
Vano keluar kamar berjalan diantara remangnya penerangan ruangan. Rumah ini tidak terlalu besar hanya beberapa langkah dia sudah sampai di pintu kamar Allin.
"Allin, Allin, buka pintunya" suara khas Vano terus mengulang panggilan, diikuti ketukan pada pintu kamar.
Allin membuka pintu dengan rasa malas. "Tuan, ada apa?" pelan, suara Allin terdengar berat, karena rasa kantuk yang masih menguasai matanya.
Vano mengatur napas, mencoba memasang wajah manisnya, dan perlahan dia mendorong Allin lebih jauh masuk ke dalam kamar.
Vano mengikis jarak antara mereka, sedang Allin merenggangkan jarak, mundur satu langkah ke belakang.
"Tuan" Allin memperingati Vano yang makin merapatkan tubuhnya.
"Hmm" jawab Vano tidak peduli peringatan istrinya. Dengan gerakan lambat dia merangkul pinggang istrinya, menyenderkan kepala pada bahu Allin.
"Kau kenapa kesini?" tanya Allin lembut seraya mengelus pundak suaminya.
Allin mengerti saat seperti ini, dia tak boleh memprovokasi emosi Vano. Sedikit, dia telah mengerti watak suaminya itu. Dia akan mudah sekali marah ketika saat dia ingin di manja, tetapi dia di tolak.
"Aku ingin tidur di sini" bisiknya.
Allin menguraikan jarak di antara mereka, untuk menatap suaminya itu.
"Tetapi kamarmu sudah di sediakan di sebelah, Tuan." Allin mencoba memberi pengertian.
"Aku tahu" dengan mata kucingnya.
"Cih, kenapa dia begitu manja sekali. Dan dia pintar sekali meniru tingkahku" batin Allin.
Allin memperhatikan ke dalam bola mata Vano yang penuh harap, agar dia di izinkan untuk tidur di kamar Allin. Tetapi Allin tetap pada pendiriannya, bagaimana cara mereka berbagi tempat tidur, itu tidak mungkin, pikir Allin, anak-anak butuh tempat yang luas untuk mereka bisa nyaman terlelap.
"Kembalilah Tuan. Ranjang ini terlalu kecil untuk kita berempat" tunjuk Allin pada ranjangnya yang hanya berukuran 120*180 itu.
"Aku akan tidur di bawah" tunjuk Vano ke lantai.
"Tidak Tuan, kau bisa sakit." Allin coba memperingati.
__ADS_1
"Kalau begitu biarkan aku tidur di ranjangmu. Kita bisa saling berpelukan untuk mengurangi tempat." sahut Vano begitu manja.
Allin menggeleng. "Tidak Tuan, sebaiknya kau kembali" Allin mendorong tubuh Vano keluar dan Vano membiarkan tubuhnya terdorong.
"Kau yakin membiarkan suamimu sendirian" pancing Vano dengan mata memperingati.
Allin mengernyitkan dahinya, menatap tajam pada suaminya. Mencoba menelaah ucapan suaminya. Tapi melihat lagi ke ranjang. Ranjang itu memang terlalu kecil buat mereka berempat tidur. "Bukan begitu, kamar ini terlalu kecil untuk kita berempat. Kau harus kembali ke kamarmu Tuan" bujuk Allin
"Baiklah, jangan salahkan diriku, jika seseorang menemaniku tidurku malam ini" ucap Vano tenang sembari keluar dari kamar Allin.
"Kenapa dengan dia?" batin Allin.
Setelah pintu kamar itu ditutup, Vano menyeringai.
"Kita lihat Allin, apa yang nanti kau lakukan?"
Tak perlu waktu yang lama. Allin mengangkat Tegar terlebih dahulu membawa bayi kecil itu ke kamar sebelah. Dia memutar handle pintu itu yang tak terkunci, Vano yang sedang duduk di atas kursi kayu dan bersender pada dinding sembari memainkan ponselnya, hanya melirik sekilas pada Allin dan kembali lagi pada layar ponselnya.
Allin tanpa permisi meletakkan bayi Tegar, dan dia kembali lagi ke kamarnya membawa Dio dan bayi itu juga dia letakkan di atas ranjang ukuran big size itu. Ini kamar Mila, kamar yang dua kali besar dari kamar Allin, kamar ini juga menyediakan pendingin ruangan, tidak seperti kamarnya hanya kipas baling-baling tergantung di atas ranjangnya, yang kadang suaranya terdengar berisik.
Vano menatap Allin dengan menahan senyum, melihat raut kaku dan canggung terpampang di wajah istrinya yang meliriknya dengan rasa malu.
"Tidak, kamar sebelah terlalu panas buat kami bertiga, jadi aku pikir kamar ini lebih baik untuk kami" alasan Allin begitu antusias seraya mengitari bola matanya menyisir ruangan kamar. Lalu dia mengangguk-angguk seolah membenarkan ucapannya sendiri.
"Kau ingin aku tidur di kamar sebelah" tanya Vano sembari menurunkan kakinya dari salah satu pahanya, dia ingin menggoda Allin yang sok jual mahal. Vano tahu Allin kesini karena rasa cemburu yang Vano tadi sempat uraikan.
"Tidak" dengan cepat Allin menjawab. "Kau akan ke panasan jika tidur di kamar itu, lebih baik kita tidur di sini saja" ucap Allin sembari mengelus ranjang itu.
"Lihatlah ranjang ini besar, empuk, dan di sini ada pendingin ruangan. Disini lebih baik dari kamar sebelah" rayu Allin meyakinkan Vano.
Kedua tangannya tetap mengelus ranjang itu, membuat pola seperti gerakan perenang mengarungi kolam, mencoba memberi tahu Vano bahwa ranjang ini besar dan lebar Tuan.
Tapi bagi Vano gerakan Allin seperti memanggil untuk menggodanya.
"Kau menginginkan di sini Allin" ucap Vano begitu ambigu membuat Allin menghentikan gerakannya.
__ADS_1
Seringai Vano menyadarkan Allin bahwa suaminya itu sudah salah menyikapi gerakan yang dia lakukan.
"Mesum! Selalu saja mengarah ke situ" cemberut Allin sambil mencibirkan bibirnya.
Vano terkekeh melihat Allin sudah kembali seperti semula, rasa canggungnya sudah hilang.
"Aku ini suamimu sayang" goda Vano sambil menghampiri Allin lebih dekat.
"Ya, suamiku yang mesum" sahut Allin sembari tangan Allin bergerak menuangkan air di teko ke dalam gelas, tetapi Vano menghentikannya.
"Tolong ganti airnya ya" perintah Vano.
"Kenapa?" tanya Allin bingung, dia tau air teko ini baru di letakkan kak Mila saat mereka ingin tidur.
"Aku tadi membukanya, lalu debu kamar ini tiba-tiba menghambur ke dalam" alasan Vano yang terlalu di buat-buat.
Ruangan ini bersih dan wangi, seolah sudah di persiapan dengan baik. Allin mengitari ruangan, dia tidak melihat ada tumpukan debu di atas langit-langit kamar atau ke bagian lain.
Demi menghormati suaminya. Allin tak memperdebatkannya, dia pergi ke dapur mengganti isi teko itu dengan air minum baru.
***
Dentingan suara jam menunjukan tengah malam.
Klek ....
Handle pintu berputar, gerakannya sangat lambat. Tapi telinga Allin terlalu peka, ia seketika terjaga.
Vano mengeratkan pelukan. "Tidur Allin, abaikan saja!" perintah Vano dengan mata tertutup. Vano terlihat santai, seperti sudah menduga.
Allin bergerak sedikit mencari celah di antara lengan Vano, melihat ke arah pintu, untuk mengintip siapa yang masuk.
Seseorang mengintip di balik pintu, matanya melebar, melihat ranjang sudah penuh terisi. Dia juga melirik ke atas meja nakas, wajah tidak suka sangat jelas sekali di tangkap oleh mata Allin yang sedang memperhatikannya.
Allin tersenyum kemenangan, tetapi dia tidak menduga kakak sepupunya itu begitu licik.
__ADS_1
"Kenapa pintu itu bisa terbuka, aku yakin pintu tadi aku kunci" guman Allin yang terdengar oleh Vano.
"Ayo tidur" ajak Vano yang tidak terkejut sama sekali.