera menahan tubuh istrinya dengan kedua tangannya. "Itu tidak benar sayang, anakmu masih hidup" Vano menarik wajah Allin agar menatapnya dan meyakinkan istrinya itu, bahwa apa yang dikatakan Mila itu tidak benar.
__ADS_1
"Cukup Mila!" Hardik ibunya sedari tadi hanya diam.
"Kenapa Bu, kau takut dia tau kenyataannya. Kau sendirikan yang membuang anak itu."
Lagi-lagi Allin mendapatkan pukulan hebat, meremuk redam perasaannya, membuat jantungnya terasa di remas kuat. Dia pun sulit bernapas seolah nyawanya terasa setengah di tarik paksa keluar.
Vano makin mendekap tubuh istrinya. Matanya sudah penuh amarah menatap kedua kerabat istrinya itu. Sedangkan Allin masih terpaku di tempat dengan pikirannya yang berkecamuk tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Dia berharap ini adalah mimpi. Mulutnya pun berguman lirih, "bangun Allin! Ini hanya mimpi" dengan air mata yang telah deras membanjiri kedua pipinya.
Tak mungkin, tante yang selama ini dia percaya telah membuang anak kandungnya.
Tubuhnya makin bergetar kuat, tangisannya yang tanpa suara menyayat hati Vano, dia pun turut menangis melihat kerapuhan istrinya. Dia merasa bersalah tak mencoba jujur tentang siapa Tegar dan bisa menjauhkan Allin dari kejadian buruk ini. Dia juga tak pernah menduga kejadian menyakitkan ini akan dialami Allin dan dia dengar lansung dari pelakunya, kerabatnya sendiri.
Perempuan ular itu sengaja mengakui kejahatannya hanya untuk melukai hati Allin.
Cukup, Vano pun tanpa aba-aba menggendong istrinya yang telah lunglai, membawa Allin ke dalam mobil. Baru sejenak Vano mendaratkan pantatnya di kursi mobilnya, tak di duga istrinya keluar berjalan lagi masuk ke dalam rumah.
Entah kekuatan dari mana, Allin setengah berlari menghampiri dua kerabatnya itu, dan sesampai di depan Mila dia menampar kuat dengan sisa tenaganya.
"Tak cukupkah, kau selama ini melihat penderitaanku. Kau yang selalu merebut mainanku, kadang kau merusak dan membuangnya. Aku terus pura-pura tidak tahu karena aku ingin menghilangkan kebencian dalam dirimu" Pekiknya tak tertahankan.
"Mehilangkan kebencian dalam dirimu." Guman Mila mengikuti kata-kata Allin menatap tak percaya.
"Karena aku tau, darah yang mengalir dalam tubuhku sama denganmu." Suaranya terlampau serak membuat ia tak henti berteriak.
Dia bagaikan gunung yang tengah memuncratkan laharnya, mengalir deras dan panas. Allin terus mengeluarkan isi hatinya yang selama ini dia tahan.
"Kaulah anak ******* itu, dan kau sama kejam dengan ibumu tega membuang seorang anak tak berdosa. Dan kau tau ..., ibuku lah yang memungutmu dan merawat dirimu ..., brengsek! Sebelum tante Mia mengadopsimu ...." Ucap Allin begitu pedas melupakan rasa hormatnya.
Dia tidak mengira, selama ini Mila dan Allin sudah tahu hubungan mereka. Dia telah mencoba membunyikan bertahun-tahun untuk menjaga perasaan Mila. Sebagai anak yang telah dibuang oleh ibu kandungnya dan lebih teganya kakaknya pun tak mengakui anaknya sendiri membuat dia memutuskan menyimpan rahasia itu untuk selamanya. Meski dia bukan ibu kandungnya, tapi tak pernah sedikit pun dia menganggap Mila hanya sebagai keponakannya.
"Jangan salahkan aku karena kau tak bahagia. Rasanya aku ingin membencimu, tetapi ibu selalu mengingatkanku, bahwa kau adalah kakakku. Aku lebih kecil darimu tapi ibu selalu mewanti-wantiku untuk selalu menjaga perasaanmu."
"Dan lihatlah sekarang tuhan mengambil hal yang berharga darimu, tapi tak sebanding dengan luka kau goreskan padaku. Rasanya ... aku ingin bahagia di atas penderitaanmu. Tapi hati ini ... yang terlalu lemah, yang turut merasakan sakit melihat kau sedih!" Allin pun memukul dadanya dengan kuat.
"Sekarang puaskah kau, melihat aku menderita dan kesakitan!!" Bentaknya sembari mengguncang tubuh Mila.
Bukan Mila tak tahu selama ini kepedulian adiknya itu, tapi dia lah yang terus menyangkalnya dengan menganggap perhatian Allin hanya sandiwara semata. Rasa iri dan cemburunya mematikan rasa yang diberikan Allin padanya.
"Kau tau aku adalah adikmu, kita sama-sama menguping saat itu, tapi kau malah makin membenciku dan berharap sebaliknya. Detik ini juga aku telah membencimu. Aku ingin kau menghilang dari bumi ini ...." Pekik Allin dalam suara paraunya.
"Kau lebih kejam daripada binatang, kau senang melihat aku seperti orang gila saat kau menjebak pria itu dan membiarkan dia menghancurkan kehormatanku."
Allin terus mengguncang tubuh Mila, dia terisak pilu. Lukanya begitu hebat tak mampu untuk ia bendung tangisnya. Dia terlalu hancur saat tahu anaknya selama ini bukanlah anak kandungannya, dan di perparah bahwa kenyataannya anaknya telah dibuang oleh tantenya sendiri. Apa salah bayi kecilnya, bayi yang di jaga oleh ibunya saat di dalam kandungan. Meski dia pernah tidak menginginkan bayi itu dalam rahimnya tapi itu hanya sesaat, kini dia merasa sakit kehilangan.
Vano memicingkan mata tanda amat tidak suka menatap Mila, tapi dia tidak bisa berbuat lebih arnakis lagi. Biarlah saat ini Allin meluapkan emosinya.
Sedangkan tante Mia menbelalak mendengar pengakuan Allin bahwa Mila lah yang menyebabkan kejadian nahas itu.
__ADS_1
Perempuan paruh baya itu pun mendekat ingin menyentuh tangan keponakan.
"Jangan sentuh aku" parau, nyaris tak terdengar. Hanya kibasan tangannya yang begitu kentara menolak sentuhan tantenya dengan jelas. Dia pun mendorong tubuh Mila hingga tersungkur di lantai.
Mila tak menahan hentakan tangan Allin pada tubuhnya, kenyataan pahit yang di ucapkan Allin melunturkan semua kepongahannya. Dia baru mengerti, mengapa ayah kandungnya sendiri jijik padanya dan tak mau mengakuinya sebagai ayahnya karena dialah anak ******* itu.
Sedangkan tante Mia menatap Allin dengan penuh rasa menyesal, ia terlalu berdosa untuk berharap kata maaf dari keponakannya. "Allin!" Panggilnya lemah dengan mata telah basah dengan air mata. "Maaf ..., maaf ...." Tuturnya berulang-ulang dengan wajah menunduk menjatuhkan bulir air matanya ke lantai.
"Berhenti menyebut namaku lagi, kau telah membunuh keponakanmu saat kau membuang anaknya" Tatap Allin dengan penuh sorot kebencian pada tantenya. Seketika perempuan paruh baya itu mendongak tak percaya sembari menggeleng-geleng dengan air mata bercucuran. Kata-kata sopan dari mulut keponakaannya telah hilang hanya kalimat menusuk menghujam jantungnya.
Dan tante Mia pun terduduk lemas tak kuat menahan gejolak rasa bersalah dan penyesalan. Suaranya tercekik ditenggorokan dengan gemuruh tangisnya yang mendera.
Allin pun pergi melangkah keluar rumah tantenya dengan langkah gontai, menapaki lantai yang penuh banyak kenangan masa kecilnya, kini menjadi saksi luka pilunya.
Vano yang sedari tadi diam dan hanya menjadi penonton merangkul istrinya dengan penuh sesal. Istrinya yang malang itu harus terluka sebesar ini, andai dia tadi bersikeras menolak ajakan istrinya rentetan kejadian ini takkan terjadi.
Sesampai di luar, hujan pun mengguyur mereka seolah ikut menangisi nasib Allin, Allin berlutut memeluk kedua kakinya melepaskan tangisnya.Vano melepaskan jaketnya, melingkupkan pada tubuh kecil Allin yang bergetar dan mendekapnya.
Allin mendongak menatap Vano dengan kucuran air mata yang terus jatuh seolah tak pernah cukup menangisi nasibnya. Matanya memandang penuh permohonan pada Vano berharap suaminya mengatakan bahwa ini adalah mimpi, ini terlalu sakit baginya menerima pukulan ini.
Sedangkan di dalam rumah, Mila dan ibunya tampak hancur. Mereka sangat kesakitan dengan apa yang dikatakan Allin pada mereka. Pandangan mata Mila kosong tanpa arah, meski air mata telah mengering, gemuruh di dalam dadanya menusuknya. Dia menghujat dirinya sendiri, mengingat dosanya pada Allin. Rasanya dia ingin bersujud di kaki adiknya meminta ampun, tapi takkan cukup, dosanya terlampau besar. Dia ketakutan hingga tubuhnya mengigil, ketika membayangkan Tegarlah yang menanggung dosanya. Entah di mana anaknya itu, apakah akan seperti yang dia ucapkan pada Allin "entah dia masih hidup atau tak bernyawa".
"Aaaaaaaaa ....." Pekik Mila ketakutan dengan duga-dugaannya. Dia pun tersenyum tak tau mengapa, memanggil nama Tegar dan mulai berhalusinasi, mentalnya tak kuat menahan pukulan itu membuat dia tetap hidup tapi tak berjiwa.
Tante Mia menyadari perilaku aneh Mila, menarik dirinya dari penyesalannya pada Allin. Dia pun menghampiri Mila, mencoba menyadarkan Mila, tapi hanya kekecewaan yang dia dapat. Dan air mata perempuan baya itu pun mengalir lagi dengan deras sembari memeluk anaknya.
Tak ada yang lebih menyakitkan bagi seorang ibu ketika kehilangan anaknya. Sejahat apa pun seorang ibu, anaknya tetap menjadi cahaya dalam hidupnya. Begitu juga yang dirasakan Mila.
Karmanya telah membawa dirinya merasakan apa yang telah dirasakan Allin selama ini.
End.
-
-
-
-
-
-
-
-
__ADS_1
-
-