
He: Cukup Mila sebaiknya kau jangan main-main lagi, jika kau masih nekat ingin mengusik lagi keluarga Fahrizi, aku enggan membantumu. Aku tidak ingin berurusan dengan Abraham, terlalu banyak rahasiaku yang dia ketahui.
Mila terlihat kesal membaca pesan singkat dari seseorang yang selama ini membantunya.
Mila: Jika kau tak membantuku, aku akan membeberkan semua kisah kita ke depan publik, itu akan menghancurkan reputasimu!
He: Kau ingin aku menggali kuburanku sendiri, berurusan dengan Abraham itu lebih menakutkan dari pada ancaman recehmu.
Mila membanting ponselnya karena kekesalannya
Dia sudah menduga akan kehilangan dukungan, saat ayah Sella berada di posisi Allin dan keluarga Fahrizi. Nama Abraham sebagai pengacara kondang di negeri ini yang sudah bergelut di dunia hukum dan perpolitikan sangat disegani, pria mulut dingin itu mampu menghancurkan nama baik lawan kliennya dengan sekali ketukan palu.
Mila terlalu gegabah, penyakit hatinya membuat dia berpikir terlalu dangkal. Adanya dukungan atau tidak, keluarga Fahrizi terlalu kuat untuk dia lawan. Awalnya, dia pikir apa yang dia lakukan pada Allin untuk memojokkan dan membullynya, takkan mempengaruhi keluarga Fahrizi, tapi kenyataannya keluarga itu dengan tangan terbuka sudah menerima dan menyayangi Allin.
***
Vano sibuk membuka laporan tentang Mila. Ternyata saudara sepupu istrinya pernah menjadi Sugar Baby untuk salah satu anggota pejabat. Dan bukti-bukti transfer yang masuk ke rekening Mila juga dari orang yang sama.
"Apa mereka masih berhubungan sampai sekarang?" Tanya Vano pada bawahannya yang sedang duduk tepat di hadapannya.
"Sepertinya tidak, Tuan. Maksud saya mereka hanya berkomunikasi secara tidak lansung, mengenai hubungan gelap mereka, menurut pengamatan saya hubungan itu telah berakhir jauh sebelum perempuan itu melahirkan."
"Apakah dia ayahnya dari Tegar," tanya Vano mencoba menduga.
"Kami belum bisa pastikan Tuan. Tetapi yang dapat kami pastikan, mereka berjumpa di tempat yang sama saat kejadian nahas yang menimpa bu Allin.
"Maksudmu?" tanya Vano heran.
Apakah pria itu ada hubungan juga dengan kejadian menimpa Allin. Batin Vano
"Anda bisa lihat sendiri di video itu Tuan."
Vano pun bergegas mengklik video di laptopnya.
Beberapa puluh menit sebelum Allin mengantarkan obat untuk Ardio ternyata Mila mengendap-ngendap masuk ke kamar Ardio dengan membawa sebotol minuman. Lalu lima belas menit kemudian Ardio masuk dan setelah sepuluh menit Mila pun ikut masuk ke dalam kamar Ardio. Tak lama dari Mila masuk terlihat Ardio mendorong Mila untuk keluar dari kamarnya.
__ADS_1
Dan beberapa menit kepergian Mila, Allin nampak mengetuk pintu kamar Ardio. Dari layar CCTV Ardio sudah terlihat berbeda ketika membuka pintu kamarnya dan tanpa di duga pria itu menarik Allin masuk ke kamarnya.
Vano saling bertukar pandang pada bawahannya, ada yang mengganggu di benaknya tentang di mana posisi Mila saat kejadian tersebut
"Di mana posisi Mila saat ini," tanya Vano menunjuk pada layar laptopnya.
"Dia tak jauh berada dari situ. Anda bisa klik video yang di bawah." Ujar bawahan Vano menjelaskan dan menunjuk posisi Mila saat kejadian.
Vano mulai mengepalkan tangannya, makin lama kepalan itu bergetar. Rasanya dia ingin mengumpat tapi pita suaranya tiba-tiba terasa tercekat melihat tingkah Mila yang diam-diam mengambil gambar kejadian tersebut.
Rasanya juga dia ingin masuk ke dalam video itu dan mendekap Allin dengan kuat saat melihat Allin keluar dari kamar Ardio dengan kondisi berantakan, apalagi melihat tatapan mata Allin yang begitu kosong berlinangan air mata. Membuat dada Vano sesak, merasa tak kuat melihat selanjutnya, dia menutup layar laptopnya dengan kasar.
"Terus selidiki perempuan licik ini dan cari bukti sebanyak mungkin tentang hubungannya dengan pejabat itu. Dan cari tau juga siapa ayah Tegar." geram Vano.
"Baik, Tuan"
"Dan bagaimana tentang keberadaan anaknya Allin" tanya Vano hampir saja melupakan hal yang penting tentang anaknya Allin.
"Tuan ...." Pria itu terdengar ragu, Vano memberi kode padanya untuk melanjutkan pembicaraannya.
"Tuan kemungkinan bayi itu Dio"
Vano tersenyum tipis, dalam hatinya dia mengaminkan perkataan bawahannya. Dia mengingat bagaimana pak Herman, supirnya, dulu mengira Allin Dio sangat mirip, saat itu dia sempat menyangkal dan tak ingin Dio disamakan dengan Allin.
Mengingat momen itu dia terkekeh geli tanpa suara. Anak buahnya yang masih berada dihadapan Vano mengernyit heran. Dia tak berani komentar, menatap wajah tuannya hanya berani sekilas lalu pria itu menunduk menatap laporan yang berada di atas meja.
"Bagaimana kau bisa mengambil kesimpulan Dio adalah anak Allin?" Tanya Vano mulai kritis menanggapi dugaan bawahannya. Dia tak ingin terlalu senang jika dugaan itu pada akhirnya salah.
"Kami mengikuti perempuan suruhan Mila, dia beberapa kali memasuki panti asuhan yang berbeda dari informasi yang sebelumnya yang kami dapatkan ..." Pria itu menjeda sejenak membalas tatapan penuh tanya atasannya sambil mengangguk.
"Kemungkinan perempuan itu telah berbohong pada Mila dan ibunya Mila. Dan tempat itu adalah panti asuhan yang sama Anda mengadopsi Dio. Kami pun mencoba mendatangi kepala panti menggunakan nama Anda, tapi ibu panti hanya memberikan sedikit informasi kepada kami. Dan ternyata perempuan suruhan Mila juga menanyakan bayi yang dia tinggalkan, tetapi pihak panti tak memberi informasi apa pun."
"Kenapa?" Tanya Vano heran.
Apakah pengaruh nama keluarganya tak mampu mengubah keputusan ibu panti untuk memberikan informasi sedikit saja mengenai informasi privasi panti.
__ADS_1
"Mungkin pihak panti mencoba mengantisipasi agar tidak terjadi perebutan antara orang tua kandung sang bayi dengan keluarga yang mengadopsi. Apalagi sampai melayangkan tuntutan yang akan merugikan pihak panti sendiri." Bawahan Vano mencoba membela sikap orang panti.
"Itu hanya asumsimu, kan"
"Ya, Tuan"
"Apakah tak ada yang mencurigakan dengan sikap orang panti"
"Tidak, Tuan. Mereka terlihat santai dan ramah"
"Lalu"
"Pertemuan pertama kami dengan ibu Panti memang tidak membuahkan hasil apa-apa, dia juga mencoba menghindar dari pertanyaan kami. Entah kenapa pada pertemuan kedua dengan sukarela dia memberi tahu bahwa anak yang di tinggal pada tanggal itu, keluarga Fahrizi lah yang mengadopsi."
"Kau yakin, Dio adalah anak Allin. Apakah pada hari itu tak ada bayi lain yang diadopsi."
"Ada, Tuan. Karena itu saya ragu ingin memberitahu ini kepada Anda. Dan saya tidak berani memastikan tuan kecuali dengan hasil test DNA yang cocok."
"Apa kau sudah melakukan test DNA?"
"Sudah Tuan, empat belas hari mendatang hasilnya akan keluar."
"Kenapa bisa begitu lama!!" Hardik Vano tidak setuju.
"Mengapa hanya mencocokkan DNA saja bisa begitu lama. Apakah mereka ingin membalas dendam padaku." Gerutu Vano tidak jelas.
"Maksud Anda Tuan?" Bawahan Vano kebingungan dengan apa yang bicarakan atasannya.
"Aku menghentikan dana bantuan dari perusahaan kita ke pihak rumah sakit"
Pria itu makin menggeleng tidak mengerti. Setaunya perusahaan selalu mengutamakan dana bantuan untuk rumah sakit tersebut.
"Karena mereka sengaja menahan anakku lebih lama di dalam perut istriku"
Astaga, Tuan. Apa maksud perkataanmu? Aku benar-benar gagal paham. Bagaimana caranya pihak rumah sakit menahan anak anda untuk lahir.
__ADS_1
Pria itu hanya menggaruk kepalanya frustasi mendengar penjelasan tuannya.
Apa aku yang salah menjelaskannya. "Maaf Tuan" ucapnya lirih penuh penyesalan.