
" Kayaknya memang nggak ada orangnya di dalam, lebih baik toilet ini segera saya kunci saja," kata perempuan itu.
Hana semakin bingung di buatnya. Apa harus keluar dari sana atau...
Tak ada pilihan, Hana memilih keluar dari bilik toilet itu dan terus berharap tidak bertemu dengan lelaki yang sudah merenggut kesuciannya.
Hana membuka pintunya dan menyembulkan kepalanya, menengok ke luar bilik. Ternyata nggak ada siapa-siapa.
"Kayaknya aman," gumam Hana.
Hana melangkah ke arah pintu masuk toilet dan membuka pintu toilet. Hana keluar dan sepasang tangan kekar melingkar di pinggangnya dari arah belakang. Tubuh Hana menegang dan nafasnya tercekat, lalu Hana menundukkan kepalanya melihat tangan kekar itu.
"Aku mohon jangan lari," ucap Aries lirih dari belakang tubuh Hana.
Mata Hana mulai berembun, bahkan lututnya terasa lemas tapi Hana berusaha tetap kuat menopang tubuhnya.
"Lepaskan aku!" Tegas Hana.
"Nggak!, aku nggak akan melepaskan kamu."
Aries membalikan tubuh Hana, Aries menatap netra Hana. Aries melihat ada kesedihan di mata Hana.
"Aku mau kita berbicara berdua," kata Aries seraya memandang wajah sendu Hana.
"Tidak ada yang harus kita bicarakan di antara kita." Tolak Hana.
"Aku mohon...." Aries memelas.
"Maaf, aku nggak bisa. Tolong lepaskan aku." Pinta Hana yang mulai meneteskan air matanya.
"Aku hanya ingin meminta maaf atas apa yang sudah ku perbuat di masa lalu."
"Aku sudah melupakannya, sekarang lepaskan aku."
Hati Aries tertohok dengan sikap dingin Hana. Aries sadar jika Hana bersikap seperti ini kepadanya.
"Baiklah, tapi aku mohon maafkan aku," ucap Aries tulus.
Hana tak menjawab permintaan maaf dari Aries, Hana lebih memilih pergi dari hadapan Aries. Hana nggak mau mengingat hari itu lagi, Baginya yang terpenting adalah mencari keberadaan anaknya yang hilang.
Aries diam mematung, memandang punggung Hana yang melangkah pergi meninggalkan dirinya.
"Hana, aku tau kamu belum mau memaafkan aku yang brengsek ini. Jadi, aku akan berjuang mendapatkan maaf darimu," gumam Aries masih memandang punggung Hana.
Aries menghela nafasnya, rasa sesak di dadanya benar-benar membuatnya sulit untuk bernafas.
Hana tiba di parkiran motor, dengan langkah gontai Hana menangis. Sekuat apapun dirinya, tetap saja dirinya rapuh.
" Huufftt...." Hana membuang nafasnya perlahan. Mencoba menghilangkan rasa sesak di dadanya.
Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya. Orang yang tak ingin aku temui di dunia ini. Ya Tuhan, jangan biarkan dia datang kembali dan menghancurkan hidupku untuk yang kedua kalinya.
__ADS_1
"Hana!" Panggil Mang Jojo yang sedang berlari ke arahnya.
Dengan cepat Hana mengelap air matanya, " Iya...." sahut Hana.
" Kamu habis dari mana?, aku mencari kamu dari tadi tau." Omel Mang Jojo.
"Maaf, tadi aku ke toilet. Tiba-tiba perutku sakit, lagian tadi kita tidak di perbolehkan keluar dari sini," jawab Hana.
" Ya, sudah. Kita balik ke toko, sudah terlalu lama kita berada di sini," sambung Mang Jojo.
"Iya, ayo."
Hana dan Mang Jojo pergi dan meninggalkan perusahaan The Star Grup.
Sedangkan Aries yang sudah selesai dengan rapatnya, langsung kembali ke ruang kerjanya bersama asistennya.
"Syam, tolong kamu cari tau dimana Hana kerja?"
"Baik Tuan, apa ada lagi?" tanya Syam yang masih berdiri di depan meja kerja Aries.
" Cari tau juga, dimana dia tinggal dan tinggal dengan siapa," ucap Aries yang berdiri di pinggir jendela kaca seraya memandang ibu kota.
"Baik Tuan." Syam membungkukkan sedikit tubuhnya lalu keluar dari ruang kerja Aries.
Aku pastikan akan terus berjuang mendapatkan kata maaf darimu. Aku nggak akan menyerah, Hana.
***
"Ma...." teriak Marshall sambil berlari membawa buku pelajarannya.
" Kenapa, Sayang?" tanya Marisa sembari meletakkan cangkirnya.
" Ma, lihat nilai pelajaranku." Tunjuk Marshall kepada Mamanya.
"Wow!, nilai yang sangat bagus. Kamu hebat sayang." Puji Marisa seraya mengacak rambut Marshall.
Marshall tersenyum bahagia, karena mendapat pujian dari Mamanya. Aisyah 'pun datang menghampiri mereka berdua. Aisyah juga mau menunjukkan nilai pelajarannya kepada Marisa.
"Ma, nilai Ais juga bagus. Lihat deh, Ma!" seru Aisyah menyodorkan bukunya kehadapan Marisa.
Marisa hanya melirik sekilas nilai pelajarannya Aisyah. " Hmmm....," ucap Marisa cuek lalu Marisa mengambil minumannya.
" Lihat dulu yang benar, Ma." Paksa Aisyah seraya menggoyankan tangan Marisa dan membuat kopi itu tumpah ke bajunya Marisa.
"AISYAH!!" Pekik Marisa seraya melotot ke arah Aisyah.
"Lihat ini!, gara-gara kamu, baju Mama kena noda kopi!" hardik Marisa, lalu Marisa bangkit dari duduknya dan mendorong tubuh kecil Aisyah dengan kasar.
" Maaf, Ma...Ais nggak sengaja," jawab Aisyah sedih dan mulai berkaca-kaca.
"Ck, maaf maaf. Lihat nih, baju Mama jadi kotor!. Sekarang cuci baju Mama yang kena kopi ini." Sentak Marisa geram.
__ADS_1
"Iya, Ma," sahut Aisyah seraya meneteskan air matanya.
" Cepat, bangun!" pekik Marisa.
Aisyah bangun dan menundukkan kepalanya, air matanya terus membasahi pipinya.
"Ikut Mama sekarang juga!," sentak Marisa.
Marisa berjalan di depan dan di ikuti oleh Aisyah. Marisa dan Aisyah tiba di kamar utama, Marisa membuka bajunya lalu di lemparkan bajunya ke wajah Aisyah.
"Sekarang cepat cuci baju Mama."
"Baik, Ma."
Aisyah langsung berjalan ke kamar mandi dan mencuci bajunya Marisa, meski bingung mencucinya harus menggunakan sabun apa. Sedangkan Marisa mengambil baju baru dan setelah itu memantau Aisyah yang tengah mencuci bajunya. Marisa mengernyitkan dahinya melihat Aisyah mencuci bajunya.
"Kamu menggunakan sabun apa?" tanya Marisa.
" Pake ini, Ma." Tunjuk Aisyah kepada salah satu sabun.
"Dasar anak tak berguna, itu tuh sabun mandi tau nggak." Sentak Marisa melotot.
"Ais nggak tau, Ma," sahut Aisyah yang semakin menundukkan kepalanya.
"Dasar anak pungut yang tak berguna, suruh cuci baju saja nggak becus!"
Aisyah mengangkat kepalanya saat pendengarannya menangkap kata anak pungut.
"Maksud Mama, Ais bukan anak Mama?"
"Bukanlah, siapa juga yang mau melahirkan anak yang tak berguna kayak kamu," ucap Marisa seraya menoyor kepala Aisyah.
"Sekarang, ulangi cuci baju Mama menggunakan ini." Marisa menyodorkan deterjen cair ke tangan Aisyah.
" Iya, Ma."
Aisyah mengulangi mencuci baju Marisa, air matanya semakin deras mengalir saat tau kallau Ais bukan anak Mamanya.
"Ada apa ini!" Suara bariton Adam di ambang pintu kamar mandi.
Marisa dan Aisyah menengok ke arah sumber suara. Adam masuk dan tercengang melihat Aisyah tengah memegang bajunya Marisa seraya jongkok.
"Anak tak berguna ini lagi mencuci bajuku, kenapa memangnya!"
Adam menatap wajah Marisa tajam, air muka Adam langsung berubah menyiratkan kemarahannya.
"Kurang ajar!, kamu nyuruh Aisyah mencuci baju kamu." Adam geram dengan Marisa.
"Iya, memang kenapa, ada yang salah!. Gara-gara anak sialan itu bajuku jadi kotor kena noda kopi."
Plak
__ADS_1
Adam menampar Marisa dengan tatapan nyalang, bahkan Adam mengeraskan rahangnya. Adam tak terima putri tercintanya di suruh mencuci baju wanita ular ini.