Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Berdamai denga masa lalu


__ADS_3

Alin tetap berlenggak-lenggok dihadapan suaminya, sesekali dia mencuri lirikkan melihat reaksi suaminya.


Vano Diam tanpa bersuara, tetapi Alin yakin jiwa Vano yang lainnya sedang bergejolak.


Rencana dia dengan Sella untuk menggoda suaminya, sudah Alin praktekkan, akan tetapi hasil tetap nihil.


Kini, Alin takkan lagi mengemis pada suaminya, dia mencoba bersikap dengan elegan diam-diam tetap menggoda.


"Ada apa dengannya, hampir satu minggu ini, dia menggunakan lagi baju laknat itu. Apa bedanya dia memakai baju atau tidak, semua terlihat jelas" keluh Vano dalam hatinya


"Tetapi dia sungguh terlihat sexy dan menggoda" gerutu Vano ke pada diri sendiri sembari membenamkan wajahnya lebih dalam ke bantal.


Vano sadar dirinya sudah tak mampu menahan godaan istrinya.


Dokter memang menyarankan Vano untuk pelan- pelan mendekati istrinya. Menghindar memang salah satu cara untuk tak memicu rasa traumanya, tetapi berdamai dengan rasa trauma itu adalah pilihan terbaik.


Vano sudah melakukan segala cara mendekati Allin untuk mencari tau, apa saja pemicunya, tetapi perempuan keras kepala itu, tak mau juga terbuka tentang masa lalunya.


"Apa yang dipikirkan perancang busana baju itu, membuat baju tetapi tidak menutupi" tambah Vano dalam hatinya.


Kepalanya sudah merasa pening, dia memang mampu menekan tindakannya tetapi tidak untuk hasratnya.


Vano merasa sudah mulai Jengah melihat tindak-tanduk istrinya. Akhirnya, dia merebahkan tubuhnya ke kasur dan menyelimuti tubuhnya sampai bagian kepala.


Alin melihat tingkah suaminya dengan senyum sinis, tetapi dia tidak kehilangan akal dia mencoba mengambil ponselnya dan menekan tombol dan suara sambungan terdengar di telinganya, seseorang disana mengangkat dan bertanya.


"Ada apa Allin?"


"Aku merindukan kucing barumu?" tanya Allin balik.


Yang di sana tidak menanggapi, mereka terdiam sejenak, tapi hanya beberapa saat yang disana terkekeh geli.


Vano diam-diam menguping di balik selimut.


Dia sadar Allin hanya ingin memancingnya.


"Kau gagal lagi?" tanya seseorang di seberang sana.


"Hmmm" jawab Alin membenarkan.


"Lalu apa yang kau inginkan, menghubungiku." cecar seseorang yang berada di seberang sana.


"Aku butuh kucing barumu" yang dimaksud Alin adalah dia butuh gagasan baru. Dia sengaja membuat kata lain agar Vano tidak menyadarinya.


"Oh, begitu. Apakah dia sedang memperhatikanmu"

__ADS_1


"Hmmm"


"Oke, baiklah sekarang kau ikuti saran ku. Jika aku bertanya padamu kau harus menjawab dengan sesual"


"Baiklah" jawab Allin Lirih.


Lalu mereka memulai sandiwaranya, Allin menjawab setiap sambungan telpon itu dengan suara yang begitu sensual, tetapi Vano tetap tak terpancing.


"Menggelikan, aku seperti anak kucing yang di pancing seekor ikan, tapi sayang ikan itu terlalu liar, membuat aku takut" batin Vano menahan senyumnya melihat tindak tanduk istrinya.


Allin mulai jengah, rencananya gagal, dia menutup sambungan itu dan beranjak ke arah balkon kamarnya.


Cklek


"Allin kau mau kemana?" bentak Vano tiba-tiba marah sembari menjauhkan selimut dari tubuhnya.


Allin terkesiap mendengar luapan kemarahan suaminya itu, entah alasan apa suaminya itu bisa se garang itu.


"A-aku hanya ingin mencari udara segar di luar" ucap Allin terbata karena takut.


"Jangan harap Allin" Vano dengan gerakan cepat melewati ranjang besar itu, menghampiri Allin yang masih terkejut.


"Kenapa?" tanya Allin bingung.


"Kau jangan mencoba-coba ya mempertontonkan tubuhmu kepada orang lain" sentak Vano sembari membopong Allin seperti karung beras.


"Turunkan aku!" dia mencoba meronta.


"Jangan berisik, Dio akan bangun mendengar lengkingan suaramu itu." peringatan Vano.


Allin seketika diam, dan tak lama tubuhnya sudah direbahkan di atas kasur dengan lembut.


Ada kelegaan dalam hati Allin, dia pikir dia akan di lemparkan ke atas ranjang seperti drama korea yang sering dia tonton.


"Kau tidak memakai baju Allin, dan kau ingin ke luar dengan kain saringanmu ini" bentak Vano yang masih emosi.


Batin Allin dengan rasa geli, "Dari mana dia tahu baju ini sama seperti kain saringan, apa dia sering memasak di dapur."


"Memang kenapa? Ini sudah malam Tuan, dan siapa juga yang masih terjaga jam segini" sangkalnya.


"Kau pikir apa gunanya aku memperkejakan security, jika mereka hanya duduk manis di posnya. Di setiap sudut ada CCTV, mereka standby bergantian memperhatikan layar monitor mengawasi rumah ini" emosi Vano makin menjadi.


"Maaf" jawab Allin merasa bersalah.


"Kau juga bisa masuk angin dengan baju kain saringanmu itu" sindir Vano memalingkan wajahnya tak ingin menatap Allin.

__ADS_1


Allin rasanya ingin tertawa mendengar sindiran Vano tetapi air matanya malah menetes dengan cepat dia menepiskannya, entah kenapa minggu-minggu ini dia mudah sekali tersentuh.


Vano menyadari kesalahannya, dia membaringkan tubuhnya di dekat Allin, mendekapnya, lalu dia membisikkan kata maaf.


"Maaf, aku sudah bersalah padamu" dengan nada penuh penyesalan. Kecupan lembut berulang-ulang Vano tumpahkan di atas kepala istrinya.


"Tidak" jawab Allin lirih sembari menatap bola mata suaminya. Membelai rahang suaminya dengan lembut.


"Aku menginginkanmu Allin, lebih dari yang kau tau, tetapi aku takut melukaimu" jawab Vano dengan mata yang sendu membalas tatapan Allin.


"Maaf" jawab Allin.


"Kau tidak salah. Seharusnya aku mampu mengatasi ketakutanmu. Sebagai suami aku gagal memahami istriku." Vano menggenggam tangan Allin yang sudah berada di pipinya, dia usap-usap penuh kelembutan.


"Tidak" sela Allin membelai lagi pipi Vano, untuk menenangkan hati suaminya itu.


Allin baru tau alasan mengapa dia bisa berada di rumah sakit, dari gosip pegawai di rumah ini yang diam-diam membicarakannya, karena traumanya.


Allin mencoba untuk mengingat kejadian malam itu, tetapi kepalanya bukan mengingat tetapi rasa nyeri yang ia dapati.


"Kau bisa mencobanya lagi!" bujuk Allin


"Kau yakin?" tanya Vano ragu.


Allin mengangguk


Vano berpikir.


Kau bisa melakukannya, kau hanya perlu lebih memperhatikan reaksinya, kau bisa mengalihkan rasa trauma itu dengan komunikasi, ajak dia berinteraksi.


Sebagai manusia berilmu, seharusnya kau tau tata cara yang benar untuk memulainya. Pastikan tak hanya dirimu yang memberi, tetapi kau juga harus memastikan bahwa pasanganmu menerimamu. Saling memberikan haknya.


Sentuhan bukan hanya sebatas hubungan fisik tetapi jiwanya juga kau harus sentuh (hati), dengan kata-kata pujian untuk merayu dirinya.


Bayangan, wejangan si dokter satu persatu dia telaah untuk menguatkan batinnya.


"Baiklah" jawab Vano yakin.


"Tapi kau harus tetap sadar dan fokus dengan diriku Allin. Ingatlah yang menyentuhmu aku, suamimu. Jangan kau biarkan pikiranmu berkelana, dan dengarkan aku, suarakan perasaanmu, kau jangan diam, caci dan maki aku, jika perlu" ucap Vano perlahan dengan meyakinkan.


Allin mengangguk mengerti


Vano memulai membuka hidangannya melahapnya penuh cinta, memberikan sentuhan lembut dan matanya tak lepas dari wajah Allin. Sesekali dia merayu, mengatakan pujian, memberi janji akan masa depan untuk mereka kelak, hingga mereka menemukan titik kepuasan yang tak berujung.


Allin telah membuat satu langkah ke depan, melewati rasa traumanya dan berdamai dengan masa lalunya.

__ADS_1


******


__ADS_2