
"Dia baru beberapa bulan kerja di sini. Bu Sella memperkerjakannya untuk menjadi ibu susu buat Dio. Nah, di kesempatan itu dia menggoda tuan Vano, bisa saja dia sengaja mempertontonkan asetnya atau tubuhnya di hadapan tuan Vano."
Dari pencahayaan ruangan, perempuan itu hanya mendengarkan berdiri bersandar di dinding dengan tangan meremas ujung bajunya. Dan dua pelayan di rumah suaminya sedang menggosipkannya. Allin hanya diam, dia ingin tau apa yang ada dalam pikiran busuk mereka. Meski dia harus menahan gejolak di dadanya yang ingin meledak dan membalas ucapan ke dua pelayan itu.
"Kasian bu Sella"
"Iya, dia perempuan tak tau diri yang sudah mengkhianati bu Sella"
"Lalu kenapa bu Sella pergi dari rumah ini"
"Perempuan mana yang bisa tahan jika dia di madu, apalagi sama pelayan sendiri"
"Kenapa aku jadi ikutan kesal ya, aku pikir dia nyonya di rumah ini, ternyata dia pelakor"
"Benar dia pelakor, kau tak perlu terlalu hormat dengan perempuan itu"
"Tapi, sepertinya tuan Vano sangat mencintainya, aku takut dia akan memecatku jika tidak hormat pada istrinya"
"Tuan Vano tidak mencintainya, dia hanya menginginkan keturunan dari perempuan itu"
"Kau yakin?"
"Beberapa hari sebelum kau bekerja di sini, tuan Vano sudah menceraikannya"
"Lalu kenapa bu Sella yang pergi"
"Karena perempuan itu pura-pura pingsan di depan gerbang, dia membuat keheboan mencari perhatian keluarga tuan Vano, dan sialnya lagi ternyata sedang dia hamil. Nah, itu membuat tuan Vano mengurungkan niatnya. Kan, tidak mungkin dia membiarkan calon anaknya lepas dari jangkauannya."
"Apakah sejak itu bu Sella pergi"
"Iya, paginya bu Sella pergi, meninggalkan rumah ini"
"Apakah orang tua tuan Vano merestui hubungan mereka"
Pelayan itu mengangguk. "Ya, karena itu para pelayan di rumah ini terlihat menghormatinya, padahal kami hanya pura-pura."
"Mungkinkah keluarga tuan Vano kena magic"
"Kurasa begitu, di bandingkan bu Sella
perempuan itu tidak ada apa-apanya."
"Kasihan bu Sella, suaminya di rebut oleh seorang pelayan dan janda pula"
"Hush ...! Dia bukan janda"
"Lalu"
__ADS_1
"Dia hamil luar nikah dan melahirkan anak haram"
"Apa?"
Haram, mendengar perkataan busuk mereka tentang anaknya, membuat Allin tak tahan, perempuan itu akhirnya keluar dari persembunyiannya.
"Apakah kalian sudah puas membicarakan diriku?" Allin berjalan menghampiri mereka, langkahnya begitu tegap, dadanya membusung dan dagunya pun terangkat seolah dia ingin menunjukkan bahwa dia nyonya dalam rumah ini.
Detik itu juga mata kedua pelayan terbuka lebar bersamaan dengan tangannya menutup mulut kotornya.
"Maaf bu, kami tidak membicarakan ibu. Iya, kan" sangkal salah satu pelayan yang sedari tadi memprovokasi temannya.
Pelayan yang satu lagi hanya mengangguk, menyetujui apa yang di katakan temannya. Tetapi wajahnya telah memutih ketakutan, di bandingkan temannya dia terlihat sekali begitu gusar.
Allin tersenyum sinis memandang ke dua pelayan itu. Dia berdecih dalam hatinya.
"O ..., begitu! Tolong jangan panggil saya ibu! Dan saya belum setua kalian, panggil saya 'Nyonya', kalian mengerti" Allin tau perempuan ular seperti mereka pandai menjilat, dari pada berdebat dengan mereka hanya membuat dirinya tampak lemah.
Pikir Allin, dia takkan mampu membuat mereka menutup mulutnya dan tak menggosipkannya lagi. Jika dia menegur pun hanya untuk sementara dapat membungkam mulut mereka. Menyudutkan mereka dan menunjukkan siapa dirinya dalam rumah ini, itu cukup baginya.
"Baik Nyonya" sahut mereka bersamaan. Senyuman mereka di perlihatkan sangat manis.
Ternyata mereka bukan seperti ular saja, tetapi seperti anjing kampung yang hanya berani menggonggong dalam kandangnya.
"Dan satu lagi tolong bersihkan mulut kalian, mulut kalian busuk mengganggu penciuman saya. Kalian tak inginkan membuat pewaris Fahrizi yang ada dalam perut saya, merasa tak nyaman" sindir Allin angkuh dengan tangannya mengipas-ngipas di depan hidung.
Allin menggeleng tak habis pikir, hanya satu tepukan mulut mereka diam membisu.
***
Tatapan lelaki itu tak lepas dari gambar yang dia pegang. Dia tersenyum manis, membuat temannya jengah melihat sikapnya.
"Apa yang kau lihat?" pria itu menarik gambar yang di pegang temannya itu.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau menatap gambar ini sambil tersenyum" temannya itu menatap dengan tajam dengan nada suara tidak suka dan sesaat kemudian dia melanjutkan lagi yang ingin dia katakan. "Apa sebegitu frustasinya kau dengan Sella, hingga kau merubah haluan!" ejek temannya dengan berdecak.
Pria itu hanya tersenyum sinis memperhatikan tebakan konyol temannya yang sedang berdiri di hadapannya.
Bams, teman Ardio. Pria itu makin kesal pada Ardio yang tidak menyahuti pertanyaannya.
"Jelaskan?" tanya pria itu menggebu dengan sorotan mata meremehkan dan kedua tangannya bertengger di pinggang.
"Apa yang harus aku jelaskan?" jawab Ardio tampak santai, dia tidak peduli dengan sikap bossy Bams yang ingin mengintimidasinya.
"Gambar ini"
"Kepo!!"
__ADS_1
"Ar!! Jangan bilang kau ingin menikahi perempuan ini karena ada anak di antara kalian"
Raut wajah Ardio seketika berubah. Pria itu tak pernah terpikirkan ke arah situ, dia hanya ingin menemui perempuan itu dan meminta maaf sekaligus ingin bertanggung jawab.
Tapi tanggung jawab apa yang dia maksud.
Pria itu baru menyadari, dengan cara apakah dia harus bertanggung jawab.
Pikirnya dengan meminta maaf dan ganti rugi yang biasa dia lakukan pada rekan kerja saat terjadi konflik, takkan dapat di terima oleh perempuan itu.
"Jika aku bertanggung jawab, apa yang harus aku lakukan"
"Kau bisa memberi kompensasi dan memberikan tunjangan buat dia dan anaknya"
"Kau pikir dia menerima begitu saja"
"Lalu kau ingin apa? Kau ingin menikahi? Ingat Ar, dia sudah menikah"
Cih! Jika berhubungan dengan Sella dia pura-pura lupa. Aku atau dia-kah yang menyukai Sella, batin Ardio.
"Dan ingat juga, dia tak perlu uang, suaminya konglomerat" balas Ardio.
"Kau beruntung pada posisi ini Ar, kau tak perlu menikahinya dan tak perlu memberi uang kompensasi untuknya"
"Cih, lagi-lagi kau hubungkan dengan uang!"
Laki-laki itu hanya mengangkat bahunya.
"Jadi karena iti kau tersenyum terus melihat gambar perempuan ini, kau membayangkan akan menikahinya.
"Bukan begitu"
"Lalu apa?"
"Dia" tunjuk Ardio pada gambar bayi yang berada di pangkuan perempuan itu.
"Kenapa dengan anak ini"
Ardio tiba-tiba tampak malu, wajahnya memerah dengan suara lirih dia memberikan alasan pada temannya, mengapa sedari tadi dia tersenyum. "Nama anak ini Dio Pamungkas dan Sella-lah yang memberikan nama anak ini"
"Astaga!! Hanya karena itu kau tersenyum dan mukamu memerah" ejek Bams menggeleng.
"Dasar KUMAN" umpat Bams.
"Apa itu?"
"KUtunggu janda Mantan"
__ADS_1
"Sialan!"