Poor Child : AISYAH

Poor Child : AISYAH
Chapter 50


__ADS_3

Selesai sarapan, Marshall dan Zidan berpamitan kepada nenek yang sedang berselonjor di dipan yang ada di ruangan itu.


"Nek, doain Zidan ya, mudah-mudahan hari ini Zidan bisa bawa uang lebih."


"Iya, nenek pasti doain Zidan dan hati-hati saat mulungnya." Restu sang nenek.


Setelah berpamitan, Marshall dan Zidan meninggalkan nenek di rumah dan berharap semoga hari ini adalah hari keberuntungan untuk keduanya.


Marshall juga membantu Zidan memulung sembari mencari Aisyah dan berharap bisa bertemu dengan Aisyah secepatnya.


"Biasanya kamu mulung sampai kemana?" tanya Marshall sembari memasukan botol plastik ke dalam karung.


"nggak tentu," jawabnya.


Mereka pun melanjutkan mulungnya, sampai karung yang di bawa Zidan terisi penuh.


Hari semakin siang, kini Marshall dan Zidan tengah beristirahat sejenak. Mereka berdua menyeka peluh yang membasahi keduanya.


" Habis dari sini, kita kemana lagi?" tanya Marshall karena melihat karungnya sudah penuh.


"Ke pengepul, setelah itu pulang."


Selesai beristirahat, kini keduanya menuju ke pengepul untuk mendapatkan uang dari hasil mulung dan setelah itu mereka berdua memutuskan untuk pulang. Di dalam perjalanan, keduanya di ikuti seseorang yang tidak mereka kenal.


"Kamu ngerasa nggak, kalau mereka mengikuti kita?" cetus Marshall seraya menengok ke belakang.


"Masa sih!"


Zidan pun ikut menoleh ke belakang, dan memperhatikan dua orang lelaki dewasa yang sedang mengobrol. Zidan hanya mengernyitkan dahinya melihat dua lelaki itu tampak biasa saja dan tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan.


"Perasaan kamu saja kali," tukas Zidan.


"Beneran! Dari tadi mereka mengikuti kita!" kekeuh Marshall.


"Ya sudah, kita harus cepat-cepat pergi dari sini," pungkas Zidan seraya mempercepat langkah kakinya.


"Iya, ayo," seru Marshall yang kini melangkahkan kakinya cepat.


Semakin cepat mereka melangkah, semakin cepat pula keduanya di ikuti oleh kedua lelaki dewasa itu.


"Tuh kan benar, kita di ikuti sama Mereka!" ujar Marshall.


"Kalau begitu kita lari."


Marshall mengangguk dan keduanya berlari secepat yang mereka bisa.


"Mereka lari !" kata lelaki itu kepada temannya, dan mereka pun mengejar Marshall dan Zidan. Tapi yang mereka kejar hanyalah Marshall.


Marshall dan Zidan terus berlari semampunya mereka agar menjauh dari kejaran kedua lelaki yang mereka tidak kenal.

__ADS_1


"Cepat, mereka semakin mendekat!" teriak Zidan seraya menoleh ke belakang.


Marshall dan Zidan terus berlari dari kejaran dua lelaki itu. Karena terlalu fokus berlari, sebuah mobil yang sedang memundurkan mobilnya dari parkiran minimarket, menubruk tubuh Marshall dan Marshall pun terjatuh.


"Aw...." jerit Marshall yang langsung terjatuh ke aspal.


Orang yang di dalam mobil pun terkejut, karena mobilnya menubruk orang yang sedang lewat. Orang itu turun untuk melihat keadaan orang yang kena mobilnya.


"Astaga...." pekik lelaki itu.


"Kamu nggak kenapa-napa, Dek?"


"Sakit om!," keluh Marshall memegang tangan kiri nya yang terluka, kemudian Marshall menengok ke arah belakang untuk melihat kedua orang yang mengejarnya.


"Kamu terluka. Lebih baik om bawa kamu ke dokter agar segera di obati lukanya."


"Iya, shall. Lebih baik lukanya di obati, dan sekalian kita bisa lolos dari kejaran dua orang tadi," bisik Zidan seraya membantu memegang lengan kanan Marshall.


"Baiklah, om."


"Ayo."


Marshall dan Zidan segera naik ke mobil dan lelaki itu membawanya ke rumah sakit.


"Nama kalian siapa?" tanyanya.


"Namaku Zidan dan dia Marshall, om," ucap Zidan memperkenalkan diri.


"Iya, om. Namaku Marshall."


Kok, namanya sama ya sama Abang nya Ais. Apa jangan-jangan, dia orang yang di maksud oleh Ais.


Ya, lelaki itu adalah Aries. Sesampainya di rumah sakit, Aries segera mengantarkan Marshall ke dokter untuk segera di obati.


"Aw ... perih, dok!" jerit Marshall, saat lukanya di obati oleh dokter.


"Sabar ya, dek. Sebentar lagi selesai."


"Iya...." ucapnya seraya meringis menahan perih.


Selesai mengobati lukanya Marshall, Aries mengajak Marshall dan Zidan makan di kantin.


"Kalian berdua tinggal dimana?"


"Kalau aku tinggal kampung cibiday, om," ujar Zidan.


"Kalau kamu?" tunjuk ke Marshall.


"Kalau aku tinggal di komplek Griya Asri, om." Marshall ragu-ragu mengatakannya.

__ADS_1


"Griya Asri?" ulang Aries.


"Iya, om." Sembari mengangguk.


Kebetulan sekali ya, apa jangan-jangan Memang benar dia Marshall yang di maksud oleh Ais.


"Sebelum pulang, om mau ketemu dengan anak om dulu. Kalian ikut ya, setelah itu om antar kalian pulang."


"Iya, om."


"Sekarang, habiskan makanan kalian."


Marshall dan Zidan segera menghabiskan makanannya, dan setelah itu Aries mengajak Marshall dan Zidan menemui Aisyah.


"Ayo masuk," suruh Aries kepada keduanya.


Marshall dan Zidan mengangguk dan masuk ke ruang rawat Aisyah, tapi saat masuk Aisyah tengah tertidur miring menghadap ke arah berlawanan.


" Aries, mereka siapa?" tanya Hana yang sedang duduk di sofa.


"Oh, mereka. Tadi aku nggak sengaja menabrak anak ini saat aku mau memundurkan mobil saat di minimarket."


"Apa anak ini terluka?"


"Iya, makanya aku bawa mereka kesini, agar segera di obati."


"Kasian...." ucap Hana prihatin melihat Marshall terluka.


"Sini, kalian duduk dulu." suruh Hana.


"Iya, tante," seru keduanya.


Marshall dan Zidan duduk di sofa, kemudian Hana mendekati Marshall untuk memeriksa tangannya yang terluka.


"Kok, bisa sih sampai nabrak orang," omel Hana kepada Aries.


"Mana aku tahu kalau mereka sedang lewat."


"Sebenarnya, yang salah aku Tante," pungkas Marshall.


"Kami berdua lagi di kejar sama orang yang tidak kami kenal, makanya aku nggak lihat kalau mobil om lagi mundur," terang Marshall.


"Di kejar? siapa yang ngejar kalian?" tanya Aries.


"Kami juga nggak tau om," jawab Zidan.


"Abang!" seru Aisyah.


Marshall yang mendengar suara Aisyah langsung menegakkan tubuhnya, kemudian Marshall memutarkan badannya untuk melihat orang yang memanggilnya Abang.

__ADS_1


Marshall tertegun melihat Aisyah yang tengah menatapnya dengan mata berbinar seraya tersenyum simpul.


"Ais...." lirih Marshall yang masih berdiam diri di tempatnya karena terkejut melihat Aisyah ada di hadapannya.


__ADS_2