Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Tawaran Mila


__ADS_3

Alin pun melangkah menuju kamar mereka, dia mencoba menghindar dari pertanyaan Vano.


Tapi tak lama kemudian dia menghentikan langkahnya menoleh ke belakang, ketika tak merasa ada gerakan langkah Vano, tak terdengar mengikutinya. Dia pun mengernyit, membuat gerakan tangan mengajak Vano ikut masuk ke kamar.


Vano yang tengah membeku, karena benaknya sedang berpikir tentang perkataan Sella dan Allin yang penuh tanda tanya membuat dia penasaran.


"Sayang, sini cepat masuk!"


Mendengar panggilan manis itu, lansung saja kaki Vano bergerak dengan cepat menuju Allin yang sedang menantinya di depan pintu kamar.


"Kau memanggil apa barusan?" Tanyo Vano menggoda Allin.


Seketika saja Allin menunduk malu-malu dan melangkah cepat masuk ke kamar. Lucu tapi mendebarkan, rasanya ada satu ikatan yang sudah dia coba untuk lepaskan satu persatu, untuk menerima kehadiran Vano sepenuhnya dalam hidupnya.


Allin memberanikan diri melangkah untuk mempertahankan suaminya, ia tak ingin ada penyesalan dalam hidupnya, meski ia harus menghadapi Sella yang tak terbaca, yang sikapnya selalu penuh misteri.


"Sayang" panggil Allin masih terdengar berat, saat Vano mencoba melingkari tangannya memeluk Allin dari arah belakang.


Vano juga menompang dagunya di sebelah pundak kanan Allin. Dengan gesit Dio memukul wajah papinya yang tiba-tiba muncul dari balik punggung mamanya.


Allin tertawa girang, meresapi semua sentuhan lembut Vano dan tingkah lucu Dio. Rasa kesal dan marah sebelum beberapa waktu yang lalu sirna seluruhnya. Ia tidak dapat pungkiri hatinya sangat berbunga, apa yang sempat dia takutkan tidak terjadi.


Allin sempat membayangkan Vano, Sella, dan Dio pergi keluar bersama, bercanda ria, menghabiskan waktu bersama dan melupakan kehadirannya.


Membayangkan nya saja membuat kepalanya rasa ingin mendidih apalagi jika itu terjadi mungkin dia akan mendiami Vano berhari-hari.


"Apa yang kau pikirkan, sayang" Tegur Vano merasakan perubahan sikap Allin yang menggertakkan gigi.


"Hi hi hi, tidak apa-apa" Elak Allin kembali ceria sambil mencium Dio.


"Kau tak ingin menciumku"


Allin seketika menggeleng.


"Kenapa?" Tanya Vano merajuk.


"Malu ada Dio" ucap Alli setengah berbisik.


"Aku akan menutupi mata Dio, kau harus bergerak cepat ya." Perintah Vano.


Allin terkekeh geli, "kita berkonspirasi hanya untuk melakukan sebuah ciuman."


"Apakah kau ingin kita melakukan hal lebih." Goda Vano sembari meniupkan hembusan napasnya, tepat di telinga Allin. Sontak Allin merasakan ada aliran yang menyegat, menggelitik dan membangunkan rasa yang tak harusnya muncul ketika Dio ada di antara mereka.


Allin pun mencoba melepaskan kaitan tangan Vano yang melingkar dipinggangnya.


"Biarkan begini sayang" perintah Vano sembari mengeratkan lilitan tangannya di perut Allin.


"Kita tak boleh begini terus!"

__ADS_1


Vano tau alasan istrinya itu.


"Aku kuat kok," balas Vano mencoba menebak apa yang dipikirkan istrinya.


Allin tak mampu berkata lagi, yang dia khawatirkan merasa kuat menahan.


***


Sella memutuskan untuk menemui seseorang yang terus menerornya untuk bertemu.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya Sella lansung saat dia sudah berada dihadapan perempuan tersebut.


"Aku ingin kita berkerja sama." Jawab Mila dengan percaya diri. Dia mengerakkan tangannya mempersilahkan Sella untuk duduk.


"Untuk apa?" Sella pun menarik kursi dihadapannya, dia duduk dengan anggun menatap Mila dengan tatapan meremehkan.


"Kau bisa mendapatkan suamimu lagi dan aku bisa menghancurkan Allin." Ucapnya penuh kebencian.


Sella sedikit terhenyak melihat sikap perempuan yang ada dihadapannya, dia begitu membenci orang terdekatnya, padahal dia juga tahu orang dibencinya banyak melakukan hal baik untuk dirinya.


Dasar manusia tak tau diri, umpat Sella dalam hatinya.


"Tak adakah keuntungan yang lebih menarik dari itu?" Tanya Sella meremehkan tawaran yang di berikan Mila padanya.


Perempuan itu mengernyitkan keningnya.


"Tergantung dengan tawaranmu, menguntungkan apa tidak?" Cibir Sella mengusik kepercayaan diri Mila.


"Kau punya segalanya Sella, aku hanya ingin membantumu merebut lagi suamimu." Jawab Mila jujur, karena dia tak mungkin membohongi Sella dengan mengajukan tawaran lain yang mungkin takkan bisa dia sanggupi.


"O ya, dengan acara apa?" Tanya Sella pura-pura antusias.


"Kau bisa membuat isu hubungan Allin dengan Ardio"


Ternyata hanya ini, senjata yang dia punya untuk menjatuhkan, Allin. Dia mencoba mengajariku dengan usulannya yang tak bermutu ini. Masyarakat akan lebih mendukung Allin dengan mengetahui kejadian masa lalunya, gerutu Sella dalam hatinya.


"Maksudmu Ardio Pamungkas," tebak Sella pura-pura polos.


"Ya, dialah ayah kandung dari anak Allin" bisik Mila dengan hati-hati.


Ternyata dia hanya tikus got yang mencoba masuk ke kandang singa, dia tak tau dengan jelas musuh dan kawannya. Batin Sella mengejek.


"Kau tau dari mana?" Pancing Sella lagi.


"Sudah pasti aku tahu segalanya tentang Allin. Aku ini sepupunya, jadi aku tahu sangat jelas perilaku busuknya." Jawabnya sombong.


"Dia mencoba menjebak Ardio dengan memberi obat perangsang padanya." Bisiknya meyakinkan Sella.


Secara tidak lansung, dia mengakui perbuatannya.

__ADS_1


"Wow! Kau tahu dengan sangat jelas, kenapa kau tak mencoba menghentikan sikap buruk Allin. Bukankah kalian saudara." Sindir Sella


"Dia merebut semua kasih sayang orang tuaku. Aku sangat membencinya dan aku tak peduli dengan sikap buruknya."


"Tapi sayangnya, itu juga bukan urusanku," jawab Sella datar.


"Kau takkan mau dianggap kalah darinya, kan? Di luar sana masyarakat pada membicarakanmu, karena pesonamu kalah dengan pengasuh anakmu sendiri" Mila makin memprovokasi Sella.


"Kau tau sangat jelas, jika kau mengalah, kau akan mengecewakan fansmu"


"Lalu aku harus ...,"


"Kau sebarkan saja gambar ini di IG mu. Jutaan fansmu akan dengan senang hati menyebarkan isu ini. Dan kau perlu menambahkan sedikit kalimat pancingan, yang membuat netizen sendiri mencari tahu hubungan Allin dan Ardio yang telah menghasilkan seorang anak haram."


"Kau tau kan, semua isu ini, jika aku sebarkan


Ardio lah yang akan merasa paling dirugikan


Kau akan menghancurkan karir Ardio!" Sella mencoba memperingati tentang rencana jahat yang ingin Mila lakukan.


"Aku tidak peduli, yang jelas nama Allin akan Viral lagi dan orang takkan memaafkan dia dengan mudah."


"Lalu apa yang kau dapatkan"


"Aku akan bahagia untuk penderitaan Allin"


Dia benar-benar sakit.


"Bagaimana, jika kita masukan gambar anak Allin agar berita ini lebih meyakinkan lagi" Pancing Sella.


"Tidak!!" Jawab Mila dengan nada tinggi.


"Kenapa?" Tanya Sella penuh selidik.


Sella memperhatikan perubahan wajah Mila yang gugup. Perempuan licik tersebut tiba-tiba tidak dipercaya diri dan dia terlihat sedang berpikir keras memcari alasan.


"Karena dia anakmu, kan?" Todong Sella dengan tepat membuat Mila bergetar ketakutan.


"Da-dari ma-mana kau tau!" Jawab Mila terbata.


"Kau lupa, akulah yang membayar biaya rumah sakit anakmu"


Mila menunduk tak dapat mengelak lagi.


"Baik, aku akan menyetujui ini jika kau dapat menunjukkan dimana keberadaan anak kandung Allin."


"Setelah kau menemukan, baru kita bicarakan kembali." Ujar Sella sambil menggeser tempat duduknya tanpa mnyentuh minumannya sama sekali.


Perempuan licik sepertimu, siapa yang akan mempercayai.

__ADS_1


__ADS_2