
Di kamar, Allin meminta pada Vano untuk pulang, dia merasa tidak nyaman melihat sikap Kakak sepupunya itu.
Dalam hati kecilnya, dia malu dengan tuannya atas perbuatan yang dilakukan Mila, sudah melampaui batas yang tak wajar untuk menggoda Vano.
Bagaimana pun juga, Mila tetap kerabatnya yang harus dilindungi martabatnya, Allin menganggap Mila khilaf.
Dia mencoba untuk berpikir positif tetapi tetap mengambil langkah antisipasi, jika apa yang di pikirannya itu salah.
Menjauhkan tuannya dari betina lapar.
"Kenapa kita buru-buru pulang Sayang?" Tanya Vano, saat Allin sedang merapikan pakaian dan peralatan mereka.
"Kau tidak lihat Tuan! Dio sudah merengek sejak awal kita datang, dia ingin pulang, aku kasihan dengannya" alasan Allin yang ada benarnya.
"Tetapi kita masih punya waktu setengah hari lagi untuk dirimu menghabiskan waktumu dengan Tegar"
"Tidak masalah, lain waktu aku akan bisa menghabiskan waktuku bersama Tegar" Dalam hati dia juga ikut sedih, tak seharusnya dia pulang secepatnya, untuk menghindari masalah baru yang tak dia inginkan, akhirnya dia memutuskan untuk pulang.
"Allin, bagaimana jika kita bahwa Tegar bersama kita pulang. Dia sekarang juga anakku. Dan aku bisa menyuruh Nanny Dio yang sebelumnya menjadi pengasuh lagi, buat membantumu menjaga Dio dan Tegar" bujuk Vano hati-hati, dia tahu Allin selalu tak mau di anggap nyonya di rumahnya. Vano juga sudah membujuk Allin untuk tidak memanggilnya Tuan. Tapi Wanita keras kepala itu tetap saja tak bisa di bujuk.
"Tidak Tuan, biarkan Tegar di sini, Tante Mia akan kesepian jika tidak ada Tegar" alasan Allin lagi, untuk meyakinkan tuannya itu.
Bagaimana bisa aku membawa Tegar tuan, sedangkan aku hanya persinggahan sementara untukmu.
"Kau tidak punya rencana lain kan" tebak Vano penuh selidik.
Is ..., kenapa dia pintar sekali menebakku, pikir Allin.
"Aku tak punya rencana apa-apa Tuan. Ayo kita pulang !" bujuk Alin mengalihkan pembicaran Vano.
"Seharusnya kau menerima tawaranku dengan senang Allin, tetapi nyatanya kau menolak. Bagaimana aku tidak curiga" Vano coba menarik tangan Allin untuk merapatkan tubuh mereka.
Allin menengadah melihat sosok jangkung suaminya yang berdiri menjulang di hadapannya, dia tersenyum semanis mungkin.
"Aku tau Allin dengan mode kucingmu itu. Jangan mengelabui diriku. Aku takkan melepaskanmu Allin, kau tak bisa bersembunyi dariku. Kau sekarang milikku" tekan Vano dengan wajah seriusnya.
"Aku tak bersembunyi Tuan, aku ada di hadapanmu."
"Aku Mencintaimu Allin dan aku akan menunggu jawabanmu itu. Meski aku perlu waktu yang lama untuk menunggu jawabanmu itu, aku akan tunggu Allin, untuk beberapa jam"
"Haa!!!" Allin terkejut, dengan lelucon garing suaminya itu.
Vano tersenyum
__ADS_1
"Itu namanya pemaksaan Tuan, aku pikir kau akan menungguku seumur hidup" ejek Allin.
"Cih, kau percaya diri sekali" ledek Vano.
"Iya. Kau yang membuat aku terlalu percaya diri. Karena itu, kau jangan terlalu manis padaku, biar aku tak lupa diri."
"Aku malah berharap kau lupa diri dan hanya mengingatku." sahut Vano sembari mencubit gemas pipi Allin.
"Kau menyebalkan tuan" cibir Allin dengan bibir mengerucut.
Vano tersenyum geli melihat tingkah perempuan di depannya itu dan rasanya dia ingin sekali melahap habis.
"Jangan coba mengerecutkan bibirmu itu pada orang lain. Apalagi dengan si Biang keladi itu." Tiba-tiba Vano membayangkan Allin mengerucutkan bibirnya pada pria lain, membuat dia kesal, dan mengingat teman Allin yang di taman.
"Astaga Tuan, kenapa kau bicara kemana-kemana. Namanya buka Biang keladi tapi B-I-A-N" tekan Allin perhuruf.
"Kau pandai sekali membuat aku emosi" ucap Vano geram sembari memanggul Allin seperti karung beras, lalu tangannya memukul pantat Allin dengan agak keras.
"Tuan lepas!! Kau menyakitiku" pekik Allin
"Berjanjilah kau tidak menemui pria itu" ancam Vano.
"Mana bisa, kita kan tinggal di satu komplek,
Seseorang mendengar di balik pintu. Amarahnya makin berkobar, entah apa alasannya.
Rasa iri dan dengki itu telah dia pupuk sejak kecil, seharusnya hubungan kekerabatan untuk saling merangkul, tapi tidak dengan dia. Dunia seolah berputar hanya tentang dia dan sepupunya, rasa ingin lebih dan terus, terus begitu, tak ada puasnya. Dia seolah berlari, tetapi dia tak menyadari bahwa dia masih di tempat yang sama, telah memakunya. Dia takkan bisa maju lebih, jika dunianya masih Allin sebagai acuannya. Iri dan dengki telah memborgolnya, menjadikan Allin sebagai pembanding hidupnya.
***
Mila tidak terima begitu saja.
Dia tahu, dia sudah kalah sebelum berperang. Vano terlalu teguh untuk ditaklukkan. Apapun bentuk status Allin sekarang, Allin menang karena dia adalah istri dari tuan Vano. Mila masih mencari cara untuk mendekati pria kaya itu di dalam benaknya.
Mereka berenam menyantap hidangannya dengan hening. Dio lagi-lagi memdominasi Allin, dia duduk di pangkuan Allin, tak mau di letakkan terpisah. Tegar dalam gendongan tante Mia.
Vano sesekali memperhatikan tante Mia, ada sesuatu yang membuat dia bertanya-tanya.
Ada sesuatu yang aneh, pikirnya.
Buku KIA berisi kesehatan ibu dan anak, di tumpukan buku di bawah meja nakas kamar Mila, yang dia temukan semalam yang membuat otaknya bepirkir dengan keras.
Awalnya niat Vano hanya ingin melihat perkembangan Tegar, tetapi mengapa dari buku panduan itu, umur tegar baru tujuh bulan lebih, berbeda dua bulan dari Dio, padahal kata Allin, anaknya berusia lebih besar dari pada Dio.
__ADS_1
Mungkin aku salah mengingat atau salah mendengar, pikirnya.
Tetapi Vano lebih curiga lagi saat Mila datang dengan gaun tipisnya berpotongan di antara perutnya. Saat perempuan itu ingin menggodanya Vano melihat bekas jahitan operasi di perutnya.
Mungkin dia operasi usus buntu atau bisa jadi lain, Vano lagi-lagi menyangkal.
Tante Mia juga begitu perhatian dengan Tegar dan juga begitu Mila, yang anehnya Mila menunjukan sekali sikap ke tidak sukaannya pada Allin. Kenapa dia bisa menerima Tegar kenapa tidak dengan Allin.
Mungkin Mila tidak seburuk yang dia pikirkan, sangkal Vano lagi.
Dari postur tubuh Tegar dan Dio, menunjukan Dio lebih tua dari Tegar, menurut masa perkembangan pun Dio lebih unggul dari Tegar.
Mungkin gizi Dio terpenuhi sehingga anaknya lebih unggul, pikirnya lagi.
"Hmm, Tante" panggil Vano begitu kaku. Dari kemarin dia belum menyapa sama sekali kepada bibi istrinya itu. Ada rasa canggung saat dia memanggil tante Allin itu dengan panggilan tante.
"Ya, ada apa Tuan" jawab tante Mia dengan ramah.
"Jangan panggil Tuan. Panggil Vano saja"
"Baiklah" tante Mia mengangguk.
"Tante bagaimana perkembangan Tegar menurut Bidan atau Dokter di sini" tanya Vano yang tak tahu Tegar itu biasa di bawa ke bidan atau ke dokter.
"Oh, Tegar sangat baik perkembangan, sesuai dengan buku panduannya" jawab tante Mia dengan senang dan antusias.
Sedikit curiga.
"Berapa bulan umur Tegar sekarang Tante" tanya Vano. Allin ingin menyahut Vano segera menyendokkan makanan ke mulutnya, sedari tadi Vano menyuapi Allin sambil menyantap makanannya, yang membuat Mila makin kesal.
Tante Mia tak lansung menjawab dengan cepat, tidak seperti tadi. Dia balik menanyakan pada Allin.
"Aduh Tante lupa. Allin Tegar berapa bulan ya?"
"Sembilan bulan satu minggu" jawab Allin dengan mulut penuh berisi makanan, tante mia mengiyakan dengan anggukan.
"Ooo ...." angguk Vano mengerti. Bahwa dia tak salah mencurigai tante Mia.
Jika Tegar benar anak Allin, usianya Sembilan bulan lebih, tetapi di buku KIA menunjukan Tegar baru berumur tujuh bulan lebih.
Jika tante Mia jujur bahwa Tegar tumbuh kembangnya sesuai dengan buku panduan itu. Maka Tegar yang berada di gendongan tante Mia benar berumur tujuh bulan.
Lalu mengapa Allin bilang anaknya berumur sembilan bulan lebih. Jika Allin lupa atau salah, mengapa tante Mia bertanya pada Allin.
__ADS_1
Vano akhirnya benar-benar curiga