
***
Sella sedang bersiap-siap untuk pulang, pekerjaan sudah selesai dia tuntaskan, ini adalah pekerjaan terakhir dia bersama Ardio. Dia menatap lekat pada Ardio, semenjak permintaannya pada Ardio pria itu benar benar menjaga jarak padanya. Tak bisa ia pungkiri, dia merasa ada sesuatu yang hilang, mungkin dia terlalu terbiasa dengan tatapan memuja Ardio untuknya.
Kini pria itu seolah enggan untuk menatapnya. Ardio tak tanggung-tanggung, lelaki itu juga mengikuti anjurannya untuk berbahagia dengan perempuan lain, gosip kedekatanya dengan salah satu lawan mainnya merebak di sosial media.
Dering panggilan masuk di ponselnya menarik perhatian Sella yang sedari tadi berkutat pada Ardio. Sambungan itu berasal dari dokter yang menangani penyakitnya.
Sella sedikit heran, mengapa sang dokter menelponnya, ini bukan kebiasaan sang dokter. Biasanya, dialah yang sering menghubungi sang dokter untuk konsultasi tentang penyakitnya, tapi kini dokter itu sengaja menghubunginya membuat Sella bertanya-tanya.
"Hallo, Dok." Sapa Sella.
"Selamat Sore Bu Sella, bisakah kau datang ke rumah sakit saat ini." Sahut seorang perempuan tua dari seberang sana dengan nada memohon.
"Ada apa Dok, kenapa tiba-tiba?" Tanya Sella heran.
"Ada hal yang harus saya jelaskan."
"Haruskah hari ini?"
"Jika bisa harus hari ini, karena nanti malam saya akan berangkat keluar kota dan baru tiga pekan kemudian saya kembali. Ini mengenai kemungkinan anda untuk hamil." Jelas sang dokter dengan nada tegas.
"Apa, Dok? Kemungkinan untuk saya hamil, saya tidak salah dengar kan Dok." Balas Sella antusias.
"Anda tidak salah, karena itu bisakah Anda kemari, saya akan melakukan pemeriksaan untuk memastikan lagi." Jelas dokter itu sedikit memaksa agar Sella segera menemuinya.
"Baiklah, saya akan segera kesana Dok."
Ardio mencoba menahan pandangan untuk tak melihat Sella tapi ekor matanya tak bisa lepas untuk tak melihat perempuan itu. Dan saat Sella bergegas pergi begitu saja tanpa pamit pada siapa pun. Dia pun mengikutinya.
Sella hampir menangis mendengar penjelasan sang dokter, dia tak mengira sama sekali bahwa tuhan masih memberikan kesempatan untuk dia bisa merasakan anugerah menjadi calon ibu.
Entah kebaikan manakah yang diperbuatnya sehingga tuhan mencabut penyakit dalam tubuhnya. Hanya kalimat ibu panti terngiang-ngilang olehnya saat mengadopsi Dio dan doa-doa anak yatim yang selalu dia temui tiap akhir pekannya.
***
Diruang lain, sepasang suami istri tengah memeriksakan kandungan istrinya yang telah memasuki usia tiga belas minggu.
Sebelum memasuki ruang pemeriksaan, Allin pun memperingatkan Vano untuk tidak bertanya aneh-aneh. Tapi apalah daya mulut suaminya itu tak henti-hentinya protes.
"Selamat bayi kalian kembar." Ujar dokter sambil menatap Allin dan Vano bergantian.
Sontak senyum Vano mengembang dengan mata berkaca. Allin yang masih terbaring di atas ranjang pun ikut tersenyum bahagia. Tapi kebahagian Allin tak sebanding dengan kebahagian Vano yang telah lama menunggu kehadiran buah hatinya dan tuhan membalas kesabarannya dengan menghadirkan dua sekaligus.
"Mereka kedua-duanya jagoan," terang dokter itu lagi.
__ADS_1
"Yeah ...," Pekik Vano sembari berjingkrak kesenangan, dia seolah sedang menonton pertandingan sepak bola saat bola itu berhasil masuk ke gawang.
Allin mulai mengernyitkan dahinya melihat tingkah suaminya. Mulai kambuh lagi, batin Allin.
Tapi beda dengan sikap dokter, dia turut menyoraki Vano dengan semangat, entah karena dokter itu latah atau karena dia pun ikut bahagia melihat keluarga pasiennya senang.
"Sayang, ternyata tembakanku begitu jitu." Ujarnya tanpa malu-malu.
"Hehe..." Allin dengan tawa canggungnya menatap dokter dengan malu, ucapan Vano begitu frontal membuat perawat dan dokter yang menanganinya tak tahan tertawa tanpa suara.
"Dok, tak bisakah kau menambah satu lagi seorang perempuan dalam perut istriku" Ujar Vano tiba-tiba mengajukan pertanyaan yang tak masuk akal itu, membuat perawat dan dokter itu kali ini terbatuk-batuk menahan agar suara tawa mereka tak meledak. Mereka tak ingin menyinggung keluarga pasien dan menghormati setiap pertanyaan tak masuk akal Vano.
"Sayang!" Tegur Allin.
"Maaf, Dok. Saya hanya bercanda" Ucap Vano menggaruk tengkuknya yang tak gatal ketika melihat pelototan mata Allin yang berasa ingin loncat dari tempatnya.
"Aduh, salah lagi" Batin Vano.
"Tak apa-apa, Tuan. Anda lucu" Sahut perawat yang akhirnya melepaskan tawanya, tapi hanya sejenak lalu dia minta maaf karena mendapatkan sorot tajam dari dokter.
Tak berapa lama Sella keluar dari ruangannya dan hanya baru beberapa langkah dia berjalan, Vano dan Allin ada dihadapannya.
"Allin" Panggil Sella sembari melambaikan tangannya. Binar bahagia dan semburat senyum tak lepas dari wajahnya.
"Kenapa dengan wajah suamimu Allin?" Tanya Sella sesampai di dekat Allin dan Vano.
"Apakah begitu kentara, sayang?" Bisik Vano pada Allin.
Allin mengangguk membenarkan.
"Jangan berbisik dihadapanku!" Tegur Sella jengkel karena pertanyaannya tak di jawab malah pasangan itu asyik bertukar pandang.
"Kami dapat dua," jawab Vano singkat. Allin seketika menyikut perut Vano dan menatapnya horor dengan penggunaan kata Vano.
"Dapat dua apa?" Tanya Sella bingung dan bergantian menatap pasangan dihadapannya.
"Dua jagoan di sini," tunjuk Vano pada perut Allin dengan seringai angkuh.
"Astaga, aku kira apa. Kau bicara seolah mendapatkan hadiah di dalam bungkusan snack saja." Sindir Sella membalas tatapan angkuh Vano.
"Ada keperluan apa kamu ke sini, Mbak. Apakah penyakitmu kambuh lagi?" Tanya Allin sarat dengan nada khawatir.
Sella menggeleng dan refleks mempertunjukkan senyuman manisnya pada Allin. Senyuman kali ini terlihat berbeda membuat Allin tak tahan untuk bertanya lagi.
"Kau tampak bahagia sekali, apa yang membuatmu hingga merona seperti ini?" Saking penasaran Allin menggoyangkan tangan Sella agar perempuan di hadapannya segera menjawab.
__ADS_1
"Tuhan memberikan aku kesempatan?"
"Kesempatan apa, Mbak?"
Vano hanya menjadi penonton interaksi kedua perempuan yang masih berstatus istrinya. Saat matanya bertemu Sella dia mencibir melihat sikap Sella sontak perempuan itu tidak terima, entah ide dari mana, dia pun dengan senyum jail membalas tatapan Vano.
"Aku hamil!" Pekiknya tanpa suara, meski tak terdengar oleh Vano dan Allin, mereka dapat melihat gerak bibir itu dengan jelas mengatakan kata-kata aku hamil.
"Apa?" Sahut Allin dan Vano bersamaan, dan mereka pun saling bertukar pandang. Wajah ceria Allin memudar perlahan dan menatap Vano dengan tatapan menyudutkan.
"Sayang, aku benar-benar tak melakukannya" Sangkal Vano mencoba menebak sorot mata tajam Allin padanya.
Sella tak tahan melihat ketakutan di wajah Vano dan kemarahan di wajah Allin. Akhirnya dia terkekeh geli sampai perutnya ikutan bergetar, dia pun menahan dengan kedua tangannya goncangan perutnya dan bulir air mata turut hadir dalam tawanya.
Mendengar gelak tawa Sella, Allin dan Vano hanya memperhatikan dalam diam, membiarkan perempuan itu tertawa sepuasnya. Mereka sudah mengerti sedang dikerjai, mereka menatap Sella bersamaan dengan pandangan tak suka.
"Apakah ada yang lucu Mbak Sella" Tegur Allin ketus.
"Kalian yang lucu!!" Jawab Sella dengan bercampur suara tawa.
"Kenapa kau berkata begitu, kau sengaja membuat istriku emosi?" Tanya Vano tak kalah ketus dari Allin.
"Maaf, maaf, aku hanya menggodamu Allin. Tapi sungguh aku bahagia untuk hari ini mendengarmu akan memiliki dua jagoan lagi. Dan dokter juga memberi kabar bahagia untukku, dia mengatakan aku masih punya kesempatan untuk hamil" Jelas Sella panjang dengan penuh semangat.
Allin yang turut merasakan kebahagiaan Sella, dia memeluk erat mantan majikannya itu. Tapi rasa haru itu hanya sejenak dan pecah begitu saja saat Sella mulai lagi berulah.
"Vano, aku rasa tidak masalah bagiku untuk kita mencoba lagi hidup baru bertiga!"
Sontak Allin menguraikan pelukannya menjauh diri dari Sella dan melemparkan badannya ke dalam tubuh Vano. Dan memerangkap tubuh besar suaminya itu dengan lingkar tangannya yang kecil, menunjukkan kepemilikannya.
"Kau jangan macam-macam Mbak Sella" Protes Allin tidak terima.
Vano dan Sella pun terkekeh puas melihat sikap posesif Allin.
"Kalian mengerjaiku!!" Hardik Allin dengan wajah manyunnya, tapi pelukannya tak lepas dari tubuh Vano.
Tawa Vano seketika luntur berubah dengan senyum getir melihat sosok Ardio yang tak jauh berada dibelakang Sella, dia pun makin merapatkan pelukannya pada Allin.
Dia tak tau sorot mata Ardio bukan untuk istrinya, tak sadar dia juga telah bersikap posesif pada istrinya.
-
-
-
__ADS_1