
Di balik rasa bahagia yang tengah Hana rasakan, terselip rasa jengkel terhadap Aries. Bagaimana tidak marah, Hana di buat sport jantung karena ulah Aries yang menculik dirinya.
Karena ini adalah hari bahagianya, Hana mencoba memendam rasa kekesalannya terhadap Aries.Setelah acara tiup lilin, kedua orang tua Hana langsung memeluk Hana dengan rasa bahagia. Orang tua Hana benar-benar bersyukur karena Aries membuktikan omongannya untuk membahagiakan Hana.
"Selamat ulang tahun, ibu doakan semoga Na selalu di beri kesehatan, dan kebahagiaan dan juga semoga di lancarkan proses persalinannya nanti."
"Ya Bu...." Kemudian ibu Dumiya melerai pelukannya dan tersenyum hangat kepada Hana sambil mengelus perut Hana.
"Hana...." panggil Bu Muti.
"Ibu Muti...." sahut Hana sembari tersenyum.
"Selamat ulang tahun ya. Maaf, kadonya kecil," ucapnya seraya menyerahkan kado kepada Hana," Ibu doakan semoga kamu panjang umur, sehat selalu dan semoga di lancarkan proses persalinannya nanti."
Bu Muti berbicara sembari mengelus perut besar Hana. Hana tersenyum dan langsung memeluk Bu Muti.
'Terima kasih, sudah hadir dan ikut meramaikan acara ulang tahun ku."
"Maaf sekali lagi, ibu nggak bisa lama-lama. Pokoknya ibu doakan yang terbaik untukmu," lanjut Bu Muti.
"Ya Bu, sekali lagi terima kasih sudah menyempatkan diri untuk hadir disini,'' timpal Aries di selingi dengan senyuman.
Bu Muti pun tersenyum dan segera melangkah pergi meninggalkan tempat tersebut.
Setelah semuanya memberi ucapan kepada Hana dan acara pun selesai dengan lancar. Aries mengajak Hana beristirahat di hotel yang sudah di pesan olehnya.
"Sayang lebih baik kamu ganti baju dulu. Aku sudah menyiapkan bajunya di lemari."
"Baiklah, tapi sebelum aku ganti baju aku mau...."
"Mau apa!" Seru Aries dengan mata berbinar, karena di pikirannya adalah Hana menginginkannya sekarang.
Hana menatap Aries dan tangan Hana terulur ke wajahnya. Tentu saja, hal itu membuat Aries semakin tersenyum senang sebab tanpa memintanya, Hana sudah lebih dulu menginginkannya.
Tangan Hana membelai wajah Aries dengan senyum seringainya dan tangan Hana bergerak ke samping yaitu ke telinga Aries dan mengusap telinganya, tapi setelah itu Hana langsung menjewer telinga Aries.
"Aduh... duh...." seru Aries sembari meringis dan juga memegang tangan Hana yang kini tengah menjewer telinganya.
__ADS_1
"Sakit yang...."
"Dari tadi aku sudah berusaha menahan rasa kesal sama kamu. Kamu sudah membuat aku hampir jantungan. Bisa-bisanya kamu pake acara culik menculik segala, coba kamu bayangkan. Aku itu sedang hamil besar dan seandainya, terjadi sesuatu yang tidak di inginkan bagaimana, hem...." kesal Hana yang semakin kuat lagi menjewer telinga Aries.
"Maaf sayang, itu semua adalah ide dari papa. Sebenarnya aku sudah menolaknya tapi----"
"Nggak ada tapi-tapian pokonya kamu harus aku hukum."
"Malam ini kamu tidur di sofa, dan jangan berani-beraninya kamu mendekati aku di saat aku sedang tidur."
"Sayang, kok jadi gitu sih. Aku kan nggak bisa tidur tanpa memeluk kamu," rengek Aries sembari memohon kepada Hana.
"Nggak!" tegas Hana.
Aries langsung menghembuskan nafasnya. Dengan lesu Aries berjalan ke arah sofa dan berbaring di sana.
"Sayang... Ayolah, jangan kaya gini. Aku minta maaf, apa kamu nggak kasihan sama si belalai yang menanti sarangnya terbuka."
"Nggak!"
Kemudian Aries bangkit dan berjalan mendekati Hana yang sudah siap tidur di atas ranjang. Aries duduk di tepi ranjang sembari memohon.
"Oke!" potong Hana.
"Selalu saja begitu," seru Hana sebal jika Aries sudah berkata seperti itu.
Tanpa di minta oleh Aries. Hana langsung membuka pakaiannya dan tentu saja Aries tersenyum lebar dan juga melakukan hal yang sama yaitu membuka pakaiannya dan langsung di lempar ke sembarang arah.
Aries langsung mengukung Hana dan mencumbui tubuh Hana dengan sentuhan lembut. Aries terus merayu tubuh Hana sampai dirinya siap dengan penyatuan yang sejak tadi di inginkannya.
Hana sudah siap membuka sarangnya dan dengan semangat yang menggebu, Aries akan memasuki sarangnya.
"Aw...." ringis Hana.
"Kenapa?"
"Perutku tiba-tiba sakit," ucap Hana seraya meringis memegangi perutnya.
__ADS_1
"Kok bisa perut kamu sakit? Aku kan belum ngapa-ngapain kamu?"
Hana tak menyahuti perkataan Aries. Hana menarik nafas dan membuangnya secara perlahan.
Aries terdiam dan memandangi wajah Hana yang meringis menahan rasa sakit di perutnya. Hana, kemudian memiringkan tubuhnya ke arah kiri sembari mengelus perutnya.
"Sayang, apa masih sakit?"
"Sekarang sudah hilang mulesnya," ujar Hana.
"Apa jangan-jangan... kamu mau mau melahirkan?"
"Sepertinya begitu."
Aries segera turun dari ranjang dan bergegas cepat menuju pintu dan akan membuka pintu.
"Stop!!" teriak Hana.
"Kenapa? aku harus memberi tahu Mama kalau kamu sudah mau melahirkan," ucap Aries dengan nada panik.
"Apa dengan keadaan seperti itu?"
Aries memandangi tubuhnya yang tanpa busana, dan Aries pun bertepuk jidat.
"Aku lupa sayang, soalnya aku panik."
Aries segera mencari pakaiannya yang tadi sempat di lemparnya ke sembarang arah. Begitupun dengan Hana yang langsung memakai kembali pakaiannya.
"Sayang celana segitiga ku mana?" tanya Aries sembari mencari CD nya
"Iishhtt...." Hana kembali merasakan kontraksi.
Aries semakin panik melihat Hana kembali meringis menahan sakit, sedangkan dirinya belum mengenakan celananya karena CDnya belum ketemu.
__________***________
Jangan lupa tinggalkan jejak like 👍👍
__ADS_1
Tetap semangat menjalankan ibadah puasanya.