
Aku dan bu Sella asyik bercengkerama di taman komplek yang tak jauh dari rumah, biasanya aku menghabiskan waktuku bersama Dio, tapi hari ini bu Sella turut ikut menemani kami.
Suasana taman tampak ramai dan akan bertambah ramai lagi menjelang sore apalagi di akhir pekan.
Taman komplek ini memang tidak terlalu besar tetapi ini sudah cukup bagi anak-anak disini karena fasilitas termasuk sudah lengkap, ada ayunan, terowongan, dan jenis wahana lain diperuntunkan untuk anak-anak.
Dan ada juga spot foto yang menarik dikelilingi hiasan bunga yang dipenuhi anak-anak remaja sedang mengambil gambar. Di samping kanan taman juga terdapat lapangan basket, dan disampingnya lagi ada lapangan bola kaki yang di keliling jalan beton setapak yang diperuntunkan untuk olahraga lari atau pesepeda.
Seseorang mendekat pada kami dengan peluh yang bercucuran, dengan selembar handuk di punggungnya. Entah bagaimana dia ada disini, aku rasanya ingin menghindar darinya, mengingat kejadian tadi pagi. Kejadian yang begitu mengesankan dan sekaligus memalukan.
Dia tidak biasanya joging di taman ini, karena dia tidak suka keramaian. Dia lebih suka melakukan joging di halaman belakang rumah atau dia melakukan olahraga sejenis itu di ruang gym-nya.
Sekarang kami berkumpul layaknya keluarga, takkan ada yang pernah berpikir bahwa kami adalah pasangan suami istri pertama dan istri kedua.
Entah apalah namanya, aku juga tidak mengerti, pasangan suami istri dan madunya, mungkin.
Madunya, kata itu begitu mengerikan di pendengaranku. Tak pernah ada dalam anganku menjadi seorang madu atau menjadi duri dalam rumah tangga seseorang, tapi nyatanya aku disini sebagai istri muda, sebagai orang ketiga, atau sebagai pelakor bagi mereka yang tak paham situasi kami.
Dan semenjak aku menikah dengan tuan Vano, aku sudah tidak menggunakan seragamku. Aku pernah memakai sekali, tiba-tiba dia menghampiriku dengan raut wajah marah dan memerintahkan diriku untuk mengganti pakaian. Setelah kejadian itu dia menyuruh pekerja lain untuk membuang semua seragamku.
Tingkahnya terlalu berlebihan, membuat pekerja lain membicarakan kami diam-diam. Mereka sudah tahu dengan jelas bahwa aku dinikahi hanya untuk memberikan keturunan bagi keluarga ini.
"Pi..pi..pi..." panggil Dio berulang. Bayi itu begitu gembira melihat sosok tuan Vano, dia dengan cepat merangkak menghampiri papinya.
"Oo..., tidak sayang. Papi berkeringat, kau akan kotor jika mendekap di tubuh papi"
Tuan Vano coba menahan tubuh Dio dengan tangannya, dia mengangkat Dio dan meletakkannya di pangkuanku begitu saja.
Bu Sella menghampiri tuan Vano, mengelap peluh di wajah suaminya itu. Aku dengan cepat memalingkan muka, ada rasa tidak nyaman melihat adegan itu. Aku melihat ke arah anak-anak bermain basket. Seseorang di sana tersenyum ramah padaku.
"Al..." pekiknya sembari melambaikan tangan dan aku membalas lambaian tangannya dengan tersenyum ke padanya. Itu Bian, dia salah satu anak yang suka menghabiskan waktu sorenya di taman ini.
"Siapa Allin?" tanya bu Sella
Dan dia di samping bu Sella melihatku dengan tajam, dengan sorot matanya tidak suka.
Aku pura-pura tidak peduli dan membalas pertanyaan bu Sella dengan senyum.
"Anak sini Bu, dia tiap sore memang sering main basket disini" jawabku sedikit menerangkan siapa Bian.
__ADS_1
"Oo, saya kirain kenalan kamu dari kampung"
"Bukan, saya kenal dia disini Bu"
Matanya makin menajam melihat ke arahku, terbisit rasa jengah melihat sorotannya yang tajam.
Kenapa dengan dia? Apakah aku membuat salah?
"Hai..." sapa seseorang menepuk bahuku.
Sedari tadi mataku yang menatapnya tiba-tiba melihat rahangnya mengeras dan matanya melebar, rasa tidak suka menguar dengan jelas.
Aku memalingkan wajahku seketika menatap orang yang sudah menepuk bahuku.
"Hai Bi" jawabku gugup.
Gugup karena seseorang mengawasiku.
Bian tersenyum lebar, deretan gigi putihnya terpampang jelas. "Sore Tante, Om, kenalkan saya Bian temannya Al" ucapnya sok akrab sembari mengulurkan tangannya.
Aku hanya mampu menelan ludah. Apa yang dipikirkan bocah ini, dia pikir siapa yang dia panggil mereka itu, dia majikanku Bi.
Bu Sella tersenyum melihat tingkah Bian yang sok akrab, dia membalas uluran tangan Bian dengan menyebutkan namanya. Tetapi seorang di samping bu Sella wajahnya sudah merah padam, menahan emosinya, dia membuang muka tak membalas uluran tangan Bian
"Bi dia majikanku" ucapku berbisik di telinga Bian. Bian mengangguk paham, tapi dia tidak terlihat canggung sama sekali dan membalas ucapanku dengan tersenyum lagi padaku.
"Saya bukan Om-mu, dan saya belum se tua yang kamu pikirkan." jawabnya tiba-tiba, mengeluarkan suaranya yang sedari tadi hanya diam memperhatikan kami.
"Maaf Om, eh..., maksud saya Pak. Saya pikir kalian orang tua dari Al" ucapnya santai tanpa merasa bersalah.
Pak? Bukannya itu sapaan buat orang tua juga, tetapi dia terlihat menerima panggilan itu.
Aku menghela napas berat melihat tingkah Bian, dia anak yang blak-blakan dan mudah bergaul, mungkin hanya dia seorang mau menyapaku, meski dia tau aku hanya seorang nanny.
"Namanya Allin, bukan Al" sangkal tuan Vano pada Bian.
"Ya saya tahu Pak, dia Allina Cantika, sesuai seperi namanya cantik. Ini panggilan kesayangan saya buat Al" Dia memujiku di hadapan majikanku seolah aku ini pacarnya.
Aku menepuk jidatku melihat tingkah bocah yang satu ini. Tuan Vano mengalihkan sorot matanya padaku, seolah bertanya apa maksud perkataan Bian.
__ADS_1
Bu Sella terkekeh mendengar kata-kata Bian.
"Apakah kamu pacarnya" tanya bu Sella tanpa ragu.
"Baru calon Bu. Maafkan saya, jika saya tidak sopan pada kalian, tidak masalahkan saya memanggil kalian Pak dan Bu"
"Ya terserah kamu" jawab bu Sella, tetapi yang di sampingnya sudah begitu marah menatapku.
Kenapa dia marah. Aku tidak menghianatinya dan aku juga tidak pernah berharap bocah kecil itu menjadi pacarku.
"Kamu lucu. Kamu masih sekolah atau sudah kuliah?" tanya bu Sella.
"Aku kelas dua belas sebentar lagi aku tamat, tunggu aku ya Al" sembari mengerlingkan matanya.
Aku hanya mampu menghela napas berat, untuk yang kali ini, aku seperti patung, tidak bisa menyangkal atau mengiyakan. Karena dia disana sedang mengawasiku.
Bu Sella terkekeh lebih keras lagi
"Ternyata Allin, ada seseorang yang menunggumu" ucap bu Sella menggodaku.
Dia mendekat mengambil Dio dari gendonganku, menatapku dengan tajam, mulutnya berbicara tanpa suara. "Ayo pulang!" lalu dia menarik tangan bu Sella.
"Ayo! Hari sudah mulai sore kita segera pulang" katanya begitu dingin. Bu Sella mengikuti saja dari belakang, aku masih diam terpaku.
"Sampai jumpa Bian!" ucap bu Sella sembari memberi lambaian perpisahan.
Saat langkahku ingin mengikuti kedua majikanku, Bian menahan tanganku.
"Biar aku antar" tawarnya ke padaku.
Apalagi nih anak, kenapa dia tiba-tiba sok manis begini. Tidak tau kah dia, sikap yang manis ini akan menjadi masalah bagiku.
"Allin...!" tegur seseorang begitu dingin.
"Maaf Bi, aku harus pulang, terimakasih atas tawarannya." balasku sembari meninggalkan Bian.
********
Jangan lupa like, vote, dan terutama komentar kalian ya.
__ADS_1