Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Siapa Tegar?


__ADS_3

Mila tersenyum manis di depan laptopnya. Dia sedang berselancar di dunia maya. Mengupload gambar- gambar hasil jepretan tangan terampilnya.


Seseorang masuk dan duduk di pinggir ranjang memperhatikan Mila dengan kegiatannya, "Mil" tegurnya.


"Ya, Bu" sahut Mila tanpa lepas dari layar laptopnya.


"Kamu dari mana saja?" tanya perempuan tua itu. Sudah dua hari satu malam anaknya pergi tanpa kabar. Mila melirik ibunya sebentar, lalu dia kembali fokus pada laptopnya.


"Dari rumah teman" jawabnya seperti enggan menyahuti, dia menaiki kedua kakinya mengayun-ayunkan dalam posisi tengkurap, sedangkan ibunya duduk di pinggir ranjang. Tanpa peduli pada ibunya, Mila terus saja menggoyangkan kakinya.


Minimnya rasa hormat anaknya pada dirinya, perempuan tua itu hanya mampu menggelengkan kepalanya dengan tarikan napas yang dalam.


"Kamu tidur di mana semalam?"


"Ya, di rumah temanlah Bu" sahutnya dengan nada kesal.


"Terus kamu kemana-kan uang yang di berikan Allin kemarin" tanya Ibunya berat hati. Dalam hatinya ada rasa malu ingin menegur, apa yang dilakukan Mila tak jauh buruknya dengan sikapnya selama ini pada Allin.


Dia mempergunakan hasil jerih payah keponakannya itu, untuk membiayai perawatan Tegar dan membiayai keperluan dapurnya, itu pun juga tak cukup untuk menutupi kebutuhan mereka.


Kadang dia pun memperingati dirinya, tak seharusnya Allin yang membiayai kehidupan mereka, itu bukan kewajiban keponakannya. Akan tetapi dia pun tak berdaya. Dia perlu uang lebih untuk perawatan cucunya yang memerlukan biaya yang cukup besar.


Sedangkan Mila memiliki penghasilan sendiri tapi tak pernah sampai ke tangannya. Entah untuk apa uangnya dia dipergunakan, padahal hampir sebagian kebutuhan dirinya Ibunya juga yang memenuhi.


Kebetulan, majikan perempuan dari keponakannya itu datang berkunjung ke rumahnya menolong keluarga mereka yang saat itu sangat terdesak, memerlukan biaya operasi Tegar yang cukup besar. Majikan keponakannya itu juga menegur sikapnya telah membohongi Allin.


Dia pikir rahasianya akan tertutupi tanpa siapa pun tahu kecuali dia dan Mila, tapi takdir juga menunjukkan jati diri Tegar pada majikan perempuan keponakannya itu.


Sella membantu keluarganya untuk membawa Tegar ke rumah sakit, dan perempuan itu juga yang membayar biaya rumah sakit.


Tuhan menunjukan pada majikan keponakannya itu tentang rincian penyakit dan berapa lama Tegar alami dan umur Tegar yang sebenarnya, dua bulan lebih muda dari bayi Allin, itu tertera jelas pada berkas itu.


Membuat perempuan tu menegur dirinya, walau dia tidak meminta penjelasan lebih padannya.

__ADS_1


Sejak kejadian itu dia merasa selalu was-was, jika majikan perempuan itu akan membeberkan kebenaran pada Allin.


Perempuan tua itu pun mencoba untuk menemukan kembali anak Allin, tetapi nyatanya bahwa bayi itu telah di titipkan juga oleh temannya pada panti asuhan.


Panti asuhan itu sudah pernah dia datangi, tetapi ternyata bayi Allin sudah ada yang mengabdosi. Dia pun memohon pada pihak panti untuk memberitahukan keberadaan anak Allin. Hasilnya nihil. Pihak panti mempunyai aturan yang tak bisa dia bujuk.


"Uang, uang apa Bu?" tanya Mila sembari dia duduk dari posisi tengkurap, menatap ibunya dengan tajam. Dia seolah menantang sikap ibunya, dia merasa tidak terima atas teguran ibunya. Dia berpikir mungkinkah Allin mengadu padanya.


"Jangan menyangkal Mila, Ibu tahu sebelum Allin pulang kamu meminta uang padanya" perempuan paruh baya itu menatap balik dengan tajam pada anaknya. "Cukup Mila, jangan menyusahkan Allin lagi"


"Kenapa Bu, wajar saja kita di beri uang olehnya. Toh, dia pikir kita menjaga anaknya"


"Kamu tidak tahu diri Mila"


"Lalu Ibu apa?"


"Kamu!" perempuan tua terlihat marah melihat sikap kurang ajar anaknya.


"Semua yang Ibu lakukan buat kamu dan anak kamu!!"


"Jaga ucapanmu Mila!! Lalu kamu ingin Ibu membuang anakmu." Perempuan tua itu berdiri dan menatap tajam pada anaknya, raut kecewa terlihat di wajahnya. "Ibu sangat menyesal untuk itu! Seharusnya dirimulah yang Ibu buang jauh dari hidup kami"


"Ibu" saut Mila kecewa.


"Kau tiba-tiba saja kembali dengan perut besarmu. Kau bilang kau pergi bekerja, tapi apa yang kau bawa ...." ibunya terdiam dan tidak melanjutkan ucapannya, bagaimana pun anak Mila adalah cucunya. Ibunya pun pergi meninggalkan kamarnya dengan bantingan pintu yang sangat keras.


Mila terdiaam


Dia sadar bahwa semua yang dilakukan ibunya untuk dirinya. Depresi pasca melahirkan yang di alaminya membuat ibunya terjepit, dimana dia harus merawat dua bayi sekaligus, belum lagi jika dia mulai berhalusinasi dia berteriak dan membanting semua barang yang ada. Pernah sekali dia membuat anaknya sendiri terjatuh dari ranjang, membuat ibunya ketakutan.


Keadaan dirinya yang tidak terkontrol dan anaknya yang butuh perhatian dan perawatan lebih. Ibunya memutuskan untuk menitipkan anaknya Allin pada salah satu kenalannya.


***

__ADS_1


Vano keluar dari kamar Allin, melihat Ardio masih berada dalam rumahnya membuat dia emosi, tetapi sosok Dio yang berada pangkuan ayahnya tersenyum lebar menyambutnya. Bayi itu mengulur tangannya ingin segera ada dalam dekapan papinya itu. Vano pun mencoba menahan emosinya.


Lalu Vano menyambut dengan cepat uluran tangan Dio membawa ke dalam dekapannya. Matanya hangat saat bertatapan dengan Dio tetapi tatapan itu berubah bengis saat menatap Ardio.


"Sebaiknya kau pulang!" usir Vano tanpa basa-basi.


Rasanya dia ingin sekali untuk menghajar pria di hadapannya. Pria yang sudah merusak Allin dan apalagi melihat sikapnya saat awal mereka berjumpa, di restoran itu dia terlihat seperti tidak mengenal sosok Allin.


Apakah sebegitu banyak perempuan yang telah dia pakai sehingga dia tidak mengenal Allin. Lalu buat apa dia mendekati Allin lagi.


Vano mendelik tidak suka menatap Ardio, andai tidak ada kedua orang tuanya dan ayahnya Sella, mungkin dia sudah menghajar dan mengajukan banyak pertanyaan tentang apa yang sudah di lakukan pria itu pada Allin.


Ardio mengerti dia tidak diterima oleh tuan rumah, dia dengan sopan meminta izin pulang kepada dua pria tua yang berada dalam ruangan itu. Ayah Vano mengiyakan dengan ramah, dan ayah Sella tampak tak peduli.


"Dah sayang" ucap Ardio memberi lambaian perpisahan pada Dio. Lalu langkah kakinya di ikuti pria tua yang ramah itu, memohon maaf padanya dan mengucapkan terimakasih sudah membantu babysitter cucunya.


Tapi Ardio merasa perempuan itu bukan hanya seorang babysitter di mata mereka. Mereka menunggu dan memberi perhatian lebih untuk babysitter itu.


Sesampai di pagar rumah besar itu, Ardio mencoba mendekati salah satu security, membuat obrolan ringan.


"Malam Pak" sapa Ardio.


"Iya, Mas. Mau pulang ya Mas" balas security dengan ramah.


Ardio mengangguk, lalu memperkenalkan dirinya dengan jujur membuka kedok ke artisannya. Merasa tersanjung, security itu menyambut dengan hangat, setelah itu banyak obrolan yang mereka bahas, saat pertanyaan tentang keluarga Fahrizi pun dengan mudahnya security itu menjawab.


"Mas, orang rumah ini begitu perhatian ya sama pengasuh anaknya"


"Ups" dia menempelkan jari tunjuknya ke bibirnya, lalu mengamati sekitaran rumah. Sekira, dia rasa aman, dia melanjutkan ucapannya. "Dia istri ke dua Tuan Vano" bisik pria itu. Ardio begitu terkesiap mendengarkan. "Tapi Anda jangan memberitahu siapa pun ya" lanjutnya memperingati Ardio.


Ardio mengangguk mengerti, meski dia menduga-duga hubungan mereka, tetapi pikirannya tak sampai sejauh itu.


Bagaimana Sella bisa menerima begitu saja, dan Sella tampak sekali peduli pada perempuan itu. Ardio memijit lembut pelipisnya, dia baru mengerti dengan sikap orang yang berada di dalam rumah besar itu.

__ADS_1


Tetapi yang dia tak mengerti dengan sikap ayahnya Sella yang seperti terlihat santai, dia tau sekali pria itu begitu bencinya dengan penghianatan. Apalagi melihat bagaimana keluarga besan-nya yang begitu peduli dan menyayangi menantu ke duanya itu. Dan menantunya sendiri, pria itu terlihat sekali mencintai istri keduanya itu.


"Sella dan ayahnya, Ada apa dengan kalian?" Batin Ardio.


__ADS_2