Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Akhirnya


__ADS_3

Ardio tahu, ia terlalu pagi untuk bangun. Tapi, hari ini adalah kesempatan langkah dalam hidupnya. Karena sebuah pesan singkat dari seseorang semalam yang ingin bertemu.


Kesempatan ini tak mungkin ia sia-sia kan, bisa menatap orang yang dia cintai. Siapa lagi jika bukan Sella.


"Yeah, akhirnya dia ingin menemuiku." Entah untuk berapa kalinya dia mengulang kata-kata tersebut.


Jika dia bisa protes, pasti dia akan mengajukan usul pada Sella agar mereka bertemu malam itu juga.


Nyaris, semalam matanya tak mampu ia pejamkan karena terlalu bersemangat memikirkan kata-kata apa yang akan dia dengar dari mulut Sella. Bahkan karena terlalu senangnya ia pun bersenandung semalaman menggambarkan suasana hatinya. Tentang betapa besarnya harapan dia pada Sella, mau menerima dirinya dan kembali merajut hubungan mereka.


Hanya itu yang terpikirkan oleh Ardio. Dia tak memperkirakan alasan lain mengapa Sella ingi menemuinya.


Senyum lelaki itu memudar saat sampai di tempat pertemuan mereka. Sella duduk bersama mantan mertuannya. Entah apa gerangan yang membuat mereka ingin menemui Ardio.


Ardio menyapa keduanya dengan ramah. Sella tampak tak peduli, sedangkan bunda Vano dengan antusias menyambut kedatangan Ardio. Perempuan paruh baya itu lansung saja mengajukan permintaannya pada Ardio dan menjelaskan apa yang harus dia lakukan.


Ardio hanya mengangguk dan ekor matanya tak lepas dari Sella. Hingga selesai pertemuan itu, perempuan itu tak mengucapkan sepatah kata pun.


Setelah kepergian Sella dan bunda Vano, Ardio menjatuhkan kepalanya ke atas meja, menyentak-nyentak gelas yang sedang dia genggam. Ardio begitu frustasi, bagaimana tidak, semuanya di luar harapannya.


Bams yang turut hadir tak lama dari kedatangan Ardio, tertawa lepas melihat tingkah temannya, apalagi wajah penuh harap Ardio berakhir dengan malang.


"Jika diibaratkan, kau dan Sella itu seperti menghitung di atas pasir" Ujar Bams sembari menyeruput minumannya, dia tidak menoleh tapi ekor matanya memperhatikan Ardio yang lansung berpaling menatapnya.


"Tak terhingga ...." Guman Ardio pelan, kata itu meluncur begitu saja menyahuti ucapan Bams. Menyadari hal itu Ardio tersenyum.


Bams menyeringai licik. "Bukan, kau seperti buang-buang waktu!" Sindirnya telak membuat senyuman Ardio luntur dari wajahnya.


"Sialan kau!!" Umpatnya sembari menoyor kepala Bams.


Bams hanya tertawa menikmati kekecewaan Ardio.


***


Vano telah berada di rumah, hari masih siang dan jam pulang kantor belum saatnya. Tapi pria itu telah duduk manis dengan segelas minuman dingin di atas meja. Allin yang terkesiap dengan keberadaan suaminya, menatap Vano penuh tanya.


"Begitukah, cara kau menyambut kehadiran suamimu" Tegur Vano sembari menyilangkan kakinya dan salah satu sepatu pantofelnya menghentak-hentakan lantai. Kepalan tangannya yang menopang rahang kekar menatap Allin dengan seringai iblis membuat Vano terlihat begitu angkuh.


Sudah lama Allin tak melihat sikap angkuh suaminya ini, entah angin apa mengubah suasana hati Vano berperilaku begitu.


Tangan Vano pun menepuk ruang kosong dikursinya, tanda perintah buat Allin segera duduk disampingnya.


Allin tak menjawab, dia hanya tersenyum mencibir menatap Vano. Dengan binar mata bahagia dia melangkahkan kaki menghampiri suaminya. Belum sempat dia mendaratkan pantatnya, Vano menarik tubuh perempuan hamil itu ke atas pangkuannya.


"Apa yang kau lakukan" protes Allin yang tak di gubris Vano. Pria itu menarik tangan Allin mendekatkan jemari istrinya itu ke mulutnya.


"Aku ingin memakanmu." Ujarnya sembari mengigit jemari lentik tangan Allin dengan gemas.


"Jemariku bukan makanan Tuan." Allin mencoba menarik jemarinya dari genggaman tangan suaminya tapi tenaganya kalah kuat. Pandangannya mengedar ke sekitar, sungguh dia tak ingin para pekerja dalam rumah besar ini melihat kemesraannya.


"Coba ulangi lagi!" Perintah Vano dengan tatapan tajam coba mengintimidasi Allin untuk mengulang lagi ucapannya.


"Jemariku bukan makanan, sayang." Ulang Allin penuh penekanan dengan wajah merengut.


"Itu baru benar" Ucap Vano penuh kemenangan.


Allin menatap kembali jemarinya yang berada di bibir Vano, sebuah logam putih bertatah permata melingkar di jari manisnya. Entah sejak kapan, benda cantik itu berada di jarinya.


"Kau curang!" Rengek Allin dengan mata berkaca menarik tangannya dari bibir Vano untuk menatap jemarinya. Baru sebentar tangan Allin menjauh, Vano menarik kembali tangan kecil istrinya itu di bawa kebibirnya, menghadiahkan sebuah kecupan hangat.


"Kapan kau memasangkannya, kenapa aku tak sadar?" Allin mensejajarkan wajahnya dengan mengubah posisi duduknya agar dapat dengan lekat menatap suaminya tersebut.


"Itu seperti perasaanku padamu ..., tak sadar ... sejak kapan berpindah kehatimu." Jawab Vano penuh penekanan


"Gombal!" Sangkal Allin, tapi wajahnya telah tersipu malu dan tak dapat mengelak sebuah senyuman terbingkai di wajahnya.


Vano tak menanggapi, dia makin dalam menatap Allin, istrinya mulai risih dengan sikap Vano yang tampak beda hari ini. Allin pun mengigit ujung bibir meredakan kecanggungannya, tatapan Vano telah mengunci geraknya membuat dia bingung harus bersikap bagaimana.


Ada apa dengannya hari ini? Apakah dia salah memakan sesuatu?


"Allin maukah kau hidup bersamaku selamanya?" Tanya Vano seketika, membuat Allin terkesiap, apalagi dengan tatapan Vano yang tak lepas menatap bola mata kecilnya. Suaranya terdengar dingin dan dominan, ini bukan permohonan tapi lebih ke arah keputusan yang tak boleh di bantah.


"Kenapa kau bertanya begitu? Bukankah kita sudah menikah" Allin balik bertanya, dia sedikit kebingungan dengan maksud Vano, dia pun seolah mengunci tatapan suaminya, dan menunggu penjelasan.


"Tapi aku tak pernah memintamu sebelumnya, sekarang izinkan aku meminta padamu." Vano memindahkan Allin dari pangkuannya, lalu dia berlutut di hadapan istrinya.


"Apa yang kau lakukan sayang" protes Allin dengan sikap Vano.


Seharusnya ini menjadi momen romantis bagi mereka, tapi mengingat mereka telah menikah dan telah melewati momen ini. Vano tidak peduli, dia tetap melakukannya berharap ini menjadi kenangan manis yang tetap akan di ingat sepanjang masa oleh istrinya.


"Maukah kau hidupku denganku selamanya ... dan mengulang lagi pesta pernikahan kita. Aku ingin menunjukkan pada dunia bahwa kau milikku" Ungkap Vano begitu tulus menusuk sanubari Allin dan mengalir begitu saja dalam darahnya, membuat terbitlah senyum manis di wajah perempuan hamil itu.


Tak seberapa lama, Allin menggeleng, tapi dengan cepat juga dia kendalikan saat raut muka Vano berubah kecewa saat tanggapan yang dia berikan. Vano membuang muka dari Allin, tapi istrinya itu menarik wjahnya untuk mereka tetap bersitatap.


"Kenapa kau tak mau?" Tanya Vano dengan nada kecewa.


Allin menunduk dengan kedua tangannya sudah menangkup wajah suaminya dan Vano mendongak dengan mata kucingnya.


Dia pandai sekali berakting, tadi dengan wajah iblisnya, sekarang dia seperti anak kucing sedang minta makan.

__ADS_1


"Bukan begitu, aku tidak terlalu suka dengan pesta. Bisakah kita mengadakan acara kecil-kecilan saja dalam rumah ini," pinta Allin selembut mungkin, dia juga tidak ingin mengecewakan hati suaminya.


Benar kata bunda Allin pasti menolak.


"Baiklah, mari kita luar" Vano menarik tangan istrinya membawa ke luar rumah.


"Sayang kita mau kemana?" Tanya Allin mengikuti langkah Vano.


Vano tak menjawab dia hanya mengedipkan salah satu matanya.


Mereka setengah harian berkeliling seolah Vano sengaja menjauhkan Allin dari rumah, dan beberapa jam mereka habiskan di salon, menonton dan setelah itu Vano membawa Allin ke sebuah butik gaun pengantin.


"Sayang buat apa kita kesini?" Tanya Allin heran.


"Membeli gaun sayang," tarik Vano pada tangan Allin, istrinya itu mematung di depan pintu butik dengan sorot mata kebingungan.


"Untuk apa?" Tanyanya sambil mengikuti langkah Vano.


Vano tak menjawab, dia meminta dua karyawan butik untuk membantu Allin memakai gaun yang telah dia pesan.


Bukan Allin namanya jika tidak bersikeras, ingin tahu alasan Vano. Menarik tangan suaminya, dan bertanya melalui matanya.


Vano menghela napas, terpaksa dia harus jujur pada Allin. "Bunda menyiapkan pesta kecil di rumah untuk kita"


Akhirnya Allin pasrah mengikuti kedua pelayan itu ke dalam ruang ganti.


Allin menatap dirinya di balik cermin, Ia tidak bisa menutupi, kalau kini dia merasa teramat bahagia. Ini bukan tentang gaun yang dia pakai, tapi bagaimana cara Vano dan keluarganya membuat dia merasa spesial. Ia bahkan tidak mampu menahan semburat senyum terukir diwajahnya.



Allin muncul dengan dua orang dibelakangnya yang telah membantu Allin memakai gaunnya dan merias sedikit wajahnya.


Vano terpukau dengan mulutnya sedikit menganga dan semburat senyum jail menatap Allin dengan tatapan fulgarnya, "kau cantik, rasanya ...," Allin sudah tau akan mengarah kemana lanjutan kalimat suaminya, belum selesai Vano melanjutkan ucapannya, Allin segera menutup mulut suaminya yang suka tak tau tempat.


***


Sepanjang perjalanan Allin tiba-tiba membisu, seollah-olah ada yang mencabut kebahagiaannya, senyumannya berganti menjadi raut cemas.


Vano hanya diam dan memperhatikan, akhirnya dia memutuskan untuk mencari tahu dengan bertanya, daripada dia bingung apa yang menggangu suasana hati istrinya yang telah merebut senyum istrinya.


"Sayang, apa yang membuat kau tiba-tiba tampak sedih?" Tanya Vano sembari menggenggam tangan istrinya dengan lembut.


Allin menggeleng.


"Allin, beritahu aku apa yang kau pikirkan"


"Tegar dan anakku." Ucapnya lirih dengan mata yang berkaca.


"Allin, maaf, aku belum bisa mengambil Tegar dari pria itu. Dia ayah biologisnya, sulit bagi kita untuk mengambilnya kecuali Mila dalam keadaan Sehat. Sebagai ibu kandungnya, dialah yang berhak atas Tegar"


Mila yang tergoncang jiwanya karena kehilangan Tegar, membuat keadaan mentalnya makin memburuk, memaksa perempuan itu melakukan pengobatan di rumah sakit jiwa, pastinya tante Mia dengan setia menemaninya. Allin sudah memaafkan kedua kerabatnya itu, dia di bantu Vano lah yang mengurus semua keperluan Mila dan tantenya.


Allin mengangguk mengerti tapi raut wajah sedih tak lepas dari wajahnya. Akhirnya Vano memutuskan memberitahu Allin.


Sekarang atau nanti sama saja, pikirnya.


"Aku sudah menemukan anak kandungmu. Sekarang dia berada di rumah" ucap Vano tanpa menoleh dan tetap fokus pada jalanan yang mereka lalui.


Allin menatap Vano tak percaya, tangannya pun gemetar menyentuh lengan suaminya. Agar Vano menatapnya dan dia ingin melihat lansung mata suaminya meminta kepastian.


Vano menatap Allin sebentar, mengangguk, kemudian fokus lagi pada kemudinya, dan menggenggam tangan kecil istrinya itu mengalirkan kehangatan.


Allin tertawa bahagia tanpa suara dan mengambil tangan suaminya dan menciumnya berkali-kali menunjukkan rasa syukurnya. Vano ikut merasakan haru itu, dia pun tersenyum senang melihat Allin yang tiba-tiba salah tingkah.


Allin terlalu bahagia, hingga perempuan itu tak mengeluarkan sepata kata untuk bertanya tentang bagaimana anaknya, dia terus memperhatikan pada jalanan berharap segera sampai dirumah.


Saat kendaraan Vano terpakir dengan sempurna, perempuan hamil itu dengan cepat keluar dan berlari masuk ke dalam rumah. Rumah yang tampak lengang, seperti tak ada penghuninya. Dia pun menyapu pandangan ke seluruh penjuru rumah, matanya tertarik oleh cahaya dari belakang rumah. Allin pun berlari menghampiri dengan membuka pintu belakang itu.


Teguran Vano agar Allin tak berlari pun diabaikan oleh perempuan hamil itu. Vano menyusul Allin dengan langkah besar sambil menggeleng-geleng.


Saat pintu belakang di dorong Allin. "Surprise!!" Ucap bunda dan beberapa pekerja dengan antusias, tapi Allin tidak peduli, matanya mengedar mencari sosok bayinya di kerumunan pelayan dan beberapa orang yang Allin tak kenal.


Sella menahan senyum melihat wajah kekecewaan bunda Vano yang sudah membuat surprise untuk Allin tapi hasilnya zonk.


Sesampai Vano didekatnya, Allin bertanya lagi. "Sayang di mana anakku?" Vano pun beralih menatap bunda. Perempuan itu merengut tidak suka menatap Vano, dia sudah menduga mulut anaknya itulah yang menggagalkan surprisenya, padahal dia sengaja sudah mempersiapkan semuanya dan mengundang beberapa artis merayakan hari spesial Allin.


Bunda dengan berat hati menunjuk pada kotak besar yang berada di depan kue tart yang tak kalah besar dengan kotak itu.


"Bunda apa yang kau lakukan!" Protes Vano, dia tak terima anaknya dimasukkan ke box besar berbentuk kotak kado itu. Bunda hanya membalas protesan Vano dengan cengiran dan sedikit rasa bersalah.


Vano pun menghampiri box itu tapi didahului Allin dengan tergesa-gesa dia membuka box tersebut. Dio lah yang berada di dalam box itu dengan mulut yang telah berlepotan cokelat dan sisa makanan.



Allin tersenyum melihat Dio, dan mengambil bayi tampannya ke dalam gendongan.


"Sayang dimana anakku?" Tanya Allin lagi.


"Dio lah anak kandungmu, sayang." Jelas Vano sembari memberi kecupan di puncak kepala Dio. Bunda dan Sella yang menghampiri ikut mengiyakan.

__ADS_1


"Apa?" Allin menutup mulutnya dengan tangan, terkejut dengan apa yang dia dengar. Matanya pun mencoba mencari kebohongan dari mata mereka tapi tak dia temukan.


Allin sendiri masih tampak seperti orang linglung, perempuan itu menatap kearah Vano dan bundanya bergantian sambil mengerutkan kening seolah otaknya kesulitan mencerna apa yang dia dengar.


Bunda tersenyum mengangguk, raut wajahnya meyakinkan Alin dengan matanya berkaca-kaca merasakan haru.


Namun, tentu saja Allin tidak percaya begitu saja dia tidak membiarkan dirinya hanyut bahagia lebih dulu tanpa alasan yang pasti.


Sella pun mengulurkan berkas pada tangan Allin.


Dengan menahan rasa haru dari dadanya yang berguncang hebat, Allin bergetar mengambil berkas itu dari tangan Sella. Vano pun mengambil Dio dari gendongan Allin.


Perempuan itu memusatkan pandangannya pada Dio dan berpaling lagi pada kertas yang berada di tangannya. Allin membalikan lembaran-lembaran kertas itu memeriksanya dengan saksama dia tak menemukan apa-apa kecuali keterangan biodata Dio dan surat-surat dari panti asuhan.


Dia membaca ulang lagi tulisan di kertas yang berada di tangannya takut melewati sesuatu, lalu ketika di lembar terakhir dia menemukan sesuatu yang sedari tadi dia cari. Kejelasan tentang siapa Dio melalui hasil test DNA, membuat air mata harunya mengalir dengan senyum mengembang, matanya tak kalah berbinar. Membuat rasa kosong dihatinya berapa hari ini, lenyap begitu saja seolah mendapatkan cahaya baru.


Ardio yang hanya diam mengamati sedari tadi, tak lama kemudian tiba-tiba dia ikut tersenyum dengan wajahnya bebinar nyaris berkilau dalam keremangan penerangan.


Lelaki itu seketika mendekatkan dirinya pada Allin dan Dio tetapi tangan seseorang menahannya, menarik tubuhnya untuk mundur hingga dahinya mengernyitkan kening karena heran, dengan sikap Sella.


"Biarkan mereka, tunggu sebentar! Berikan waktu untuk Allin menikmati momen kebahagiaan ini, kehadiranmu akan merusak suasana hatinya."


Ardio menatap tangannya yang sejak tadi di genggam Sella, perempempuan itu menyadari tatapan pria dihadapannya dengan cepat menarik tangannya, tapi Ardio dengan seringai licik tak melepaskan genggaman itu.


"Lepaskan Ar"


"Aku takkan melepaskanmu"


Pletak. Satu pukulan mendarat di tangan Ardio dari seseorang dibelakangnya, siapa lagi yang berani kurang ajar jika bukan temannya Bams.


"Dia belum boleh kau dekati, tunggu beberapa bulan lagi." Tegur Bams datar.


Ardio seketika melepaskan tangan Sella, sebelum itu, dia memperingati Sella, untuk tak jauh-jauh darinya. Sella menuruti perkataan Ardio begitu saja.


Bams makin menyeringai menatap Ardio dengan perlakuannya pada Sella. "Belum apa-apa kau seolah-olah telah mengklaimnya" Sindir Bams tapi tak di gubris oleh Ardio, dia lebih memperhatikan Sella yang masih tetap berdiri disampingnya. Ardio tersenyum karena itu.


Allin seketika mencium Dio berkali-kali di seluruh wajahnya, lelehan air mata dan cokelat bercampur di bibirnya. Bayi tampan itu seolah mengerti dia menghapus air mata di wajah mamanya.


Tak pernah terpikirkan oleh Allin, jika jalan takdirnya membawa dia kepada calon suaminya dan anak kandungnya. Allin mengucapkan rasa syukurnya pada tuhan menatap lekat pada kedua pria yang telah menjadi sumber kebahagiaan dalam hidupnya.


"Suprise bunda gagal karenamu" Gerutu bunda menatap kesal pada Vano. Membuat pasangan itu mengalihkan pandangannya pada perembuan paruh baya itu.


Allin tersenyum dan melemparkan tubuhnya ke dalam pelukan bunda, membuat perempuan paruh baya itu hampir terjatuh.


"Terimakasih Bunda atas kado spesialnya ...." Allin menguraikan melakukannya dari tubuh bunda, air mata bahagianya tak hentinya mengalir.


"Terimakasih juga, kau sudah hadir dan membawa kebahagian dalam keluarga kami." Balas bunda tulus sembari menghapus air mata Allin. Dan Vano mendekap istrinya dari samping memberikan kecupan di puncak kepalanya, beberapa bulir air mata turut menetes dari sudut matanya.


Sella datang menghampiri, "bolehkah aku ikut bergabung."


Allin tersenyum dan memberikan pelukan hangat pada Sella. "Terimakasih Mbak, bertemu denganmu adalah anugerah buatku meskipun kau orangnya menyebalkan!"


"Menyebalkan!!" Umpat Sella dalam hati. Jika dia tidak ingat, hari ini adalah hari spesia Allin mungkin dia akan membalas dengan ketus ucapan mantan babysitter anaknya.


Dari balik punggung Allin, Sella menatap Vano dengan sinis karena mentertawakannya.


"Kemarikan anakku!" Perintah Sella pada Vano. Mantan suaminya itu memberikan Dio pada Sella. "Nikmati pesta kalian, pinjamkan Dio untukku" Ucapnya sambil berlalu.


Sella berjalan mendekati Ardio membawa bayi tampan Dio untuk menemui ayah kandungnya. Beberapa langkah lagi Sella sampai di depan Ardio tapi dia sengaja memberhentikan langkahnya.


"Kenapa?" Tanya Ardio, dia ingin menghampiri Sella ditahan oleh kode tangan Sella.


"Matamu terlalu berbinar"



Sontak Ardio tersenyum sembari menggit bibirnya, kata-kata yang telah lama tak dia dengar dari mulut Sella. Mungkin dia dulu tak terima dengan alasan Sella menyukainya hanya karena matanya, untuk kali ini dia begitu merasa bahagia.


Dan dari kejauhan Vano melihat langkah Sella menuju Ardio membuat keningnya mengernyit heran.


"Kenapa sayang, kau cemburu?" Tanya Allin mengikuti arah tatapan suaminya pada Sella yang tengah tersenyum pada Ardio.



Vano seketika menggeleng, "kau yang sedang cemburu sayang." Tuduh Vano sembari menarik tubuh Allin mendekat padanya.


"Lalu?" Allin tak mengelak tuduhan suaminya itu.


"Kali ini, tatapan Sella tampak lain dari biasanya." Jawab Vano datar tak ingin istrinya cemburu lagi.


"Jangan bilang kau tidak tahu bahwa Ardio mantan Mbak Sella" Cecar Allin dengan lirikkan mata penuh tanya.


"Apa?" Vano spontan tak percaya dengan mata membola melihat Ardio dengan muka masam.


"Astaga, dua perempuan dalam hidupku pernah menyukai pria brengsek itu! Apa hebatnya pesonanya." Guman Vano tampak kesal.


Allin tersenyum melihat muka masam suaminya.


"Kaulah yang paling mempesona bagiku. I love you, sayang." Bisik Allin membuat Vano meleleh mendengar kalimat sakral dari istrinya.

__ADS_1


\_\_\_\_\_\_ TAMAT \_\_\_\_\_


__ADS_2