Pesona Babysitter

Pesona Babysitter
Extra Part 11


__ADS_3

Pikiran Sella benar-benar kacau saat mendengar ucapan Ardio, dia belum bisa mengerti situasi sebenarnya. Dia terlalu gusar membayangkan seorang akan menggedor pintu kamarnya sedangkan dia berada di pelukan Ardio. Belum lagi kecupan Ardio di pucuk kepalanya membuat jantungnya berdebar kencang. Rasanya ingin dia menengadah menatap pria itu tapi dia takut hatinya akan luluh dan membiarkan Ardio melakukan lebih.


Sella menganggap sikap Ardio telah salah, mungkin pria itu terlalu kecewa padanya sehingga dia tidak ingin melepaskan Sella. Dekapan Ardio makin kuat setelah dia berguman. "Ternyata nama itu berguna juga," lalu kekehan Ardio menggema membuat Sella takut.


Dengan seluruh tenaganya dia mendorong kaki dan menghantam benda keramat Ardio membuat pria itu memekik dan melepaskan pelukan.


"Sella ...," pekik Ardio kesakitan. "Kita belum malam pengantin kau sudah membuatnya kesakitan!" rengek Ardio sambil memperosotkan tubuhnya ke sisi ranjang.


Sella menatap Ardio tak mengerti setelah mendengar rengekan Ardio, mata Sella lekat memperhatikan pria yang sedang merintih itu. Dari pakaian hingga penutup kepala yang Ardio pakai, lalu timbullah sebuah harapan bahwa sosok itu adalah Ardio.


Dia pun seketika mengedarkan pandangannya, mencari sesuatu yang akan meyakini dirinya, dengan apa yang dia pikir.


Merasa tak menemukan apa-apa, Sella berlari ke arah balkon. Mengedarkan pandangannya ke bawah dan tak lama dia menutup mulutnya karena tak percaya pada tulisan yang terukir pada karangan bunga yang berjejer sepanjang dinding pagar halalaman rumahnya.


Selamat Menempuh Hidup Baru


Sella Purnama Ningsih & Suparman (Ardio Pamungkas)


Dari Bams Ganteng

__ADS_1


 


Dari banyaknya karangan bunga hanya satu karangan bunga yang menerangkan lengkap pemilik nama itu. Dari manusia tak tau diri, Bams.


Sella ingat nama itu, dia takkan lupa.


Dia hanya tak peduli saat ayahnya menyebut nama calon suaminya. Apalagi untuk menghubungkan nama Suparman dengan Ardio, toh bukan hanya Ardio saja pemilik nama tersebut.


"Suparman," gumannya. Lelehan air mata pun luruh tak terbendung, desakan gelombang haru dari dalam dadanya membuat seluruh tubuhnya lunglai. Tangan Sella mengepal erat pada sisi pagar balkon dengan perlahan tubuhnya jatuh terduduk.


Sebuah senyum akhirnya lepas dari sudut bibirnya dengan tetesan air mata yang jatuh ke lantai. Dia pun mengarahkan pandangan pada sosok yang masih terduduk di bawah ranjangnya. Pria itu tersenyum sambil menahan sakit menatap Sella.


Ardio terkekeh geli sambil menahan nyeri dalam posisi menyender di bawah ranjang.


Sella terduduk di lantai balkon dan tersenyum bahagia. Polesan makeup di wajah Sella sudah luntur akibat tangannya tak henti-henti menghapus air mata yang keluar tak terbendung dan membuat wajahnya cemong mengerikan.


Dalam tundukan kepalanya, Sella menatap kosong pada lantai ia mengucapkan rasa syukur karena bisa merasakan rasa bahagia ini.


Dia tak percaya bisa merasakan sebahagia ini, bukan karena semata dia telah menikahi orang yang selama ini mengisi hatinya, tapi karena goresan-goresan luka dalam hatinya terobati dengan kenyataan yang tak pernah dia duga.

__ADS_1


Ardio masih tetap memperjuangkan, Ayahnya tetap mementingkan kebahagiaannya. Itulah bukti mereka mencintai Sella.


Maka nikmat tuhan mana lagi yang dapat kau dustakan. Kata-kata itulah yang tepat menggambarkan perasaannya sekarang.


Ruang kosong dalam hatinya, kini penuh dengan gelombang haru saling kejar mengejar memenuhi setiap sisi. Mendorong tetesan air matanya untuk terus bergulir dengan senyuman yang tak bisa dia tahan, terus terukir. Membuat dia malu pada dirinya sendiri karena pada kenyataanya dia bisa merasakan rasa bahagia dan melupakan ketakutannya.


Tak peduli esok atau lusa jika kebahagiaan itu akan terganti dengan kesedihan, dia takkan membiarkan begitu saja, dia akan berjuang untuk mempertahankannya.


Ardio telah berlutut dihadapan Sella, mengangkat kepala pengantinnya dan merangkum kedua belah pipi Sella. Dengan lembut Ardio menghapus buliran air mata itu dengan kecupan bibirnya.


"Aku halal untukmu," ucap Ardio setelah selesai mengecup semua wajah Sella.


Refleks Sella mengangguk antusias.


Duaar. Duaar.


Suara kembang api dari atas langit menghentikan interaksi mereka, keduanya bersamaan menengadah ke atas sambil berdiri dengan senyuman yang tak lepas dari wajah binar mereka.


Saling menatap, hingga mereka saling melemparkan tubuh masing-masing, menikmati momen indah itu.

__ADS_1


__ADS_2