Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 78


__ADS_3

"Oma, kok ibu sama ayah dari pagi nggak kelihatan?" tanya Aisyah yang saat ini tengah berada di kamar Mama Soraya dan tengah bersiap-siap akan check out dari hotel tersebut.


Mama Soraya melirik sang suami dan meminta bantuan atas pertanyaan cucunya itu. Papa Erik pun mendekati Aisyah yang tengah duduk sembari memainkan boneka Barbie nya.


"Mungkin, ayah sama ibu masih kecapean," jawab papa Erik yang kini mengangkat tubuh Aisyah dan mendudukkannya di pangkuannya.


"Tapi ini sudah siang. Biasanya ibu nggak pernah bangun siang," sambung Aisyah yang tahu kebiasaan ibunya yang selalu bangun lebih pagi, walau tidurnya selalu larut.


"Semalamkan ibu sama ayah habis mengadakan pesta sampai pagi, jadi ibu sama ayah bangunnya terlambat," ujar papa Erik seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Pesta apa? Kok, Ais nggak di ajak? bukannya semalam ibu nemenin Ais bobo?" cecar Aisyah kepada opanya.


"Pesta ... ya, pesta khusus buat orang yang baru menikah," ucapnya bingung.


"Pesta apa? Bukannya pesta nikahan ibu sama ayah selesainya nggak malam banget!"


"Masih ada lanjutannya, sayang."


"Tapikan, ayah sama ibu harusnya mengajak Ais. Ais juga mau ikut." timpalnya sembari merengutkan wajah kesalnya.


"Kalau gitu, Ais mau protes sama ayah. Sekarang opa harus telpon ayah, Ais mau ngomong sama ayah!" ucapnya penuh dengan kekesalan.


"Ais, tunggu di sini. Opa ambil dulu handphonenya."


Papa Erik memindahkan tubuh Aisyah ke atas kasur dan melangkah ke arah meja untuk mengambil handphonenya. Papa Erik segera mendial nomor Aries dan ternyata tidak di angkat oleh Aries. Papa Erik mencoba kembali menelpon Aries dan ternyata masih sama tidak di angkat oleh Aries.


Ini bocah kemana sih. Nggak tau apa, anaknya lagi nanyain. Apa iya, siang bolong begini masih saja begituan.


Papa Erik terus mencoba menelpon Aries, dan hasilnya tetap sama. Membuat papa Erik kesal.


"Cepat opa, telponnya? Ais mau ngomong sama ayah! " seru Aisyah yang mulai kesal karena opanya lama menelpon ayah Aries.


"Telpon opa nggak di angkat sama ayah," pungkas papa Erik dengan pandangan menyesal.

__ADS_1


Aisyah yang kesal langsung turun dari kasur dan berjalan cepat ke arah pintu, sembari membawa Boneka Barbie nya.


"Ais, mau kemana?" tanya papa Erik.


"Ais, mau ke kamar ayah dan ibu," cetus Aisyah dan membuka pintunya.


"Ma...." seru papa Erik.


"Iya-iya." Mama Soraya menghentikan mengepak pakaiannya dan mengikuti langkah Aisyah menuju kamar Aries.


Sedangkan dua insan yang baru saja selesai sesi bercintanya tengah kelelahan, apa lagi Hana yang merasakan seluruh badannya benar-benar merasa remuk. Hana langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Berbeda dengan Aries, walau lelah lelaki itu tetap terlihat segar dan terlihat lebih cerah. Hidupnya menjadi penuh warna setelah menikah dengan Hana.


"Capek...." keluh Hana.


"Maaf, sudah membuat kamu kelelahan," timpal Aries sedikit merasa bersalah.


"Hmm...." sahut Hana.


"Aku mau pesan makanan. Kamu mau makan apa, sayang?"


"Baiklah, aku pesan makanan dulu."


"Hmm...."


Aries pun segera memesan makanan, setelah itu Aries mendekati Hana yang tengah berbaring di atas ranjang.


"Mau aku pijit?" tawar Aries yang merasa kasian melihat Hana yang kelelahan akibat dirinya yang terus meminta haknya sebagai suami.


"Nggak!!" Hana menjawab dengan cepat.


Aries tersenyum dengan jawaban Hana, dan kini Aries pun ikut merebahkan tubuhnya di samping Hana. Aries merengkuh tubuh Hana dan membawa Hana dalam pelukannya.


Tidaka lama terdengar suara ketukan pintu. Membuat Aries mengernyitkan dahinya.

__ADS_1


"Kok, cepat banget datangnya."


Aries bangun dari tidurannya dan segera membukakan pintunya. Ternyata yang mengetuk pintu adalah Aisyah.


"Ais!!"


Aisyah langsung masuk dan tidak memperdulikan wajah bingung Aries, karena Aisyah terlihat sangat kesal. Aries pun menengok ke mama Soraya dengan tatapan bingung.


"Ma, Ais kenapa?"


Mama Soraya hanya mengedikan bahunya, lalu meninggalkan Aries, yang masih bingung melihat Aisyah yang terlihat kesal. Aries pun menutup pintunya dan mendekati Aisyah yang tengah duduk menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Ais, kenapa? Apa ada orang yang membuat Ais kesal?" tanya Aries yang kini berlutut di depan Aisyah.


Aisyah pun mengangguk. " Siapa?"


"Ayah sama ibu," ucapnya kesal.


"Apa salah ayah sama ibu, sehingga putri ayah ini kesal sama ayah dan ibu, " ucap Aries lembut.


"Kata opa, ayah sama ibu semalam habis pesta. Kenapa, Ais nggak di ajak ikut pesta sama ibu dan ayah!"


"Pesta!"


Hana yang sedang berbaring pun bangun dan menghampiri Aries dan Aisyah, lalu duduk di samping kanan Aisyah.


"Ibu dan ayah nggak ngadain pesta. Justru ayah dan ibu langsung istirahat," timpal Hana sembari mengelus kepala Aisyah.


"Tapi opa bilangnya begitu. Makanya Ais kesal."


"Sudah, lupakan. Mungkin opa lupa. Opa kan sudah tua, jadi suka asal bicaranya," sambung Aries yang mengerti kata pesta yang di ucapkan Aisyah.


Aisyah menatap Hana, dan pandangannya kini tertuju kepada leher Hana yang berhias karya Aries.

__ADS_1


"Ibu, kenapa leher ibu merah-merah?"


__ADS_2