
Sella terus menghindar, beberapa kali Ardio mencoba mendekati Sella, usai beredarnya liputan tentang konfirmasi isu hubungan rumah tangganya.
Membuat Ardio tak habis pikir tentang jawaban yang diberikan Sella yang selalu bertindak ceroboh, menurutnya.
Dia selalu berlagak menjadi pahlawan tapi apakah dia tidak sadar perbuatan itu akan menyakitinya. Batin Ardio
Alasan, kenapa Sella lah yang mengambil keputusan untuk mundur dari pernikahannya, itu tak masuk akal. Seharusnya Sella mempertahankan hubungan-nya bukan mengalah dan membiarkan perempuan lain untuk berada di sisi suaminya dengan alasan apa pun.
Pintu terbuka, Sella masuk dan berjalan dengan langkah pasti menuju arah Ardio. Sesampai di depan mejanya, Ardio mempersilahkan Sella duduk. Tapi Sella mengabaikannya, dia lebih tertarik mengedarkan pandangannya menyapu ruangan studio musik yang sudah lama tak ia injakan kakinya. Setelah puas dia melihat seisi ruangan dia pun duduk di depan Ardio.
"Bisakah kita akhiri ini," tanya Sella lansung. Ardio yang tak paham dengan maksud Sella, hanya diam menatap Sella dengan lekat. Perempuan dihadapannya memang tak suka dengan basa-basi. Sedikit senyum pun tak terukir di wajah cantiknya, saat Ardio memberikan sambutan hangat dia malah membuang mukanya ke arah lain.
"Haruskah aku terangkan" cecarnya dengan wajah dingin. Sella hanya menatap Ardio sekilas lalu dia sibuk mengaduk minuman dingin yang sudah tersedia di mejanya.
"Bukankah di antara kita memang sudah berakhir" sindir Ardio memprovokasi Sella.
"Bagus kau menyadari itu, dan aku pikir, aku tak perlu lagi disini," sahut Sella kecewa sembari berdiri. Entah apa yang membuat dia kecewa, dia pun tak juga memahami. Kecewa karena jawaban Ardio kah atau dia kecewa dengan pertemuannya akan berakhir dengan singkat.
Seringai mengejek terukir wajar Ardio, dia masih paham dan mengenal tabiat perempuan yang berada dihadapannya ini.
"Duduk Sella!!" Sentak Ardio tak ingin bantah. Meski dengan wajah kesal Sella akhirnya duduk kembali pada kursinya.
Dia masih saja berbelit-belit menunjukan maksudnya. "Untuk apa lagi kau ingin menemuiku" ketus Sella dengan sorot tajam.
"Kau ingin aku bagaimana? Memohon padamu untuk kita mencoba memperbaiki hubungan kita atau ...." Ardio menghentikan kalimatnya, dia sengaja tak melanjuti, karena wajah Sella sudah memerah menahan amarah.
"Kau pikir aku mau menemui untuk berharap cintamu itu," hardik Sella tidak terima.
"Aku tak bicara begitu! Jika kau berpikir begitu tak masalah." Jawab Ardio santai sembari membungkukkan badannya di atas meja, membuat jarak dia dan Sella makin dekat.
Sella makin menjadi marah, dia pun berdiri dan menyiramkan minuman dingin ke kepala Ardio.
Ardio menyikapi sikap Sella dengan terkekeh sembari membersihkan kepalanya dengan salah satu tangannya yang terasa dingin dan tak terduga tangan lainnya menarik Sella hingga tubuh perempuan itu condong padanya.
"Aku lebih suka kau yang meledak seperti ini, bukan berpura-pura menjadi perempuan sok suci dan berhentilah Sella sok menjadi pahlawan" bisik Ardio tepat di telinga Sella.
Kedua bola mata Sella membola karena ketidaksopanan Ardio yang menarik tangannya di tambah lagi dengan ucapan Ardio yang mendiktenya.
"Kau tak bisa mengambil keputusan sendiri, dan apa yang kau pikir baik belum tentu orang lain bisa menanggapinya dengan baik." Lanjut Ardio.
"Itu bukan urusanmu!"
__ADS_1
"Itu sekarang menjadi urusanku Sella. Aku pernah mengingatkanmu, aku takkan melepaskan dirimu jika kau tak bahagia Sella"
Sella tersenyum mengejek mendengar kesimpulan Ardio tentang bahagia atau tidak dirinya. "Kau tau dari mana jika aku tak bahagia. Ini hidupku aku tau apa yang membuat aku bahagia, kau tak berhak menyimpulkan semaumu"
"Lalu apa yang kau lakukan sekarang, kau menyerahkan suamimu pada pria lain Sella!" hardik Ardio untuk mengingatkan Sella.
Sella menghela napas kesal. Pria di hadapannya memanggilnya hanya untuk membahas tentang keputusannya.
"Jadi, untuk inikah kau ingin menemuiku"
Ardio mengulum senyum, "kau pikir, aku memintamu menemuiku hanya karena pekerjaan atau kau ingin kita seperti dulu." Ujar Ardio sembari melirik tangannya yang masih merangkum tangan Sella.
"Lepaskan tanganku!" Sentak Sella baru menyadari, dia tak mencoba melepaskan genggam tangan Ardio ditangannya.
"Tidak mau!" Rajuk Ardio mengejek.
Sella mencoba meronta dan memukul tangan Ardio dengan tangan lainnya.
"Apakah kau tak pernah mencintainya?" tembak Ardio yang membuat Sella terpaku.
Perempuan itu seketika menghentikan pukulannya menatap tajam pada kedua bola mata Ardio.
"Itu bukan urusanmu!" jawabnya pelan dengan nada datar.
Tatapan Ardio dan suaranya yang menggetar membuat Sella risih, dia pun membuang mukanya dan mencoba lagi melepaskan tangannya dari genggaman Ardio.
"Lepaskan!" pinta Sella sedikit merengek.
Sella tak ingin menyahuti penuturan Ardio, yang dia fokuskan saat ini bagaimana segera, harus pergi dari ruangan ini. Tak sepantasnya dia bertemu Ardio, jika bukan karena alasan pekerjaan dia takkan mau menemuinya.
"Jika itu keputusanmu, aku akan menunggumu"
"Apa maksudmu"
"Bukanya kata-kata ini yang kau tunggu dari tadi" goda Ardio sembari memangku satu tangannya di dagunya, menatap Sella dengan pandangan jail.
"Kau kurang ajar! Kau telah menggoda istri orang" decak Sella kesal dengan sikap Ardio yang terang-terang ingin menunggunya.
"Salahkah aku menggoda calon janda. Sebentar lagi kau akan bebas dan aku tidak ingin didahului siapa pun."
"Apakah otak dan mulutmu itu tidak pernah dicuci. Seenaknya mengolok status orang"
__ADS_1
"Aku menunggumu untuk mencucinya"
Sella yang makin kesal dengan godaan Ardio, dengan sisa tenaganya dia menendang kursi Ardio yang berada dihadapannya. Membuat pria itu jatuh cantik ke atas lantai dengan berat hati dia melepaskan cengkeraman tangannya pada tangan Sella.
Andaikan Sella bukan milik orang lain, dia akan mengambil kesempatan tersebut, menarik tangan perempuan yang selalu menolaknya.
"Sella sakit," rengek Ardio. Sella tak mempedulikan pria itu dia mencoba melangkah pergi meninggalkan ruangan yang pernah menjadi saksi bisu hubungannya dengan Ardio.
"Ayo, kita akhiri." Ujar Ardio membuat langkah Sella terhenti.
"Baguslah kau mengerti, cepat urus masalah ini dengan manager-mu." Sahut Sella atas ajakan Ardio untuk mengakhiri kontrak kerjasama mereka, yang membuat Sella risih selalu harus berdekatan dengan Ardio.
"Bukan itu maksudku," ujar Ardio tiba-tiba merasa tidak percaya diri, suaranya terdengar berat. "Kita akhiri perang dingin ini, jangan menjauh dariku. Kita bisa mulai dari awal dengan berteman!" ajak Ardio dengan nada suara ragu. Perlu keberanian untuk dia mengajukan ajakannya pada Sella, meski dia tahu Sella akan tetap menolaknya setidaknya Sella tau apa yang menjadi alasannya selama ini untuk mendekatinya.
Untuk sesat Sella terpaku, menatap lekat pada pria yang pernah dia harapkan menjadi pendampingnya.
"Kau tau, alasan ketidak bahagianku adalah karena dirimu. Kau yang selalu mencoba mengawasiku dan menjadi bayanganku. Kau membuat aku tenggelam dalam masa lalu, mengingatkan akan dosaku padamu. Jika kau ingin melihatku bahagia, berhentilah mengawasiku, bebaskan dirimu. Carilah perempuan baik-baik dan menikahlah." tutur Sella dengan suara datar tanpa ekspresi.
"Tolong, bebaskan aku dari dosa masa laluku" pinta Sella lagi dengan tatapan sayu.
Ardio terpaku menerima kenyataan bahwa dialah sumber tidak kebahagian Sella. Dia sempat terpikir alasan kenapa Sella mengambil keputusan bodoh tersebut karena cinta mereka yang belum berakhir, tapi pada kenyataan karena sebuah penyesalan pada hubungannya di masa lalu.
Hanya karena penyesalan.
Gontai, kakinya mungkin berjalan terlihat tegap tapi hatinya hancur dan sendi-sendinya terasa nyeri, dia kuatkan menyeret langkahnya untuk meninggalkan ruangan yang pernah menjadi tempat yang paling indah dalam hidupnya.
Dia tau ucapannya terlalu kejam dan menyakiti Ardio lagi, tapi tak ada pilihan bagi Sella. Andaikan dia perempuan sempurna mungkin dia akan berpikir ulang menerima kesempatan untuk memperbaiki hubungan mereka. Tapi apa mau dikata kekurangan pada dirinya membuatnya merasa tak pantas untuk siapa pun.
Sesampai dalam mobilnya, Sella pun menangis tersedu-sedu melepaskan sesak yang coba ia tahan. Dialah yang menyakiti tetapi dia juga merasakan sakit itu. Air matanya pun makin deras dengan diiringi gerutuannya pada diri sendiri.
"Aku perempuan brengsek yang mengkhianati cintanya sendiri dan tuhan menghukumku, suamiku mencintai perempuan lain, dan hilangnya kesempatanku untuk menghadirkan seorang bayi dari rahimku."
-
-
-
-
-
__ADS_1
-