
Perempuan itu duduk sendirian di meja makan, kakinya bersila di bangku dan kedua tangannya pun ikut besilang di atas meja dengan dagu menumpuk. Bibirnya mengerucut, hatinya terus mengumpat dan matanya tajam menyala menatap lurus ke halaman belakang rumah.
Taman belakang itu memang sangat nyaman untuk bersantai, adanya pepohonan yang rindang dengan rerumputan yang sudah terpotong rapi bak permadani, membuat Dio senang bermain di situ di temani papinya dan seorang babysitter.
Sesekali terpaan angin membelai wajah mereka atau menerbangkan helaian rambut panjang milik pengasuh bayi itu. Dengan gerakan lemah gemulai pengasuh itu menyelipkan helaian rambutnya dan tersipu malu menatap sang majikan yang berada di hadapannya.
Pria itu hanya membalas tersenyum lalu dia mengulurkan sebuah ikat rambut untuk pengasuh bayinya. "Pakai ini!" perintahnya.
Sedangkan perempuan yang berada di meja makan makin mengumpat kesal, "dasar pria tua mesum!" mulutnya tak hentinya menggerutu. Dia tidak terima dengan perlakuan suaminya yang memberikan perhatian dan sebuah ikat rambut pada pengasuhnya.
Matanya fokus ke depan dan tangannya memainkan garpu, menusuk-nusuk alat makan itu ke meja.
Ini bukan jam makannya, tetapi dia terus duduk di bangku itu memperhatikan sesuatu yang tidak dia suka dengan raut wajah yang sangat kesal. Pikir seorang pelayan melihat majikan barunya itu dan tanpa di pinta dia menyuguhkan sepiring potongan buah segar. Perempuan hamil itu tak mengucapkan terimakasih dia fokus pada piring buah dan menyeringai sembari menusuk buah itu dengan hentakan kasar.
Sudah satu minggu perempuan hamil itu dan Vano tidak bertegur sapa, apalagi sejak kejadian terakhir suaminya malah menghindar darinya. Kesal dan marah itu jelas sekali tampak di raut wajahnya.
Pria itu melirik sekilas dari kejauhan tetapi dia pura-pura tidak peduli dan tetap saja asyik bermain dengan anaknya di temani sang babysitter. Bundanya beralasan Allin tidak boleh kelelahan, apalagi umur kandungannya yang masih mudah membuat bundanya mencari babysitter baru untuk membantu istrinya.
Sedangkan perempuan hamil itu saat pertama kali mengetahui keberadaan babysitter itu dia terlihat kesal tetapi tak mampu berkomentar. Dia menyimpan kekesalannya di dalam hatinya. Waktunya bersama Dio terenggut oleh babysitter baru itu hampir dua puluh empat jam dia menemani Dio.
Perempuan hamil itu makin cemburu memperhatikan mereka dengan lekat, Vano dan Dio tertawa riang di temani sang babysitter yang selalu mayahuti obrolan Vano dengan perkataan manis dan sopan.
"Dasar penggoda!" umpatnya di dalam hati.
Menurut pengamatan perempuan hamil itu sang babysitter itu sedang mencari perhatian pada suaminya, apalagi melihat polesan wajah dan bibir babysitter itu yang merona dengan warna merah menyala.
"Dia memang cantik" akui perempuan hamil itu dengan pandangan tidak suka, bibirnya sedikit terbuka dengan gemeretak gigi yang saling beradu, dia terlihat marah dan kesal.
Lalu perempuan itu mengambil ponsel dari kantong bajunya, dia menggeser layar ponselnya dengan cepat, hanya berapa kali jemari itu mengetuk pada layar ponselnya, benda kecil itu sudah berada di telinganya.
"Hallo" seseorang menjawab dengan malas di ujung sana.
"Ya hallo. Kenapa kau mengirim perempuan itu untuk menggantikan aku" pekiknya
Seseorang di sana menjauhkan ponselnya dari telinganya. "Apalagi maunya?" batinnya. "Kenapa, kau tiba-tiba marah"
"Ya, karena babysitter yang kau kirimkan itu, membuat anak dan suamiku mengabaikan diriku"
"Kau tidak salah, bukannya kau sendiri yang mengabaikan suamimu. Pertahankan saja gengsimu itu, terus marah dan ... " gerutu seseorang jauh di sana, dia tersenyum tipis dan tak melanjutkan kalimatnya. Dia sengaja membuat lawan bicaranya terpancing emosi dan menebak lanjutan kalimatnya.
__ADS_1
Allin terdiam mendengar ucapan lawan bicaranya yang menyudutkannya, tetapi memang dialah yang sebenarnya yang membuat keadaan tidak mengenakan ini.
"Mbak Sella!!" rayu Allin, dia sudah terpojokkan dan tak mungkin dia memprovokasi mantan majikannya, dia mencoba mengalah.
"Cih, mulai lagi kau"
"Aku kesal sekali pada babysitter itu, dia mencoba menggoda suamiku" rengeknya tanpa rasa malu.
"Mungkinkah itu karmamu!" tuduh mantan majikannya itu.
"Aku tidak pernah menggoda suamimu" sangkalnya tidak terima.
"Lalu apa mau-mu?" Sella mulai jengah tetapi dia tetap mendengarkan perempuan hamil itu bicara.
"Bisakah kau membujuk bunda untuk mengganti babysitter itu atau kau bisa katakan pada bunda bahwa aku sudah cukup untuk menjaga Dio"
"Dia mertuamu! Kenapa harus aku yang membujuknya. Dan itu bukan urasanku"
"Dia mertuamu juga. Kau belum resmi bercerai dengan tuan Vano"
"Lihat dirimu, kau masih memanggil suamimu dengan panggilan tuan, tetapi denganku, kau begitu kurang ajar"
Seketika Sella mengulum senyum, dia tersentuh dengan ucapan itu tetapi dia mencoba menyangkal. "Aku tidak suka dan kau merepotkan"
"Wajar seorang adik merepotkan mbaknya" rengek Allin.
"Astaga kau ini, aku menyesal sudah pernah menyuruhmu menganggap aku sebagai kakakmu. Sekarang, lihatlah kau selalu menyusahkan dan sebentar-bentar mengadu" protes Sella
"Mbak Sella" bujuknya lagi, dia tak peduli dengan lawan bicaranya yang mulai kesal, dia malah makin menjadi merayu dengan nada suara manja.
"Tidak!"
"Lalu kenapa kau membawa dia ke sini"
"Aku hanya membantu bunda untuk mencarikan pengasuh buat Dio, menurutku dia pilihan yang terbaik. Dia baik, sopan dan begitu santun. Kau tidak mendengar bagaimana lembut suaranya ketika bicara tidak sepertimu" sindir Sella sengaja memprovokasi Allin, dia tau pengasuh itu berlawanan karakter dengan diri Allin.
"Kau ingin balas dendam denganku ya?" tuduh Allin.
"Anggap saja begitu" Sella mengiyakan dengan acuh.
__ADS_1
"Dasar kau rubah licik!" umpat Allin.
"Ternyata aslimu kau perlihatkan juga" batin Sella.
"Terserah padamu kau ingin mengumpat aku apa saja, tapi urus dirimu dan suamimu itu sendiri. Jika kau tak sanggup, biarkan saja babysitter itu menggantikanmu"
"Tidak, tidak akan kubiarkan"
"Kau seperti trauma saja, yang mengalami kehilangan suami itu aku Allin, bukan kau!" sindir Sella.
"Pengalaman mengajarkan seseorang meski bukan aku yang mengalaminya, setidaknya aku bisa memetik pelajaran dari pengalamanmu"
"Cih, kau tidak tau malu, kau dan perempuan itu berada posisi yang sama. Jika kau hanya diam saja melihat kedekatan suamimu, ya kau harus bersiap buat kehilangannya" Sella makin memprovokasi Allin.
"Ya kau betul! Aku takkan sepertimu"
"Memang kenapa dengan diriku" tanya Sella tidak suka.
"Tidak, tidak kenapa-kenapa" jawabnya mengelak dengan nada suara pura-pura polos. Panggilan itu pun berakhir, dia putus tanpa kalimat penutup.
"Menjengkelkan!!" umpat Sella.
***
Perempuan itu berjalan dengan tegap melangkah ke pintu belakang, sesampai di taman belakang dia mulai ragu. Pemikiran untuk melangkah mundur sepintas menghantuinya, tetapi mendengar suara renyah tawa orang di hadapannya makin membuat dia makin teguh.
Langkahnya kembali tegap, dadanya pun dia busungkan ke depan, raut wajahnya dia pasangkan sedatar mungkin. Tak cukup waktu lama dia mengambil Dio dari hadapan mereka.
Vano dan pengasuh itu menengadah memperhatikan Allin dengan lekat.
"Aku ingin main dengan Dio" jawabnya pura-pura acuh dari tatapan keterkejutan Vano dan pengasuh itu.
Dia menggendong bayi itu dan melangkah pergi meninggalkan mereka. Di dalam hati perempuan hamil itu dia berseru, "ayo susul aku! Ayo susul aku," penuh pengharapan.
Langkah kakinya mulai gontai dan matanya mulai tidak fokus ke depan sesekali dia melirik ke samping dan pendengarannya dia tajamkan berharap langkah suaminya mengikuti.
Tapi harapan ya tinggal harapan, suaminya malah terlihat santai dan asyik bercengkerama dengan pengasuh itu.
Perempuan itu membalikan badan menatap tajam ke arah suaminya, pria itu pura-pura tidak melihat, padahal sedari tadi dia menahan senyum melihat raut kekesalan istrinya.
__ADS_1